
"Nona, jus mangganya." Suster Rini menyerahkan segelas jus mangga pada Glacia. Glacia menerima, ia berterimakasih disertai senyum tulus.
"Terima kasih. Oh ya, Suster, kira-kira Dokter Rafael hari ini pulang jam berapa?" Glacia mulai menyeruput sedikit jus tersebut.
Rini menjawab. "Hari ini Dokter ada jadwal operasi, Nona. Biasanya paling cepat Dokter Rafael tiba di rumah sekitar pukul 10 malam. Ada apa? Anda ada perlu sesuatu?"
Glacia melipat bibir lalu menggeleng. "Bukan apa-apa. Saya hanya bertanya."
Dalam hati Glacia bersyukur, ia tidak perlu bertemu Rafael seintens kemarin. Glacia akan berusaha tidur sebelum pria itu datang. Ia benar-benar malas berinteraksi dengan Rafael yang menurutnya terkesan palsu. Pria itu baik, tapi seolah ada sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa Glacia jabarkan. Ini hanya perasaan yang timbul dari insting Glacia.
Beberapa menit terlibat perbincangan, tiba-tiba suara denting kecil dari pintu di depan menarik perhatian. Seseorang baru saja menempelkan kartu akses, dan tentu hal tersebut membuat Glacia langsung menoleh pada Suster Rini yang juga kebingungan.
Bukankah, tadi dia bilang Rafael da jadwal operasi dan akan tiba di rumah sekitar pukul sepuluh? Tapi ini apa?
Suara langkah kaki terdengar mendekat dari koridor yang terhubung pada pintu tersebut.
"Suster, bukannya ..." Kalimat Glacia menggantung ketika yang dilihatnya bukanlah Rafael.
Dari posturnya yang tinggi semampai, sepertinya dia seorang wanita. Pakaian gelap nan panjang membalut tubuhnya dari ujung rambut hingga kaki. Glacia bahkan tak bisa melihat wajahnya karena terhalang tudung jaket yang menutupi hampir seluruh wajah orang itu.
"S-siapa kau? Kenapa kau bisa masuk kemari?" Suara Suster Rini yang pertama kali terdengar. Rautnya berubah tegang disertai bingung dan takut. Ia menarik kursi roda Glacia hingga posisi sang nona kini berada di sampingnya.
Glacia sendiri tak lepas menatap wanita bertudung itu, berusaha meneliti dan mengenali sosok misterius yang tiba-tiba masuk tersebut.
"Siapa kau?" Kali ini Glacia yang bertanya. Ia mendongak saling melempar pandang dengan Suster Rini. Wanita itu yang tampak paling cemas. Tentu hal itu wajar dirasakan ketika orang asing tiba-tiba masuk ke kediaman kita.
Hening. Sosok tersebut tak menjawab. Hingga tak lama ia pun membuka mulutnya menyapa Glacia.
"Halo, Glacy. Lama tak bertemu."
Mata Glacia membola. Suara ini, ia yakin sangat mengenal suara wanita ini.
Di luar, Narendra mengangkat jemarinya, memberi isyarat pada timnya serta anggota kepolisian untuk segera bergerak keluar. Mereka turun dari mobil, lalu berderap memasuki gedung apartemen. Kehadiran aparat dan orang-orang berjas hitam itu sontak menarik perhatian banyak publik, menimbulkan rasa penasaran orang-orang yang turut merasakan ketegangan.
Suasana gedung tersebut menjadi sedikit tidak kondusif. Beberapa polisi tetap berjaga di lobi serta resepsionis, pun anggota tim IT bertahan dengan pengawasan juga penyadapan mereka di mobil, sementara yang lainnya ikut bersama Narendra menuju lantai atas.
__ADS_1
Nick dan Harley memantau dari udara, mereka mendaratkan helikopter di atap gedung sembari mengawasi suasana di bawah sana.
Nick mendekatkan handy talky ke mulutnya. "Rafael Adiwangsa meninggalkan rumah sakit. Sepertinya dia tahu tentang penyergapan ini."
Terdengar sahutan dari Narendra yang kini sudah tiba di depan unit apartemen Rafael. Ia dan timnya tak serta-merta masuk, mereka merapatkan tubuh ke dinding dengan sikap waspada. Semuanya memantau pintu yang tidak tertutup sempurna itu, dengan senjata di masing-masing tangan.
Di perjalanan, Rafael berkali-kali memaki penuh emosi. Ia yang hendak memasuki ruang operasi terpaksa meninggalkan tugas begitu saja lantaran seseorang memberitahu perihal penyergapan yang dilakukan Narendra dan orang-orangnya.
Hal ini membuat Rafael merasa terpojok karena tidak menduga tempatnya bisa ditemukan secepat itu. Belum lagi padatnya kendaraan membuat Rafael terjebak dalam kemacetan hingga ia bertambah emosi.
Ia mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang. "Dasar bodoh! Kau bilang tidak ada pergerakan dari mereka? Kau yakin mengawasi Narendra dengan benar, Thomas?!"
Teriakan Rafael membuat seseorang di balik ponselnya berdecak. "Mana kutahu mereka sehebat itu?" Ia lalu melanjutkan dengan santai. "Lagipula, kau hanya menyuruhku mengamati, bukan menelusuri. Siapa yang tahu mereka bergerak secara rahasia? Sekarang kau sadar kemampuanmu masih jauh di bawah orang-orang itu," dengusnya kemudian menutup telpon.
"Aaarrgghh!!" Rafael melempar ponselnya kasar, menimbulkan bunyi benturan lantaran benda itu baru saja menghantam kaca jendela. "Sialan! Bocah itu, kukira bisa menjadi sekutunya karena hubungan dia dan Narendra tidak baik," desisnya tajam.
