
Empat bulan berlalu, semua peristiwa yang terjadi juga sudah menjadi masa lalu. Glacia mulai berdamai dengan hidupnya, ia kini fokus pada kesembuhan, dan menata hubungan dengan Narendra.
Keduanya perlahan memperbaiki pernikahan yang dulu tidak sehat. Dengan kesabaran Narendra, Glacia mampu melewati semuanya. Rasa putus asa karena hilangnya kesempurnaan, hingga menggerus rasa percaya diri yang dulu melambung tinggi.
Glacia berpikir, mungkin nasibnya yang demikian adalah sebuah ujian yang Tuhan beri agar ia bisa memperbaiki diri, pun hidupnya menjadi lebih baik.
Glacia bisa melihat ketulusan suami yang pernah ia sia-siakan. Seorang lelaki yang kerap ia abaikan kehadirannya. Dengan kondisinya, ia bisa membedakan mana yang benar-benar cinta, dan mana yang hanya sekedar nafsu.
Sebelumnya Glacia mengira bahwa Gallen adalah cinta sesungguhnya. Tapi nyatanya takdir menjawab lain. Pria itu hanya sekedar tempat singgahnya sebelum Glacia benar-benar menemukan pelabuhan terakhir, yaitu Narendra.
Benar, Glacia berharap pernikahannya dan Narendra menjadi yang pertama dan terakhir. Meski banyak rintangan yang harus mereka hadapi untuk menggapai suasana pernikahan yang tenang, tapi mungkin dari sanalah mereka akhirnya belajar.
Sulit menemukan seorang pasangan yang setia, dan menurut Glacia, Narendra adalah wujud manusia berharga yang memiliki kesabaran seluas samudera. Narendra sabar menghadapinya. Narendra bertahan meski berkali-kali Glacia mendorongnya ke ujung jurang.
Tak terhitung berapa kali Glacia melemparinya dengan luka, nyatanya Narendra tetap berdiri tegak, menunggunya menghampiri dengan cinta. Pria itu menyambut baik kesadaran Glacia, menuntunnya secara perlahan agar mereka bisa melangkah bersama.
Narendra baik, meski kebaikannya kadang tidak berlaku untuk orang lain. Dia manusia yang sebelumnya pernah terluka, caranya mempertahankan diri mungkin tak bisa serta-merta dibenarkan, karena bermain-main dengan nyawa, sejatinya adalah perbuatan dosa.
Jika memungkinkan, Glacia ingin Narendra lebih bisa mengendalikan diri saat emosi. Narendra bukan orang yang pemarah, tapi lelaki itu akan menggila jika sesuatu yang menjadi miliknya diusik orang lain. Contohnya peristiwa kemarin, ini sebuah pembelajaran bagi Glacia supaya ia lebih memahami karakter Narendra.
Narendra bisa diam saat ia diremehkan, tapi jika menyangkut pernikahan mereka, ia bisa menyakiti siapa saja yang menyinggungnya.
__ADS_1
Entahlah, kadang Glacia merasa Narendra hanya terobsesi padanya. Tapi, perasaan lelaki itu juga terlihat nyata. Apa pun itu, Glacia sudah memutuskan, ia akan menerima Narendra sebagai suami, dan mempertahankan pernikahan mereka.
"Ayo, Glacy, kamu bisa." Narendra tak berhenti menyemangati Glacia yang kini coba berdiri dari kursi roda.
Seluruh tenaga Glacia kerahkan untuk menapakkan kakinya di lantai. Seluruh otonya turut menegang, begitu pula Narendra yang menunggunya dengan siaga, berdiri di hadapannya dan siap menyambut Glacia dengan tangan terbuka.
Namun semua itu tidaklah mudah. Tubuh Glacia kembali meluruh dan ambruk di kursi roda. Helaan nafas terdengar sesaat dari mulut wanita itu, tapi Narendra berusaha membuatnya semangat lagi.
"Coba lagi, Sayang. Kemarin kamu bisa, hari ini pasti jauh lebih bisa." Perkataan lembut lelaki itu membuat Glacia urung menyerah. Meski lelah, Glacia tetap mencoba dan mencoba lagi.
Hingga saat di mana ia berhasil berdiri, rasa haru tak terbendung, terlebih Narendra langsung memeluknya dengan bangga. "Kamu hebat."
Glacia tak bisa menahan air mata. Kakinya bergetar, ia bisa merasakan dinginnya lantai yang menyentuh telapak kakinya di bawah sana. Ini benar-benar luar biasa. Sudah lama sekali Glacia tidak merasakan perasaan demikian.
