Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
63. Jepit Rambut


__ADS_3

Berita hilangnya Glacia sudah menyebar hingga ke media. Beberapa saluran televisi memberitakan hal yang sama, yaitu penculikan Glacia Martadinata yang sampai pagi ini belum kunjung ditemukan.


Pihak kepolisian mengerahkan sejumlah anggotanya. Sebagian ada yang bertugas di jalan, memeriksa semua kendaraan yang melintas hingga menimbulkan sedikit kemacetan.


Yohanes Martadinata mati-matian menahan tangisnya di hadapan wartawan. Ia menunduk, pun bahunya tampak membungkuk enggan menatap kamera. Yohanes baru saja mendatangi kantor polisi bersama Fin, sang asisten, juga beberapa pengawal yang setia mengikuti dan melindunginya dari serangan-serangan pertanyaan yang dilontarkan para pencari berita.


Pria itu baru saja tiba dari luar kota. Sempat menghubungi Narendra namun sang menantu masih tak memberi kabar hingga sekarang. Entah Narendra pergi ke mana, Julian bilang mereka berpisah karena Narendra melarikan diri dari tim saat pencarian.


Suasana ricuh nan gelisah, pun mansion masih diliputi ketegangan usai kejadian semalam. Beberapa pengawal bisa diselamatkan, sisanya tewas, dan Yohanes sedang mengurus semua asuransi serta hal-hal lainnya yang sudah tertulis dalam kontrak bilamana mereka mati dalam masa kerja.


Entah Glacia ada di mana. Yohanes betul-betul khawatir dengan kondisi putrinya. Ia hanya mampu menatap pilu kursi roda yang ditinggalkan si penculik, benar-benar tak berperasaan. Bagaimana Glacia bisa berjalan tanpa benda itu? Ia pasti tidak bisa kabur atau melarikan diri.


"Putriku yang malang," guman Yohanes sembari membuang nafas panjang. Matanya menatap sayu ke luar jendela. Yohanes betul-betul tak bisa tidur sejak dari luar kota ke Jakarta.


Fin sampai khawatir dan beberapa kali menatap tuannya.


"Tuan, anda ingin sarapan dulu? Wajah anda pucat," tawarnya dari kursi penumpang depan. Sopir di sebelahnya turut melirik Yohanes dari spion.


Namun Yohanes menolak tawaran tersebut karena ia tak nafsu makan. "Bagaimana bisa aku sarapan sementara putriku saja belum ditemukan. Ini sudah sepuluh jam lebih. Aku tidak tahu dia berada di mana, entah sudah makan atau belum," lirihnya pilu. "Dia sakit, Fin. Bagaimana kalau terjadi sesuatu, atau kesehatannya memburuk?"


Fin melirik Yohanes prihatin. Yohanes adalah pria yang tegas dan berwibawa. Tapi setegas-tegasnya seseorang, mereka juga lemah terhadap sesuatu yang disayang. Glacia adalah putri satu-satunya, jelas wanita itu adalah kelemahan Yohanes yang paling besar.


"Nona pasti segera ditemukan, Tuan," ucapnya berusaha menghibur.


Yohanes hanya bergumam sambil kembali menatap jalanan di sampingnya. Ia tidak tahu, karena semua bentuk penghiburan sudah tak mampu membuatnya tenang.


***


Di tempat lain, Glacia menatap kosong tumpukan kardus di sekelilingnya. Tubuhnya bergoyang pelan setiap kali mobil mengalami guncangan. Entah sampai kapan ia akan berada di mobil ini. Tubuhnya benar-benar sudah lemas tanpa tenaga.


Tenggorokan Glacia kering, pun perutnya keroncongan karena lapar. Para penculik itu sama sekali tak berbaik hati memberinya makan atau minum. Padahal Glacia sudah minta beberapa kali, tapi malah diabaikan dan ditertawakan.


Glacia ingin menangis. Tak jarang ia terisak karena takut dan lelah. Baju dan tangannya sudah kotor digunakan untuk menyeka darah saat beberapa kali mimisan. Glacia benar-benar merasa ia sebentar lagi akan mati.


Tuhan, kenapa mati pun harus dengan cara menyedihkan? Ia berpikir, mati karena penyakit terdengar lebih baik ketimbang mati dalam penculikan.

__ADS_1


Glacia tidak tahu mayatnya akan mereka apakan. Biasanya dibuang atau dibakar. Atau justru yang paling sadis semua tubuhnya dipisah jadi beberapa bagian.


Sejak pria tua itu menerima laporan dari anak buahnya semalam, mereka langsung membawa Glacia pergi entah ke mana. Sama-sama menggunakan mobil box yang membuat Glacia pengap sulit bernafas.


"Narendra lah yang menyuruhku membawamu pergi. Dia ingin kamu segera mati, Glacia. Karena itu akan membuatnya menguasai semua harta papamu. Hahaha ... Dan aku pikir dia juga akan kembali pada mantan pacarnya. Sebenarnya aku kasihan mengatakan ini, tapi dia hanya menganggapmu sebagai batu loncatan agar dia bisa menjadi kaya dan memenuhi kriteria menantu yang diinginkan keluarga Pataya. Hahaha ..."


Glacia mengambil nafas dalam. Entah hatinya percaya atau tidak, tapi kini dadanya terasa sangat sesak hingga rasanya ingin bertemu Tuhan. Glacia benar-benar butuh oksigen, nafasnya terasa berat dengan kesadaran yang mulai melemah.


Di saat seperti ini Glacia pun terbayang semua dosanya. Ia sering meremehkan orang lain, bersikap sekenanya sendiri, egois, entah berapa banyak orang yang pernah Glacia sakiti.