***
"L-Lizy?" Glacia terbata, matanya terpaku pada seseorang di depan sana.
Glacia terhenyak ketika melihat Lizy yang mendekat. Ia menelan ludah, begitu pula Suster Rini yang semakin menarik kursi roda Glacia mundur. Sepertinya wanita itu juga ketakutan.
"A-apa yang kau lakukan di sini? Bukankah ..."
"Bukankah apa? Bukankah Narendra mengurungku, begitu?" Lizy tertawa. "Hahaha. Glacy ... Glacy. Kamu pikir aku tidak bisa lari dari cengkraman suamimu yang katanya bekerjasama dengan orang hebat? Kau harus tahu, bahwa keberuntungan selalu mengikutiku."
"Dan ... untuk apa aku di sini? Tentu saja untuk bertemu denganmu," lanjut Lizy menyeringai. Ia berjalan semakin mendekati Glacia dan Suster Rini.
Suster Rini yang kepalang ketakutan tak mampu menahan diri untuk lari. Ia meninggalkan Glacia begitu saja bersama Lizy. Perawat itu lari tunggang-langgang keluar apartemen, dan terhenyak begitu menemukan polisi serta orang-orang bersetelan rapi seperti bodyguard menyergapnya di sana.
Narendra menempatkan jari telunjuknya di depan bibir, memberi isyarat supaya Rini diam. Tentu Rini mengangguk cepat, tubuhnya sudah cukup tegang bertemu wanita misterius penuh luka di dalam sana, dan sekarang ia malah berhadapan dengan polisi serta orang-orang elit yang sepertinya bukan sembarangan.
Kembali pada Glacia yang kini sudah saling berhadapan dengan Lizy. Ia berusaha tetap tenang kendati jantungnya berdegup waspada.
"Mau apa lagi kau?" tanya Glacia tajam.
__ADS_1
Lagi dan lagi Lizy menyeringai memperlihatkan giginya yang tak seputih dulu. Wanita itu benar-benar berbeda dari yang terakhir Glacia ingat.
"Kau masih bertanya saat sudah tahu jawabannya?" Ia terus mendekat. Sementara Glacia perlahan mundur bersama kursi rodanya.
"Kau masih belum puas?" Glacia mengernyit tak menyangka. "Sebenarnya apa yang membuatmu begitu membenciku, Lizy? Aku bahkan mendekatkanmu dengan Narendra. Kenapa kau harus berbuat seperti ini terus?"
Lizy mendengus. "Bukankah kau tidak tulus melakukannya? Kau berlagak ingin memberikan suamimu padaku, padahal kau sendiri mulai menaruh hati padanya!" serunya kesal.
Langkahnya kian mengikis jarak, hal itu membuat Glacia berkali-kali menabrak benda di belakangnya ketika menghindar.
"Alhasil, Narendra tetap bersamamu. Dia bersikeras tidak mau meninggalkanmu meski kau cacat dan tak berguna!"
"Narendra bersamaku karena keinginannya!" balas Glacia berteriak.
Lizy mendengus. "Omong kosong. Kenapa kau terus menarik hati para pria dengan kondisimu yang seperti ini? Hal ini membuatku benar-benar membencimu. Aku benci dengan perhatian mereka yang terus tertuju padamu!"
Nafas Glacia tak beraturan. Ia benar-benar cemas seandainya Lizy melakukan sesuatu yang lebih gila untuk membunuhnya.
"Kau iri, Lizy. Kau iri padaku," ucap Glacia. "Tapi setidaknya jangan lakukan hal yang malah membuat hidupmu hancur hanya gara-gara cemburu. Kau terlalu fokus dengan ambisimu hingga mengabaikan resiko di sekitarmu!"
Lizy terkekeh. "Aku tidak peduli. Kaulah yang menghancurkan hidupku. Aku seperti ini karenamu, Glacia. Kau merebut semua kebahagiaan dalam hidupku. Kau merebut Narendra dan membuatnya meninggalkanku. Narendra meninggalkanku untuk menikahimu! Lalu sekarang, seolah tidak punya malu kau juga memikat Rafael dan membuatnya gila!" Ia kembali mendengus sebelum melanjutkan. "Itu karena kau mengingatkannya pada Reina, adiknya yang meninggal saat berjuang melawan kanker. Hahaha ... Kau memang wanita pembawa sial! Semua orang menjadi gila karena keberadaanmu. Jadi, sekarang biarkan aku melenyapkanmu agar semuanya berakhir. Jika aku tidak bisa bahagia, jangan harap kau juga akan bahagia, Glacia!"
Lizy berlari ke arah Glacia dengan tangan terulur hendak mencekiknya. Namun semua itu urung begitu Narendra dan timnya masuk menyergap ruang apartemen tersebut.
Para polisi mengelilingi Lizy dengan senjata. "Nona Eliza, menyerahlah atau kami terpaksa menembak anda."
Glacia terperangah sekaligus senang melihat pertolongan datang. Ia menatap Narendra terharu, pun lelaki itu sempat meliriknya lama, sebelum memusatkan atensi pada Eliza.
"Kau tidak bisa lari lagi, Lizy. Aku memberimu kesempatan untuk menyerah, atau kau tidak akan tahu apa yang akan kulakukan jika kau berani menyentuh Glacia."
Lizy berbalik perlahan. Sudut bibirnya tersungging miring ke arah Narendra. "Menyerah? Aku lebih baik mati daripada hidup dalam kekalahan."
Dengan cepat Lizy berpindah ke belakang Glacia dan melingkarkan tangannya di leher wanita itu. Glacia terkesiap cemas, terlebih saat Lizy semakin menariknya mundur mendekati balkon.
"Ayo kita mati bersama, Glacy," bisiknya di telinga Glacia.
__ADS_1