
Glacia mengerjap setelah seseorang menjentikkan jari di depan wajahnya. Keningnya berkerut dalam melihat wajah Rafael yang begitu dekat mengamatinya. Glacia refleks mundur, pun Rafael menjauhkan tubuh dan berdiri tegak sambil menatap Glacia.
Kedua tangan lelaki itu terselip di saku, dan Glacia merasa suasana begitu canggung di antara mereka. Rafael terus mematri Glacia dengan matanya, membuat Glacia merasa risih hingga mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
Namun saat itulah Glacia kembali merasa aneh. Ruangan ini bukan ruang rawatnya di rumah sakit, bukan pula kamarnya di rumah Yohanes atau Narendra. Living room yang luas itu lebih terlihat seperti penthouse atau apartemen. Penasaran, Glacia kembali menoleh ada Rafael yang sedari tadi bungkam.
"Dokter, ini di mana? Bagaimana bisa saya ada di sini? Padahal tadi ..." Perkataan Glacia menggantung. Ia benar-benar merasa aneh. Seingat Glacia, ia masih di kamar inap menunggu Narendra yang berpamitan ke luar.
"Naren?" bisik Glacia tanpa sadar.
Rafael tersenyum teduh, ia duduk di sofa dekat Glacia, menumpukan kedua tangannya di lutut seraya mentap wanita itu lekat. "Kamu tenang dulu, ya? Saat ini kamu ada di apartemen saya, dengan tujuan pengobatan. Saya bawa kamu ke sini atas izin Pak Yohanes, ayah kamu."
"Papa?" Kening Glacia berkerut dalam.
Rafael mengangguk tenang. Ia mengeluarkan ponsel dan mengotak-atiknya sebentar, lalu menunjukkan layarnya pada Glacia. Di sana terdapat rekaman video Yohanes yang bicara. "Glacy, Papa izinkan kamu tinggal bersama Dokter Rafael. Dia bisa menyembuhkan kamu, koneksinya banyak, bisa bawa kamu berobat ke manapun, dan tentunya bersama dokter-dokter dengan sertifikat terbaik. Papa sayang kamu. Semoga kamu cepat sembuh."
Mengerjap, Glacia dibuat terheran-heran. Rafael bertemu Yohanes? Lalu, Narendra?
Rafael memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Sementara Glacia, ia mendongak menatap dokter muda itu dengan raut bingung. "Maaf, Dokter. Tapi ... untuk pengobatan, bukankah saya perlu izin dari dokter sebelumnya di rumah sakit? Anu, kenapa saya tidak ingat apa pun?"
Dengan kening berkerut semakin dalam, Glacia menggaruk pelipisnya aneh.
"Wajar kamu tidak ingat. Tadi saya bawa kamu ke sini saat kamu tidur. Saya juga sudah mendapat surat-surat izin yang kamu maksud, bahkan mereka sendiri yang merujuk kamu ke saya. Maksud saya, saya punya kenalan-kenalan dokter di beberapa bidang yang akan sangat kamu butuhkan nanti. Dan untuk sementara kamu tinggal di sini."
__ADS_1
"Kenapa harus di sini? Sebentar, bagaimana dengan suami saya? A-apa dia juga mengijinkan?"
Rafael mengangguk disertai senyum. Namun Glacia benar-benar merasa aneh. Ia pun mengutarakan pikirannya. "Aneh. Tadi, yang saya ingat, saya sedang makan croissant. Suami saya pamit keluar dan saya disuruh menunggu di ruang rawat. Lalu, kenapa tiba-tiba bisa ada di sini? Apa ada yang saya lupakan?"
Lagi dan lagi Rafael menjawab dengan tenang. "Pengobatan kanker yang sejauh ini kamu jalani memberikan beberapa efek tertentu pada tubuh kamu, termasuk ingatan yang mulai acak dan tidak jelas. Bisa saja yang sekarang atau nanti kamu ingat adalah ingatan beberapa waktu ke belakang."
Glacia terdiam berusaha mencerna penjelasan Rafael. Ia bergeming memikirkan segala hal, dan informasi yang menurutnya terasa janggal. Tapi, apa mungkin ingatannya mulai kabur, seperti yang Rafael bilang barusan? Apa ini salah satu efek samping dari kemoterapi selain rambutnya yang mulai rontok?
