Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
120. Menyerahkan Diri untuk Emosi


__ADS_3

Dalam perjalanan sepulang dari lokasi proyek, Narendra mendapat informasi dari Julian, bahwa siang tadi Glacia bertemu seseorang, tak lain adalah Edward Mou.


Julian sengaja menunda mengatakannya lantaran takut mengganggu fokus Narendra saat peninjauan. Narendra tak menyalahkan asistennya itu, Glacia juga tidak kenapa-napa, ia baik-baik saja, bahkan ketika Narendra tiba di kamar hotel mereka.


Namun yang membuat Narendra kesal, Glacia tidak jujur saat ia bertanya. Kenapa wanita itu tidak mengatakan yang sebenarnya? Narendra hanya ingin istrinya terbuka, bercerita apa saja yang ia alami, termasuk soal pertemuannya dengan Edward Mou.


Jika itu orang lain, mungkin Naren tak akan sekesal ini. Tapi ini Edward Mou, dia ayah dari mantan pacar Glacia. Kenapa Glacia harus merahasiakan pertemuan mereka? Apa ada sesuatu yang sangat krusial, hingga Glacia harus menyembunyikannya dari Narendra?


Sampai larut malam pun, keduanya masih saling mendiamkan. Lebih tepatnya Narendra yang tak banyak bicara. Ia lebih banyak bungkam ketika Glacia bertanya atau mengajaknya mengobrol.


Glacia juga sadar, bahwa Narendra kini tengah menjaga jarak darinya. Bahkan saat mau tidur seperti sekarang pun, lelaki itu masih menutup mulutnya rapat-rapat. Seolah tidak cukup, Narendra juga berbaring memunggungi Glacia.


Glacia yang tidak tahan karena diabaikan, akhirnya membalikkan tubuh menghadap Narendra. Ia menatap bahu lebar lelaki itu dari belakang.


"Aku tahu kamu belum tidur," cetus Glacia. "Naren?" Ia memanggil lelaki itu, namun Narendra tetap bertahan dalam sikap diamnya.


Usai makan malam Narendra pergi ke luar entah ke mana. Lelaki itu baru kembali saat pukul sepuluh, tepat setelah Glacia berbaring di kasur dan hendak tidur.


"Naren, aku bicara padamu! Kenapa kamu diam saja sejak tadi? Tidak mungkin hanya karena lelah bekerja. Kamu tidak pernah seperti ini." Glacia berseru tak sabar.


Lama tak terdengar suara dari Narendra, akhirnya lelaki itu pun merespon pertanyaan Glacia. "Tahu apa kamu tentangku?"


Nada datar itu membuat Glacia sesaat tercenung. Sepertinya memang benar, suasana hati Narendra sedang tidak baik-baik saja.


"Ada apa denganmu?" tanya Glacia pelan, sekaligus takut. "K-kenapa kamu jadi seperti ini? Apa aku ada salah padamu?"

__ADS_1


Helaan nafas terdengar kasar dari mulut Narendra. Ia sedikit mengangkat kepala menoleh ke belakang, tanpa benar-benar menatap Glacia. "Kamu bertanya?" dengusnya. "Bisa-bisanya kamu bertanya. Sampai kapan kamu akan berpura-pura bodoh dan mempermainkanku?"


Perkataan Narendra barusan kontan membuat Glacia terduduk bangun. Keningnya berkerut dalam memperhatikan punggung Narendra. "Naren?" bisiknya pelan.


Narendra ikut bangun, ia duduk menghadap Glacia dengan pandangan dingin. "Selama ini aku bersikap seperti pria bodoh yang selalu sabar menghadapimu. Aku diam saat kamu bodohi, aku mengesampingkan kepentinganku demi kamu. Tapi apa yang kamu lakukan padaku? Kamu terus saja memperlakukanku seperti seekor keledai yang penurut."


"Sampai sejauh ini, apa kamu benar sudah mencintaiku?" Narendra terlihat menuntut jawaban.


Melihat reaksi Narendra yang demikian, Glacia benar-benar dibuat terdiam. "Kenapa kamu bertanya seperti itu? Bukankah aku pernah mengatakan, aku mencintaimu, Naren. Apa sekarang kamu sedang meragukanku?"


Glacia berusaha tetap tenang, kendati sikap Narendra membuatnya gelisah. Sorot kecewa lelaki itu, Glacia baru kali melihatnya.


