Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
6. Adaptasi Baru


__ADS_3

Yohanes terpaku memandang putrinya. Glacia menoleh pelan pada sang ayah, menatapnya dengan sorot lemah penuh permohonan.


"Please, Papa. Aku lelah." Glacia mengambil nafasnya dalam. "Aku tidak mencintai Narendra, begitu pun sebaliknya. Tolong izinkan kami berpisah," lirihnya dengan mata berkaca.


Yohanes masih saja bergeming dengan permintaan putrinya. Tubuhnya mematung di kursi, jemarinya berhenti mengusap punggung tangan Glacia.


Yohanes satu-satunya harapan bagi Glacia saat ini. Ia tahu, Narendra enggan menceraikannya karena Yohanes. Dan sekarang, Glacia sedang mencoba peruntungannya dengan mencoba bicara langsung pada pria itu, sang papa yang memegang kuasa atas pernikahannya.


Lama terdiam, Yohanes pun buka suara. "Kamu masih saja memikirkan perceraian di saat seperti ini. Kenapa?" Ia menatap Glacia tepat pada matanya. "Kenapa kamu tidak pernah bisa menerima Narendra sebagai suamimu? Dilihat dari sisi mana pun, Narendra jelas jauh lebih baik ketimbang pacarmu yang pecundang itu."


"Papa!" Glacia berseru kecil saat Yohanes mulai membandingkan Gallen dan Narendra, yang jelas keduanya tak bisa disamakan.


"Apa? Dia memang pecundang," desis Yohanes tanpa ragu.


"Tapi aku mencintainya!" Glacia mulai terisak. "Aku mencintai Gallen, bukan Naren. Kenapa Papa selalu paksa aku buat terima Naren? Aku tidak mencintainya, tidakkah Papa mengerti?"


"Glacy mohon, Papa. Glacy mau cerai. Glacy mau bahagia, dan itu bukan dengan Naren."


Melihat tangisan Glacia malah membuat hati Yohanes dikecam kekecewaan. Ia kecewa karena Glacia terlalu dibutakan rasa cinta yang tak seberapa. Ia yakin, jika Glacia tahu bagaimana sifat Gallen sebenarnya, rasa sakitnya akan jauh lebih besar daripada perasaan merah muda yang menyelimuti hatinya dengan semu.


Entah apa yang membuat Glacia begitu kekeh mempertahankan Gallen. Padahal, bukan sekali dua kali Yohanes menunjukkan bukti kebrengsekan pria itu.


"Glacy mohon, Papa ... hiks, Glacy tidak bahagia hidup bersama Naren ... Glacy mau cerai dan nikah sama Gallen," pinta Glacia sekali lagi.


Rahang Yohanes sedikit mengeras. "Gallen, Gallen, dan Gallen," desisnya tajam. "Kamu tidak tahu bagaimana sikap dia sebenarnya jika di belakang kamu! Apa kamu sadar kamu begini karena siapa? Kamu kecelakaan dan tidak bisa berjalan ini karena siapa?!"


Saking emosi mendengar nama Gallen, tanpa sadar Yohanes meninggikan suara seiring tubuhnya yang kembali bangkit dari kursi. Ia berdiri sambil berkacak pinggang menahan kesal.


Glacia menangis sesenggukan. Ia kembali meratapi kakinya yang mati rasa dan berat. Tapi ia enggan menyalahkan Gallen, Gallen juga sama terlibat dalam kecelakaan itu, dan Glacia justru mencemaskan keadaannya sekarang.


"Jika Gallen memang pria yang bertanggung jawab dan tulus sayang sama kamu, harusnya sejak kemarin dia sudah menampakkan hidung di sini. Tapi buktinya mana? Sampai sekarang pun dia belum juga menjenguk kamu. Itu pria yang kamu sebut pacar? Pria yang mau kamu nikahi? Dia saja tidak peduli pada pasangannya sendiri," ketus Yohanes, berusaha menyadarkan Glacia akan keburukan pacarnya.


"Gallen juga sama seperti Glacy, dia ikut kecelakaan juga, Pa. Mana bisa dia menjenguk Glacy cepat-cepat. Papa tahu keadaan Gallen sekarang gimana? Glacy mau ketemu Gallen, Pa. Apa dia baik-baik saja? Glacy takut terjadi apa-apa sama Gallen ..."


