Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
85. Musim Semi untuk Narendra


__ADS_3

"Kapan aku bisa pulang?" Glacia bertanya pada Narendra yang sedang mengaduk bubur, bersiap menyuapi Glacia.


Lelaki itu duduk di kursi sebelah ranjang. Tangannya kemudian terulur bersama sendok beserta bubur dan perintilan lauk lainnya yang menurut Glacia terasa hambar.


Namun Glacia tak kunjung membuka mulutnya hingga Narendra menghela nafas panjang. "Kalau sekiranya kondisi kamu sudah cukup memungkinkan, kita pasti pulang. Sekarang makan, supaya kamu cepat pulih. Setidaknya jauh lebih baik untuk menjalani kemoterapi nanti."


Glacia menerima suapan Narendra dengan bibir sedikit mengerut. Ia mengunyah bubur hambar itu dengan setengah hati. Narendra menahan senyum karena tahu Glacia tak menyukai rasanya.


"Tidak bisakah kau membelikanku pasta?"


Tuh, kan. Narendra menggeleng. "Kamu tidak boleh makan MSG dulu."


"Bagaimana aku bisa menikmati hidup kalau makan saja tidak enak?" lirihnya kesal.


Narendra masih bisa mendengar gerutuan pelan itu, tapi ia diam saja dan kembali menyuapi Glacia. Sebenarnya Narendra juga kasihan, tapi bagaimanapun Glacia harus menjaga kesehatannya sesuai anjuran dokter.


Sejauh ini, makanan paling enak yang Glacia makan adalah buah. Ngomong-ngomong buah, Narendra sejak tadi tak berhenti melirik keranjang buah yang nampak baru di nakas. Ia tahu buah itu dari siapa, tapi ia tetap ingin bertanya secara langsung pada Glacia.


"Itu buah dari siapa?" tanya Narendra, nampak tak acuh sambil berkutat dengan isi mangkuk Glacia. Tapi ia tetap memperhatikan perubahan raut Glacia yang terlihat biasa saja.


Wanita itu menjawab. "Dokter Rafael. Tadi kalian sempat bertemu, kan?"


Narendra mengangguk. Ia lega karena sepertinya tak ada yang istimewa dari Rafael di mata Glacia. Ia pun cukup dewasa untuk tidak membuang pemberian lelaki itu.


"Ngomong-ngomong, katanya Lizy belum juga ditemukan?" tanya Glacia tiba-tiba.


Narendra terdiam sesaat, ia lalu lanjut menyendok bubur dan menyuapkannya pada Glacia. "Sudah kubilang, berhenti berpikir sesuatu yang bukan masalahmu. Aku dan kepolisian sedang berusaha, kamu cukup diam saja."


Dalam hati Narendra mendengus. Kepolisian apanya, mereka jauh lebih lambat dari yang ia duga.


"Hey, yang jadi korban itu aku. Tapi, kenapa tidak ada polisi ke sini? Apa aku tidak perlu dimintai kesaksian? Bukankah biasanya mereka membutuhkan laporan informasi dari korban?" tanya Glacia merasa aneh.


"Tidak perlu," jawab Narendra singkat.


"Kenapa?"

__ADS_1


Narendra diam, hingga Glacia berkali-kali bertanya. "Kenapa— eummp."


Wanita itu bungkam ketika Narendra menjejalkan paksa bubur di sendoknya. "Apa kamu mendadak lupa tata krama saat makan? Tidak boleh bicara, tidak boleh berisik," ucapnya, memperingati dengan halus.


Mata Glacia memicing pada Narendra. "Ini bukan di meja makan. Lagipula aku tidak makan sendiri, kau menyuapiku."


"Tetap saja kau harus diam. Aku tidak akan bertanggung jawab kalau kamu tersedak," balas Narendra.


Glacia mencibir. "Aku tidak percaya."


Narendra tak bersuara lagi, Glacia mendengus karena Narendra benar-benar serius dengan perkataannya. Glacia pun bergumam. "Oke, aku diam."


Hingga selesai makan pun, Narendra tak mengajak Glacia bicara. Pria itu memberi Glacia minum, lalu menyimpan piring kotor di meja.


Glacia pun kembali membuka suara, ia bergumam pelan sambil mengamati Narendra yang tengah menaruh gelas kosong. "Dokter Rafael ... tadi dia minta maaf."


Narendra menoleh, rautnya tampak biasa saja karena ia memang sudah tahu dari kamera dan penyadap yang dipasangnya di kamar Glacia.


Meski begitu Narendra tetap bertanya. "Minta maaf untuk apa?"


Tak lama ia pun menimpali. "Bukankah kita sama saja?"


Glacia menoleh. Ia mengerjap, dan baru sadar apa yang Narendra maksud. Benar, mereka menikah juga bukan atas keinginan masing-masing, setidaknya itu yang Glacia pikir. Ia dan Narendra disatukan sebagai orang asing.


