
Polisi sudah berhasil menangkap Krisna dan antek-anteknya. Para berandal yang ternyata mantan narapidana itu harus kembali merasakan dinginnya jeruji besi dalam tahanan.
Sementara Eliza, wanita itu belum ditemukan keberadaannya. Polisi masih berusaha keras melacak dan menelusuri tempat-tempat yang kemungkinan wanita itu kunjungi.
Glacia sendiri berhasil Narendra selamatkan, namun keadaannya masih jauh lebih buruk dari yang diharapkan. Glacia kritis, sudah dua hari sejak insiden di jembatan itu, Glacia belum juga sadarkan diri.
Dokter bilang kondisinya belum stabil hingga ia maupun Yohanes tidak diperbolehkan masuk apalagi melihatnya secara langsung.
Selama itu pula Narendra hanya bisa diam menunggu. Ia berharap Glacia segera sadar. Narendra juga sedang memproses kasus kecelakaan yang Glacia alami bersama Gallen dulu. Ini atas permintaan Yohanes, pun Narendra memang ingin sekali menjebloskan lelaki itu ke penjara.
Rupanya Yohanes masih menyimpan kemarahan pada mantan pacar putrinya itu. Terlebih saat tahu bahwa Gallen mendukung perundungan di pesta ulang tahun Lizy beberapa waktu lalu.
Hal yang wajar mengingat Gallen seolah tak ada rasa bersalah sama sekali terhadap Glacia. Padahal kecelakaan itu jelas karena kelalaiannya dalam berkendara. Alih-alih merasa iba, lelaki itu justru mencampakkan Glacia dengan arogan.
Meski Narendra senang karena akhirnya hubungan Glacia dan lelaki itu berakhir, tapi ia tidak rela melihat Gallen menjalani hidup tenang begitu saja, tanpa mengingat dosa besar apa yang telah dia lakukan, membuat seorang wanita cacat dan hampir putus asa ingin mengakhiri hidup.
Detak jarum jam seolah melambat bagi Narendra, persis monitor di samping Glacia yang tak kunjung menunjukkan kemajuan. Glacia masih berada di antara hidup dan mati. Ia kritis, pun kesehatannya menurun karena sebagian besar kanker di tubuhnya sudah menyebar.
Seharusnya, besok adalah jadwal kemoterapi Glacia. Tapi melihat kondisinya sekarang, entah kapan dokter akan melanjutkan jadwal pengobatan. Narendra khawatir, jika dibiarkan terlalu lama hal itu akan berdampak lebih buruk pada Glacia.
Narendra berdiri saat melihat Yohanes mendekat dari kejauhan. Pria itu tak kalah kacau, akhir-akhir ini penampilannya begitu berantakan, pun wajah paruh bayanya nampak sangat lelah.
"Di luar banyak wartawan," ucapnya ketika mereka sudah dekat.
Yohanes berjalan ke sebuah pintu lalu membukanya. Itu adalah ruangan tempat mereka melihat Glacia dari balik dinding kaca. Narendra mengikuti dan berdiri tanpa suara di samping sang mertua. Keduanya sama-sama bungkam memperhatikan Glacia yang terbaring lemah dengan berbagai alat menempeli tubuh ringkihnya.
"Ayahmu benar-benar keterlaluan," bisik Yohanes.
__ADS_1
Narendra tak membantah karena itu memang benar. Satu-satunya hal yang Narendra sesali hingga ia membenci dirinya sendiri. Kenapa harus Krisna? Kenapa harus pria itu yang menjadi ayahnya? Dia menyakiti ibunya, lalu sekarang Glacia, dan itu membuat Narendra ingin membunuh Krisna saat ini juga.
"Dan mantan pacarmu jauh lebih keterlaluan. Dia adalah otak dari semua rencana kejahatan yang menimpa Glacia," lanjut Yohanes, sembari melirik Narendra yang bergeming dengan pandangan lurus mengamati Glacia. "Lucu sekali, Glacia hampir meregang nyawa di tangan mertuanya sendiri."
"Dia bukan mertua Glacia, karena lelaki itu bukan ayah saya." Narendra bahkan tidak sudi menyebut nama Krisna dari mulutnya.
Yohanes paham. Ia bukan mendukung Narendra untuk tidak perduli pada ayahnya sendiri, tapi menurut Yohanes, pria itu terlalu bejat untuk menjadi ayah dari anak sebaik dan sepintar Narendra.