Yohanes sudah tidak tahu harus mengingatkan putrinya dengan cara apa lagi. Ia sudah lelah menasehati Glacia dan memberitahunya bahwa Gallen bukanlah pria baik-baik. Narendra jelas jauh lebih baik dari pacar bajingannya itu.


"Kamu bilang Papa jangan maksa kamu untuk suka Narendra, kan? Kalau begitu kamu juga jangan paksa Papa untuk ikut peduli pada Gallen. Dia sudah membuat kamu lumpuh, Papa tidak sudi bahkan untuk sekedar mendengar namanya." Yohanes berdesis tajam.

__ADS_1


Glacia kembali menangis di tempat tidurnya. Ia ingin bertemu Gallen, ingin tahu keadaan lelaki itu bagaimana. Semoga Gallen tak jauh lebih buruk daripada Glacia. Glacia tidak mau lelaki itu mengalami nasib yang sama seperti dirinya.


***


Satu minggu Glacia lewati sebagai pesakitan. Hari ini tepatnya ia diperbolehkan pulang. Meski berusaha menyangkal, sebetulnya Glacia bertanya-tanya mengenai keberadaan Gallen. Di mana pria itu sekarang, bagaimana keadaannya. Kenapa ia belum juga menampakkan hidung sedari pertama Glacia bangun.


Apa jangan-jangan kondisi Gallen lebih buruk darinya? Atau bahkan lelaki itu masih tak sadarkan diri usai kecelakaan, hingga tak bisa menemui Glacia. Padahal, Glacia sangat mengharapkan kehadiran dan dukungan lelaki itu mengenai kondisinya sekarang.


Glacia berusaha berpikir positif di tengah serangan kalimat sang papa yang terngiang. Ia yakin, Gallen bukannya tidak mau menemui dirinya, pasti ada suatu hal yang membuatnya belum juga menjenguk Glacia.


Glacia ingin menjenguk dan mengetahui keadaan lelaki tersebut, namun penjagaan ketat yang dilakukan Yohanes membuatnya tak bisa ke mana-mana, terlebih Glacia juga belum terbiasa dengan kondisi kakinya, juga kursi roda yang mulai sekarang harus dipakainya setiap saat.


Glacia dibawa pulang ke rumahnya, rumah yang ia tempati bersama Narendra semenjak menikah. Sebenarnya Glacia lebih memilih tinggal bersama sang papa di mansion besar mereka, namun ia tak bisa membantah ketika lelaki itu melarang dengan sejuta alasan yang lagi-lagi mengharuskan Glacia untuk mengalah.


Glacia diam ketika Narendra mendorong kursi rodanya memasuki lift. Tanpa sepatah kata pun lelaki itu mengantarnya hingga kamar, dan bahkan hendak membantu menggendongnya berbaring di ranjang.


Namun Glacia langsung menepis bantuan itu dan berujar sinis. "Sudah cukup. Kau tidak perlu berpura-pura baik karena aku tahu hatimu pasti senang melihatku begini."


Narendra tak membalas. Ia tetap setia dalam mode bisu yang kerap kali membuat Glacia kesal karena merasa berbicara dengan tembok.


Tanpa kata lelaki itu menuruti keinginan Glacia, namun tak lama dari itu dua orang pelayan muncul memasuki kamarnya. Mereka menunduk sambil berjalan ragu mendekati Glacia. Raut takut yang kerap meliputi para pelayan ketika berhadapan dengan nyonya muda mereka.


"Nyo-Nyonya ingin kami bantu berbaring?" tanya salah satunya dengan gugup.


Mereka masih saja menunduk, jari jemarinya bertautan saling meremas. Glacia hanya melirik sekilas yang serta-merta membuat kedua pelayan itu merinding.


Alih-alih menjawab, Glacia menggeser kursi rodanya mendekati ranjang. Tanpa suara, ia berusaha menaiki ranjangnya sendiri sambil berpegangan pada bibir kasur.


Hal tersebut tentu mengundang cemas kedua pelayan di kamarnya, mereka sontak mendekat hendak membantu, namun urung ketika Glacia berteriak menatap mereka marah.


"Apa kalian mendengarku meminta bantuan? Aku bisa sendiri! Mengerti?!"


