
"Akhirnya ... Hhhh ... Hhhh ..." Nafas Krisna terengah. Akhirnya mereka berhasil keluar dari lapas setelah melewati berbagai rintangan.
Ternyata memang sesulit itu, Krisna rasa ia butuh pelatihan matang jika ingin keluar dari penjara. Tak hanya merayap di tembok, Krisna juga hampir mati karena dikeroyok. Hebat sekali Thomas bisa mengalahkan para polisi itu.
Sekarang, status mereka resmi menjadi buronan. Usai lepas dari kejaran polisi, Krisna dan Thomas menumpang sebuah mobil bak pembawa rumput jerami.
Basah, bau, semua menjadi satu menambah lusuh tubuh Krisna dan juga Thomas. Berbeda dengan Krisna yang terang-terangan merasa risih, Thomas si pemuda berandal itu seakan tak perduli, ia nampak santai dengan tubuh baunya.
Memang, di dalam tahanan pun mereka tak kalah kotor, tapi jerami ini benar-benar bau kotoran kambing.
Krisna membuang nafas. Ia bersandar pada body mobil sambil menatap jauh jalanan yang mereka lewati di belakang sana. Krisna menoleh pada Thomas yang bungkam. Pemuda itu benar-benar tak banyak bicara. Ia buka suara hanya saat perlu saja.
"Hey, berapa usiamu?" tanya Krisna penasaran.
Thomas menjawab tak acuh, bahkan tanpa menoleh. "Dua puluh."
Mendengus, Krisna berdecak tak percaya. "Sudah kuduga, tampangmu memang terlalu muda. Tapi ..." Ia kembali menoleh. "Dengan usia semuda itu, pengalamanmu di dunia kriminal sepertinya lumayan banyak? Sejak kapan kau jadi penjahat?"
Thomas membuang nafasnya malas, matanya terpejam sembari menyandarkan kepala pada punggung mobil. "Sembilan tahun," jawabnya santai.
Dahi Krisna berkerut samar. Ia nampak semakin penasaran pada pemuda di sampingnya tersebut.
"Sembilan tahun lalu, atau—"
"Usiaku 9 tahun. Aku membunuh kepala desa," cetus Thomas memotong.
Anak itu benar-benar banyak kejutan. Krisna sampai dibuat bungkam mendengar jawabannya. Tak lama Krisna pun tertawa. "Putraku di usia segitu sibuk mengejar juara kelas. Kau tau? Dia sangat lemah, ck."
Tiba-tiba saja Thomas menoleh, ia menatap Krisna dengan pandangan rumit. "Putramu yang mana?"
Krisna tertawa sinis. "Putraku hanya satu, sialnya dia tak berguna."
Di mata Krisna, Narendra adalah anak yang lemah. Sejak kecil yang dia pikirkan hanya prestasi akademik, sementara sikapnya yang pemalu dan tak mau bergaul kerap membuatnya menjadi bulan-bulanan.
Thomas kembali mengalihkan pandangan dari Krisna. Matanya menerawang entah memikirkan apa. Mulutnya kembali rapat tak bersuara. Hingga berjam-jam kemudian mereka tiba di sebuah daerah di luar kota.
__ADS_1
"Ini di mana?" tanya Krisna saat mereka turun dari mobil pembawa jerami. Mobil itu kini sudah pergi meninggalkan mereka di pinggir jalan sepi. Sangat sedikit lalu-lalang kendaraan yang lewat.
Satu sisi jalan adalah perbukitan dengan pohon rimbun, sementara sisi terluar merupakan dataran curam yang mengarah ke sebuah persawahan.
Thomas berjalan santai. Krisna spontan mengikuti pemuda itu. "Setelah ini kau mau ke mana?"
Dengan tak acuh Thomas pun menyahut. "Kita sudah bebas, terserah kau mau ke mana. Aku sudah selesai denganmu."
Kalimat yang dilontarkan dengan nada cuek itu membuat Krisna mendengus. Benar, Krisna sudah bebas sekarang, kenapa ia harus terus mengikuti Thomas yang tujuannya entah ke mana. Tapi ...
"Ini tempat asing, akan lebih baik kalau kita berkawan saja. Bagaimana? Aku ada seseorang yang bisa membantu keadaan kita sekarang."
"Siapa? Wanita itu?" Thomas bertanya setengah tak peduli.
Krisna menyeringai. "Ya, aku yakin dia akan memerlukan kita, karena dia juga buronan polisi."
