
Lizy menatap Narendra yang sedari tadi mengedarkan mata tak tenang. Ia seolah mencari sesuatu dengan raut gelisah meski tak kentara. Orang lain mungkin melihat Narendra tenang dan datar, tapi Lizy tahu Narendra sedang khawatir akan sesuatu.
Apalagi dengan jarak sedekat ini, Lizy bisa dengan mudah menembus isi pikiran Narendra.
"Ada apa? Kau tampak khawatir?" tanya Lizy dengan suara halus.
Tubuh keduanya bergerak pelan mengikuti alunan musik. Lizy sedikit bergetar merasakan tangan Narendra berada di pinggangnya. Sudah lama sekali sejak hubungan mereka berakhir, dan jujur saja Lizy merindukan kedekatan mereka.
Narendra tak menjawab. Ia bahkan tak sekalipun menunduk membalas tatapannya. Lizy tersenyum kecut mendapati sikap Narendra yang demikian.
"Sudah lama sekali. Aku ingat, dulu kita sering menari bersama di hari ulang tahunku," ucap Lizy mengenang. Bibirnya mengukir senyum lembut.
Namun Narendra tetap bungkam tak menanggapi. Sesekali matanya mengelilingi ruangan, dan membuang nafas ketika tak mendapati keberadaan Glacia di tempatnya. Ia sudah mengira wanita itu pasti akan hilang dari pandangan.
"Semua hadiahmu masih kusimpan dengan baik," ucap Glacia lagi. Ia tak henti memandang Narendra.
Lelaki itu masih sama, makin hari makin mempesona dan dewasa.
"Apa kau masih menyimpan barang-barang pemberianku?"
__ADS_1
Narendra menunduk menatap Lizy. "Cukup. Tidak sepantasnya kita membahas masa lalu."
"Aku hanya mengenang."
"Kau sudah bertunangan," balas Narendra. "Hargailah pasanganmu."
Lizy tersenyum kecut. "Aku dan Rafael dijodohkan."
"Kalian tetap pasangan." Mata Narendra sudah kembali beralih dari Lizy.
"Naren, apa kau benar-benar sudah melupakanku?"
"Glacia tidak pernah menghargaimu," cetus Lizy selanjutnya. Dan Narendra tak kunjung buka suara.
"Namanya sedang banyak dibicarakan orang. Apa kau baik-baik saja setelah diselingkuhi?"
"Itu bukan urusanmu, Eliza. Dan berhentilah membicarakan sesuatu yang sudah seharusnya kita lupakan," ujar Narendra tegas.
Di sisi lain, Glacia menatap jauh langit gelap di atasnya. Di saat seperti ini ia selalu merindukan sang ibu yang telah lama berpulang.
__ADS_1
Dulu, Glacia hampir tidak pernah merasa khawatir dengan hidupnya. Ia dikelilingi cinta yang lengkap dari ibu serta sang ayah. Ia bahkan tidak ketakutan ketika penyakit ganas menyerangnya di masa lalu, karena mereka selalu mendampingi Glacia dan menyemangatinya dalam kondisi apa pun.
Bicara tentang penyakit, Glacia tahu kondisi tubuhnya tidak sedang baik-baik saja. Dokter Teresa dan Yohanes pasti sengaja menyembunyikan yang sebenarnya, pun ia sempat mendengar pembicaraan mereka ketika terapi di rumah Narendra.
Glacia membuang nafasnya kemudian menunduk, menatap kosong tautan tangannya yang terjalin di atas paha. Dress semahal dan secantik apa pun tak lantas membuat Glacia terlihat sempurna. Dandanan semolek apa pun tetap tak bisa menghapus kenyataan bahwa sekarang ia hanya wanita cacat penyakitan.
Di tengah keterdiamannya, Glacia mendapati sesuatu berwarna merah menetes di atas tangannya. Ia terkejut dan langsung menyentuh lubang hidungnya yang basah. Darah. Glacia menatap sekitar dengan panik. Ia bersyukur tempatnya saat ini sangat sepi hingga kecil kemungkinan orang melihat dirinya di sana.
Glacia berusaha menghentikan pendarahan di hidungnya yang semakin lama semakin banyak. Glacia lupa tak membawa persiapan tisu di dompetnya, hingga ia hanya bisa mengandalkan tangan dan berharap mimisannya segera berhenti.
Di tengah upaya itu ia juga berusaha mencari kamar mandi, namun sepertinya sulit karena tidak mungkin Glacia melewati lalu lalang orang dalam kondisi demikian.
Sebuah saputangan tiba-tiba terulur di depannya. Glacia mendongak, dan ia hanya bisa terdiam mendapati Rafael berdiri sambil menatapnya khawatir.
"Kau baik-baik saja?" Rafael tahu kalimat barusan sama sekali tak mencerminkan keadaan Glacia.
Glacia tak menjawab dan menggamit saputangan itu dari tangan Rafael. Ia berusaha menyeka darah yang terus-terusan keluar dari lubang hidungnya. Nafasnya mulai tak beraturan karena panik dan juga jantung yang mendadak mempercepat ritmenya.
"Sebaiknya kamu ke kamar mandi. Mau saya antar?" lanjut Rafael menawarkan diri. "Saya tahu kamar mandi yang tidak sering dilewati orang."
__ADS_1
Glacia mendongak, balas menatap Rafael yang menunggu jawaban atas tawarannya. Meski enggan, mau tak mau Glacia menerima bantuan tunangan Lizy itu. Tidak mungkin Glacia terus berada di pesta dengan keadaan wajah yang kotor oleh warna merah, bisa-bisa orang lain semakin melihatnya aneh, belum lagi Narendra yang nanti pasti curiga.