Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
108. Rasa Tercekik


__ADS_3

Glacia termenung, ia baru saja selesai kemoterapi saat seseorang tiba-tiba datang membuka pintu.


"Halo, Sepupu!" Kepalanya menyembul terlebih dulu, disusul tubuhnya hingga kini orang itu masuk dan berlari kecil ke arah Glacia.


Glacia melirik setengah meringis. Dalam hati ia merutuk, untuk apa wanita cerewet ini datang lagi. Maria berdiri di samping Glacia yang kembali mengarahkan mata ke luar jendela.


Glacia tengah berbaring dengan punggung ranjang sedikit dinaikkan. Wanita itu masih tampak lemas hingga enggan bersuara. Maria akhirnya menyimpan buah-buahan ke atas meja, lalu duduk di kursi sebelah ranjang.


Lama mereka hanya saling bungkam. Maria berusaha mengingat pesan suaminya agar ia tak bicara sembarangan. Perasaan Glacia sedang dalam keadaan sensitif, kalimat sekecil apa pun yang menyinggungnya sudah pasti akan menimbulkan kegusaran.


"Untuk apa kau kemari?" Glacia akhirnya buka suara. Senyum Maria langsung mengembang, terlebih saat wanita itu menoleh ke arahnya.


Maria menjawab. "Menemanimu."


Dengusan kecil keluar dari mulut Glacia, ia mengalihkan lagi pandangannya dengan malas. "Aku tidak perlu ditemani, banyak pengawal di luar sana."


"Tentu saja itu berbeda," sahut Maria. Ia menatap Glacia lama. "Kau tidak memotong rambutmu? Itu mulai sangat rontok, kan? Lebih baik potong pendek saja."


Glacia melirik beberapa helai rambutnya yang menempel di bahu, pun di bantal tak kalah banyak. Ia membuang nafas panjang. "Untuk apa? Nanti juga habis."


Maria tersenyum. "Setidaknya lebih membuatmu nyaman. Kamu tenang saja, selesai pengobatan rambutmu akan tumbuh lagi."


Glacia tak menyahut. Wanita itu kembali bungkam, rautnya terlihat memikirkan banyak hal.


"Kau mengingatkanku pada diriku yang dulu," cetus Maria tiba-tiba. "Dan sepertinya takdir kita memang sama, terjebak dalam jeratan seorang pria secara terpaksa." Ia mengendikkan bahu. "Awalnya begitu, tapi lama-lama aku tidak bisa hidup tanpa Gibran," lanjutnya tersenyum.


Glacia menoleh pelan. "Bukankah, kau dan sepupuku memang sudah menjalin hubungan sejak lama?"


Kali ini senyum Maria terkesan hambar. "Kami sempat terpisah, dan aku menemukan fakta bahwa aku sempat melupakannya. Saat menyadari itu, rasanya sangat menyakitkan."


Glacia mengangguk. Ia lupa, padahal sedikit banyak ia juga tahu perjalanan cinta mereka. "Kau wanita hebat, bisa bertahan dengan suami bertemperamen buruk seperti Gibran."

__ADS_1


Maria tertawa. "Hey, sepupumu tidak seburuk itu. Dia pria penyayang tahu," ujarnya dipenuhi senyum. Matanya menyipit dengan binar hangat penuh bahagia. Seolah wanita itu senang hanya dengan menceritakan sang suami.


Glacia berdecih. Tanpa sadar ia pun bergumam. "Hangat apanya? Dia pria berdarah dingin yang tidak segan melenyapkan orang."


Maria yang mendengar bisikan tersebut, kontan berhenti tertawa. Ia tersenyum kecil, tak menampik bahwa yang dikatakan Glacia memang tak sepenuhnya salah.


"Aku tidak bisa mengelak, suamiku memang penuh dosa, banyak orang yang menjadi korbannya. Tapi, setidaknya dia memiliki alasan yang jelas untuk melakukannya," ucap Maria setengah berbisik.


Glacia tergagap. Ia betul-betul tidak bermaksud menyinggung. Kenapa pula mulutnya tak bisa dijaga? Glacia merutuk dalam hati.


"Itu ... bukan, maksudku ..."


"Tidak apa. Perkataanmu memang tidak salah. Di luar sikapnya yang menyebalkan bagi orang lain, tapi dia adalah suami dan ayah yang baik bagiku dan anak-anakku," ucap Maria lembut. "Dia pria yang menomorsatukan keluarga."


Glacia bungkam. Sejenak ia tercenung seolah berpikir panjang. Kemudian Glacia bertanya lirih. "Apakah ... pria yang senang menyakiti orang, bisa seketika baik hanya karena kita adalah pasangannya?"


"Mereka ... lebih mirip psikopat. Aku tidak yakin, karena psikopat tidak memiliki perasaan," lanjut Glacia.


Glacia tak menjawab, tapi dari rautnya, Maria tahu bahwa tebakannya benar.


"Kalian bertengkar?"


"Bukan bertengkar. Aku hanya ..." Glacia tampak bingung melanjutkan. "D-dia ..." Maria menunggu. "Aku hanya sedikit syok dan bingung. Kemarin, dia mengakui sesuatu yang entah itu nyata atau bukan. Aku masih tidak percaya dan merasa semua ini hanya mimpi."


Pada akhirnya, Glacia tak bisa menyimpan kegundahan itu sendiri. Sedari kemarin otaknya serasa linglung, pikirannya tak karuan hingga membuat Glacia berkali-kali mengalami lemas.


