Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
45. Pembalasan


__ADS_3

"Pagi?"


Glacia menoleh. "Pagi."


Narendra berjalan menghampiri Glacia lalu mengecup pipinya sekilas. Glacia mematung, sementara Narendra tampak santai mengecek isi tas kerjanya dengan serius.


Pria itu sudah berpakaian rapi lengkap dengan kemeja dan dasi. Pun rompi kerja turut membalut tubuh atasnya dengan pas. Narendra belum pakai jas, mungkin nanti.


"Nanti siang jadwal terapimu, kan? Aku pasti pulang," ujar Narendra. Ia menyimpan tas kerjanya ke atas meja kopi di hadapan Glacia. Narendra memang sengaja mampir ke sun house sebelum ia pergi, karena ia tak mendapati Glacia saat sarapan tadi. Rupanya Glacia makan di tempat favoritnya.


"Tidak perlu, itu akan merepotkanmu."


Namun Narendra menggeleng. "Aku tidak pernah repot. Buktinya aku selalu datang saat kau terapi."


"Terserah." Glacia menyerah.


Tiba-tiba saja Narendra mengulurkan sesuatu pada Glacia. Glacia mendongak dengan raut bertanya, namun Narendra hanya balas menatapnya sambil terus menyodorkan benda itu.


"Ini apa?"


"Bukalah."


Glacia pun membuka kotak kecil itu penasaran. Ia terdiam mendapati sepasang jepit rambut cantik di sana. Glacia mendongak menatap Narendra lagi. Pria itu tersenyum kecil seraya mulai memakai jas.


"Kemarin aku menghadiri pameran perhiasan dari brand global. Kurasa benda itu akan sangat cocok untukmu."


Glacia terdiam. Ia kembali melihat jepitan cantik di tangannya. Narendra tahu ia sangat menyukai jeit rambut, atau ini hanya kebetulan.


"Kau suka?"


Membuang nafas, Glacia pun mengangguk. Hal itu membuat Narendra merasa puas.


"Kalau begitu aku pergi, nanti kita makan siang bersama."


Narendra bahkan tak memberi kesempatan pada Glacia untuk menyanggah. Pria itu langsung pergi begitu saja meninggalkan Glacia dengan kemelut yang menyelimuti hatinya.


Usai kepergian Narendra, kini Weni yang datang menghampiri Glacia. Ia juga membawa sebuah kotak berukuran hampir sama dengan yang tadi Narendra berikan padanya. Apa lagi itu? Apa Narendra lupa dengan hadiah lainnya?


"Nyonya, ada hadiah untuk Nyonya." Weni memberikan kotak pastel berpita itu pada Glacia. Sangat cantik. Glacia pun menerimanya meski dengan raut bingung.


"Apa ini dari Naren?"

__ADS_1


Namun Weni menggeleng. "Sepertinya bukan. Saya mendapatkannya dari penjaga di depan. Katanya seseorang memberi itu untuk Nyonya."


Penjelasan Weni sedikit membuat Glacia kecewa. Ia kira Narendra memberinya kejutan lain.


"Nyonya sudah selesai makan? Ini saya bereskan, ya?" Weni membereskan piring dan gelas di meja bekas Glacia sarapan.


Glacia hanya mengangguk membiarkan gadis itu berkutat. Lalu saat Weni membawa piring-piring kotor itu ke luar, Glacia pun membuka kotak di tangannya yang ternyata berisi setangkai mawar tanpa bunga.


Glacia menyentuh tangkai berduri itu dengan hati-hati dan memekik pelan saat jarinya merasa tertusuk. "Awh, sshh ..."


Glacia menyingkirkan tangkai itu, lalu beralih mengambil kertas yang terlipat di dalamnya. Ia membuka kertas tersebut, lantas mematung membaca sebuah kalimat di sana.


...Berhati-hatilah, jangan terlalu mengikuti arus yang tenang. Siapa yang tahu arus tersebut mengandung duri mematikan. Seekor phoenix tak selamanya indah, dia bisa saja lebih ganas dan menghancurkan, membuatmu kehilangan segalanya....


Nafas Glacia terhenyak pelan. Ia segera meremas surat tersebut dan memasukkannya kembali ke dalam kotak. Glacia menyimpan kasar kotak itu di atas meja dengan nafas berderu cemas.


Sudah jelas seseorang mencoba menerornya. Tapi siapa? Apa Gallen? Hanya dia yang terakhir bersitegang dengan Glacia.


***


Narendra menepati janjinya pulang di siang hari. Seperti biasa ia selalu menemani Glacia hingga selesai terapi. Sekarang pun Narendra tengah mengamati sang istri yang tengah berlatih bersama Dokter Teresa. Ia tersenyum saat mendapati ada kemajuan dari otot gerak di kaki Glacia.


