Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
102. Sama-sama Gila


__ADS_3

Rafael mendongak saat Glacia berhenti makan. Ia menelan kunyahannya sebelum bertanya. "Ada apa? Makanannya tidak enak?"


Glacia menggeleng. "Lidah saya yang hambar, Dokter. Masakan Dokter enak, hanya saja ... anda tahu sendiri, saya belum sepenuhnya menikmati makanan."


"Waktu itu kamu makan croissant," cetus Rafael, sambil kembali memotong daging di piringnya. Ia melirik Glacia yang terdiam. "Padahal kadar gula berlebih tidak baik untuk penderita kanker sepertimu," lanjutnya lagi, terdengar santai.


Glacia menelan ludah. Ia tahu, secara tidak langsung Rafael sedang menyindirnya. Pria itu juga pasti tahu croissant tersebut dari Narendra.


"Ah, itu ... saya memang sudah lama tidak makan makanan itu, ditambah saya memang menyukai croissant," ucap Glacia, berusaha memberi alasan selogis mungkin. "Tapi, kalau Dokter melarang, saya mungkin tidak akan memakannya lagi."


Melihat Rafael yang bahkan bisa tahu tentang croissant sore itu, sudah pasti lelaki ini mengamatinya secara diam-diam. Kenapa Glacia bisa tidak sadar selama ini?


Setelah dipikir lebih jauh, ia merasa kalau Rafael memang menyukainya. Sebenarnya Glacia sudah menduga ini sejak jauh-jauh hari. Ia tidak bodoh hingga tidak bisa mengartikan setiap sikap dan pandangan lelaki itu padanya.


Rafael mengangguk lamat. "Mulai sekarang kamu harus makan makanan sehat. Saya juga sudah sediakan camilan organik untuk kamu nikmati di sela-sela jam makan. Semoga setelah ini kamu bisa membiasakan diri," ujarnya.


Glacia hanya bisa mengangguk. Narendra bilang ia harus bersikap baik selama di sini. Mengingat Rafael saja bisa sampai nekat mengisolasi dirinya hingga sejauh ini, tidak menutup kemungkinan lelaki itu akan melakukan hal buruk andai emosinya terpancing.


"Dokter, apa anda punya buku cerita untuk dibaca?"


Rafael mendongak menatap Glacia. Ia yang sedang mengunyah tampak berpikir sesaat, sebelum menjawab setelah makanan di mulutnya tertelan. "Kamu mau baca?"


"Semenjak sakit dan tak bisa ke mana-mana, saya terbiasa menghabiskan waktu dengan baca novel."


Rafael tersenyum. "Nanti saya coba cari di toko buku. Saya tidak punya buku-buku seperti itu. Kecuali kamu bersedia baca buku tentang ilmu kedokteran dan biografi lainnya."


Glacia balas tersenyum kecil. "Maaf merepotkan."


Rafael langsung menggeleng. "Tidak sama sekali. Tolong jangan bilang seperti itu. Saya mengerti kamu pasti bosan karena tidak ada teman. Apa Rini memperlakukanmu dengan baik?"


"Suster Rini sangat baik, Dokter," jawab Glacia.


"Syukurlah, aku akan langsung memecatnya jika kamu merasa tidak nyaman dengan dia." Rafael mengucapkan itu dengan senyum, seolah kalimatnya barusan tidak serius. Tapi Glacia yakin lelaki itu sangat serius. Lama kelamaan, Glacia semakin merasa Rafael berbeda dari yang sebelumnya ia kenal.


Rafael selesai makan, ia membereskan piring-piring kotor di atas meja, lalu mencucinya hingga bersih di wastafel. Di luar semua sikap anehnya, Rafael memang orang yang sangat rapi dan menjaga kebersihan.


Usai menata kembali piring di tempatnya, Rafael berbalik menghadap Glacia yang masih bergeming di meja makan.


"Malam ini, apa kamu bersedia jika saya memulai pemeriksaan?"

__ADS_1


Glacia sedikit terperanjat menatap Rafael. "B-bagaimana, Dokter?" tanya Glacia memastikan.


"Saya ingin periksa kesehatan kamu, apa kamu tidak keberatan jika saya melakukannya malam ini?"