Dokter Teresa yang menemani terapi sejak tadi tak berhenti tersenyum. Wajahnya terlihat puas pada kemajuan yang diperoleh Glacia. Meski terbilang sedikit lambat, karena jadwal terapi yang berkali-kali tertunda oleh beberapa faktor, setidaknya Glacia masih memiliki kemungkinan untuk bisa berjalan kembali.
Selain rutin mengikuti terapi, Glacia juga mulai teratur dengan jadwal kemoterapi untuk penyembuhan kanker. Meski harus merelakan rambut yang kini hilang sepenuhnya, Glacia tetap semangat agar bisa sembuh. Semua itu tak lepas dari peran Narendra yang selalu menanamkan hal-hal positif hingga membuat Glacia jauh lebih optimis. Tak heran, sosok Narendra kini semakin berarti dalam hidup Glacia.
"Kemajuan yang sangat bagus, Nyonya. Tidak menutup kemungkinan satu atau dua bulan lagi kaki anda akan mendapatkan kembali kemampuannya. Anda bisa berjalan lagi dengan normal," ucap Dokter Teresa, mengalihkan atensi Glacia dan Narendra yang sedari tadi saling bersitatap bahagia.
Terutama Narendra, lelaki itu memang paling bersemangat sejak awal mengenai kesembuhan istrinya. Dokter Teresa cukup mengagumi kesabaran dan kesetiaan Narendra, yang mampu dengan sukarela menemani dan terus mendampingi pasangannya yang tidak sempurna.
__ADS_1
"Terima kasih, Dokter. Semua ini tak lepas dari perhatian anda. Jika istri saya sudah sembuh total nanti, saya janji akan memberikan hadiah yang lebih istimewa. Anggap ini sebagai reward karena anda sudah dengan sabar membantu dan mendampinginya dalam pengobatan," ucap Narendra.
Dokter Teresa balas tersenyum. Wanita baya itu melirik Glacia yang juga menatapnya. "Tidak perlu, Tuan. Ini sudah menjadi tugas saya sebagai dokter. Kesembuhan pasien sudah cukup menjadi reward istimewa bagi kami." Ia lalu menatap pada Narendra. "Di sini bukan hanya saya yang berperan penting dalam kesembuhan Nyonya, anda jauh lebih memiliki peran karena selalu setia menemaninya. Tidak semua orang bisa seperti anda. Ada begitu banyak orang yang memilih meninggalkan pasangan saat mereka tak lagi sempurna. Tapi anda berbeda, anda termasuk satu dari sekian banyak pria yang memiliki pemikiran dewasa. Anda memang pria berkelas yang sebenarnya."
"Karena jadwal terapi hari ini sudah selesai, saya permisi undur diri. Sampai bertemu lagi di jadwal selanjutnya," lanjut Dokter Teresa.
Wanita itu melenggang pergi, meninggalkan Narendra yang bergeming memeluk Glacia. Keduanya sama-sama saling diam, sebelum menoleh satu sama lain hingga mata mereka bertemu.
Narendra mengulas senyum, begitu pula Glacia yang langsung mengeratkan dekapannya pada leher Narendra. Kepalanya bersandar menyamping di bahu lelaki itu, pun kakinya masih bertahan di atas lantai.
Narendra menarik pinggang Glacia hingga semakin merapat padanya. Ia balas mendekap erat tubuh ramping sang istri, menciumi kening atasnya yang terbalut penutup kepala.
"Kamu tahu, apa yang paling membuatku bahagia di dunia ini?" tanya Narendra tiba-tiba.
Glacia bertanya lirih. "Apa?"
"Merasakan detak jantungmu yang sama kencangnya dengan detak jantungku." Narendra menunduk melihat wajah Glacia yang bersandar padanya. Ia meraih satu tangan wanita itu di lehernya, lalu meletakkannya di depan dada. "Kamu bisa rasakan?"
Glacia mengerjap, ia menjauhkan kepalanya dari bahu Narendra, lalu menunduk menatap tangannya di dada lelaki itu. Glacia mendongak pada Narendra, mereka saling menatap lama, hingga Glacia mengangguk pelan diiringi sebuah senyum damai.
"Hm. Ini ... menyenangkan," ucapnya.
__ADS_1
Senyum Narendra menguar lebar. Ia mendekatkan wajahnya, mencium Glacia dengan gerakan yang mendayu. Lembut, dan membuai Glacia hingga ia merasa kedua kakinya melayang. Narendra memang mengangkat sedikit tubuhnya, mungkin takut Glacia lelah karena berdiri terlalu lama.
"Aku bahagia, karena istriku sudah jatuh cinta."