"Bagaimana aku tidak meragukanmu, sementara kamu selalu menyembunyikan segala hal dariku!" seru Narendra. "Sekarang aku tanya, apa alasanmu mencintaiku?"


"Naren, kamu mencintaiku. Aku mencintaimu ..." Belum selesai Glacia bicara, Narendra langsung memotong.


"Kamu mencintaiku karena aku mencintaimu?" Mata Narendra semakin merah. Rasa kecewa itu semakin kuat membayangi wajahnya. "Itu bukan cinta, Glacy, melainkan rasa kasihan."


Kening Glacia berkerut dalam. "Naren—"


"Kamu hanya bersimpati padaku?" Narendra mendengus dan tertawa hambar. Ekspresinya begitu mengenaskan bagi siapa pun, seolah-olah dialah pria yang memiliki kisah cinta paling menyedihkan. "Bodohnya aku mengira kamu sudah mencintaiku. Kamu tidak mungkin mencintai lelaki yang menumpang hidup pada keluargamu. Aku tahu, aku terlalu rendah untuk memenuhi kriteriamu."


"Narendra!" seru Glacia. Nafas wanita itu tak beraturan. "Cukup! Apa yang kamu bicarakan? Aku mencintaimu. Mau kamu balas mencintaiku atau tidak, aku tetap mencintaimu. Kenapa kamu seperti ini?"


"Omong kosong," bisik Narendra. "Aku tidak peduli sekarang, mau kamu mencintaiku atau tidak, aku tetap akan meminta hakku sebagai suami. Sudah terlalu lama aku bersabar dan berdiam diri. Kali ini aku tidak akan melepaskanmu, Glacia."

__ADS_1


Narendra tak memberi kesempatan pada Glacia untuk bicara lagi. Ia mendorong wanita itu untuk berbaring di ranjang, lalu menindih dan menciumnya dengan brutal.


Glacia terkejut, ia hanya bisa membelalak sambil berusaha menahan dada Narendra yang terlalu berat menghimpitnya. "N-Naren! Eemmpp ..."


Narendra mengulum dan memagut bibir Glacia keras. Ia menggigit untuk memasukkan lidahnya dengan paksa. Glacia memberontak, namun Narendra tak menghiraukan.


"Narendra!!"


Plak!


Glacia terengah marah. Narendra yang baru saja di tampar hanya terdiam dengan posisi kepala menyamping. Namun situasi itu tak bertahan lama, Glacia pikir Narendra akan sadar dan berhenti, namun ternyata ia salah, lelaki itu kembali menyerangnya dengan lebih brutal dan membabi-buta.


"Eempp!!"


Tenaga Glacia jelas tak sebanding dengan sang suami. Pria itu seolah mengerahkan kekuatannya untuk menjerat Glacia. Glacia terisak saat Narendra meraup paksa gaun tidurnya hingga terlepas. Pria itu menciumi tubuhnya, menciptakan jejak yang entah harus Glacia senangi atau tidak.


Bukan percintaan seperti ini yang ia inginkan bersama Narendra. Namun ia bisa apa, Narendra benar-benar hilang kewarasan sampai ia tak bisa membendung emosinya yang meledak-ledak.


Entah kapan mulanya semua pakaian itu berhamburan. Narendra sudah sama polosnya dengan Glacia. Hingga tiba di mana Narendra hendak menyatukan tubuh mereka, ia terdiam dengan raut wajah yang mematung.


Glacia tahu apa yang membuat Narendra berhenti. Masih dengan isak tangis yang tertahan, ia meraih kepala lelaki itu, mengusap rambutnya penuh perasaan. "Aku tidak tahu apa yang membuatmu jadi seperti ini. Tapi, jika hubungan ini bisa membuat amarahmu mereda, aku tidak apa-apa, Narendra."


Glacia tersedu membenamkan wajahnya di ceruk leher Narendra. Ia bisa merasakan lelaki itu menelan ludah secara kasar. Narendra tetap tak mengatakan apa pun saat ia melanjutkan mendorong tubuhnya memasuki Glacia. Mulutnya masih bungkam kendati jerit kesakitan wanita itu melengking di samping telinganya.


Pada akhirnya, Glacia menyerahkan kesuciannya untuk Narendra. Sesuatu yang begitu mengejutkan, mengingat pergaulan wanita itu di masa lalu terlampau liar. Siapa pun pasti tidak akan mengira, mantan pacar Gallen Mou itu masih menjaga keperawanannya hingga saat ini.

__ADS_1


__ADS_2