Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
101. Komunikasi, Ilusi


__ADS_3

Narendra bangkit dengan tidak sabar. "Sampai kapan aku harus diam seperti ini?" ucapnya resah.


Harley dan Gibran masih duduk dengan santainya di sofa. Hal itu tentu membuat Narendra sesekali berdecak lantaran kesal dengan sikap keduanya.


Melihat Narendra yang kini berjalan mondar-mandir tak menentu, Gibran pun akhirnya bersuara. "Tenang dulu. Dokter itu tidak akan menyakiti Glacia. Dia menculik istrimu karena dia menyukainya. Asalkan Glacia tahu harus bersikap bagaimana, dia pasti akan baik-baik saja. Aku yakin, Glacia tak sebodoh itu, dia sepupuku. Harusnya memiliki kepintaran meski sedikit."


Narendra menghentikan gerakan langkahnya, ia membuang nafas kasar, menoleh pada Gibran. "Justru itu yang membuatku tambah khawatir. Rafael menyukai Glacia. Bagaimana kalau lelaki itu bertindak sesuatu yang nekat? Belum lagi Lizy ada bersamanya."


"Rasa khawatirmu jadi berlebihan karena cemburu. Bilang saja kau takut istrimu jatuh cinta ada dokter itu. Secara harus diakui, dia memang cukup tampan." Gibran mengendik di akhir kalimatnya.


Narendra berdesis lalu membuang pandanganya ke arah lain.


"Untuk Lizy, sejauh ini masih aman karena Rafael membuatnya tak berkutik. Entah apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Maka dari itu lebih baik kita memantau dulu."


"Sampai kapan? Kondisi kesehatan Glacia kerap kali menurun di beberapa kesempatan. Aku khawatir hal ini akan membawa dampak buruk pada tubuhnya." Narendra tetap tak bisa berhenti merasa cemas. "Dia tidak boleh stress. Menurutmu apa yang akan terjadi saat seseorang terus terkurung dalam satu ruangan?"


Melihat perdebatan di depannya, Harley membuang nafas, lalu menaruh tablet yang sedari tadi ia pegang ke atas meja. "Kau tenang saja, aku sedang berusaha mencari cara untuk berkomunikasi langsung dengan Glacia."


Narendra kontan menoleh. Keningnya berkerut dalam menatap lelaki itu. "Apa maksudmu? Bagaimana caranya?"


Harley mendengus. "Ternyata benar, rasa cemas memang bisa membuat seseorang mendadak bodoh. Aku tidak percaya sebelumnya kau anggota IT di sini," cibirnya.


Kini giliran Gibran yang berdecak menatap Narendra. Ia tak mengatakan apa pun, tapi Narendra mengerti bahwa Gibran juga berpikir hal yang sama seperti Harley. Kemudian, Narendra pun mengingat sesuatu. Benar, kenapa ia bisa jadi sebodoh ini?


***


Di tempat lain, Yohanes masih dilanda kebingungan atas dirinya sendiri. Saat Glacia kembali hilang, saat tahu ternyata dirinya terkena hipnotis seseorang, Yohanes betul-betul tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Kenapa putrinya harus selalu jadi incaran orang jahat? Kenapa mereka selalu menargetkan Glacia sebagai sasaran? Apa yang lebih istimewa hingga Glacia terus menarik perhatian lelaki-lelaki gila di sekitarnya?


"Astaga, masalah ini benar-benar membuatku ingin mati," bisik Yohanes memijat kepala.


"Saat anda sadar, apa anda ingat apa yang terjadi sebelumnya?" Di hadapan Yohanes, Nick duduk sambil mengamati pria baya itu dengan seksama. Ia menemui ayah Glacia untuk memastikan secara keseluruhan. Pun karena Yohanes juga tengah terpuruk dalam rasa bingungnya. "Anda ingat siapa yang anda temui?"


Yohanes mengusap wajahnya pelan. "Aku hanya ingat tengah bekerja, di sana." Ia menunjuk meja kerja di samping jendela besar perusahaan. "Lalu aku mendengar suara musik yang terdengar cukup merdu," lanjutnya sambil mengingat-ingat. "Musik itu membuatku terpaku, entah karena apa, tapi saking relaksnya mungkin aku jadi tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya."

__ADS_1


Nick mengangguk paham. Berarti Rafael beraksi melalui sebuah musik. Kesaksian Yohanes sama persis dengan apa yang dibicarakan anak buah Narendra yang berjaga di depan ruang rawat Glacia. Sudah jelas, bahwa Rafael menaklukkan mereka dengan cara yang sama.


"Bagitu. Kalau begitu saya pergi dulu. Terima kasih sudah berbagi informasi," ucap Nick, beranjak dari duduknya di sofa.


Yohanes mendongak menatap lelaki muda yang ia tahu merupakan orang kepercayaan Gibran itu. "Bagaimana dengan putriku?" tanyanya penuh harap. "Apa kalian sudah bisa menemukannya?"


Nick tersenyum. "Kami sudah menemukannya. Putri anda baik-baik saja, Tuan. Ia cukup pintar bertahan dalam zona musuh," ujarnya mengerling. "Anda tenang saja, kami akan menyelamatkannya dalam waktu yang tepat."


