Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
115. Layak Bersama


__ADS_3

"Naren ..." Glacia mengerjap lirih memanggil Narendra.


Narendra yang sedari tadi berdiri tak jauh darinya, spontan mendekat, lalu duduk di pinggir ranjang, bersebelahan dengan Glacia sambil menyentuh tangannya yang terpasang sebuah selang. Glacia baru saja selesai melakukan prosedur kemoterapi. Seperti yang sudah-sudah, Narendra selalu menemani setiap jadwal pengobatan sang istri.


"Ada apa? Apa ada hal yang membuatmu tidak nyaman?" tanya Narendra khawatir. Ia cemas karena melihat wajah Glacia begitu pucat, bahkan bibirnya hampir tak ada rona.


Glacia menggeleng. "Aku hanya lelah. Mau tidur. Bisakah kau tetap di sini? Jangan pergi kemana pun," bisiknya, dengan mata mulai terlihat sayu.


Narendra mengangguk. "Aku akan menemanimu."


Ia mengusap kepala Glacia yang tertutup tudung rajut. Narendra merunduk sejenak untuk melabuhkan kecupan di keningnya, sambil mengelus pelan jemari Glacia di tangannya.


"Sleep well, Sunshine. Jangan khawatir, aku akan tetap di sini sampai kau bangun," bisik Narendra.


Glacia tersenyum, sebelum kemudian matanya benar-benar terpejam, menyisakan Narendra dalam keheningan. Narendra menatap lekat wajah pias sang istri. Jari panjangnya mengelus pelan di sana, merasakan betapa tirusnya wajah Glacia sekarang.


Kantung mata wanita itu terlihat jelas kecoklatan, tulang pipi yang timbul menandakan berat badannya berkurang banyak.


Narendra memejamkan matanya rapat, nafas lelaki tersebut terhela begitu panjang. Menyaksikan penderitaan Glacia yang seperti ini membuat hati Narendra seolah terhujam.

__ADS_1


"Sembuhkanlah dia, Tuhan. Agar aku bisa memilikinya lebih lama." Narendra berbisik pelan. Ia membuka mata, melihat pada Glacia yang kini sudah tertidur lelap.


"Kamu harus sembuh, Glacy. Kamu sudah berjanji akan memperbaiki pernikahan kita bersama-sama. Jangan lupa, aku akan tetap menunggumu meski selama apa pun."


Yohanes yang semula hendak masuk ke ruangan Glacia, menjadi urung begitu melihat Narendra. Ia tidak ingin mengganggu suasana damai di antara keduanya. Maka dari itu ia pergi, dan mengubah niatnya untuk mengunjungi Glacia nanti.


Fin yang menemaninya turut mengikuti. Dua pria beda usia itu kembali memasuki mobil yang masih terparkir di depan lobi, lalu mulai meninggalkan rumah sakit.


"Sekarang, mereka sudah saling mencintai. Tuan pasti senang, karena putri anda akhirnya menjatuhkan pilihan pada pria yang tepat." Fin berkata sembari fokus memutar kemudi. Ia sedikit melirik Yohanes di belakang melalui kaca spion depan.


Yohanes membuang nafas seraya mengangguk samar. "Terlepas dari kejahatan Narendra, dia memang sangat mencintai Glacia. Mau bagaimana pun, aku yang pertama kali menyatukan mereka. Aku menginginkan mereka bersama, maka inilah yang Tuhan jawab. Ikatan mereka sepertinya akan jauh lebih kuat dari yang sebelumnya aku bayangkan. Memisahkan mereka adalah niat yang sia-sia. Narendra mungkin tidak akan melepaskanku, seandainya aku berubah pikiran mengenai hubungannya dengan putriku."


Yohanes mengangguk. "Aku percaya, dia adalah pria paling tepat, juga pria yang mampu mencintai Glacia melebihi kasih sayangku."


"Dengan semua itu, bisakah aku tetap khawatir, sementara Narendra berani bertaruh nyawa untuk mempertahankan posisinya di samping Glacia?"


Fin terdiam. Mendengar semua penuturan Yohanes, kini ia bisa menyimpulkan, kehidupan gelap Narendra sama sekali tak mempengaruhi restunya pada lelaki itu, meski sebelumnya sempat dibuat goyah.


Yohanes masih perduli pada Narendra. Dulu, ialah yang menolong masa-masa sulit pemuda itu. Sekarang pun sama, jika Yohanes sudah kehilangan simpatinya, mungkin ia sudah melaporkan semua kejahatan Narendra sejak jauh-jauh hari.

__ADS_1


Tapi nyatanya Yohanes hanya diam, karena sebenarnya ia menyayangi Narendra, sama seperti ia menyayangi Glacia sebagai anaknya. Lagipula, jika Yohanes tega menuntut pria itu, Glacia akan menderita.


"Cinta memang selalu memiliki perjalanan yang rumit. Namun demikian, itulah yang akan membuatnya semakin istimewa," ucap Yohanes, dengan mata menerawang ke jalan. "Aku yakin, setelah semua yang mereka lalui, mereka bisa belajar dan lebih saling mengerti, menghargai satu sama lain."


"Narendra adalah lentera yang menyeret Glacia dari masa terpuruknya. Mungkin dulu sinarnya terlalu redup, hingga keberadaannya abai tak terhiraukan. Tapi, kini cahayanya mengalahkan terangnya matahari. Aku senang, karena akhirnya Glacia bisa tersenyum kembali, setelah sebelumnya ia begitu putus asa dan kehilangan semangat hidup."


"Aku berharap, setelah ini tak ada lagi yang mengusik kehidupan mereka." Yohanes melanjutkan. "Mereka berhak menikmati kebersamaan dengan normal, seperti pasangan pada umumnya."


"Benar, Tuan. Saya juga mendukung. Nona sudah terpuruk sejak kehilangan Nyonya Besar. Sekarang menemukan kehangatan lain yang membuatnya nyaman, saya berdoa semoga Nona Glacia dan Tuan Narendra bisa menjalani pernikahan dengan lebih baik." Fin menimpali.


Sebagai asisten yang sudah mengikuti Yohanes sejak lama, sedikit banyak ia tahu apa saja yang sudah Glacia alami dulu.


Lalu sekarang, kehadiran Narendra di kehidupan Glacia bisa sekaligus menjadi obat untuk rasa kehilangan yang sudah lama menimbulkan kekosongan.


Pria itu berhasil menempati separuh hati Glacia yang hilang setelah kepergian ibunya, dan menggeser Nyonya Martadinata ke sudut yang paling tepat berupa kenangan.


"Kamu benar, Glacia menjadi anak yang sering memberontak, sejak istriku pergi," lirih Yohanes. Ia menatap langit cerah di luar jendela mobil, lalu berbisik dalam hati.


Sayang, lihatlah. Aku berhasil menemukan pria yang tepat untuk mendampingi putri kita. Dia lebih kuat dariku, meski kekuasaannya tak sebesar milikku. Dia hebat. Menantu kita hebat.

__ADS_1


__ADS_2