
Pagi harinya Narendra membawa Glacia menghadiri pemakaman Rafael dan Eliza. Mereka dikebumikan di makam keluarga masing-masing. Oleh karena itu Narendra harus sukarela bolak-balik dari tempat satu ke tempat lain.
Sebenarnya ia tak begitu berniat menghadiri pemakaman dua sejoli gila itu, akan tetapi Glacia memaksa ingin datang. Entah apa yang dipikirkan sang istri.
Usai dari pemakaman Rafael, Narendra segera bertolak ke pemakaman Lizy, meski terlambat karena upacara pemakaman telah selesai dilaksanakan. Pasangan itu dikebumikan dalam waktu hampir bersamaan.
Narendra mendorong kursi roda Glacia begitu mereka turun dari mobil. Beruntung kali ini jalan yang mereka lalui merupakan tanah datar, hingga Narendra bisa leluasa membawa Glacia bersama kursi rodanya.
Tiba di depan pusara yang masih nampak baru, dalam nisan tertulis nama Eliza Pataya. Glacia membungkuk meletakkan buket bunga yang sedari tadi ia bawa di pangkuan. Kemudian setelahnya ia terpaku memandangi tanah merah tersebut.
Pakaian hitam membalut tubuh Glacia maupun Narendra. Seolah hendak memberi ketenangan pada hatinya yang gelisah, angin sesekali berhembus hingga sedikit menerbangkan selendang yang menutupi kepala Glacia.
Narendra tak sekalipun beranjak dari belakang tubuh istrinya, hingga tak lama Glacia membuka mulutnya bersuara. "Beberapa minggu yang lalu, saat tahu dia ingin membunuhku, aku berkali-kali mengutuk agar Tuhan melenyapkannya," bisik Glacia halus. Matanya terpaku lama sambil menerawang, terkesan kosong sekaligus penuh dengan pikiran.
"Aku sama sekali tidak mengira Tuhan akan bereaksi secepat ini. Bukannya senang, hatiku malah terasa abu-abu. Aku tidak bisa mendeskripsikan perasaanku sendiri. Apa yang kurasakan saat ini, aku pun tidak mengerti." Glacia menelan ludah. "Ya aku sadari, aku sama sekali tak mengharapkan akhir yang seperti ini."
Mendengar itu, Narendra membuang nafasnya panjang. Ia menyentuh pundak Glacia dengan kedua tangannya, merematnya pelan guna menyalurkan kekuatan tersirat. "Sudah kubilang, ini bukan salahmu. Ini kehendak Tuhan."
"Tetap saja, aku turut andil dalam semua alasan hingga mereka jadi seperti ini. Terlebih Rafael, dia hanya menyukaiku," bisik Glacia.
Narendra memandang puncak kepala sang istri di bawahnya. "Kita tidak bisa menyesalkan sesuatu yang sudah terjadi. Glacy, lebih baik sekarang kita pulang. Kamu masih butuh banyak istirahat. Ini sudah terlalu lama sejak kita meninggalkan rumah sakit."
"Tunggu, Naren," tahan Glacia. Narendra tidak jadi menarik kursi rodanya.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Perkataan Lizy saat itu ..." Glacia menjeda ucapannya. "Tentang semua luka di tubuhnya, apa benar itu perbuatanmu?"
Hening. Narendra mematung, tak menyangka Glacia akan bertanya demikian. Glacia mendongak ke arahnya, menatap Narendra dengan kening berkerut samar.
"Jadi, pembalasan yang kamu maksud waktu itu ... melukai Lizy?"
Hingga satu menit berlalu Narendra masih bungkam. Ia tidak tahu dan tidak mengerti apa maksud Glacia menanyakan hal ini. Narendra berpikir semua konflik di antara mereka sudah usai, tapi semua anggapan tersebut hilang karena saat ini Glacia menatapnya seolah Narendra adalah penjahat yang harus dihindari.
"Glacy." Narendra hanya bisa bergumam nama sang istri.
"Kenapa?" bisik Glacia. "Kenapa kamu harus menyakiti orang untuk melampiaskan kebencianmu pada mereka?" bisik Glacia lagi. "Sebelum kecelakaan itu terjadi, sebelum kemampuan kakiku terenggut, aku merasa akulah wanita paling jahat di dunia ini. Aku terlalu sering melukai perasaan orang dengan perkataan dan perbuatanku, aku mengabaikan dan merendahkan harga diri suamiku, membangkang pada orang tua, dan masih banyak hal lain yang sengaja dan tidak sengaja aku lakukan."
"Tapi dari semua hal di atas, aku tidak pernah berani melukai siapa pun secara fisik."
Narendra terdiam, dan Glacia menyentuh tangan lelaki itu yang terasa dingin. "Naren, aku mengatakan ini bukan untuk menghakimimu. Aku juga tidak takut padamu. Aku hanya ... ingin tahu, siapa kamu sebenarnya?"
Hal itu tentu mengejutkan Glacia, terutama Narendra yang secara refleks menahan tubuh Glacia agar tidak jatuh.
"Wanita tidak tahu diri. Beraninya kamu menginjak kaki di tanah pusara anakku!!!" Seorang wanita paruh baya berteriak menunjuk Glacia. Dia adalah Jemima, ibunda Lizy yang wajahnya kini bengkak dan merah penuh air mata.
