
"Kau menyukai Glacia karena dia mengingatkanmu pada Reina?" Lizy bertanya pada Rafael yang kini tengah terpaku memandangi foto seseorang. Dengusan kuat terdengar dari mulut Lizy. "Yang benar saja."
Rafael tak menjawab. Ia memasukkan foto tersebut ke dalam dompetnya, lalu beranjak berdiri menuju jendela. Kedua tangan lelaki itu tenggelam di saku celana. Matanya menatap dengan pandangan menerawang.
"Mereka sama-sama sakit kanker, apa itu yang membuatmu berambisi memilikinya? Kau merasa bersalah karena dulu kau gagal menyelamatkan Reina." Lizy kembali berucap menyimpulkan.
Lagi dan lagi Rafael hanya menguar kebungkaman. Suasana ruangan tersebut begitu hening hingga kemudian Lizy hendak kembali berucap, saat itulah Rafael buka suara.
"Berhenti berceloteh. Aku menyelamatkanmu bukan berarti tidak bisa menyakitimu." Rafael berbalik menghadap Lizy. Matanya menatap datar wanita itu. "Aku bisa saja melakukan lebih dari apa yang Narendra lakukan padamu. Aku bisa membuat wajahmu lebih rusak beserta sel-selnya hingga tak bisa diperbaiki. Jadi, kamu cukup diam dan bergerak saat dibutuhkan. Ingat, kau hanya memilikiku sekarang, karena semua orang sudah menetapkanmu sebagai buronan."
Perkataan Rafael mau tak mau membuat Lizy bungkam. Ia mengatupkan bibirnya rapat, dengan mata menatap Rafael kesal. Ia berbalik dan keluar dari ruangan pria itu, meninggalkan Rafael yang kini kembali bergeming, menatap ke luar jendela dengan tangan bersidekap di dada.
Bibirnya bergumam pelan. "Glacia, aku akan menyembuhkanmu dengan caraku. Lalu, setelah itu kita hidup bersama, hanya kamu dan aku."
Sudut bibir Rafael terangkat penuh rencana. Sejak Reina dinyatakan sakit, Rafael tak berhenti mempelajari ilmu pengobatan khusus kanker. Rafael ingin menyembuhkan Reina, tapi Tuhan berkendak lain dengan mengambilnya. Dunia memang selalu tidak adil. Apa pun yang menjadi kesayangan Rafael selalu terenggut dengan cara menyakitkan.
Rafael merogoh ponselnya menelpon seseorang. "Awasi terus pergerakan Narendra dan orang-orangnya. Kau jangan meremehkan mereka, ingatlah Wiranata yang ada di belakangnya."
Setelah itu Rafael mengakhiri panggilan. Ia lalu berbalik membuka laptop yang sedari tadi tergeletak di meja kerjanya. Rafael tersenyum mengamati aktifitas Glacia di dalam apartemennya. Saat ini, wanita itu tengah membaca buku di ruang tamu.
***
Glacia membuang nafasnya kasar, menutup buku yang bermenit-menit lalu ia baca. Bosan, itulah yang Glacia rasakan. Biasanya ia tak sebosan ini saat di rumah sakit, karena Narendra seringkali menemaninya saat senggang, bahkan lelaki itu kerap dengan sengaja mengosongkan jadwal demi untuk mendampingi Glacia di rumah sakit. Tapi, sekarang ia bahkan tak bisa berkabar dengan suami dan ayahnya sendiri.
Glacia mengamati sekitar, Rini entah sedang di mana. Suasana begitu sepi dan hening hingga mempengaruhi mood Glacia. Tiba-tiba saja pikiran ingin keluar dari sini muncul di kepalanya.
Glacia menoleh lagi pada pintu, tempat di mana Rini menghilang terakhir kali. Ia lalu mengalihkan pandangan pada pintu lain tempat Rafael keluar tadi pagi. Glacia menggigit bibirnya ragu, sebelum kemudian ia menggerakkan kursi roda elektriknya ke arah pintu yang diyakininya sebagai jalan keluar.
Pertama-tama Glacia menyentuh gagang pintu tersebut, sebelum menekannya dengan yakin. Akan tetapi, mau berapa kalipun ia mencoba, pintu itu tetap tidak terbuka.
__ADS_1
Jantung Glacia berdegup kencang. Nafasnya mulai tak beraturan ketika dugaannya semakin menguat, bahwa ia kembali mengalami penculikan. Di tengah rasa cemasnya, tiba-tiba suara Rini terdengar dari belakang.
"Nona, anda sedang apa di sana?"
Glacia terperanjat saking terkejutnya. Ia segera mengubah raut wajahnya yang sempat panik, berusaha terlihat tenang dan tak mengerti apa-apa. Glacia akan mengikuti alur mereka dulu sambil memahami apa yang menjadi tujuan mereka menahannya di sini.
Glacia berbalik, ia mengulas senyum ragu menatap Rini. "Itu, aku hanya penasaran dengan pintunya." Ia sedikit melirik pintu di belakangnya. "Teksturnya beda dari kebanyakan pintu lain. Kurasa memang dibuat khusus."
Rini terdiam sesaat sambil mengamati Glacia seksama. Glacia sudah ketar-ketir dalam hati, meski begitu ia tetap mengulas senyum sambil memilin tangan di pangkuan.