Rafael berdiri menepuk-nepuk celananya. "Saya ada perlu sebentar, semoga kamu betah di sini. Oh ya, anggap saja rumah sendiri, kamu bisa mengambil makanan apa pun di dapur." Ia menunjuk dapur bersih yang hanya dipisah oleh meja bar. "Saya menyediakan banyak camilan sehat yang aman untuk dikonsumsi oleh pasien seperti kamu."
Rafael dan senyumnya kini beranjak meninggalkan Glacia yang terdiam mematung di tengah-tengah ruang tamu besar itu. Tiba-tiba ia merindukan Narendra. Benarkah ingatan Glacia mulai kabur sampai ingatannya terkesan acak?
Matanya mengedar mengamati lagi apartemen mewah milik Rafael. Ia pun bergumam. "Apa ini termasuk prosedur baru dalam pengobatan? Tinggal di kediaman pribadi seorang dokter, aku baru tahu ada yang seperti ini."
Tidak mudah untuk Rafael tiba di apartemennya yang sekarang. Ia harus mengambil jalan berliku ke sana kemari demi mengecoh Narendra yang mengejarnya. Dan setelah hampir dua jam, akhirnya Rafael pun bisa sampai dengan selamat dan lepas dari jangkauan Narendra di jalanan.
***
Narendra membuang nafasnya lelah. Ia memejamkan mata sambil bersandar di jok mobil. "Aku terlalu meremehkan dokter itu selama ini. Tidak kusangka dia memiliki jiwa kriminal juga." Lalu menoleh pada Harley yang menyetir di sampingnya. "Masih belum bertemu lokasinya?"
Saat ini mereka tengah berhenti sejenak di perjalanan lantaran kehilangan jejak Rafael. Harley berdesis tajam mengotak-atik laptop di pangkuannya. "Sialan. Siapa dia sebenarnya? Dia terlalu pintar untuk seukuran dokter."
Tiba-tiba saja Narendra mengerjap, punggungnya menegap memikirkan sesuatu. "Dia membantu Lizy, tapi menyukai Glacia. Apa yang dia rencanakan? Jika dia menyukai istriku, dia pasti tahu bahwa Lizy sangat berbahaya untuknya. Wanita itu berniat membunuh Glacia."
__ADS_1
Sudut bibir Harley berkedut kecil. "Kenapa orang-orang di sekitarku selalu gila karena cinta? Wanita selalu membuat pria berlaku nekat," dengusnya setengah tak menyangka.
"Kau akan tahu saat menemukan seseorang yang tepat," ujar Narendra.
"Dan bagaimana seseorang yang tepat itu?" tanya Harley balik.
Narendra membuang nafasnya perlahan, ia menjelaskan sembari matanya menerawang memikirkan sebuah hal. "Perasaan lembut, hangat, jantungmu berdegup setiap kali melihat, bahkan mengingatnya. Hatimu terasa ringan setiap kali berada di dekatnya. Dan rasa ingin bertemu itu selalu hadir setiap waktu. Kau akan khawatir jika berada jauh darinya."
Hening, lalu suara tawa Harley tiba-tiba menggema. Lelaki itu sampai mendongak dengan sudut mata yang basah. "Apa kau beralih profesi jadi seorang pujangga? Kenapa perasaanmu terdengar begitu puitis?"
Narendra melirik malas. "Sudah kubilang, kau akan mengerti setelah mengalaminya."
Harley masih terkekeh sambil mengotak-atik laptop ketika ponselnya bergetar menampilkan pesan dari seseorang. Ia meraih benda itu, lalu membuka pesan tersebut sebelum menoleh pada Narendra. "Sepertinya Nick menemukan mobil yang dipakai dokter gila itu."
Tubuh Narendra menegap. "Di mana?"
Harley menepuk pundak Narendra. "Rileks lah sedikit. Kita pasti menemukan istrimu. Kau akan mati jika memendam khawatir sebesar itu."
Meski sejak tadi Narendra berusaha terlihat tenang, nyatanya lelaki itu tak bisa menampik kenyataan bahwa ia memang tengah dilanda kekhawatiran besar terhadap Glacia.
"Serahkan padaku, dan kau bisa menghajar bajingan itu sepuasnya nanti."
"Kenapa kalian masih ingin membantuku, meski aku sempat keluar dari keanggotaan kalian?" Narendra bertanya.
__ADS_1
Harley tersenyum tipis. "Gibran terlalu menyayangimu. Itu artinya kau masih dibutuhkan."