Tanpa sadar Glacia menangis. Ia bersandar pasrah di antara tumpukan kardus yang menyembunyikannya dalam box mobil besar. Ia bahkan sudah tak bisa berucap kata apa pun, apalagi memanggil orang-orang dalam gumamannya sekalipun.


Glacia tidak tahu orang-orang itu akan membawanya ke mana. Ia hanya ingin tidur. Dan kalau bisa Tuhan membiarkannya tidur untuk selamanya saja. Glacia sungguh lelah dengan semua yang terjadi, dengan segala kondisi tubuh yang membuat Glacia ingin mati.


Narendra, meski aku menyukai dan membencimu, entah kenapa yang sering melintas di pikiranku justru wajahmu. Jika Tuhan masih mengijinkan, orang yang ingin kulihat terakhir kali adalah kamu dan papa. Setidaknya aku ingin melihat kebenaran perasaanmu yang sesungguhnya, karena aku benar-benar penasaran apakah benar kamu ingin aku mati?


Selama ini kamu selalu marah jika aku membicarakan kematian. Aku tidak tahu apa kamu akan lebih marah jika aku menghilang.


Aku juga ingin sekali minta maaf, karena sebagai istri aku belum pernah sekalipun menghormatimu sebagai suami. Aku selalu menganggap diriku lebih tinggi dari orang lain. Lucu sekali, kini semua orang membenciku hingga wajar saja jika tidak ada yang mencariku.


Glacia tersenyum lirih dengan pandangan kosong. Ia hanya bisa diam saat tiba-tiba mobil berhenti secara mendadak hingga menimbulkan guncangan kasar.


Suara orang-orang dari luar terdengar samar. Glacia mendengarkan, dan tubuhnya refleks menegak saat tahu di antaranya adalah polisi.


"Maaf, atas perintah dari ibu kota, kami harus memeriksa semua kendaraan yang melintas kemari."


Glacia mengerjap di dalam box mobil. Itu benar polisi. Berarti Yohanes sudah mulai bergerak mencarinya?


Ada setitik rasa senang dan harapan mengetahui hal tersebut. Maka dari itu, Glacia sudah siap berteriak ketika perlahan pintu ganda box besar itu mulai terbuka.


Krieeett ...


Namun,


"To— Emp!" Glacia berusaha memberontak saat seseorang merangkul dan membekapnya dari belakang.

__ADS_1


Glacia melotot. Ia lupa dalam box ini bukan hanya dirinya seorang, melainkan ada satu pemuda lain yang merupakan komplotan si penculik yang ditugaskan menjaga Glacia di sini.


Glacia menggeleng, berusaha memberontak sekuat tenaga, namun rupanya semua tak cukup untuk Glacia melawan karena tubuhnya benar-benar sudah lemas. Ia tidak makan dan minum selama berjam-jam.


Hati Glacia menjerit histeris, berusaha memberi tahu siapa pun yang membuka box tersebut supaya menyadari keberadaannya dan mengecek lebih dalam. Namun ia harus kembali pasrah saat pintu kembali ditutup dari luar.


"Sudah saya bilang, ini hanya barang-barang pabrik yang hendak saya kirim ke pelabuhan," ucap Krisna pada polisi di luar sana.


Setelahnya tak ada lagi percakapan, dan Glacia merasa mobil kembali bergerak melanjutkan perjalanan.


Sepertinya, Glacia memang sudah ditakdirkan untuk kalah dalam pelarian ini.


***


Narendra tiba di sebuah gudang lapuk di pertengahan ladang tak terurus. Rumput-rumputnya sangat tinggi hingga menyaingi tinggi badan manusia, dan hampir menutupi bangunan satu-satunya yang tersisa di sana.


Narendra berjalan menyibak rerumputan tinggi itu hingga sampai di gudang. Sepi, apa ia terlambat lagi?


Narendra juga tak melihat adanya tanda-tanda orang di sana. Jika merunut dari penjelasan saksi dan CCTV di mansion, seharusnya penculik itu berjumlah puluhan.


Kakinya melangkah semakin dalam. Suara derapnya yang halus bahkan bergemam saking heningnya. Narendra terus menelusuri bangunan tersebut hingga sampai di sebuah ruangan yang ia tebak dulunya adalah tempat penyimpanan.


Namun benar-benar tak ada siapa pun. Saat hendak berbalik, matanya tiba-tiba jatuh pada sebuah benda berkilau tak jauh dari tempatnya berdiri.


Narendra mendekat, tubuhnya seketika mematung mendapati salah satu jepitan rambut milik Glacia yang pernah Narendra berikan sebagai hadiah. Dan tak dapat dipungkiri, bahwa Narendra kemari karena sinyal yang didapatnya dari jepit tersebut.


Benar, tanpa sepengetahuan Glacia, Narendra memang sengaja menyematkan alat pelacak dalam benda itu. Tapi kini lagi-lagi Narendra harus kecewa, karena jejak jepit ini hanya berhenti di sini.


Ia menoleh ke belakang saat mendengar langkah lain yang mendekat.


"Mereka sudah pergi," gumam Naren pada orang itu. "Harley, bisakah kau mencari tahu jejak jepit ini selanjutnya? Aku yakin Glacia memakai jepitnya sepasang, karena aku tak mendeteksi satu sinyalnya lagi di rumah."


Harley, pria itu menatap datar jepitan rambut yang diulurkan Narendra, sebelum kemudian mengambilnya pertanda ia bersedia.


"Akan ku usahakan," gumamnya datar. "Secepatnya."

__ADS_1


__ADS_2