
Berita mengenai insiden maut yang menewaskan Rafael Adiwangsa dan Eliza Pataya kini santer disiarkan di berbagai media telivisi, internet, maupun cetak. Dua keluarga besar tampak berduka, terlebih orang tua Lizy yang tidak menyangka putrinya akan ditemukan dalam keadaan mengenaskan bersama sang tunangan.
Scandal mengenai asmara terlarang keduanya turut meluap ke permukaan. Entah siapa yang memulai, tapi beberapa media menceritakan pasangan tersebut saling mengkhianati hati masing-masing. Mereka sama-sama menyukai pasangan orang padahal terikat tali pertunangan.
Narendra bersyukur nama dirinya dan Glacia tidak ikut terlibat. Jika hal itu sampai terjadi, Narendra akan menuntut pembuat berita itu atas tuduhan tak berdasar dan pencemaran nama baik. Narendra tidak mau Glacia stress memikirkan pemberitahaan yang macam-macam. Sudah cukup selama ini ia direpotkan karena berkali-kali menjadi korban. Kali ini Narendra akan lebih tegas pada apa pun yang menimpa Glacia, dan fokus pada pengobatan wanita itu yang beberapa kali tertunda.
Suara lirihan pelan terdengar dari atas ranjang. Glacia mengerjapkan mata, kepalanya bergerak ke sana kemari mencari kenyamanan. "Naren ..." bisiknya, hampir tanpa suara.
Narendra yang sedari tadi menunggu di kursi sebelah ranjang langsung berdiri. Kedua tangannya menyentuh sisi wajah Glacia, berusaha menenangkan raut wanita itu yang resah. "Ini aku," bisiknya.
Penglihatan Glacia mulai fokus, saat itulah tangannya bergerak cepat memeluk Narendra, lalu menangis sambil menenggelamkan wajah di dada lelaki tersebut.
Glacia terisak meremas punggung Narendra yang terbalut kemeja. Narendra membiarkan, ia bahkan balas merengkuh wanita itu seraya mengusapnya penuh kelembutan.
"Shhtt ... Sekarang kamu aman. Tidak akan ada lagi yang berani menyakitimu."
"Rafael ... Lizy ..."
"Shut. Itu bukan salahmu. Semua terjadi karena kesalahan mereka sendiri. Tolong jangan menyalahkan dirimu, Glacy."
__ADS_1
Tangis Glacia terdengar pilu. Narendra bisa menangkap keresahan di dalamnya. Ia tahu Glacia masih terkejut dengan apa yang terjadi. Ia pun sama. Narendra bahkan tak pernah mengira akhir mereka akan sedemikian tragis.
Pintu terbuka, Yohanes masuk tergesa mendekati putrinya yang tengah berpelukan dengan Narendra. Narendra yang paham pun melepaskan pelan rangkulannya, hingga kini tubuh Glacia berpindah ke dekapan sang ayah.
"Glacy-nya Papa ... Puji Tuhan, anak cantik ini bisa kembali. Papa bersyukur sekali kamu tidak kenapa-napa, Nak. Beberapa hari ini Papa resah, takut kamu mengalami hal buruk lagi." Suara Yohanes terdengar bergetar. "Papa sangat bersyukur Narendra bisa bawa kamu pulang dengan selamat. Papa bersyukur."
Glacia masih sesenggukan. Air matanya kini tak hanya membasahi baju Narendra, tapi juga pakaian Yohanes.
"Papa ..." Glacia ingin mengadu, tapi ia hanya bisa meraung karena perasaannya terlalu sulit dijabarkan. Glacia lelah, ia benar-benar lelah dengan segala masalah yang akhir-akhir ini tak berhenti mengelilingi hidupnya.
"Tenang, Sayang. Penjahat-penjahat itu sudah mendapatkan ganjarannya. Tuhan memang tidak tidur, Ia tahu kapan harus menjatuhkan hukuman pada orang-orang yang berdosa."
Usai pemeriksaan, Narendra duduk di sebelah Glacia. Ia setengah membaringkan tubuhnya, merentangkan satu tangan melewati kepala Glacia guna merangkul wanita itu. "Tidurlah lagi. Istirahat. Beberapa hari kemarin kamu pasti merasa tidak nyaman berada di tempat asing," ucapnya, sembari mengusap helai-helai rambut Glacia dengan sangat hati-hati karena rontok.
Glacia menurut, ia mengangguk sambil menyamankan posisi di samping tubuh Narendra. Narendra tersenyum melihat itu.
"Tetaplah di sini sampai aku bangun," bisik Glacia lirih. Matanya mulai terpejam dengan nafas teratur, hingga kemudian ia terlelap kembali dengan tenang.
"Sure," balas Narendra serupa bisikan.
__ADS_1
Yohanes yang melihat interaksi hangat itu merasa terharu. Di samping rahasia gelap Narendra, Yohanes tahu pemuda itu sangat mencintai putrinya. Ia bahkan tak bisa berbuat apa-apa untuk melawan perasaan Narendra, karena sang menantu memiliki banyak cara untuk mempertahankan sesuatu yang sudah menjadi miliknya.
"Papa keluar dulu," ucapnya yang diangguki Narendra.
Narendra bahkan berkata sebelum Yohanes pergi. "Papa bisa ajak Julian kalau butuh teman."
Yohanes tersenyum mendengar kalimat Narendra yang diselipi perhatian itu. "Tidak perlu, Papa sedang ingin sendiri saat ini."
"Papa titip Glacia. Dia tampak nyaman bersamamu," lanjutnya, kemudian membuka pintu dan keluar, meninggalkan Narendra bersama keheningan.
Narendra terdiam lama dengan tatapan menerawang. Nafasnya terhela panjang lalu disusul sebuah gumaman. "Akhirnya semua ini selesai. Glacy, seandainya kamu tahu, aku juga merasa lelah seperti kamu.
Tapi kemudian ia tersenyum, kepalanya menunduk memandangi wajah Glacia yang tertidur pulas. "Mulai saat ini, aku harap kebahagiaan bisa mendatangi kita dengan tenang."
Narendra merunduk mencium kening Glacia lama. "Semoga Tuhan sudi bermurah hati pada seorang pendosa sepertiku. Aku ingin memiliki kamu, merasakan cintamu tanpa dibayang-bayangi lelaki lain yang tidak tahu diri karena menyukaimu. Kamu milikku, Glacia. Selamanya akan menjadi milikku."
Bisikan Narendra diiringi detak jarum jam yang bergema lirih dalam ruangan tersebut. Ia menjatuhkan kepala di samping Glacia. Memeluk wanita itu dengan penuh kehalusan sebelum akhirnya turut terpejam dalam kenyamanan.
Setelah sekian peristiwa yang Narendra hadapi, akhirnya ia bisa tidur pulas bersama wanita yang ia cintai.
__ADS_1
Ini merupakan sebuah kemewahan bagi Narendra, karena sebelumnya mereka pun belum pernah tidur bersebelahan.