Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
26. Perasaan Aneh


__ADS_3

Glacia membuka matanya perlahan. Suara monitor detak jantung pelan-pelan mulai terdengar. Nafas wanita itu terlihat lemah, pun pandangannya nampak sayu ketika tersadar.


Hal pertama yang Glacia lihat adalah wajah tegang Narendra yang seakan menantinya sejak lama.


"Naren?" bisik Glacia parau.


"Kau sudah bangun?" Sebenarnya itu bukan pertanyaan. Perasaan lega tersirat dari nada suara Narendra.


Narendra berniat memanggil dokter namun urung ketika Glacia menahan tangannya. "Ini di mana?"


Suara Glacia terdengar bergemam terhalang masker oksigen.


"Rumah sakit. Kau pingsan saat sarapan tadi," jelas Narendra. "Aku akan memanggil dokter."


"Papa?"


Narendra terdiam. "Papa kamu masih di kantor. Aku sudah memberitahunya. Kau tenang saja."


Glacia tak bicara lagi sampai akhirnya Narendra memanggil dokter untuk memeriksa keadaannya. Dokter Teresa menatapnya rumit, ia seolah ragu menjelaskan kondisi Glacia. Namun pada akhirnya ia membuka suara karena Narendra terus menatapnya penuh tuntutan.

__ADS_1


"Glacia kelelahan. Sepertinya dia juga kurang tidur. Apa akhir-akhir ini kamu kesulitan tidur, Nak?" Dokter Teresa bertanya pada Glacia.


Glacia pun mengangguk membenarkan. "Ya, aku sedikit sering terbangun kalau malam," bisiknya lemah.


"Kau tidak pernah bilang padaku," sergah Narendra.


Glacia mengerjap. Aneh rasanya melihat Narendra sekhawatir itu. Aneh juga kalau Glacia mengutarakan segala keluhannya pada lelaki itu. Narendra bukan siapa-siapa. Selain suami istri, mereka sama sekali tidak dekat.


Glacia lupa, mungkin saja kekhawatiran Narendra hanya sebuah bentuk rasa tanggung jawabnya pada Yohanes yang telah menitipkan Glacia padanya. Iya, benar begitu.


"Untuk beberapa hari ke depan, Glacia akan dirawat dulu di sini, ya? Jangan stress, jangan berpikir macam-macam apalagi sesuatu yang buruk. Keep fighting, oke?" Dokter Teresa memberi semangat pada Glacia.


Glacia hanya mengangguk sebagai tanggapan. Setelah Dokter Teresa pergi, keheningan kembali menyelimuti. Narendra yang seperti enggan untuk beranjak sedikit saja, lalu Glacia yang mulai tak nyaman dengan sikap Narendra yang menurutnya terlalu peduli.


Narendra melesakkan diri di kursi sebelah ranjang, matanya tak lepas memandang Glacia yang diam-diam merasa gugup. Ia pasti terlihat sangat menyedihkan di depan Narendra.


"Lizy ..."


"Bisakah kau berhenti membahasnya?" potong Narendra.

__ADS_1


Glacia bungkam.


"Seharusnya kau fokus memikirkan kesehatanmu, bukan malah bertingkah konyol dengan mengundang tunangan orang untuk masuk ke rumah kita."


Rumah kita. Entah kenapa hati Glacia berdesir mendengarnya. Ini konyol.


"Aku berusaha membantumu," sahut Glacia menyerupai bisikan. "Membantu mendapatkan kebahagiaanmu."


"Memang kau tahu apa yang membuatku bahagia?" tanya Narendra seolah menantang. "Kita bahkan tidak pernah bertukar pikiran. Bagaimana bisa kau tahu apa yang kusuka dan tidak kusuka?"


"Aku hanya tahu yang tidak kau sukai," bisik Glacia.


"Apa?"


"Aku." Glacia menjawab. "Aku adalah wanita pembangkang yang sulit diatur. Kau pasti sangat membenciku. Aku juga sering meremehkanmu. Aku bukan istri yang baik."


Hening. Narendra hanya bisa terdiam mendengar penuturan Glacia. Glacia banyak berubah, dan entah kenapa Narendra malah khawatir. Rasanya, Narendra akan lebih tenang jika Glacia tetap bersikap angkuh seperti dulu.


"Kau salah," ujar Narendra menyanggah. "Jika aku membencimu, aku tidak akan duduk diam di sini seperti orang bodoh."

__ADS_1


Pengakuan Narendra membuat Glacia sesaat terpaku. Keduanya saling pandang dalam bungkam. Desir aneh kembali menyusup di hati Glacia. Tidak mungkin. Tidak mungkin Glacia menyukai Narendra, kan? Ini mustahil dan sulit diterima akal sehatnya.


"Kenapa kita tidak mencoba menikmati hubungan ini saja, Glacy?"


__ADS_2