
Narendra diam. Ia masih setia menatap Glacia lekat. Glacia pun sama, ia menatap Narendra menunggu jawaban. Keduanya saling pandang hingga kemudian Narendra buka suara. "Mintalah apa pun yang kau mau, tapi tidak dengan wanita lain."
"Kenapa? Bukankah kau mencintai Lizy?" tantang Glacia.
"Glacia, please stop it."
"Berarti aku boleh minta cerai?"
"Selain itu," sanggah Narendra.
"Curang. Kau bilang aku boleh minta apa pun." Mata Glacia memicing hingga keningnya berkerut dalam.
Narendra tak membalas, matanya seolah tak ingin berpindah dari Glacia yang kini bergerak membelakanginya. Rambut panjang Glacia berkibar tertiup angin, pun gaunnya yang berayun membuat Narendra berinisiatif memberikan jas di tangannya.
Ia menyampirkan jas tersebut menutupi bahu Glacia dari depan. "Masuklah, di sini dingin."
"Kubilang jangan mengasihaniku," ucap Glacia pelan.
"Aku tidak mengasihanimu." Narendra membalas masih dengan perkataan yang sama.
Hening. Glacia yang nampaknya sudah lelah berdebat lebih memilih diam. Begitu pula Narendra yang ikut memandang bulan di atas mereka.
"Sudah makan?" tanya Narendra.
"Jangan pedulikan aku."
"Aku hanya bertanya."
"Aku baru tahu kau begitu cerewet."
"Makanlah, lalu minum obat."
"Tidak mau."
"Kenapa?" Narendra menunduk, namun Glacia hanya menggeleng tanpa kejelasan. Narendra tidak tahu bahwa mata Glacia kini nampak sendu.
__ADS_1
"Naren?" panggil Glacia pelan.
Narendra yang masih berdiri di belakang Glacia, menunduk mengalihkan atensinya dari langit. "Ya?"
"Kenapa kau bisa bertahan dalam pernikahan kita?"
Pertanyaan yang tak disangka-sangka. Narendra sampai diam beberapa detik tampak berpikir. "Menurutmu?" Ia malah bertanya balik.
"Karena papaku adalah bosmu. Karena kau sangat menghormatinya. Permintaannya adalah perintah bagimu. Apa aku benar?" Glacia mendongak, ia cukup terlonjak karena bertemu langsung dengan wajah Narendra di atasnya. Itu berarti lelaki tersebut berdiri cukup dekat di belakang Glacia.
Glacia mengembalikan posisi kepalanya seperti semula.
"Secara logika perlakuanku padamu sangat jauh dari kata baik. Alasan yang cukup untukmu menceraikan wanita sepertiku. Kenapa kau masih mempertahankan wanita tukang selingkuh yang sama sekali tak menghormatimu?"
"Jika bukan karena Papa, materi adalah opini paling tepat yang bisa kupikirkan," lanjut Glacia.
Sementara Narendra, lelaki itu bertahan dalam sikap tenangnya. Kedua tangannya tenggelam di saku, sedang matanya menerawang melihat suasana malam di depan mereka.
Jujur saja, Glacia merasa tenang malam ini. Padahal tadi siang ia begitu kesal pada Narendra.
"Kau selalu menghindar," tembak Glacia. "Setiap kali aku membicarakan hubungan kita, kau selalu lari."
Glacia kini membalik kursi rodanya hingga menghadap Narendra lagi. Narendra balas menatapnya dengan tenang. "Pada akhirnya kau akan membahas perpisahan," ujarnya.
"Sebegitu tidak inginnya kau bercerai dariku? Kenapa? Naren, aku akan memberimu kesempatan untuk bebas dari Papa. Aku akan membantumu supaya tidak terikat dengannya. Kau bisa memilih jalan hidupmu sendiri, menikah dengan wanita yang kau inginkan, lalu hidup bahagia."
"Bagaimana denganmu?" balas Narendra bertanya. "Kau sendiri, apa yang akan kau lakukan jika kita benar bercerai?"
"Ini bukan tentangku. Jangan pedulikan aku."
"Kau salah. Ini tentang kita," tukas Narendra.
"Naren?"
"Sebegitu inginnya kau bercerai? Dulu, Gallen yang menjadi alasanmu. Sekarang apa alasanmu? Jangan bilang kau masih berharap pada lelaki itu."
__ADS_1
Beberapa saat Glacia berhasil dibuat terdiam. Ia mengalihkan matanya sesaat untuk mengedar. Suasana begitu sepi, tapi gejolak dalam hatinya seolah tak mau berhenti.
Apa yang terjadi pada Glacia? Ia benar-benar merasa aneh dan bimbang pada dirinya sendiri.
Ia lalu berucap pelan dan tak yakin. "Aku tidak bahagia."
Yang Glacia tidak sadari, ungkapan tersebut sempat membuat Narendra bergeming di tempatnya. Lelaki itu menatap Glacia lekat.
"Kau berhak bahagia," bisik Glacia lagi. "Dan bahagiamu bukan berada padaku."
"Dari mana kau tahu?"
"Kau mencintai Lizy. Maka dari itu, lepaskan aku dan kejarlah dia." Glacia mendongak menatap Narendra, lalu membuang pandanganya ke segala arah.
Entah kenapa, tapi Glacia mendadak merasa tak tenang. Seperti ... ada sesuatu yang menyentil hatinya.
Menyingkirkan segala gundah sesaat itu, Glacia mendongak lagi, dan ternyata Narendra juga tengah menatapnya.
"Kau harus belajar mengejar sesuatu yang kau inginkan. Jangan terpaku pada Papa, karena aku akan berusaha membujuknya mulai sekarang."
Narendra tetap terdiam. Glacia tidak bisa menebak apa yang pria itu pikirkan. Namun keengganan dalam rautnya nampak terlihat jelas.
Glacia tak mengerti kenapa begitu sulit meminta perpisahan. Padahal mereka tak saling mencintai. Cara kasar maupun lembut sudah Glacia lakukan, tapi Narendra lebih pintar karena selalu bisa mengelak dengan berbagai alasan.
"Aku sedang melakukannya," gumam Narendra, sambil menatap Glacia.
"Apa?"
"Mengejar sesuatu yang kuinginkan."
Glacia tidak mengerti arti dari tatapan Narendra saat ini. Binar mata yang tajam sekaligus sendu itu terasa berbeda dari biasanya.
Naren, apa isi hatimu sebenarnya? Apa kau benar masih mencintai Lizy?
***
__ADS_1