"Saya dengar Dokter Rafael memang mendesain sendiri pintu itu. Bahannya juga terkesan langka, kan? Saya pikir hanya saya yang tertarik dengan pintu itu," ujar Rini disertai senyum.
Glacia mengangguk lamat. "Suster Rini bekerja di rumah sakit mana?"
Ia bertanya seraya menggerakkan kursi rodanya menjauhi pintu, lalu kembali ke ruang tengah yang sempat ditinggalkannya. Rini mengekor di belakang Glacia ketika menjawab. "Rumah Sakit Adiwangsa, Nona. Saya asisten Dokter Rafael di sana."
"Benar, Nona. Rumah Sakit Adiwangsa memang memiliki standar tinggi, penilaian dari pemerintah juga sangat bagus, itulah mengapa semua pasien merasa nyaman," timpal Rini. Rautnya seolah senang ketika Glacia memuji rumah sakit tempatnya bekerja.
Glacia meringis samar, ia pun lalu bertanya dengan suara sedikit ragu. "Suster Rini sejak kapan jadi asisten Dokter Rafael?"
Rini menjawab. "Sudah selama satu tahun ini, Nona. Kenapa?"
"Ah, bukan apa-apa. Berarti, sedikit banyak Suster Rini tahu tentang Dokter Rafael." Glacia tersenyum sekilas. "Dokter Rafael sangat berkarisma, pasti banyak sekali wanita yang menyukainya."
Mendengar itu, secara refleks Rini mengangguk kuat. Dengan antusias ia bahkan menceritakan atasannya tersebut. "Nona benar, Dokter Rafael memang sangat tampan. Menurut saya, ia yang paling tampan di antara yang tertampan di Rumah Sakit Adiwangsa. Penggemarnya sangat banyak dan rata-rata seorang wanita. Dari mulai pasien, perawat, dokter magang, senior, hingga petugas kebersihan hampir tidak ada yang tidak mengidolakan beliau."
"Apa Suster Rini termasuk?" tanya Glacia seraya mengangkat alisnya iseng.
Rini hanya meringis segan. "Saya memang mengagumi beliau, tapi sekedar rasa kagum pada atasan. Saya mana berani berpikiran lebih seperti orang-orang."
__ADS_1
"Ohh." Glacia mengangguk. "Tapi, biasanya banyak, lho, kisah asmara antara dokter dan perawat."
"Memang banyak, tapi itu kan hanya fiksi," jawab Rini. "Yang sebenarnya terjadi tidak serta-merta begitu, penilaian kasta tetap berlaku di dunia nyata. Apalagi kalau dokternya sekelas Dokter Rafael, tentu wanita yang mendampinginya harus wanita yang bukan sembarangan."
"Ah, sebentar lagi makan siang, Nona. Saya ke dapur dulu menyiapkan makanan untuk Nona."
"Ah, baiklah," sahut Glacia, ia mengangguk setelah melihat jam yang menunjuk pada angka setengah dua belas.
"Nona ingin makan apa siang ini?"
"Apa saya punya pilihan sebagai pasien?"
"Bisa. Dokter Rafael berpesan, Nona bisa meminta makanan apa pun asalkan makanan tersebut terbukti sehat dan baik untuk tubuh Nona."
"Ah, mengharukan sekali. Saya cukup terkesan dengan cara beliau melayani pasien." Sebenarnya Glacia sedikit menyindir, tidak tahu Rini mengerti atau tidak. "Saya makan apa pun yang dibuatkan Suster Rini. Kebetulan saya memang tidak terpikirkan sesuatu apa pun untuk dimakan," lanjutnya.
Rini mengangguk paham. "Baik. Kalau begitu Nona bisa menunggu sebentar. Atau, Nona mau menunggu di kamar? Nona ingin berbaring?"
Glacia menggeleng. "Tidak perlu. Saya masih betah di sini," ucapnya disertai senyum.
Rini turut tersenyum. Ia pun berlalu ke dapur, sementara Glacia berbalik membuka pintu balkon. Tanpa Glacia sadari, Rini mengeluarkan ponsel dari sakunya dan lekas menghubungi seseorang.
"Tuan, sepertinya Nona Glacia mulai senang tinggal di sini. Tadi dia sempat bertanya tentang anda, Nona juga memuji bahwa anda adalah dokter yang sangat baik dan berkarisma. Apa ini sebuah perkembangan yang baik?" Rini berbisik-bisik sambil sesekali melirik Glacia di balkon.
Rini tidak tahu, bahwa sedari tadi Glacia berusaha mendengarkan. Hanya saja ia tak begitu jelas memahami percakapan tersebut. Tapi Glacia yakin, bahwa yang saat ini Rini hubungi adalah Rafael.
Glacia menatap ke bawah balkon. Letak apartemen Rafael sangat tinggi, Glacia bahkan tidak bisa mengenali orang-orang yang berseliweran di bawah. Benar-benar tempat penyekapan yang sempurna. Glacia tidak bisa meminta tolong ada siapa pun, karena mau teriak pun percuma, tidak akan ada yang mampu mendengar suaranya dari tempat setinggi ini.
Sebelum itu, Glacia juga tidak melihat adanya penghuni lain di apartemen sebelah. Sedari pagi Glacia diam-diam mengamati, berharap ada orang yang tinggal selain dirinya di lantai ini.
__ADS_1