Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
94. Menjadi Pasien


__ADS_3

Narendra dan Julian tiba di sebuah gedung tinggi di pusat kota. Kilap gelapnya yang memukau seolah menjadi ciri khas di antara gedung-gedung lain di sekitarnya. Lambang cheetah raksasa bersinar keemasan tertimpa cahaya matahari. Benar, saat ini ia tengah berada di gedung Wiranata milik Gibran.


Keduanya masuk melewati lobi, Narendra mengeluarkan sebuah kartu yang kemudian ia tempelkan pada lift khusus yang akan membawa mereka ke lantai rahasia.


Tak lama kemudian dua lelaki itu sampai di sebuah ruangan tertutup minim cahaya. Berbagai perangkat elektronik memenuhi hampir seluruh sisi ruangan tersebut. Narendra berjalan masuk lebih dalam, pun Julian setia mengekor di belakang.


"Kau sudah menemukan identitasnya?" Narendra menghampiri Harley yang tengah berdiri di samping anak buahnya. Seorang pemuda yang sedang berkutat dengan tab dan beberapa komputer di atas meja.


Lelaki itu bergumam, tubuhnya berbalik dengan kedua tangan terlipat di dada. "Ada beberapa yang dicurigai. Satu yang sudah kami dapatkan, dia memiliki tato di pergelangan tangannya.


"Tato?" Narendra mengernyit.


Harley mengangguk membenarkan. "Hm. Tato berupa tulisan entah apa," ujarnya mengendik. "Kami tidak bisa melihat detailnya karena pecah saat dizoom."


Narendra diam berpikir. Matanya mengamati seorang pemuda yang merupakan salah satu anggota terbaik dalam tim. Jemarinya tak henti menari di atas keyboard, memunculkan data-data rahasia dari berbagai perusahaan maupun individu.

__ADS_1


"Siapa saja yang kau temukan?" tanya Narendra.


"Entahlah, aku belum yakin dengan orang-orang ini," sahut si pemuda.


Kening Narendra berkerut dalam. Bicara soal tato, sepertinya Narendra mengenal seseorang yang hampir seluruh tubuhnya dipenuhi gambar-gambar abstrak tersebut.


Pemuda itu menunjukkan beberapa identitas pria kepada Narendra. Narendra pun meneliti layar dengan seksama. "Coba kau selidiki nama Thomas."


Si pemuda terdiam. "Thomas adikmu?"


Beberapa orang memang sudah tahu mengenai latar belakang Thomas. Harley dan si pemuda mendengus. "Dia adik tirimu, kau tidak bisa mengelak itu." Kemudian Harley melanjutkan. "Hubungan kalian memang tidak baik, tapi sayangnya kau harus menyingkirkan dulu rasa curigamu itu, karena dia tidak memiliki tato serupa dengan penyusup yang memasuki banker kita."


Harley turut mengotak-atik komputer di hadapan si pemuda hingga sebuah foto tangan seseorang muncul di layar. Narendra tidak bisa melihat jelas tato yang terukir di pergelangan tangan tersebut, karena selain buram juga terhalang lengan baju yang panjang.


Membuang nafas, Narendra menjauhkan wajahnya dari komputer, ia kembali berdiri tegak dengan tangan terselip di saku. Rautnya seolah sedang berpikir.

__ADS_1


Sementara di lain tempat, Lizy merapatkan mantel panjang yang dipakainya. Topi dan masker menutupi wajahnya. Wanita itu menyeberangi jalan hingga tiba di depan rumah sakit elit yang sedari beberapa jam lalu ia amati.


Pertama-tama ia menghampiri petugas UGD, lalu menunjukkan sebagian luka di tangannya yang memang masih sangat basah, bahkan semakin parah seperti terinfeksi. Namun saat si petugas menyuruhnya membuka topi, Lizy hanya menurunkan sedikit maskernya hingga memperlihatkan luka lain yang membuat petugas itu meringis sedikit ngeri.


Lantaran mengira Lizy malu, akhirnya petugas tersebut pun membiarkan Lizy dengan penampilan tertutupnya. Untuk menjalani perawatan di sana, Lizy dimintai sejumlah kartu identitas oleh perawat.


Saat itulah, Lizy mengeluarkan sebuah cincin berlian dari saku mantelnya, yang kemudian ia jejalkan pada tangan si perawat.


Perawat tersebut seolah mengerti apa maksud Lizy. Dengan gugup, ia pun menolehkan kepalanya mengamati sekitar, sebelum memasukkan berlian itu ke dalam sakunya.


"Aku ingin menjadi salah satu pasien di sini," ucap Lizy. Sudut bibirnya tersenyum miring di balik masker.


Perawat itu berdehem sebentar, kemudian menjawab. "Akan saya usahakan." Ia lalu pergi guna menyiapkan pengobatan untuk Lizy.


Lizy menyeringai puas. Ternyata, mau itu rumah sakit kecil atau besar, karyawan-karyawan demikian selalu ada. Dalam situasi apa pun, uang memang selalu menjadi pemenangnya.

__ADS_1


__ADS_2