
"Ini berhubungan dengan Wina. Weni sudah tahu bahwa sebelum ini Wina sempat berkomplot dengan Nona Eliza untuk melenyapkan Nyonya. Menyadari itu, Weni pasti sudah bisa menebak apa yang terjadi pada saudarinya. Wina bukan hanya melakukan kesalahan, ia juga mengkhianati kepercayaan tuannya," terang Julian di seberang sana. Kemudian ia melanjutkan. "Tindakannya juga didorong oleh situasi rumit keluarga. Ayahnya baru saja meninggal selepas operasi beberapa minggu lalu."
Mendengar penjelasan Julian, Narendra hanya mampu membuang nafas. Sebelumnya ia tidak berpikir Weni akan bertindak sejauh ini. Bukan Narendra menyesal, ia sama sekali tidak menyesal telah menghukum Wina, karena pelayan itu yang lebih dulu mengkhianatinya. Narendra benci pengkhianat, siapa pun pasti begitu.
"Beri dia pemakaman yang layak," putus Narendra. Bagaimanapun Weni tidak terlibat, hingga tidak ada alasan bagi Narendra untuk mengabaikannya.
"Baik, Tuan."
Narendra menutup panggilan. Ia terdiam sebentar, lalu berbalik hendak kembali ke kamar Glacia. Namun, langkahnya terhenti tatkala ia melihat sang istri sudah berada di belakangnya.
Wanita itu duduk di kursi roda, di tengah lorong yang lengang dengan mata menatap Narendra.
"Siapa lagi yang meninggal?" tanya Glacia.
"Glacy, kenapa kamu di sini? Siapa yang membantumu turun?" Narendra menghampiri Glacia.
"Naren, aku bertanya padamu," ucap Glacia lelah. Narendra terlalu sering mengalihkan pembicaraan setiap kali ia enggan membahas sesuatu.
Narendra terdiam, ia berdiri di depan Glacia, membalas tatapannya yang selalu membuat Narendra menyerah.
"Weni."
Kali ini Glacia yang bergeming. Keningnya berkerut, entah merasa aneh atau terkejut. "Bagaimana bisa? Apa dia sakit?"
__ADS_1
Pantas saja, selama ini Glacia tidak pernah mendapati satupun pelayan pribadinya di rumah sakit. Ia pikir karena mungkin Narendra tidak memberi perintah. Tapi, Glacia ingat waktu itu, Weni tidak bisa menemaninya karena sedang tak enak badan.
Alih-alih menjawab pertanyaan Glacia, Narendra beranjak ke belakang kursi rodanya, lalu mendorong Glacia berbalik. "Ayo kembali ke kamar. Kamu harus banyak istirahat."
"Aku sudah cukup istirahat, Naren. Katakan, bagaimana bisa Weni meninggal? Lalu Wina?"
"Glacy, tolong jangan tuntut aku untuk mengatakan semuanya. Aku tidak mau kamu semakin memandangku buruk."
Kalimat Narendra barusan sudah cukup membuat Glacia mengerti, bahwa semua kejadian ini masih berkaitan dengan lelaki itu. Glacia tak menuntut lebih, ia juga tidak berniat membuat Narendra merasa tak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan yang ia layangkan. Glacia percaya, semua yang Narendra lakukan memiliki alasan.
Ia akan bungkam kali ini, demi kebaikan hubungan mereka.
***
"Mereka ...?"
"Benar, mereka adalah rekan, Nyonya." Julian menjawab tegas.
Glacia terdiam sesaat. Begitu sulit memberi kepercayaan pada orang lain. Hati manusia tidak ada yang sempurna, ia bisa kapan saja berubah. Entah itu buruk menjadi baik, atau baik menjadi buruk.
Membuang nafas, Glacia pun mengangguk mengerti. "Baiklah, terima kasih sudah mau menjawab pertanyaanku. Aku tidak bisa bertanya pada Narendra, ia merasa tidak nyaman karena aku terlalu banyak penasaran."
"Sama-sama, Nyonya. Terlepas dari semua yang Tuan lakukan di belakang Nyonya, percayalah semua itu karena anda. Anda lah alasan beliau menghukum orang-orang jahat itu. Tuan begitu menyayangi Nyonya." Julian merasa ia perlu menegaskan, bahwa perasaan Narendra bukan hal yang bisa dianggap main-main. Lelaki itu bisa menggila jika menyangkut masalah hati. Buktinya, Narendra yang membenci pengkhianatan, mampu memaafkan Glacia yang berkali-kali mengkhianatinya.
__ADS_1
Glacia tersenyum kecil. "Baiklah. Tolong rahasiakan pembicaraan kita dari Narendra."
Ia menutup telepon. Glacia lalu termenung, sebelum membaringkan diri di atas ranjang pasien. Kepalanya menoleh miring ke arah jendela, menatap tenang pemandangan di luar sana.
Narendra sudah pergi beberapa saat lalu. Kesempatan itu Glacia gunakan untuk mencari tahu. Bersyukur Julian mau menjawab semua rasa penasarannya.
"Segalanya bermula dari kesakitan. Perbuatan jahat manusia sejatinya lahir dari terpaan masalah yang mereka alami, hingga menimbulkan dendam tak berkesudahan, yang membuat orang terus mencari kepuasan."
"Naren, mungkin kamu merasa tidak puas jika tidak menghukum mereka yang berbuat salah padamu." Glacia memejamkan mata saat berbisik demikian. "Untuk Weni, aku minta maaf, karena kamu harus terkena imbas dari perbuatan suamiku."
Weni yang memutuskan mengakhiri hidup, lantaran ayah dan saudari kembarnya pergi. Glacia tidak bisa menyalahkan Narendra yang memeberi hukuman pada Wina, hingga wanita itu harus meninggalkan rasa kehilangan di hati keluarganya.
Ia pun tidak patut menyayangkan mereka berdua. Keduanya memiliki alasan masing-masing. Wina bekerja sama dengan Lizy karena ia butuh biaya pengobatan, Weni bunuh diri karena ia merasa tak bisa hidup tanpa orang-orang terdekat di sekitarnya.
Semua yang menimpa mereka, bermula dari keputusan mereka sendiri.
"Semoga kalian pergi dengan tenang," gumam Glacia.
Ia terlelap, dan entah sejak kapan pelukan itu datang. Seseorang mengecup kening serta bibirnya lama. Itu pasti Narendra. Tanpa sadar bibirnya tersungging menyambut kehangatan tersebut.
"Sleep well, My Sunshine," bisik seseorang itu, dengan suaranya yang mesra dan penuh kelembutan.
Narendra, kamu sudah melakukan segalanya demi aku. Sekarang, kamu juga harus menungguku sampai benar-benar sembuh.
__ADS_1
Aku berjanji, saat itu tiba, aku akan membalas semua perasaanmu dengan lebih sempurna.