
"Saya angkat sedikit kakinya, ya?" izin Dokter Teresa.
Glacia mengangguk saja dan mengikuti semua instruksi wanita itu. Tahapan demi tahapan proses terapi Glacia jalani hari ini. Ia memandang lekat Dokter Teresa yang tengah membungkuk di depan kakinya. Glacia ingin menanyakan sesuatu, ini soal pembicaraan wanita itu dengan ayahnya tempo hari, tapi semua harus urung saat Glacia melihat kedatangan Narendra serta Julian.
Glacia menghela nafas. Ia lupa, Narendra memang kerap hadir setiap kali Glacia menjalani terapi. Anehnya, saat Glacia memintanya pulang sebentar untuk menemui Lizy, pria itu selalu punya alasan untuk mangkir.
Benar, kegagalan kemarin tak lantas membuat Glacia menyerah. Beberapa hari ini ia sudah 2 kali mengundang Lizy lagi ke rumahnya, dan selalu berakhir sia-sia karena Narendra yang seperti enggan datang setiap kali Glacia menyuruhnya pulang.
Rasanya alasan sibuk terlalu klise, buktinya Narendra selalu pulang kalau Glacia ada jadwal terapi. Pria itu tak melakukan apa pun, hanya mengamati atau sekedar bertanya perkembangan kaki Glacia pada Dokter Teresa.
Narendra aneh, itu yang Glacia rasakan akhir-akhir ini. Pria itu seolah berusaha mendekat dan menghapus jarak di antara mereka. Glacia tidak mengerti apa tujuan Narendra dalam pernikahan ini. Dia tak bisa ditebak dan sulit diterka pergerakannya. Bukan hal aneh jika Glacia bersikap waspada pada Narendra.
Narendra dan Julian mendekat. Kini dua lelaki itu berdiri tak jauh dari Glacia yang tengah melatih gerakan ringan di kakinya bersama Dokter Teresa. Glacia berusaha tak menghiraukannya dan tetap fokus pada apa yang Dokter Teresa lakukan walaupun malas.
Hingga terapi selesai Narendra masih berdiri di tempatnya. Sebenarnya yang baru saja Glacia jalani hanya sebagian kecil dari terapi, bagian intinya sudah Glacia lewati sebelum ini.
Dokter Teresa berdiri dan tersenyum menghadap Narendra serta Julian. Wina dan Weni datang menghampiri Glacia lalu memberinya minum tanpa diminta.
Glacia menyeruput jus di tangannya sambil melirik Dokter Teresa yang sedang berbicara dengan Narendra. Mereka membahas tentang perkembangan kondisi Glacia yang entah kenapa mulai Glacia ragukan.
Semua ini berawal dari Glacia yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan Dokter Teresa dan ayahnya. Beberapa kali Glacia juga mengamati bahwa mereka sering bicara berdua, seolah ada hal yang ingin disembunyikan.
"Terapi hari ini selesai dan akan kami lanjut di hari berikutnya," ujar Dokter Teresa. Ia menoleh pada Glacia sambil melempar senyum ramah. "Tetap semangat dan jangan lupa minum obat, ya? Percayalah, kamu masih bisa sembuh dan berjalan normal lagi."
Glacia percaya, tapi bagaimana dengan kondisi kesehatannya? Glacia tidak mengatakan pada siapa pun bahwa akhir-akhir ini ia sering merasa pusing dan sakit kepala. Di beberapa kesempatan Glacia juga merasakan nafasnya sedikit sesak. Tapi, mungkin itu hanya sebagian kecil efek dari kecelakaan yang belum hilang.
"Terima kasih, Dokter," ucap Narendra. Dan Dokter Teresa pun berpamitan pulang.
Selepas kepergian Dokter Teresa, Narendra memerintah Julian hingga lelaki itu beranjak entah ke mana, menyisakan Glacia, Narendra, juga Wina dan Weni yang setia bersiaga di samping sang nyonya.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Narendra.
Glacia melirik sesaat, lalu kembali menyeruput jus yang masih tersisa setengah tanpa ada niatan menjawab.
Narendra membuang nafas samar sambil melirik Wina dan Weni. Keduanya pergi begitu mengerti maksud dari tatapan Narendra.
__ADS_1
Saat hanya tinggal mereka berdua, Glacia menjatuhkan gelas.
Prang!
"Ups!" Glacia menutup mulut. "Aku tidak sengaja." Ia melirik Narendra. "Tolong bersihkan. Kau tidak mau kursi rodaku tergelincir karena menginjaknya, kan?"
Tanpa mengatakan apa pun, Narendra berjongkok menyingkirkan satu persatu pecahan beling di lantai. Ia lalu memindahkan posisi Glacia ke tempat yang lebih kering dan aman. "Biarkan pelayan yang mengurus itu. Kita perlu bicara."
"Bicara apa? Kau sudah mulai menempatkan diri sebagai tuan."
