Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
12. Drama Memuakkan


__ADS_3

"Nona, ini pakaian gantinya." Seorang pelayan menyerahkan sebuah dress kepada Glacia.


Dress tersebut diambil dari lemari pakaian milik Glacia di mansion besar itu. Glacia tengah berada di kamarnya untuk berganti baju. Akan tetapi, ia mengalami kesulitan.


"Nona mau saya bantu?"


Glacia berdecak. "Menurutmu? Kau pikir aku bisa memakainya sendiri dengan kondisi begini?" ketusnya sebal.


Pelayan itu menunduk segan. Ia minta maaf sebelum kemudian mendekat untuk membantu Glacia berpakaian. Dress sutera berwarna putih itu tak kalah cantik dengan baju Glacia sebelumnya. Setidaknya warna tersebut masih serasi dengan milik Narendra.


Sebenarnya Glacia tak peduli mau pakaiannya selaras atau tidak. Si pelayan cari aman saja dengan memilihkan dress tersebut, padahal Glacia sama sekali tak meminta.


Usai berpakaian Glacia tak langsung keluar kamar. Ia menyuruh si pelayan pergi sementara dirinya beralih ke balkon dan berdiam diri di sana.


Taman belakang sedikit terlihat dari tempat Glacia. Meski tak begitu jelas, ia masih bisa melihat siluet ayahnya dan juga Narendra yang kini tampak mengobrol dengan keluarga laki-laki lainnya. Entah, mungkin mereka membicarakan bisnis seperti biasa.


Di tengah keterdiamannya, Glacia mendengar langkah kaki dari arah belakang. Ia menoleh dan mendapati Claire berdiri di ambang pintu balkon.


"Lama tidak bertemu," ujar Claire halus. Perempuan itu mendekat dan berdiri di samping Glacia, memandang ke arah yang sama.


Keduanya sama-sama bungkam sesaat, hingga tak lama kemudian Glacia mendengus. "Ada apa? Kau mau membahas sahabatmu lagi?"


Claire tak menjawab, namun Glacia sudah bisa menebak meski rautnya tak menunjukkan pembenaran.


"Bukankah dia sudah bertunangan? Kenapa masih menyuruhmu merecokiku?" lanjut Glacia datar.


"Lizy tak pernah menyuruhku merecokimu," sanggah Claire.


"Lalu?" tantang Glacia.


Claire menoleh dan menatapnya tanpa ekspresi. "Seharusnya kau sadar tanpa kujelaskan."


Glacia tertawa lirih, merasa lucu dengan perempuan di hadapannya. Ia lalu mendongak dan menatap Claire tajam. "Bukan aku yang tidak ingin bercerai. Tanyakan pada lelaki itu yang selalu menghindar dari perceraian!" tegasnya. "Tanyakan kenapa Naren selalu menghilangkan semua surat cerai dariku!"


Claire terdiam. Keduanya kini sudah sepenuhnya saling berhadapan.


"Memuakkan," desis Glacia lagi. "Keluarga ini benar-benar memuakkan." Ia membuang muka, kembali menatap halaman belakang, di mana punggung Narendra terlihat di sana.


"Lizy sangat patah hati saat Narendra memutuskan hubungan mereka. Ia juga sempat sakit lumayan parah," ujar Claire memberi tahu. Ia turut memandang halaman belakang seperti Glacia.

__ADS_1


"Bukan aku yang merebut kekasihnya. Kekasihnya yang mau menikah denganku."


"Karena ayahmu."


"Dan salahkanlah ayahku," tukas Glacia. Ia benar-benar sudah muak dengan berbagai drama recehan ini. "Sejak awal aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Kalau sahabatmu mau, ambil saja. Aku tidak butuh gembel sepertinya. Dia hanya benalu di kehidupanku."


Setelah mengatakan itu Glacia berbalik pergi bersama kursi rodanya, meninggalkan pandangan Claire yang menatap rumit punggungnya yang kian menjauh hingga menghilang di telan pintu.


Claire menoleh lagi ke halaman belakang, tepatnya ia menatap Narendra yang masih setia di tempat duduknya. Sesekali ia dapati lelaki itu mengedarkan pandangan. Gesturnya nampak santai, namun ... tidak senyaman saat ada Glacia di sampingnya.


Claire mendengus lalu berbalik meninggalkan balkon.


***


Glacia sudah kembali ke meja makan. Ia tak menghiraukan Narendra yang tak lepas menatapnya sejak pertama kali ia datang. Pria itu seakan ingin mengatakan sesuatu, namun urung saat melihat wajah Glacia yang kurang bersahabat.


Makan malam berlanjut hingga selesai. Selama itu pula Glacia terus bungkam dan seolah menghindari Narendra. Bahkan, saat akan pulang pun wanita itu mendahului Narendra ke parkiran. Narendra yang saat itu masih berpamitan pada Yohanes, cepat-cepat undur diri dan segera menyusul Glacia.