"Soal Gallen ..." Yohanes menggantung ucapannya. "Keluarganya tidak terima atas laporan kita. Papa sudah menduganya sebelum ini. Mereka malah menyerang balik, lucu sekali. Orang-orang yang tak sudi kesalahannya diumbar, dan malah menggonggong mengagungkan kekuasaan. Betapa mirisnya manusia jaman sekarang, minim empati dan peduli," lanjut Yohanes bergumam.
"Papa hanya minta pertanggungjawaban Gallen karena telah membuat Glacia cacat, tapi dia tetap enggan mengaku salah meski beberapa bukti sudah menguatkan kelalaiannya dalam berkendara malam itu. Yang paling Papa tidak habis pikir, kenapa tidak ada satupun kata permintaan maaf darinya?" Yohanes tertawa lirih. "Sudah benar Papa tidak merestui mereka. Glacia terlalu berharga untuk bajingan seperti Gallen."
Narendra diam mendengarkan. Kedua tangannya tenggelam di saku celana, sementara matanya tak sekalipun meninggalkan Glacia.
"Saya pastikan Glacia mendapat keadilan," ucap Narendra.
Narendra tak mampu berucap apa pun, ia pun berharap hal yang sama. Tapi, entah kenapa perasaannya semakin hari semakin tidak nyaman. Narendra gelisah dan khawatir menanti kondisi Glacia yang kadang membaik kadang memburuk. Entah kapan ia akan keluar dari masa kritis.
Narendra menunduk dalam mendenguskan senyum samar yang hambar. "Kamu memang selalu ingin meninggalkanku, Glacy," bisiknya dalam hati.
***
Dua langkah kaki berderap di keheningan malam. Narendra mengikuti Harley dalam diam. Keduanya sama-sama bungkam sejak beberapa menit yang lalu. Harley tiba-tiba menemuinya di rumah sakit, dan menyuruh Narendra mengikutinya ke salah satu lorong sepi yang jauh dari jangkauan orang.
Harley berhenti begitu mereka sampai di sebuah koridor gelap dengan dinding kaca yang dominan. Pencahayaan remang membuat pemandangan luar terlihat jelas. Namun bukan itu yang Narendra pikirkan, melainkan seorang pria yang berdiri di salah satu sisi jendela, membelakanginya dengan kedua tangan terlipat di dada.
Menyadari kehadiran dua orang di belakangnya, pria itu berbalik dan langsung menatap tepat ke arah Narendra. Tak ada yang berubah, aura dingin lelaki itu selalu mampu membekukan sekitar.
__ADS_1
Harley menyingkir dan berdiri di samping lelaki itu.
"Gibran Wiranata," ucap Narendra datar. Ia sudah menduga hal ini ketika Harley mendatanginya tadi.
Gibran Wiranata tersenyum miring, sangat tipis hingga sedikit samar dalam keremangan. "Long time no see, my old friend."
Hening, ketegangan sedikit muncul beberapa saat sampai akhirnya Narendra membuang nafas dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Sudah kuduga, kau yang membuat kekacauan," bisik Narendra pelan.
Gibran mendenguskan senyum miring, turut menghadap jendela hingga kini mereka berdiri bersisian. "Pergerakanmu terlalu lambat. Aku hanya mempercepat semuanya."
Narendra menoleh tajam. "Tapi kau hampir menewaskan Glacia!"
Gibran mengendikkan bahu. "Itu di luar rencanaku."
Ingin Narendra memukul pria itu sekarang, tapi ia hanya menahan desisan dengan rahang mengetat rapat, lalu kembali memusatkan pandangan pada pepohonan di luar. "Sudah kubilang jangan ikut campur," ucapnya datar.
Dua pria berwajah kaku itu saling diam, sementara Harley setia berdiri di belakang. Tak lama Gibran pun membuka suara. "Bagaimana aku tidak ikut campur saat anak buahku mengalami kesulitan?"
Gibran menoleh, mengangkat satu alisnya menatap Narendra dengan sudut bibir tersungging miring.
Narendra turut menoleh, membalas lelaki itu dengan tatapan datar nan dingin. "Sekarang bukan lagi, jika kau lupa."
"Meski begitu kau tak bisa mengelak kenyataan bahwa Glacia adalah sepupuku. Right?"
Narendra terdiam. Ia lupa, bahwa Yohanes Martadinata masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan almarhum Abhimanyu Wiranata. Hal tersebut membuatnya bungkam hingga kini Gibran menatapnya penuh kemenangan.
__ADS_1
"Akuilah, bahwa kau memang masih membutuhkan bantuanku, kawan."