
Narendra berdiri menatap kaca besar di depannya. Kedua tangannya tenggelam di saku. Hiruk-pikuk ibu kota yang sibuk tak lantas membuatnya keluar dari lamunan panjang. Keningnya berkerut samar ketika memikirkan sesuatu. Narendra membuang nafas, lalu berbalik sambil bersidekap.
"Cari tahu lokasi bajingan itu," titah Narendra pada Julian, yang lantas diangguki pria itu.
Julian membuka tablet miliknya untuk diotak-atik sebentar. Entah bagaimana pun caranya, tapi dia mampu melakukan apa yang Narendra minta dengan lumayan cepat.
Julian menyerahkan tablet berisi semacam map itu pada Narendra. Narendra menelitinya sesaat sebelum kemudian ia beranjak keluar dari ruangannya.
"Kita ke sana sekarang," ucap Narendra, menyerahkan kunci mobil pada Julian.
Julian mengangguk patuh dan mendahului pria itu saat mereka tiba di parkiran. Julian membuka pintu untuk Narendra, selepas itu ia berputar memasuki kemudi dan melajukan sedan mewah tersebut meninggalkan area perusahaan.
Narendra menatap datar jalanan di sampingnya. Ia baru saja mendapat kabar bahwa Krisna Julius telah dibebaskan. Narendra marah tentu saja. Ia sudah susah payah menjebloskan pria itu ke penjara, belasan tahun Narendra berjuang sejak remaja, tapi sekarang bajingan itu malah bebas dengan begitu mudahnya.
Narendra tahu, pasti ada dalang di balik semua ini. Siapa pun itu, dia pasti cukup berkuasa dan memiliki banyak uang.
Julian menghentikan mobilnya di sebuah penginapan kumuh dan berantakan. Bagian bawah penginapan itu seperti gudang dengan tanah yang becek. Julian menoleh ke belakang pada Narendra yang terdiam. "Tuan mau saya saja yang masuk?"
"Tidak perlu."
Ia pun segera membuka pintu dan keluar. Sejenak hanya berdiri menatap bangunan tua yang sama sekali tidak nampak seperti tempat tinggal.
Bau amis dan apek menyapa penciuman begitu Narendra memasuki area lantai bawah penginapan tersebut. Sepatunya yang mengkilap menginjak tanah berair di bawahnya.
Narendra berjalan santai, sementara Julian mengikuti di belakang dengan waspada. Situasinya begitu dingin dan menyeramkan untuk seukuran kamar yang disewakan.
Mereka menaiki tangga untuk sampai di lantai dua dan berikutnya. Tidak ada penjagaan apalagi lift, jadi mereka harus puas berjalan kaki sampai ke lantai lima, tempat di mana Krisna Julius menginap.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Narendra dan Julian sampai di lantai lima. Narendra berhenti di depan sebuah pintu seraya menoleh pada Julian di belakangnya. Julian mengangguk, membenarkan pertanyaan tidak langsung dari Narendra mengenai lokasi kamar yang sempat Julian lacak.
Narendra diam sesaat sebelum tangannya terangkat mengetuk pintu. Tidak ada jawaban, hingga tak lama suara kunci yang diputar pun terdengar. Perlahan pintu itu terbuka dengan suara decitan ngilu, nampak sekali bangunan ini memang kurang terawat dan tak layak.
Sepasang mata tajam dalam raut culas seketika terlihat dari celah pintu. Sesaat Narendra dan pria itu saling bertukar pandang, sebelum sudut bibir itu terangkat perlahan membentuk sebuah seringai.
"Lama tidak bertemu, putraku."
Tak ada respon dari Narendra, ia setia terdiam dengan wajah dingin menatap lelaki itu. Krisna membuka pintunya lebar, mempersilakan Narendra untuk masuk ke penginapan kumuhnya.
Narendra berjalan pelan memasuki kamar tersebut, diikuti Julian yang senantiasa waspada. Pria yang ia tahu sebagai ayah dari majikannya itu terlihat cukup berbahaya, insting pengawalnya seketika keluar tanpa diminta.
Krisna tersenyum puas melihat Narendra. Karena tak ada sofa atau kursi, mereka pun berdiri satu sama lain di ruang sempit itu.
Tubuh tinggi Narendra begitu mencolok dengan atap yang hanya berjarak dua jengkal saja dari atas kepalanya. Benar, memang sekecil dan sesempit itu tempat Krisna tinggal sekarang.