Glacia sudah memasuki mobil, sebelumnya ia dibantu pengawal yang berjaga di depan mansion. Tangannya bersidekap di depan dada, wajahnya angkuh khas Glacia.


Narendra masuk, ia sempat mengamati Glacia sebelum kemudian menyuruh Julian melajukan kendaraan. Mobil membelah jalanan malam yang penuh dengan pendar lampu, dan keduanya masih dilingkupi keheningan hingga mereka tiba di rumah.


Glacia menolak Narendra yang hendak membantunya menduduki kursi roda, namun ia tak membantah ketika Julian yang melakukannya. Sudah jelas bahwa wanita itu menghindari Narendra.


"Tuan?" tegurnya pelan.


Narendra sedikit terperanjat, namun ia bisa menguasai rautnya hingga kembali normal. Narendra menoleh dengan alis terangkat pada sang asisten.


"Anda tidak masuk?" tanya Julian.


Narendra diam sesaat sebelum kemudian mengangguk. "Kau boleh pulang. Ingat, besok ada meeting pagi," ujarnya sebelum memasuki rumah.


Julian mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Selamat malam."


Di lantai atas, Glacia baru saja keluar dari lift. Ia mengarahkan kursi rodanya menuju kamar, namun sesuatu seolah menahannya hingga tak bisa bergerak.


Glacia menoleh, lalu memicing saat mendapati Narendra lah pelakunya. Pria itu menahan kursi rodanya dari belakang.


"Apa yang kau lakukan?" kesal Glacia.

__ADS_1


Narendra masih bertahan dengan wajah datar. Ia menatap Glacia tepat di matanya. "Apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara berat.


"Apa?" Glacia mengernyit tak mengerti karena Narendra malah balik bertanya.


Narendra tak langsung menjawab. Ia masih saja mengamati Glacia hingga wanita itu risih karena diperhatikan selekat itu.


"Kau terlihat kesal," cetus Narendra.


Glacia membuang muka. "Bukan urusanmu." Ia berniat menjalankan kursi rodanya lagi, namun rupanya Narendra urung melepaskan tangannya.


Hal itu tentu membuat Glacia kesal dan menoleh sengit. "Apa masalahmu?!" serunya keras.


Kesal, Glacia menepis kasar tangan Narendra dari pegangan kursi rodanya. Nafas Glacia mulai terengah menahan emosi. Sejak tadi ia mati-matian menahan diri, tapi Narendra malah memancingnya seperti ini.


"Kenapa kau selalu menolak perceraian?"


Narendra mengernyit samar, terlihat bingung dengan pembahasan tiba-tiba Glacia.


"Kau bertanya kenapa aku terlihat kesal, kan? Kenapa kau selalu menolak untuk bercerai?!"


Glacia tampak hampir frustasi. Ia menatap Narendra dengan sorot lelah yang tak pernah Narendra dapati. Ini pertama kali Glacia menatapnya seperti itu.


"Kenapa, Naren? Apa karena Papa?" tanya Glacia lagi. "Atau karena harta?"


Glacia tidak menyadari, namun raut Narendra berubah semakin datar.


"Kau takut kehilangan fasilitas jika kita bercerai?"


"...."


"Seharusnya kau tidak perlu khawatir, Papa terlalu menyayangimu untuk melakukan semua itu."


"Hiks, sialan, kenapa aku menangis?" gumam Glacia sembari menyeka air mata yang tiba-tiba keluar. "Aku lelah. Aku lelah dengan semua ini! Kenapa kau tidak menceraikanku saja, Naren? Aku cacat! Aku lumpuh! Dan aku juga selingkuh! Apa kau tidak malu memiliki istri sepertiku?! Seharusnya ini menjadi kesempatanmu untuk melepasku! Kenapa kau tidak melakukannya?!"


Glacia terisak, matanya menantang menatap Narendra yang bergeming. Pria itu sama sekali tak bersuara, hal yang biasa Glacia dapati ketika berbicara dengan Narendra. Glacia bodoh karena meluapkan segalanya di depan pria itu. Toh, semuanya akan sama saja, Narendra bukan solusi dari masalah yang ia punya. Pria itu lebih keras kepala dari dirinya sendiri.


"Kenapa kau tidak seperti Gallen? Akan lebih mudah kalau kau juga meninggalkanku," ujar Glacia parau.


Lama tak bersuara, akhirnya Narendra pun membuka mulut. "Jangan samakan aku dengan sampah sepertinya, dan untuk harta keluargamu, aku sama sekali tak membutuhkannya."

__ADS_1


Suara Narendra terdengar tajam, selaras dengan matanya yang juga menyorot Glacia dengan tatapan mematikan. Pria itu marah, Glacia sangat menyadarinya. Terbukti dari rahangnya yang mengatup rapat, juga tangannya yang sedikit mengepal di sisi tubuh.


"Lalu, apa alasanmu tidak mau bercerai?" Glacia menatap Narendra menunggu, namun hingga bermenit-menit berlalu pria itu tak kunjung mengeluarkan suara.


__ADS_2