
Eliza Pataya, atau orang lain juga menyebutnya sebagai Lizy. Dia adalah putri konglomerat sekaligus menteri yang menjabat saat ini, Darius Pataya. Keluarganya memiliki tambang batu bara dan juga minyak bumi.
Eliza dikenal sebagai pribadi yang santun dan juga anggun. Prestasinya memukau dengan karir yang gemilang. Saat ini, dia menjabat sebagai manager operasional di perusahaan keluarganya. Dia cantik dan pintar, pantas Narendra sangat memujanya.
Glacia mengangguk-angguk melihat biodata wanita itu yang ia minta dari seseorang. Tak salah ia menyuruh salah satu anak buah ayahnya untuk mencari tahu.
Glacia bergeming sesaat menatap ke luar jendela. Mungkin, ini saatnya ia mengembalikan sesuatu yang telah diambilnya, meski konsepnya bukan Glacia yang merebut Narendra dari Eliza, tetap saja ia memiliki peran besar sebagai pemisah mereka berdua.
Glacia menyimpan biodata Lizy ke dalam laci di kamarnya. Tepat saat itulah Narendra masuk membawa kompresan seperti biasa. Glacia tidak mengerti, akhir-akhir ini ia merasa Narendra terlalu perhatian padanya. Mungkin karena tangan Glacia masih sakit, maka Narendra merasa bertanggungjawab atas hal tersebut.
Padahal Glacia jatuh bukan salah Narendra. Tapi kembali lagi, Narendra sudah terbebani karena Yohanes menitipkannya pada pria itu.
"Sebentar lagi aku akan membebaskanmu," guman Glacia, membuat Narendra yang saat ini tengah berlutut memegangi kompres di tangan Glacia, mendongak seraya mengangkat alis.
"Membebaskan apa?" tanya lelaki itu.
Glacia menggeleng. Tanpa sadar ia mengulas senyum tipis yang membuat Narendra terpaku sesaat.
"Kau baik, semua wanita akan menyukaimu," ucap Glacia. Kali ini lebih jelas.
__ADS_1
Narendra kembali memusatkan perhatiannya pada tangan Glacia yang sudah mulai membaik. "Kau tidak."
Glacia meringis. "Kecuali aku tentu saja."
Tak ada sahutan apa pun dari Narendra. Lelaki itu fokus pada kompresan yang ia pegang.
"Apa masih sakit?" tanya Narendra merujuk pada tangannya.
Glacia menunduk. "Tidak begitu." Ia mengendik seadanya.
Narendra mengangguk puas.
"Kau lebih cerewet akhir-akhir ini," celetuk Glacia.
"Sikapmu lebih baik akhir-akhir ini," balas Narendra.
Glacia mengerjap. Iya, ia juga merasa sikapnya mulai melunak. Mungkin karena Glacia terlalu bersemangat dengan rencana barunya untuk mempertemukan Narendra dan Lizy.
"Biasa saja," gumam Glacia.
__ADS_1
Narendra selesai mengompres tangannya. Pria itu mendongak menatap Glacia. Glacia yang merasa terlalu tiba-tiba ditatap seperti itu, refleks tergagap membuang muka.
"Kau pucat. Apa kau baik-baik saja?"
Perhatian lagi, dan Glacia tidak tahu kenapa jantungnya berdetak gugup. Ia segera menggeleng menyingkirkan fenomena aneh tersebut.
"Aku baik-baik saja. Pergilah. Kau akan terlambat kalau terlalu lama di sini," ujarnya sedikit ketus.
"Kau belum sarapan."
"Lalu? Ayolah, Naren ... jangan menyuapiku lagi. Sana pergi!" Glacia nampak kesal. "Lagi pula tanganku sudah mulai membaik. Aku bisa menggunakannya sedikit-sedikit," gerutunya lagi.
Narendra pun membuang nafas sebelum berdiri. "Oke. Aku pergi."
Pria itu berbalik keluar kamar Glacia. Glacia yang melihat pintu kamarnya menutup, segera mengambil nafas dalam dan memijat keningnya pelan. "Kenapa akhir-akhir ini aku merasa pusing?" bisiknya pada diri sendiri. "Apa aku darah tinggi karena terlalu sering marah?"
"Mungkin iya. Ck, merepotkan."
Glacia mendekati nakas mengambil telepon rumah. Setelah tersambung ia segera berseru memanggil Wina. "Winaaa!!! Segera ambilkan aku sarapan!!!"
__ADS_1
Padahal Glacia sudah berniat tidak ingin marah-marah. Tapi lihatlah, ia bahkan tidak bisa sehari saja tanpa berteriak.