Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
67. Menunggu Kesadaran Glacia


__ADS_3

Di sudut kota lain, seorang wanita baru saja keluar dari sebuah rumah. Rumah kecil nan sederhana yang tak bisa dibandingkan dengan miliknya di Jakarta. Karena situasi dan kondisi, mau tak mau ia harus sedikit bersabar sampai keadaan kembali kondusif.


Wanita itu membenarkan kacamata hitam yang dipakainya. Selembar syal menyelimuti kepalanya persis kerudung, sementara tubuhnya dibalut coat panjang, selaras dengan sepatu boots hitam yang kini menguar suara ketukan setiap kali ia berjalan.


Penampilannya terbilang mencolok untuk sebuah desa terpencil. Tapi ia seakan tak perduli karena tak ada satupun orang yang mengenali penyamarannya di sana.


Wanita itu berjalan hingga beberapa meter jauhnya, hingga tak lama ia pun berbelok ke sebuah jalan setapak yang mengarah pada kebun tebu milik seseorang.


Seorang wanita lainnya menunggu di sana, ia berbalik ketika langkah sepatu boots itu mendekat menimbulkan suara gemeresak rerumputan kering.


"Nona Lizy," sapa si perempuan sembari sedikit menunduk. Ia lalu kembali menegakkan tubuhnya menatap wanita di hadapannya segan.


Lizy menatap datar perempuan itu. "Bagaimana?"


"Nyonya Glacia masih kritis. Saya dengar, dokter tak berani memberi harapan."


Berita tersebut membuat Lizy menyungging senyum sumir. Walau tidak langsung mati, setidaknya sekarang wanita itu sedang sekarat. Benar kata Krisna, tanpa membunuhnya pun Glacia tetap akan mati dengan tubuh lemahnya.


"Bagus. Tetap amati perkembangannya, dan laporkan padaku apa pun yang terjadi di sana. Kau tahu harus melakukan apa seandainya wanita itu membaik."


Perempuan itu mengangguk. "Baik, Nona."


"Sekarang pergilah. Jangan sekalipun gunakan ponselmu di sini, karena itu bisa membuat mereka melacakmu."


"Baik." Sekali lagi perempuan itu mengangguk.


Lizy berbalik hendak pergi, tapi kemudian ia berhenti dan menatap kembali perempuan tersebut. "Ingat, nasib ayahmu ada di tanganku. Jadi, jangan macam-macam."


Suara Lizy terdengar mengancam, hingga perempuan yang sedari tadi menunduk itu tak berani memandangnya. Kedua tangannya saling meremas membuat roknya yang lusuh bertambah kusut. Ia menatap punggung Lizy yang bergerak menjauh dengan perasaan campur aduk.


Betapa tidak, ia sudah mengkhianati tuannya hingga sejauh ini.


***

__ADS_1


Narendra tak berhenti menatap Glacia di dalam ruangan. Wanita itu hanya sendirian di sana, hanya berteman suara monitor yang entah kapan akan menunjukkan kemajuan.


Pertemuannya dengan Gibran Wiranata semalam masih terngiang. Kenyataan bahwa lelaki itu adalah sepupu Glacia memang tak bisa Narendra tampik. Juga fakta bahwa ia pernah bekerja dengan lelaki itu tak bisa Narendra tepis.


Narendra dan Gibran pernah tergabung dalam sebuah kelompok berbahaya. Ia memutuskan keluar beberapa tahun lalu, tepat setelah ia bertemu Yohanes yang menariknya untuk bekerja di perusahaan lelaki itu.


Narendra tak ingin pekerjaannya yang dulu membawa dampak buruk pada penolongnya. Yohanes sudah banyak membantu Narendra dalam segala hal, ditambah ia juga diberi kepercayaan menikahi putrinya.


Bisa dibilang kehidupan Narendra jauh lebih damai dari sebelumnya. Tapi, apa yang Gibran katakan terakhir kali memang tak sepenuhnya salah. Untuk masalah genting seperti kemarin, Narendra memang membutuhkan kekuasaan lelaki itu.


Awalnya Narendra hanya meminta bantuan Harley, tapi ia lupa pria Amerika itu memiliki kesetiaan besar pada tuannya. Dia pasti memberi tahu Gibran tentang masalah yang Narendra alami hingga si Cheetah Asia itu turun dari singgasananya dan membuat kekacauan.


Narendra membuang nafas mengingat kembali kecelakaan kemarin. Banyak orang tak bersalah yang menjadi korban. Inilah alasan mengapa Narendra tak ingin bersinggungan lagi dengan Gibran, karena jika sudah bicara soal kekuasaan, aparat hukum bahkan pemimpin negara sekalipun takluk padanya. Begitu pula soal pembalasan, mereka bergerak tak tanggung-tanggung melibas siapa pun yang bersalah.


"Tuan?"


Narendra menoleh ke arah pintu ketika suara Julian menyapa pendengaran. Ia menurunkan tangan yang semula bersidekap, lalu berbalik menghadap sang asisten yang kini berjalan mendekat.


"Belum, Tuan."


Jawaban tersebut membuat Narendra tak mampu menahan decakan. Kenapa ia rasa polisi terlalu lambat menindaklanjuti masalah Gallen dan Lizy? Apa karena keluarga mereka orang berpengaruh?


"Pergilah dan lakukan apa yang kuminta kemarin. Jika hukum lambat berjalan, terpaksa aku harus berlari di luar jalur," ucap Narendra.