Glacia masih terpaku lantaran terkejut. Ia menyetuh rambutnya yang baru saja ditarik. Glacia melihat selendangnya di tangan wanita itu, sebagian rambutnya terenggut di balik kain hitam tersebut.
"Pembunuh! Kau pembunuh! Kau membunuh Eliza dan Rafael! Kau menghancurkan hidup mereka! Kau pembunuh!"
"Jaga bicara anda, Nyonya!" tegas Narendra. Ia menarik bahu Glacia hingga sang istri merapat di pinggangnya. Narendra menatap tajam pada Jemima yang kini memandang mereka penuh kebencian.
__ADS_1
"Apa? Aku hanya berbicara kenyataannya, Narendra. Dialah penyebab semua ini terjadi! Sebelum ini semuanya baik-baik saja. Tapi setelah wanita itu datang, selalu! Selalu hidup putriku berubah hancur! Dulu kamu, sekarang Rafael. Kenapa dia tidak pernah puas memikat hati para pria!" teriak Jemima. "Kau wanita pembawa sial, Glacia! Apa yang sebenarnya lebih istimewa dari wanita cacat sepertimu?!"
"Cukup!" Narendra menunjuk Jemima menggunakan jarinya. "Asal anda tahu, semua ini terjadi karena putri anda sendiri. Dia yang selalu berambisi membunuh istri saya. Dia sendiri yang mengacaukan kehidupannya dengan ketidakpuasan. Dia yang enggan menerima keputusan orang di sekitarnya. Dia yang selalu cemburu pada sesuatu yang bukan miliknya!" Nafas Narendra terengah. "Jadi, jangan sekali-kali anda melibatkan istri saya dalam hal ini, apalagi menyalahkannya atas sesuatu yang dia sendiri tidak kehendaki. Bukan hanya anda yang terpukul, kami sendiri masih terkejut dengan semua yang terjadi."
"Omong kosong," desis Jemima. Ia terisak dengan raut tak terima. Sorotnya masih dipenuhi ketidakikhlasan. "Wanita ini sumber kesialan bagi putriku."
Jemima meraung, menangis meremas tanah pusara Eliza. Tubuhnya luruh dengan wajah putus asa. Glacia menyaksikan itu dalam diam. Ia tak menampik bahwa ia pun merasa bersalah atas semuanya.
Jemima benar, jika bukan karena dirinya, semua peristiwa ini tidak akan terjadi. Akan lebih baik jika Glacia tak pernah bertemu Narendra, Rafael, maupun Lizy. Secara tidak sadar ia memang telah mengacaukan kehidupan mereka.
Di tengah raungan tangis Jemima yang memilukan, orang-orang bersetelan hitam yang Glacia duga anak buah keluarga Pataya muncul, berupaya menarik wanita itu bangkit tanpa meninggalkan kesan hormat dan segan.
Jemima dibawa pergi oleh orang-orang itu, sementara Glacia masih mematung di saat Narendra mengusap pundaknya sambil berkata. "Jangan dengarkan omong kosongnya. Anggap saja itu hanya luapan amarah, karena ia tidak punya seseorang yang bisa dijadikan alasan untuk dilempari kesalahan."
Glacia terdiam. Ia membuang nafas sambil melipat bibir menatap kepergian Jemima bersama mobil mewahnya.
"Semua ini memang salahku. Aku adalah alasan mereka berdua menggila. Lizy yang cemburu padaku karena menikah denganmu, lalu Rafael yang menyukaiku karena aku mengingatkan lelaki itu pada adiknya. Obsesi mereka sama-sama berkaitan denganku. Secara tidak langsung aku menjadi perantara keduanya menemui ajal setragis ini."
"Glacy." Narendra berjongkok di hadapan Glacia, satu tangannya bertumpu pada lutut wanita itu, sementara satunya lagi menggenggam jemari Glacia yang terasa lembab dan dingin. "Di dunia ini ada hukum sebab dan akibat. Mungkin Tuhan menjadikan kamu sebagai penyebab mereka meninggal, tapi kamu harus tahu bahwa akibat yang mereka tanggung adalah keputusan dari mereka sendiri. Mereka yang memutuskan melakukan hal-hal buruk padamu, maka inilah yang mereka dapat. Seandainya dua orang ini bisa menahan diri dan menerima keadaan, akhir seperti ini tidak akan terjadi."
"Berhenti menyalahkan diri. Jika kamu saja merasa demikian, bagaimana dengan aku?" lanjut Narendra. "Menjawab pertanyaanmu sebelumnya, benar, aku yang menyakiti Lizy sebagai pembalasan karena dia sudah berencana membunuhmu."
Narendra menatap Glacia pasrah. "Kamu tidak salah jika ingin menganggapku monster, karena aku bahkan dengan sengaja melenyapkan ayahku sendiri."
Glacia terpaku. Nafasnya seolah berhenti sesaat menatap Narendra. Ia meneliti matanya, berusaha mencari kebenaran yang jelas terlihat. Glacia tidak tahu harus berkata apa karena sedetik kemudian ia merasa tubuhnya lemas.
__ADS_1
Hal terakhir yang ia sadari adalah suara Narendra yang berdengung memanggil namanya.
Pikiran Glacia tidak fokus. Kepalanya dipenuhi oleh berbagai pertanyaan mengenai siapa Narendra sebenarnya. Lelaki seperti apa yang sudah ia nikahi selama ini?