"Bagaimana bisa, pria baik-baik yang selama ini aku kenal, tiba-tiba mengaku telah membunuh seseorang, dan yang lebih parah orang itu ayahnya." Nafas Glacia terengah saat mengingat kembali pengakuan Narendra di pemakaman kemarin. Ia menoleh pada Maria. "Itu pasti tidak benar, kan? Narendra sangat patuh pada ayahku. Meski pendiam, tapi yang kutahu dia tidak pernah menyakiti orang. Dia juga baik dan perhatian padaku. Dia bahkan mau bertahan meski berkali-kali kusakiti. Dia tidak mungkin melakukan hal-hal keji."


Maria dibuat terdiam melihat mata Glacia yang berkaca. Wanita itu mengutarakan isi hatinya sambil menggeleng tak percaya. Sebenarnya ia cukup menyayangkan, kenapa Narendra harus mengakui semua di saat kondisi Glacia masih seperti ini?


"Tapi ... Lizy juga bilang dia monster. A-Aku tidak tahu harus berkata apa. A-Aku, t-tubuh Lizy penuh luka. D-Dia, wajahnya bahkan sangat mengerikan. Dia tidak hanya membunuh ayahnya, t-tapi juga melukai mantan kekasihnya." Saking cemasnya kalimat Glacia jadi terdengar rancu dan kacau. Wanita itu tampak tidak fokus seolah ketakutan dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


Melihat keadaan Glacia yang demikian, Maria pun bangkit berdiri. Ia mengambil tangan Glacia yang tidak dipasangi infus, menggenggamnya halus berusaha menenangkan. "Glacy?"


Nafas Glacia terengah. Ia berkali-kali menelan ludah sebelum akhirnya terisak pelan di hadapan Maria. "Aku takut, aku takut semua yang kudengar bukan mimpi."


Wanita itu menangis sesenggukan. Rasa tercekik yang sejak kemarin melingkupi hatinya kini meluap ke permukaan. Glacia tengah berperang dengan keyakinannya sendiri. Kepercayaannya pada Narendra sedang dipertaruhkan saat ini. Ia tidak tahu harus mengadu pada siapa. Entah ke mana Glacia harus mengutarakan kekhawatirannya.


"Glacia." Maria mengeratkan genggaman di tangan Glacia. "Yang kamu ketahui memang bukan mimpi. Aku tahu kamu syok, takut, tidak percaya bahwa semuanya memang nyata. Kamu terkejut, karena seseorang yang selama ini kamu kenal baik tiba-tiba berubah jadi seorang yang kejam."


"Aku pernah mengalaminya. Dulu, saat pertama aku tahu suamiku bukan pria baik, aku tidak bisa makan dan tidur. Kurang lebih sama seperti kamu. Rasa takut menghantui setiap kali bertemu dengannya. Karena hal itu juga, aku hampir membunuh bayi dalam kandunganku," tutur Maria. "Aku bersyukur, janin itu membuatku sadar dan tetap waras, di saat hatiku mulai terombang-ambing dan bingung mengambil tindakan. Tapi pada akhirnya aku tetap bertahan dalam rasa nyaman yang dia berikan. Aku memang benci sifat tidak berperikemanusiaan yang dia miliki, tapi aku tidak menampik bahwa diriku juga merasa aman bila berada di sampingnya."


Maria menatap Glacia lekat. "Glacy, aku tidak bermaksud membela Narendra dalam hal ini. Tapi, ada baiknya kalian bicarakan ini baik-baik. Dari sana kamu bisa paham dan tahu semuanya. Tentang dirinya yang sebenarnya, tentang mengapa ia mampu melakukan hal yang baru saja kamu ketahui. Tanyakan semua keresahanmu. Kalian butuh pembicaraan dua arah agar semuanya tidak menggantung. Ikutilah kata hatimu. Setelah kamu mengerti, kamu boleh mengambil keputusan apa pun. Itu hakmu."


Glacia sudah berhenti menangis, namun isakan lirih masih keluar dari mulutnya. Ia terdiam dengan pikiran yang berputar.


"Aku belum siap. Aku masih bingung harus bereaksi apa ketika bertemu dengannya," ujar Glacia.


Maria mengangguk, ia menepuk punggung tangan Glacia pelan. "Kalau begitu, tunggu sampai hatimu yakin." Ia lalu melihat Glacia yang kembali terdiam. Wanita itu seolah ragu untuk berkata. Dan sepertinya Maria mengerti apa yang hendak Glacia tanyakan.


"Aku kemari murni karena ingin menjengukmu, bukan atas dorongan siapa pun apalagi suamimu."


Kening Glacia berkerut. Maria pun melanjutkan ucapannya. "Kamu mau menuduh aku datang ke sini karena sengaja diperintah suamimu, kan? Hey, meskipun benar Narendra bukan orang yang akan cari pembelaan melalui orang lain."


Maria kembali duduk di kursi, ia bersidekap sambil menggigit apel yang baru saja diambilnya dari keranjang buah di nakas.


"Sudah kubilang, nasib kita ini hampir sama. Aku juga pernah diculik oleh orang gila saat suamiku koma. Setidaknya kamu masih harus bersyukur Rafael tidak menyakitimu. Dia pria baik, hanya saja obsesi membuatnya sedikit nekat."


Mendengar nama Rafael, Glacia dibuat bungkam. Menyadari ucapannya barusan membuat suasana berubah canggung, Maria pun berdehem menelan apel di mulutnya. "M-Maaf, aku tidak bermaksud."


"Tapi, Glacia, peristiwa itu sama sekali bukan salahmu. Ingat itu." Ia menatap Glacia harap-harap cemas. Ia baru saja melanggar perintah Gibran yang melarangnya berkata macam-macam, terlebih membahas hal sensitif seperti kejadian kemarin.


Tanpa diduga, Glacia justru tersenyum kecil. "Aku tahu. Mereka jatuh karena akibat dari tindakannya sendiri."

__ADS_1


Maria tersenyum. Ia senang karena Glacia tak lagi menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi.


__ADS_2