Julian mengangguk patuh. Matanya kemudian bergeser pada Glacia yang terbaring di ruang ICU. Sang nyonya nampak rapuh dengan hidup bergantung pada berbagai alat di tubuhnya. Ia lalu melihat Narendra yang juga terdiam menatap wanita itu lekat.


"Nyonya pasti sembuh," ucapnya.


Narendra menoleh. Ia membuang nafas dengan raut tenang terkendali. Padahal Julian tahu lelaki itu sedang gelisah.


"Semoga," bisik Narendra penuh harap. "Untuk saat ini, kesadarannya sudah cukup membuatku bersyukur," lanjutnya.


Julian mengangguk, ia pun berdoa dalam hati semoga wanita itu bisa cepat pulih kembali.

__ADS_1


***


Weni yang berhari-hari melamun sejak insiden penculikan Glacia, kerap membuat khawatir para pelayan lainnya. Wanita itu tak berhenti bertanya mengenai keadaan sang nyonya. Ia seperti merasa bersalah karena gagal menjaga majikannya.


Jeremy sampai berkali-kali menasehati gadis itu supaya berhenti menyalahkan diri sendiri. Siapa pun tak akan bisa melawan jika penculiknya sebanyak kemarin, apalagi mereka semua pria yang jelas menang tenaga.


"Sudahlah, yang penting sekarang Nona Glacia selamat, kita hanya perlu berdoa supaya beliau bisa segera pulih dan keluar dari masa kritis. Kalau perlu, ayo kita semua ke gereja dan berbagi pada anak yatim untuk mendukung kesembuhan Nona. Tuhan pasti selalu mendengar doa dari orang-orang yang baik." Jeremy berucap pada semua bawahannya.


Tapi memang pikiran orang berbeda-beda, beberapa pelayan nampak tak acuh dan enggan menerima usulan Jeremy barusan. Mereka adalah orang-orang yang tak menyukai Glacia di rumah ini.


"Kenapa kalian harus sampai bersedih seperti itu? Seharusnya kalian lega karena tak ada wanita jahat lagi yang bisa memerintah kita semena-mena. Mungkin itu juga karma atas semua dosa yang sudah Nona Glacia lakukan pada semua orang. Apalagi Tuan Narendra, menurutku beliau adalah orang yang paling sering Nona sakiti," ucap salah satu pelayan di sana.


Mereka memang sedang berkumpul untuk membahas segala hal menyangkut ketegangan yang terjadi hingga menewaskan beberapa pengawal di mansion Martadinata. Jeremy sebagai kepala pelayan di sana tentu bertanggungjawab meredakan kekhawatiran yang melanda seisi rumah. Tapi penuturan salah satu pelayannya itu kontan membuat suasana menjadi hening.


"Apa yang kau katakan? Bagaimana pun Nyonya adalah majikan kita," cetus Weni sedikit geram. Sepengalaman Weni menemani Glacia selama ini, menurutnya Glacia tak seburuk yang orang lain lihat. Malah kadang menurut Weni, Glacia kerap tampak menyedihkan di beberapa kesempatan. Wanita itu hanya butuh benteng untuk menutupi segala ketidakmampuannya.


"Aku tahu, tapi Nona Glacia adalah majikan yang tidak perduli pada pekerjanya," balas si pelayan itu lagi.


Weni merengut kesal, sementara Jeremy segera melerai mereka untuk mencegah keributan yang lebih panjang. Weni sebagai pelayan pribadi Glacia bisa dimaklumi kemarahannya, sementara pelayan di mansion juga tak sepenuhnya menyukai Glacia, Jeremy tak bisa menyalahkan mereka karena Glacia sendiri yang membuat kebencian itu tumbuh.


"Sudah. Kenapa kalian malah berdebat? Ingatlah, mau Nona Glacia baik atau jahat, beliau tetap tuan kita. Mengerti? Kita sebagai pelayan yang berbudi tetap harus menghormatinya. Jadi berhentilah mengumbar kejelekan. Toh, selama ini Nona tak pernah benar-benar merugikan kita, kan?"


Semuanya diam. Jeremy benar, meski Glacia majikan yang galak dan semena-mena, tapi ia tak pernah menyakiti para pelayannya secara fisik. Hanya saja kata-kata yang keluar kerap terlalu kasar.


Setelah ini Jeremy berencana menghubungi Meredith di kediaman Narendra. Mereka sebagai kepala pelayan di masing-masing kediaman memang kerap saling berbagi informasi. Hal ini terjadi semenjak Glacia pindah ke mansion besar Martadinata.


Di kediaman Narendra, Glacia merupakan Nyonya yang harus dihormati. Sementara di sini wanita itu adalah Nona Muda yang harus dijaga dan dilayani. Di antara keduanya, Glacia sama-sama berperan sebagai majikan.


Terlebih Meredith memang mendapat perintah dari Narendra bahwa ia harus menjalin hubungan baik dengan orang-orang di mansion. Hal ini dilakukan supaya lelaki itu bisa tetap mengetahui kabar istrinya di rumah sang mertua.


Di tengah kebungkaman mereka, seseorang yang baru saja tiba di sana menarik atensi hingga kini semua mata memandang ke arahnya. Weni yang paling penasaran pun bertanya.


"Wina, kamu dari mana saja?"

__ADS_1


__ADS_2