Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
28. Rafael Adiwangsa


__ADS_3

"Sudah malam, sebaiknya aku pulang," ujar Lizy.


Glacia mengangguk. "Terima kasih sudah berkunjung."


"Sama-sama."


"Tadi kemari naik apa?" tanya Glacia.


"Sopir kantor, tapi dia langsung pulang begitu aku sampai," jawab Lizy.


"Tidak bawa mobil?"


Lizy menggeleng disertai ringisan. "Siang tadi aku sedikit lelah, jadi tidak mau ambil resiko."


"Begitu," gumam Glacia. "Bagaimana kalau diantar Narendra?"


Lizy tersenyum canggung. "Tidak perlu, aku akan pesan taksi," tolaknya halus.


Glacia melirik Narendra yang diam saja. Sedari tadi pria itu hanya duduk di sofa tanpa berkata apa-apa.


"Naren?"


Baru ketika Glacia memanggilnya, ia mengangkat kepala dan mengalihkan atensi dari ponsel.


"Kau bisa mengantar Lizy, kan? Ini sudah malam, khawatir terjadi apa-apa di jalan."


Narendra melirik Lizy sesaat, lalu kembali pada Glacia.


"Mau, ya?"


"Aku tidak bisa meninggalkanmu," elak Narendra.

__ADS_1


"Sebentar saja. Aku tidak apa-apa sendiri. Lagipula aku mengantuk, mau tidur. Kau pergi saja antar Lizy." Glacia terlihat kekeh.


Membuang nafas secara diam-diam, Narendra bangkit dari duduknya dan berjalan begitu saja ke arah pintu, melewati Glacia serta Lizy yang tak lepas memperhatikan.


Ia lalu berhenti dan menoleh sejenak ke belakang. "Ayo," ucapnya datar, lalu melanjutkan langkah keluar.


Tanpa sadar Lizy terlonjak mendengar ajakan itu. Ia menoleh pada Glacia yang mengangguk meyakinkan. Wanita itu pun beranjak ragu mengambil tasnya. "Aku ... pulang dulu," pamit Lizy, suaranya terdengar tak nyaman.


Glacia mengangguk, bibirnya menyungging senyum menenangkan. "Iya, hati-hati di jalan."


Lizy balas tersenyum sebelum kemudian berbalik menyusul Narendra. Selepas kepergian keduanya, senyum Glacia perlahan surut. Ia membuang nafas saat kembali menemui kesepian.


"Kau memang menyedihkan, Glacy," bisiknya pada diri sendiri.


Glacia menoleh ke arah nakas mencari ponselnya. Ia sedikit berdecak karena letaknya agak sulit untuk digapai. Berusaha mengulurkan tangan lebih jauh, ujung jemarinya malah meleset hingga menjatuhkan benda tersebut.


Kalau sudah begini Glacia hanya bisa berdecak sebal. Sepertinya ia harus menunggu sang papa atau Narendra kembali untuk mengambilkannya.


Wangi maskulin menguar ketika pria itu membungkuk mengambil ponsel Glacia di lantai. Glacia masih mematung saat tangan dengan jari-jemari panjang itu terulur di depannya.


Glacia mengangkat kepalanya mendongak. Seraut wajah tampan ia temukan tengah tersenyum teduh padanya.


"Ini?"


Glacia masih diam.


"Kau ingin mengambil ini, kan?"


Barulah ia mengerjap dan seketika merasa malu. Glacia menunduk meraih ponselnya dari tangan pria itu. Alih-alih berterimakasih, mata Glacia justru memicing curiga.


Melihat sikap waspada yang ditunjukkan Glacia, pria itu terkekeh halus sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas putih yang ia kenakan. Benar, dia adalah dokter.

__ADS_1


"Pintu ruanganmu tidak menutup sempurna, saya hanya kebetulan lewat dan melihatmu kesulitan."


"Ooh," guman Glacia refleks. "Terima kasih."


"Sama-sama. Jika kamu memerlukan sesuatu atau bantuan, tekan tombol samping ranjang," ucap si dokter mengingatkan.


Glacia turut menoleh melihat tombol tersebut. Sesaat suasana menjadi hening saat keduanya tak saling bicara. Dokter itu menatap Glacia lama, dan Glacia yang menyadari itu menjadi tak nyaman.


"Iya, ke depannya akan saya pakai. Terima kasih sudah memberi tahu," ujar Glacia dengan nada seadanya.


Dokter itu mengangguk. "Kalau begitu, selamat beristirahat. Atau mungkin kamu ada keluhan? Sulit tidur misalnya?"


Glacia menggeleng. "Saya baik-baik saja."


"Oh, oke."


"Dokter Rafael, Dokter Darius meminta saya untuk memanggil Anda ke ruangannya." Sebuah suara dari arah pintu tiba-tiba menyeruak. Seorang suster berdiri di sana.


Pria yang baru saja dipanggil Rafael itu menoleh. "Sekarang?"


Suster itu mengangguk. "Iya, Dokter."


Rafael mengangguk, lalu menoleh lagi pada Glacia yang hanya bisa diam memperhatikan. "Kalau begitu saya permisi. Istirahatlah, selamat malam."


Ia lalu pergi bersama suster tersebut, meninggalkan Glacia yang bergeming karena merasakan sesuatu yang familiar.


Rafael? Apa dia Rafael Adiwangsa? Tunangan Lizy?


Sebentar, Glacia tidak tahu ia sedang dirawat di rumah sakit mana. Tapi sepertinya tebakan Glacia benar, bahwa yang baru saja pergi adalah Rafael Adiwangsa tunangan Eliza Pataya. Bukankah dia juga seorang dokter?


Apa pria itu tahu Glacia mendekatkan tunangannya dengan pria lain?

__ADS_1


__ADS_2