"Aku akan membawamu ke sun house," ujar Narendra, tak menghiraukan ejekan Glacia juga matanya yang memicing curiga.
"Kenapa tidak di sini saja?" Glacia menahan tangan Narendra yang hendak mendorong kursi roda dari belakang. "Aku bisa sendiri. Teknologi secanggih ini tak akan membuatku lelah."
Dengan mudah Glacia mengendalikan kursi rodanya menuju tempat yang dimaksud Narendra. Rumah kaca yang akhir-akhir ini menjadi favorit Glacia.
"Kau tidak mau mencoba berjalan denganku?" tanya Narendra tiba-tiba, mengikuti Glacia dari belakang.
Glacia hanya menoleh sebentar. "Aku belum bisa berdiri."
"Sudahlah. Apa yang ingin kau bicarakan?"
Mereka tiba di sun house tak berapa lama kemudian. Glacia berhenti dan berbalik menghadap Narendra. Narendra sendiri berjalan ke arah meja bundar di sana, lalu menduduki kursinya.
Mau tak mau Glacia mendekat. Ia menunggu Narendra buka suara sambil membalas tatapannya. Narendra memandang Glacia lekat. Sorotnya nampak serius, dan sepertinya Glacia tahu apa yang hendak Narendra bicarakan.
"Kamu sengaja mengacau harga saham?" tanya Narendra.
Glacia mengangkat alis berpura-pura tak mengerti. "Apa?"
Narendra membuang nafasnya perlahan. "Apa sebenarnya yang kau lakukan?"
"Memangnya apa yang kulakukan?" tantang Glacia.
Narendra menatap Glacia serius. "Glacy, jangan karena kau kesal padaku, lantas kau mencari masalah dengan perusahaan. Kau sama saja mengacau ayahmu."
__ADS_1
Glacia masih menunjukkan wajah tak tahu apa-apa, hingga sedetik kemudian ia mengendik tak peduli. "Aku hanya sedang menguji seberapa setia kau pada ayahku," ujarnya memainkan kuku.
"Maksudmu?"
Glacia kembali menatap Narendra. "Mudah saja. Kau harus mau bertemu Lizy, maka aku akan mengembalikan semuanya menjadi normal. Jangan salah, begini-begini aku juga punya banyak koneksi." Glacia tersenyum bangga.
Tadi pagi, Narendra dibuat sibuk lantaran perusahaan dibuat gelisah oleh harga saham yang tiba-tiba menukik ke bawah. Narendra tahu ini perbuatan Glacia, karena Narendra juga sadar betul bahwa Glacia bukan hanya anak manja yang tak mampu melakukan apa-apa. Dia cukup pintar dalam dunia bisnis, meski tak pernah mau terlibat kecuali rapat pemegang saham.
"Kenapa kau begitu kekeh mendekatkanku dengan wanita yang sudah bertunangan?" tanya Narendra rendah. Matanya sedikit menyorot tajam.
Glacia mengangkat bahu. "Kurasa dia masih sedikit berharap padamu. Masih ada kesempatan untuk kalian bersatu," ujarnya enteng.
"Glacia, mari kita hentikan ini. Karena sampai kapan pun aku dan Lizy tidak akan pernah kembali," tegasnya.
"Kenapa tidak? Kalian cocok dan saling mencintai. Masih ada jalan untuk kembali."
"Apa kau gila menyuruhku merebut seorang wanita dari tunangannya?"
"Kau bisa menyebutnya begitu," sahut Glacia santai. "Tenang saja, semua akan berjalan baik karena aku akan membantumu."
Brak!
Tanpa sadar Narendra membenturkan kepalan tangannya di atas meja. Rahangnya mengatup rapat dengan gigi gemeretak. Ini kali pertama Glacia lihat lelaki itu menunjukkan emosi lain selain datar. Sepertinya Narendra benar-benar marah, tapi apa peduli Glacia?
"Sekali lagi ini urusan pribadi kita. Jangan bawa-bawa perusahaan apalagi Lizy yang hanya orang luar."
"Dia mantanmu." Glacia masih tampak menantang.
"Dan mantan adalah masa lalu, bukan untuk dikenang apalagi mengulang."
Narendra bangkit berdiri. Ia berbalik hendak meninggalkan Glacia saat wanita itu kembali bersuara.
"Kenapa? Kau takut jatuh dalam pesonanya lagi? Kau takut tidak bisa melawan keluarganya yang kurang respect padamu?"
Narendra berhenti, lalu menoleh pada Glacia yang duduk bersidekap dengan sudut bibir terangkat miring. Narendra tak mengatakan apa pun dan lanjut melangkah keluar sun house.
__ADS_1
Di saat itu Glacia mendengus, namun tak lama matanya menyendu seiring tangannya yang terangkat menyentuh hidung. Setitik bercak merah keluar dari sana. Ia menatap lama darah yang keluar dari hidungnya, lalu menghirup udara dalam-dalam.