"Kau tidak membawa sesuatu untuk menyambut kepulanganku?" Suara Krisna terdengar culas, persis wajahnya yang tak henti naik-turun memperhatikan Narendra dengan mata berbinar. "Dengan penampilanmu sekarang, aku yakin kau lebih dari mampu membelikanku kendaraan mewah," kekehnya tajam.
"Siapa yang membebaskanmu?" Narendra tak memperdulikan permintaan tersirat dari Krisna.
Krisna menyeringai lebar. "Menurutmu siapa?" Ia malah balik bertanya.
Sebetulnya Narendra tak perlu mempertanyakan hal barusan pada Krisna, tanpa diberitahu pun ia akan mencari tahu meski sedikit sulit karena seperti yang Julian katakan, orang tersebut susah diidentifikasi.
"Kau seharusnya membusuk seumur hidup," ujar Narendra dingin. Sekilas matanya menyorotkan amarah terpendam. Belum hilang dari ingatannya ketika lelaki itu menganiaya ibunya secara brutal, hingga menyebabkan nyawanya melayang.
Dulu mereka adalah keluarga terpandang, hal yang membuat Krisna bisa dengan mudah lolos dari jeratan hukuman, selain dengan kurangnya bukti yang memberatkan dan saksi yang berputar-putar.
__ADS_1
Tapi Narendra tak menyerah, hingga ia bertemu Yohanes yang membantunya menghancurkan lelaki itu dan menjebloskannya ke penjara. Yohanes adalah orang berjasa bagi Narendra, alasan ia begitu menghormati sang mertua di luar perasaannya pada Glacia.
Krisna tertawa keras. "Sayangnya usahamu sia-sia. Sudah kubilang, Narendra, aku akan mengejarmu ke manapun kau pergi," desisnya licik. "Karena kau adalah putraku," lanjutnya penuh penekanan. "Darah dagingku."
"Itu adalah hal yang paling kusesali," balas Narendra tajam, dengan mata menghunus pada Krisna.
"Kau yang menghancurkanku sampai aku jadi seperti ini, Nak," lanjut Krisna.
"Karena kau memang pantas mendapatkannya. Kau adalah iblis yang seharusnya hidup di neraka," tegas Narendra.
Sekali lagi Krisna hanya tertawa. "Kita lihat, apakah iblis ini akan berhasil membuatmu sengsara. Jangan besar kepala, Narendra. Saat ini kau mungkin masih bergelimang harta karena mertuamu. Tapi setelah bercerai nanti, kau juga akan jadi gelandangan sepertiku. Terima saja nasibmu."
Rahang Narendra mengeras. "Persetan dengan harta. Saat ini aku hanya ingin membunuhmu dengan tanganku sendiri," desisnya tajam.
Krisna mengangkat alis sambil merentangkan tangan, seolah mempersilakan pada Narendra untuk menyakitinya.
Narendra tersenyum sumir mengalihkan pandangan. "Satu yang harus kau ingat, urusanmu denganku, bukan yang lain."
Setelah mengatakan itu Narendra melangkah melewati Krisna guna mencapai pintu. Julian mengekor di belakang. Namun sebelum itu langkah mereka berhenti oleh suara tawa Krisna yang bergema.
"Hahaha .... Hahaha .... Hahaha ...." Krisna tertawa seperti orang gila. Ia berbalik menghadap Narendra yang berdiri membelakanginya. "Kedatanganmu ke sini untuk menyiratkan ketakutan? Kau masih takut padaku, Narendra, akuilah. Hahaha ..."
Narendra menoleh. "Aku sama sekali tidak takut. Aku hanya memperingatkanmu untuk tidak menyentuh orang-orangku," ucapnya datar. "Kau tahu apa yang bisa kulakukan jika kau membuatku marah."
Narendra menunduk melirik tangan kiri Krisna. "Cukup satu jarimu yang menghilang, atau aku akan memotong semuanya sampai kau kehabisan darah."
Krisna turut menunduk menatap tangannya sendiri. Seketika rahangnya mengeras melihat jari tengahnya yang rampung. Ia kembali mendongak saat Narendra dan Julian keluar dari kamar penginapannya.
__ADS_1
Matanya menyorot marah penuh dendam pada anak itu. Kemudian ia menyeringai. "Darah memang lebih kental daripada air. Mau mengelak sekeras apa pun, kau dan aku memiliki kesamaan, sama-sama kejam tak berperikemanusiaan."
Krisna mengangkat tangan kirinya yang hanya memiliki 4 jari. "Akui saja, Narendra. Aku yakin kau tak jauh berbeda dariku. Hahaha ..."