Hening. Glacia terdiam dengan wajah membeku. Ia dilema. Ingin menolak, Glacia takut. Tapi jika tidak menolak, Glacia pun masih merasa takut. Ia tidak tahu apa yang ke depannya hendak Rafael lakukan. Semoga bukan yang aneh-aneh.


"A-ah ... b-baik. Sekarang?" tanya Glacia tergagap.


Rafael menyeka tangannya menggunakan handuk kecil bersih. "Tunggu beberapa saat, kamu baru selesai makan." Ia lalu mengulurkan tangannya ke arah ruang tamu yang memang tiada sekat dengan dapur. "Kamu boleh tunggu di sana dulu."


"Ah, baiklah." Glacia tak kuasa menolak. Ia pun berbalik dan beranjak meninggalkan dapur. Rautnya terlihat resah sekaligus ragu. Ya Tuhan, apa yang hendak Rafael lakukan nanti?


Tiba di ruang tamu, Glacia melirik pada Rafael yang kini berlalu memasuki sebuah koridor. Glacia tidak tahu koridor itu terhubung ke mana. Selama ia tinggal di sini, Glacia hanya berani menginjak kamar, dapur, maupun ruang tamu dan balkon.


Glacia takut, karena ia yakin Rafael menyimpan banyak kamera pengawas yang tak terlihat. Selain kamera CCTV yang nampak oleh mata, ia tahu betul lelaki itu menempatkan alat lain di sepenjuru apartemen.


Tiba-tiba saja Glacia terpikir kejadian siang tadi di kamar. Apa Rafael tahu sesuatu telah terjadi dengan televisinya? Semoga tidak. Kalau Rafael sadar, matilah Glacia sekarang.


Tapi, Narendra tidak mungkin mengambil resiko sebesar itu jika tidak dipertimbangkan terlebih dulu. Benar, Glacia percaya suaminya tak sebodoh itu. Ia saja bisa tahu keberadaan Glacia di mana.


Mengabaikan rasa penasaran terhadap fakta yang baru ia ketahui, bahwa Narendra bukan pria sembarangan, Glacia lebih berharap lelaki itu bisa segera membebaskannya dari apartemen mewah ini.


Melihat kemampuan Narendra yang bisa sampai meretas televisi, Glacia yakin bahwa suaminya tak sepolos yang ia kira. Sial, entah ia harus bersyukur dengan hal itu atau tidak. Terlebih, secara tidak langsung selama ini Narendra telah membodohi Glacia dengan menyembunyikan identitas aslinya.


"Kamu siap?"


Glacia mendongak menatap Rafael. Seolah tahu kegelisahannya, pria itu kontan terkekeh hingga matanya menyipit seperti bulan sabit. Tapi, pesona itu malah terkesan psycho di mata Glacia saat ini.


"Kenapa kamu takut begitu? Saya tidak akan melakukan apa pun yang menyakitimu. Saya hanya akan mengambil sedikit darahmu untuk dites di lab. Lalu scan untuk mengetahui sejauh mana perkembangan sel kanker di tubuh kamu."


"Ah, begitu? Kenapa kita tidak lakukan di rumah sakit saja? Bukankah peralatannya akan lebih lengkap?" tanya Glacia gugup.


Rafael tersenyum. "Ikut saya. Setelah itu kamu akan tahu alat-alat di sini tak kalah lengkap dengan rumah sakit."


Dan selanjutnya Glacia pun tahu, bahwa Rafael memang memiliki kepribadian sedikit gila. Betapa tidak, seorang dokter sekalipun jarang ada yang mengoleksi peralatan pemeriksaan selengkap itu di rumahnya.


Entah Glacia harus menganggap lelaki itu sebagai dokter sejati, atau justru sakit mental. Untuk apa pula ia mengoleksi peralatan ini di kediaman pribadi, terlebih apartemen yang notabene jauh dari jangkauan orang. Tidak mungkin juga orang datang berobat ke lantai paling tinggi sebuah gedung. Apa Rafael gila? Tapi, pria itu terlihat seperti orang normal biasanya.


Oke, mari ikuti saja apa yang Rafael lakukan. Ya Tuhan, ia kira hanya tunangannya saja yang tidak normal, rupanya lelaki ini juga mengidap kelainan menyukai pasangan orang. Benar-benar cocok.