Thomas mendengus. Tanpa Krisna tahu sudut bibir pemuda itu berkedut seolah menertawakan.
***
Di tempat lain, Lizy yang baru saja terbangun langsung terhenyak. Matanya mengedar ke seluruh ruangan, mengamati tempat yang ia pijak sekarang.
Ruangan tersebut begitu redup dan terasa dingin serta lembab. Lizy meringkuk memeluk tubuhnya yang hanya dibalut gaun tidur dengan ketebalan tak seberapa.
Lizy meneguk ludah. "Ini di mana?" gumamnya. Raut wajahnya nampak tegang dan waspada, terutama saat sebuah pintu terbuka kasar hingga refleks membuat Lizy terlonjak.
"Akh! Lepaskan saya!"
Tubuh Lizy menegang. Sial, itu Wina! Pelayan itu juga tertangkap? Lalu, bagaimana dengan Glacia? Apa wanita itu sudah mati? Atau mereka gagal? Sialan!
Bruk!
Pria yang menyeret Wina melemparkan gadis itu hingga tersungkur. Wina terisak kesakitan lantaran keningnya membentur semen dengan keras. Hidungnya juga nampak berdarah. Si pria berbadan besar itu lantas pergi meninggalkan mereka.
Lizy ingat, saat ia dibawa kemari, ia dibius. Jadi Lizy tak tahu sekarang berada di tempat apa.
__ADS_1
Wina masih belum menyadari keberadaan Lizy. Gadis itu sibuk menangisi nasibnya yang kacau setelah tertangkap oleh Narendra. Pria yang menjadi pangalih perhatian di rumah sakit juga sudah tertangkap. Dia adalah orang suruhan Lizy yang lain. Entah nasibnya saat ini bagaimana.
Lizy berdiri, ia menghampiri Wina yang bersujud setengah meringkuk di lantai. Posisinya masih sama setelah ia tersungkur. Tanpa peringatan Lizy menendang tubuh pelayan itu hingga terguling ke samping.
Wina yang terlonjak langsung mendongak, dan membelalak begitu bersitatap dengan Lizy. Lizy menatap Wina dingin.
"N-Nona ..." lirih Wina takut.
"Kau gagal?" tanya Lizy tanpa basa-basi.
Wina tergagap rikuh. Ia seketika panik, rautnya penuh permohonan pada Lizy. "M-maafkan saya, Nona—"
"KENAPA KAU GAGAL?!" Lizy tiba-tiba berteriak hingga nafas Wina tersendat sesaat. "DASAR TIDAK BECUS!"
Duk!
"Akh!" Wina menjerit kesakitan saat Lizy menendangnya kembali dengan lebih keras.
Tak hanya sampai di situ, kini Lizy juga menarik rambut Wina dan membenturkan kepala gadis itu berkali-kali ke lantai.
"DASAR SIALAN! TAK BERGUNA! AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUH AYAH DAN SAUDARIMU!!! AARRGHHH!!!"
"NONAAA!!!"
Lizy seolah kesetanan menyiksa Wina. Sementara Wina sendiri, ia menjerit kesakitan berusaha melepaskan cengkraman Lizy yang begitu kuat di rambutnya.
Namun apa daya tenaganya kalah oleh amarah Lizy yang menggila. Wina hanya bisa pasrah sampai ia merasa pening. Kepalanya berdarah-darah dan terasa akan pecah. Kalau tidak ada yang menolong, mungkin saat ini Wina bisa mati.
Beruntung seorang pengawal masuk memisahkan mereka berdua. Pria itu menyeret Lizy menjauh, membawanya ke ruangan terpisah dari Wina.
Wina yang lemah hanya bisa tergeletak pasrah hingga kesadarannya habis. Hal terakhir yang ia gumamkan sebelum pingsan adalah nama sang ayah yang entah bagaimana kabarnya sekarang.
Sementara di ruangan lain, Narendra berdiri dengan kedua tangan tenggelam di saku. Ekspresinya nampak datar mengamati beberapa layar CCTV yang menunjukkan posisi Wina dan Lizy.
Sudut bibirnya terangkat kaku, sebelum kemudian terkekeh seolah menyaksikan pertunjukan yang lucu. Ia lalu menoleh pada Harley yang berdiri diam di belakangnya.
__ADS_1
Narendra membuang nafas panjang. "Aku sudah lama tidak merasakan sensasi ini."
Ia kembali menatap layar dengan pandangan tajam. "Permainan dimulai," bisiknya penuh siasat.