Setelah itu Nick benar-benar pergi meninggalkan Yohanes. Ia tidak memberi tahu Yohanes, siapa dalang sebenarnya dalam masalah ini.


***


Sementara di apartemen Rafael, Glacia tengah berbaring di kamarnya, setelah sebelumnya Rini membantu Glacia menaiki kasur. Ia baru saja selesai makan siang hampir satu jam yang lalu.


Kini Glacia mengerjap menatap langit-langit, otaknya tak berhenti berpikir sampai kepalanya terasa pening. Glacia pun menyerah dan memilih memejamkan mata. Ia yakin, saat ini Narendra tengah mencarinya. Jadi, ia tidak perlu sedemikian khawatir, kan? Lagipula Rafael tak menyakitinya.


Glacia masih tidak menyangka, kenapa Rafael yang ia kenal baik bisa melakukan hal semacam ini. Apa alasan lelaki itu menyekapnya di sini? Dari caranya memeprlakukan Glacia dan menempatkan ia di tempat semewah ini, Glacia yakin tujuan lelaki itu bukan untuk menyakitinya.


Di tengah hatinya yang bertanya-tanya, tiba-tiba saja perhatian Glacia teralih pada televisi di depan ranjang. Kening Glacia berkerut samar saat melihat sesuatu berkedip di layar mati itu. Ia yakin tidak menyalakan benda elektronik tersebut, tapi kenapa Glacia merasa barusan melihat sesuatu di sana? Apa hanya salah lihat?


Glacia menelan ludah, ia sempat ketakutan dan berpikir yang tidak-tidak, seperti hal mistis atau semacamnya.


"A-apa i-ini?" Glacia terbata. Ia menatap sekitar dengan panik, tangannya tanpa sadar meremas selimut di pangkuan.


Namun sesaat kemudian Glacia kembali membaca tulisan itu dan berusaha memahaminya.


Glacy?


Kau di sana?


Kau pasti panik.


Jangan khawatir, Sayang.


Aku akan segera mengeluarkanmu dari sana.

__ADS_1


Tenanglah. Jangan cemas. Bersikap baiklah pada Rafael sampai beberapa waktu ke depan. Kali ini aku mengizinkanmu, karena ini demi kebaikanmu.


"Narendra," bisik Glacia tanpa sadar. Pandangannya masih terpaku pada layar televisi itu. "Bagaimana bisa, dia ..." Kalimatnya menggantung di ujung lidah.


Entah apa yang Narendra lakukan sampai bisa mengirim pesan seperti ini melalui televisi mati. Ya, Glacia yakin itu Narendra. Sejak membaca kalimat-kalimat tersebut Glacia sudah langsung bisa mengenalnya.


Mata Glacia berkaca, hingga tak lama kemudian air matanya meluruh. Rasa khawatir, haru, cemas, lega, semuanya bercampur menjadi satu Glacia rasakan.


Glacia lega karena tahu Narendra menemukannya. Hal ini tak pelak membuat rasa khawatir Glacia sedikit berkurang.


Layar itu kembali hitam karena tulisannya menghilang. Sampai kemudian Glacia menemukan kalimat lain yang membuat dadanya terasa membuncah oleh ledakan senang.


I love you, Sunshine. I hope, you can wait for me.


"Naren ... Hiks." Glacia menangis sesenggukan.


Setelah itu tulisan tersebut menghilang tanpa jejak. Glacia tersedu haru. Ia terharu karena ternyata ia tak sendirian.


***


Narendra menjauhkan tangannya dari atas keyboard. Ia menatap lama layar komputer di depan. Wajahnya tampak melamun, membuat Harley yang berada di sana tak berani mengusik.


"Akhirnya dia kembali menemukan kepintaran," bisiknya disertai dengusan.


Gibran sudah pergi beberapa saat lalu. Istrinya menelpon dan memaksa lelaki itu menjemput anak mereka di sekolah.


Ia menggeleng geli karena masih teringat suara Alisandra yang sempat di dengarnya. Suara gadis kecil itu sangat imut ketika merajuk. Ditambah Alison, sang adik yang selalu mengajaknya berdebat dengan suara merengek manja. Bocah lelaki itu sangat pengadu.


Harley menegakkan tubuh menatap Narendra yang masih terduduk di kursi menghadap komputer. "Aku lupa menanyakan ini. Tadi malam aku mendengar kabar Gallen Mou mengalami kecelakaan di lapas. Satu kakinya terluka parah, dan kemungkinan besar akan diamputasi," ucapnya, sambil terus mengamati keterdiaman Narendra. "Kau melakukan sesuatu padanya, kan?"


Hening. Narendra seolah membisu dan larut dalam dunianya. Entah apa lagi yang sedang lelaki itu pikirkan. Harley tetap dengan sabar menunggu jawabannya.


Sesaat kemudian Narendra pun buka suara. "Dia memang pantas mendapatkannya, sebagai ganti kelumpuhan Glacia."


Wah. Harley tak dapat berkata-kata. Ia tahu Narendra bisa tak berperasaan ketika menghadapi seseorang yang dibenci. Dalam hal pembalasan, pria itu tak ada bedanya dengan mereka. Meski dalam anggota Gibran, Narendra yang paling jarang membuat masalah.

__ADS_1


"Jadi, kau benar-benar melakukannya?"


__ADS_2