Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
13. Perduli (Sekedar Bertanya)


__ADS_3

Glacia menghindari Narendra. Sebisa mungkin ia menghindari bertatap muka secara langsung dengan lelaki itu. Glacia hanya akan turun sarapan kalau Narendra sedang tak ada di rumah, atau lelaki itu sudah berangkat ke kantor sebelum Glacia membuka mata.


Alasannya mudah, Glacia tidak mau terlibat terlalu jauh dengan Narendra. Ia sudah lelah dengan segala drama dan tuduhan Claire yang menuduhnya merebut pria itu dari sahabatnya. Padahal, Glacia tak tahu menahu mengenai hubungan Narendra dengan wanita-wanitanya.


Lagi pula, sekarang Lizy sudah bertunangan. Untuk apa Claire terus merecokinya setiap kali mereka bertemu. Glacia muak. Manusia dan dramanya memang selalu berlebihan. Merepotkan. Pokoknya Glacia tidak mau terlibat.


Hidupnya adalah miliknya, dan hidup Narendra adalah milik lelaki itu sendiri.


"Nyonya, Tuan baru saja pulang," ujar Wina, satu dari dua pelayan yang Narendra tugaskan khusus mendampingi Glacia.


Glacia yang mendengar informasi tersebut hanya memutar mata malas. Narendra baru saja pulang dari perjalanan bisnis di Taiwan. Padahal Glacia sudah bersyukur lelaki itu tak ada selama beberapa hari ini, tapi sekarang malah sudah pulang lagi.


"Lalu?" tanya Glacia mengangkat alis.


Wina gelagapan. "A-anu ... Nyonya tidak ingin menemuinya?"


"Apa aku harus?" tantang Glacia.


Wina membelalak, ia langsung menggeleng begitu merasakan intimidasi dari wanita itu.


"Ya sudah, untuk apa kau bertanya?" gerutu Glacia sambil lalu. Ia lanjut melihat-lihat majalah fashion di tangannya saat Wina kembali membuka suara.


"Tapi ... Tuan meminta saya supaya Anda menemuinya," cicit Wina, meringis sambil memilin tangannya dengan gugup. Ia tak berani menatap Glacia secara langsung.


Glacia menoleh. "Apa?"

__ADS_1


Wina tak menjawab lagi, ia tiba-tiba menggeser tubuhnya ke samping hingga Glacia bisa memusatkan pandangannya ke arah pintu sun house yang terbuka. Di sana, Narendra berdiri dengan kedua tangan tenggelam di saku. Pakaian formal masih melekat di tubuh tegapnya. Wajahnya datar seperti biasa. Raut yang menurut Glacia begitu membosankan.


Glacia mengutuk dalam hati. Bisa-bisanya Wina tak memberi tahu kehadiran Narendra di sana. Kalau sudah begini, menghindar pun percuma. Orangnya sudah di depan mata, dan sepertinya Narendra juga tidak berniat memberi kesempatan untuk Glacia kabur.


Sebenarnya Glacia sendiri tidak mengerti kenapa harus main kucing-kucingan dengan lelaki itu. Glacia hanya menegaskan bahwa ia harus menjauhi Narendra dan kehidupan lelaki itu.


Narendra melirik Wina yang langsung dimengerti gadis itu. Dengan segera ia menyingkir meninggalkan tuan dan nyonya nya berdua saja di sun house. Rumah yang didominasi dinding kaca tersebut seolah menjadi tempat favorit Glacia sejak kemampuan berjalannya terenggut.


Setelah bayangan Wina menghilang, Narendra pun beranjak mendekati Glacia. Ia menarik kursi dan turut duduk bersama Glacia hingga hanya terhalang meja bundar kecil di tengah-tengah mereka.


Sejenak matanya melirik majalah yang wanita itu pegang, lalu kembali mengarah pada wajah pucat Glacia yang menatapnya tajam tak bersahabat.


Narendra seakan tak menghiraukan itu. Ia membuka mulutnya, bersuara dengan nada pelan nan rendah yang sudah menjadi ciri khasnya. "Bagaimana keadaanmu? Perkembangan terapimu, apa berjalan baik?"


Glacia merasa aneh. Hanya perasaannya saja atau memang Narendra terdengar terlalu peduli?


"Kudengar kemarin Papa kemari." Narendra tak menghiraukan suara Glacia yang penuh cela.


"Bukan urusanmu!"


Hening. Keduanya sama-sama bungkam dan ditelan keheningan. Glacia dengan wajah merengutnya kembali membolak-balik buku majalah. Sementara Narendra diam memperhatikan.


Tapi lama-kelamaan Glacia risih sendiri. Keberadaan Narendra benar-benar mengganggu konsentrasinya. Ia yang hanya pura-pura fokus tetap tak bisa menjalankan aktingnya lebih lama.


Alhasil ia menghentak majalah itu ke meja lalu menatap Narendra nyalang. "Maumu apa sih?"

__ADS_1


Narendra menoleh, mengangkat sebelah alis sebagai respon atas pertanyaan Glacia.


"Kenapa kau mengikutiku terus?" todong Glacia kesal.


"Aku baru pulang," sahut Narendra pendek. Namun kalimatnya seolah merujuk pada jawaban bahwa ia tak seperti yang Glacia tuduhkan.


Glacia memutar mata. "Akhir-akhir ini kau terlalu peduli padaku," ujarnya malas.


"Apa salah?"


Glacia mengernyit hingga Naren mengulang pertanyaannya. "Apa salah, seorang suami peduli pada istrinya sendiri?"


Hening, namun tak lama Glacia mendengus. "Kita bukan suami istri seperti pada umumnya."


Narendra mengangguk tak acuh. "Aku hanya bertanya. Jadi, bagaimana terapimu?"


"Kau bisa tanya itu pada Dokter Teresa," sahut Glacia ketus.


Ia yang mulai tak nyaman lantas menggerakkan kursi rodanya bersiap pergi. Glacia melewati Narendra yang masih betah bersidekap di tempatnya. Namun beberapa detik kemudian pria itu kembali bersuara. "Aku menghadiri pre-launching sebuah brand. Mereka memberi sedikit hadiah. Wina menyimpannya di kamarmu."


Glacia hanya menoleh sesaat, lalu lanjut menjalankan kursi rodanya keluar sun house.


Narendra diam-diam mengambil nafas dalam, ia menatap keluar jendela sun house yang didominasi penghijauan. Rumah kaca tersebut memang terletak di tengah lahan rimbun. Sengaja dibuat untuk sekedar bersantai dan menikmati keheningan.


Siluet Glacia perlahan menjauh hingga benar-benar hilang dari pandangan. Selama itu pula Narendra masih bergeming di tempatnya. Raut lelaki itu terlihat rumit, namun jika ditelusuri ada seberkas rasa bersalah.

__ADS_1



__ADS_2