Mendadak Glacia merasa suasana sedikit tak nyaman. Terlebih Narendra yang diam saja. Entah kenapa, tapi Glacia merasa perkataan tadi membuat lekaki itu tersinggung.


"Itu ... bukankah kita sedang berusaha ... saling mendekatkan diri?" cicit Glacia ragu. Ia menatap Narendra yang masih diam dengan bibir yang membentuk garis lurus.


Narendra beranjak dari kursi, lalu duduk di pinggir ranjang, tepat di sebelah Glacia. Keduanya saling beradu pandang lekat, dan tiba-tiba saja Glacia dibuat tercekat oleh pertanyaan Narendra. "Jadi, kamu setuju untuk pendekatan denganku?"


Apa-apaan ini? Kenapa Narendra harus bertanya begitu? Bukankah sudah jelas, bahwa mereka memang jauh lebih dekat dari sebelumnya? Mungkin ini pendekatan yang terlambat setelah lebih dari satu tahun setengah pernikahan mereka.


"Kenapa kau harus bertanya? Bukankah kau sendiri yang selalu bilang, kalau kita harus memperbaiki semuanya?" Glacia merengut gengsi. Ia membuang muka menghindari Narendra.


Narendra tersenyum kecil. Tiba-tiba ia meraih Glacia dan mendekapnya hangat. "Terima kasih, karena sudah mau menerimaku. Ini harapanku sejak kali pertama kita menikah."

__ADS_1


"Hum." Glacia tampak kebingungan. Ia tak bisa menjawab selain membalas pelukan Narendra, bahkan tangannya masih terkesan ragu dan malu. Tapi sepertinya Narendra paham, ia mengerti semua memerlukan waktu.


Tatapan Glacia menerawang. Narendra mungkin tidak tahu, salah satu alasan Glacia mau menerimanya karena ia tak mau menyesal. Dengan kondisi tubuh yang bisa sewaktu-waktu mati, Glacia ingin melakukan beberapa hal baik sebelum pergi.


Kesalahan terbesarnya adalah mengabaikan Narendra sebagai suami. Jadi, sekarang Glacia sedang berusaha menebusnya, dengan memulai semua dari awal. Memperbaiki hubungan mereka yang sudah lama dilanda musim dingin.


Glacia ingin menciptakan musim semi untuk Narendra. Setidaknya, Glacia berharap bisa membangkitkan bunga-bunga dalam hubungan mereka, kendati hanya sementara.


"Uhuk!" Glacia terbatuk. Ia membekap mulutnya sesaat, lantas mematung ketika melihat darah di sana.


Narendra mengernyit dan bertanya. "Ada apa?" Ia menjauhkan tubuhnya dan menyentuh kedua bahu Glacia.


Namun Glacia menggeleng. Diam-diam ia mengepalkan tangannya, berusaha menyembunyikan sesuatu yang ada di telapak tangannya. Glacia tersenyum. "Bukan apa-apa. Kamu ... belum makan siang. Tidak turun ke kantin?"


Narendra membuang nafas. "Aku lupa Julian sedang tidak ada, aku tidak bisa menyuruhnya. Kamu tidak apa-apa ditinggal? Hanya sebentar, janji."


Glacia mengangguk. "Huum. Pergi saja. Cepat, perutmu sudah bergetar kelaparan." Ia mendorong Narendra hingga beranjak.


Kening Narendra berkerut dalam. "Aku memang lapar, tapi perutku tidak berbunyi," ujar lelaki itu menyanggah.


"Begitukah? Tapi tadi aku merasa perutmu bergetar, kok."


Narendra mendengus tak percaya sekaligus geli. "Alih-alih berbunyi, kau lebih memilih menyebutnya bergetar?"


"Memang sedikit bergetar, kan? Coba kau sentuh perutmu jika berbunyi," balas Glacia.


Narendra tertawa pelan. "Lucu sekali. Ya sudah, aku turun sebentar untuk meredakan getaran perutku."


Ia mendekati Glacia, mencium puncak kepala wanita itu, lalu mencuri ciuman bibirnya sekilas. Glacia melotot, sementara Narendra hanya tersenyum tipis sebelum keluar.


Seperginya Narendra, wajah Glacia berubah kaku. Ia meraup tisu di nakas untuk menyeka darah di telapak tangannya. Karena tempat sampah terlalu jauh, Glacia lebih memilih menyembunyikan tisu bekas itu di bawah bantal.


Sambil berbaring dengan pandangan menerawang, Glacia memikirkan banyak hal. Entah apa saja yang ia pikirkan hingga keningnya sedikit berkerut nampak serius.


Tapi ada salah satu yang mengganggu Glacia sejak tadi. Ini tentang pesan sang ayah yang menurutnya terasa ganjil.

__ADS_1


__ADS_2