"B-Baik, Nyonya," cicit dua pelayan itu yang kemudian mundur dengan ekspresi ciut.


Namun tak lama kecemasan itu kembali datang saat tiba-tiba saja Glacia terjatuh dari kursi rodanya, menimbulkan kegaduhan yang seketika memancing pelayan lain yang berkeliaran di luar.


"Nyonya baik-baik saja?" Dua pelayan yang tadi mundur kembali mendekat, namun lagi-lagi Glacia menepis bantuan keduanya yang hendak memegangi lengannya untuk bangkit.

__ADS_1


Hal tersebut membuat yang lainnya urung membantu lantaran takut dengan sikap Glacia yang sensitif.


"Sudah kubilang aku bisa sendiri?! Kalian tuli?!" teriaknya dengan nada terengah. Matanya mengedar pada sekumpulan pelayan yang ikut-ikutan masuk ke kamarnya. Melihat itu raut Glacia bertambah marah.


"Beraninya," desisnya tajam. "Apa aku menyuruh kalian masuk? Apa yang kalian lihat? Keluar!!!"


Sontak semua pelayan itu membungkuk dan langsung lari kocar-kacir keluar kamar, menyisakan dua pelayan yang saat ini masih bimbang sekaligus cemas menatap Glacia.


"Nyonya, mari kami bantu?"


Glacia kembali menepis tangannya yang hendak disentuh. "Berapa kali harus kubilang aku bisa sendiri?" desisnya kesal. "Lebih baik kalian juga keluar, dasar sialan!! Keluaarr!!!"


Sentakan itu membuat keduanya mundur, namun meski begitu mereka enggan menuruti perintah Glacia yang menyuruh mereka untuk keluar. Alih-alih meninggalkan kamar, mereka justru mengamati Glacia yang kini berupaya keras menaiki ranjang. Susah payah wanita itu mencengkram seprai yang berujung kembali jatuh karena seprai itu terbawa oleh berat tubuhnya.


Suara seseorang menyeruak mengalihkan atensi semuanya. "Ada apa?"


Mendapati Narendra berdiri di ambang pintu membuat dua pelayan itu tanpa sadar menghela nafas lega. Berbanding terbalik dengan Glacia yang memandang pria itu penuh emosi.


Dua pelayan itu bergeser ketika Narendra mendekat, memberi ruang pria itu untuk menghampiri sang istri yang keras kepala meski sedang kesulitan.


Hening. Narendra berdiri di hadapan Glacia yang menatapnya penuh permusuhan. Suasana terasa mencekik bagi dua orang pelayan yang kini merasa serba salah mengamati interaksi majikannya.


"Ap—" Belum sempat Glacia menyelesaikan ucapannya, ia langsung memekik saat Narendra mengangkat tubuhnya tanpa peringatan. "Heeii!! Apa yang kau lakukan, Brengsek?! Lepaskan aku!!"


Narendra tak bergeming, ia tak memperdulikan pukulan tangan kurus Glacia dan membaringkan wanita itu di atas ranjang.


"Naren sialaaan!! Yaaakk!!"


Narendra segera menjauh ketika Glacia sudah sepenuhnya berbaring di tengah ranjang. Sekali lagi ia mengabaikan seruan-seruan Glacia yang cenderung menyalak menyuarakan kemarahan. Ia menoleh menatap dua pelayan di sana yang seketika mengambil sikap tegap menghormatinya.


"Kali ini aku menugaskan kalian khusus menjaga istriku. Siapkan semua keperluannya seperti biasa, namun kali ini lebih ekstra karena kalian harus berada di sampingnya sepanjang waktu." Narendra melirik Glacia yang masih berteriak-teriak marah di belakangnya. Tanpa dijelaskan pun mereka bisa mengerti dengan kondisi Glacia yang tak memungkinkan wanita itu bergerak sendiri tanpa bantuan.


"Baik, Tuan. Kami akan berusaha semaksimal mungkin menjaga Nyonya."


Narendra mengangguk puas. "Beberapa hari lagi jadwal dia terapi, nanti akan ada dokter yang kemari," ujarnya sebelum kemudian meninggalkan kamar.


"Bajingan sialan! Akan kubuat kau menderita setelah ini! Keluar kalian semuaaa!!! Aarrgghhh!!!"

__ADS_1


__ADS_2