Narendra menghampiri dua wanita itu dan membantu Glacia untuk bisa duduk kembali di kursi rodanya.


Dokter Teresa mengulas senyum melihat interaksi kecil itu. Ia mengangguk turut membenarkan ucapan Narendra. "Benar, hari ini saraf-saraf di kaki Glacia mengalami banyak perkembangan. Kemungkinan untuk sembuh semakin terbuka lebar," ucapnya senang.


Tapi berbeda dengan Glacia, ia justru tersenyum kecut dalam hati. Jika pun kakinya sembuh, belum tentu Glacia masih bisa hidup di waktu itu.


Narendra seperti menyadari apa yang Glacia pikirkan. Ia langsung mengusap keringat di kening dan pelipis Glacia sambil berterimakasih pada Dokter Teresa. "Terima kasih, Dokter. Sebagai balasnya, izinkan kami mengajak anda makan siang?"


Namun Dokter Teresa menggeleng. "Sama-sama. Sebelumnya maaf, tapi saya sudah ditunggu di rumah sakit. Siang ini ada rapat penting."


"Begitu?" Narendra pun mengangguk paham. "Ya sudah, sekali lagi terima kasih untuk hari ini."


"Sama-sama. Mari?"


Dokter Teresa pergi setelah berpamitan. Kini hanya tinggal Narendra dan Glacia yang sedari tadi terlihat diam. Narendra sedikit bertanya-tanya, meski mereka tak sering bicara, tapi Glacia tak pernah sediam ini sebelumnya.


"Kamu tampak lelah," cetus Narendra.


Mendengar itu, Glacia terperanjat samar seolah terkejut. Narendra semakin penasaran apa yang istrinya pikirkan hingga melamun seperti itu.

__ADS_1


"Tentu saja aku lelah. Terapi bukan hal mudah untuk dilakukan," ujarnya acuh tak acuh.


Narendra mengangguk membenarkan. "Kalau begitu, ayo kita makan?"


"Kau duluan saja, aku akan istirahat sebentar ke kamar." Glacia lalu menoleh pada Weni. "Weni!"


Weni yang merasa dipanggil lekas mendekat. Ia langsung mendorong kursi roda Glacia meninggalkan Narendra yang masih berdiri di tempatnya.


Narendra menghela nafas pendek. Ia hanya bisa bersabar menghadapi mood Glacia yang berubah-ubah. Sebentar ia terlihat menerimanya, sebentar lagi ia terlihat enggan berdekatan dengannya.


"Kenapa begitu sulit menebak isi hatimu, Glacy?"


***


Lizy tersenyum ramah pada setiap orang yang keluar dari ruang rapat. Ia baru saja selesai meeting saat tiba-tiba saja matanya menangkap keberadaan Claire. Wanita itu berdiri tak jauh dari tempat Lizy berdiri, Claire menatap Lizy menunggu lalu berbalik dan berjalan ke arah lorong.


Selesai beramah-tamah, Lizy bergegas mengikuti Claire yang kini berdiri menatap lurus jendela di sebuah koridor. Kedua tangannya bersidekap di dada. Lizy pun mendekat dan turut berdiri di samping Claire.


"Kau sudah berikan undangannya?" tanya Lizy.


Claire mengangguk datar. "Sudah."


"Baguslah. Aku juga mengundang Gallen kemarin," ucap Lizy, dengan suara lembutnya yang kalem.


Claire menoleh pada Lizy. "Kenapa kau mengundang pria itu juga? Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?"


Lizy balas menatap Claire. "Tidak ada. Memangnya salah mengundang Gallen? Hey, aku hanya berusaha mengundang lebih banyak orang dari circle pertemananku. Aku ingin ulang tahunku kali ini lebih ramai dan memukau."


"Kau juga mengundang Narendra?"


"Tentu saja."


Claire mendengus lucu. "Sebelumnya dia tak pernah datang."


"Maka dari itu aku mengundang Glacy. Aku yakin Narendra tak mungkin menolak undanganku kalau Glacia datang."


Claire menatap Lizy prihatin. "Kau tahu perasaan Narendra sudah berubah, kan?"


Lizy tak menjawab. Nyatanya Claire pun tahu Narendra pernah bermain api saat masih berhubungan dengannya. Mengingat hal itu selalu membuat Lizy sakit hati. Pun Claire membenci Glacia, karena wanita itu seperti perebut yang tak tahu diri.


Lizy melihat sendiri video yang didapatkannya dari kediaman Martadinata atas bantuan Claire. Seorang pelayan merekam jelas bagaimana Narendra dan Glacia bercumbu di kamar wanita itu.

__ADS_1


Dan tak lama setelah itu, Narendra langsung memutuskan hubungannya dengan Lizy. Tentu Lizy merasa terbuang dan dihinakan. Dan sekarang, ia akan membalas semua kesakitan itu pada mereka.


__ADS_2