__ADS_1


Glacia ingin tahu, Rafael benar-benar berniat mengobatinya, atau itu hanya sekedar alasan agar Glacia tinggal di sini bersamanya.


***


Jauh di bagian Jakarta lain, Narendra mengamati semua pergerakan Rafael, sambil duduk bersidekap di sofa. Setelah berhasil meretas peralatan elektronik di apartemen si dokter gila itu, termasuk CCTV, Narendra tak lepas mengawasi semua yang terjadi di tempat itu.


Ia berdesis kesal setiap kali melihat interaksi Rafael dan Glacia, terutama saat mereka makan bersama. Ini benar-benar mengesalkan. Suami mana yang tidak cemburu mendapati istrinya berdekatan, apalagi tinggal satu atap dengan pria lain? Dan ia benci karena tak bisa melakukan apa pun selain diam mengamati.


Belum, ini belum saatnya. Mereka harus mengatur strategi khusus untuk menghadapi Rafael, terlebih setelah tahu lelaki itu pandai mengelabui lantaran memiliki ilmu hypnosis.


Julian masuk ke ruangannya, ia berdiri di samping Narendra yang sedari tadi terdiam memperhatikan layar laptop.


"Tuan, sudah malam, anda tidak ingin pulang?" tanya Julian. Mereka memang masih berada di kantor setelah Narendra beralasan lembur pada sang mertua.


Ia tahu, mungkin Yohanes kecewa terhadapnya, karena Narendra terkesan terlalu santai di saat istrinya hilang dibawa orang. Tapi ia tak ingin membuat Yohanes khawatir secara berlebihan. Ia sudah jelaskan bahwa lokasi Glacia sudah ditemukan, dan sedang merancang rencana untuk mengeluarkannya dari jeratan si dokter gila itu. Entah Yohanes percaya atau tidak, yang pasti Narendra akan membawa Glacia kembali dengan selamat, tanpa harus terluka sekecil apa pun.


Ia juga sekaligus mengawasi pergerakan Lizy yang ia tahu bersembunyi di tempat Rafael yang lain. Kali ini, Narendra memang sengaja membiarkan mereka terlebih dulu, sebelum nanti ia buat keduanya menderita secara bersamaan.


Narendra beranjak dari sofa, berdiri mengambil laptopnya dan membereskan barang-barang lain yang akan dibawa ke rumah.


Julian mengikuti Narendra yang berjalan keluar. Mereka memasuki lift, lalu sama-sama bungkam dalam keheningan. Tiba-tiba saja Narendra buka suara. "Untuk masalah Wina, katakan pada mereka agar segera membereskannya. Aku sudah muak dengan semua ini."


Julian menatap Narendra dari pantulan dinding lift. "Tuan yakin?"


"Untuk apa menunda? Toh, ke depannya wanita itu memang harus mati. Aku hanya memperlambatnya agar dia menderita."


Julian tak membantah. "Baik."


Ia pun menghubungi orang-orang di banker untuk melakukan titah Narendra malam ini juga. Selesai menelpon, Julian menatap Narendra kembali, kali ini ia menoleh langsung pada sang atasan. "Tuan, Gallen Mou baru saja selesai operasi beberapa jam lalu. Ia benar-benar kehilangan satu kakinya."


"Aku tahu," jawab Narendra kalem. Mereka tiba di basemen dan langsung menuju mobil yang terparkir di area khusus direktur.


Narendra masuk, begitu pula Julian yang langsung memutar kemudi meninggalkan perusahaan.


"Apa Tuan sudah merasa setimpal?"


Narendra membuang nafas. "Inginku dua-duanya menghilang, tapi ... sudahlah, anggap saja itu sebuah keringanan dariku."


Mengingat Edward Mou yang berteriak menggila saat tahu putranya cacat, sudut bibir Narendra tak bisa berhenti menguar senyum dengan raut puas.

__ADS_1


"Jika hakim tidak bisa memberi hukuman sesuai keinginanku, maka aku sendiri yang akan menghukumnya."


Julian meringis. Ia jadi berpikir, entah Rafael atau justru Narendra yang gila. Atau keduanya sama-sama gila?


__ADS_2