
Yohanes duduk di sebelah Glacia menghadap dokter. Narendra berdiri di belakang wanita itu, sambil menyentuh kedua bahunya. Mereka tengah mendengarkan penjelasan mengenai perkembangan kesehatan Glacia setelah 8 bulan lamanya menjalani pengobatan.
"Pada umumnya, penyakit kanker tidak bisa sembuh total, tapi penyakit ini bisa dikendalikan agar penderita bisa kembali beraktivitas dengan normal," jelas sang dokter. Ia menatap tiga orang di hadapannya dengan serius. "Kanker itu definisinya bukan sembuh. Penyakit ini sama seperti asma, hipertensi, diabetes, ada kekambuhan bila tidak dikontrol. Jadi, sebetulnya tujuan pengobatan adalah agar penyakit lebih terkontrol. Saya sudah jelaskan ini sejak awal."
Mata Yohanes tiba-tiba meredup. Ia menunduk sebelum menoleh pada Glacia di sampingnya. Tangan besarnya sejak tadi tak berhenti menggenggam tangan Glacia. Meski terlihat biasa saja, tapi Yohanes yakin dalam hati Glacia merasa tegang, sama seperti dirinya.
Narendra meremas pelan bahu Glacia, ia tetap fokus mendengarkan kendati hatinya tak kalah ketar-ketir. Narendra berusaha tenang, supaya Glacia tidak ikut gelisah.
"Tapi, kami memiliki kabar baik untuk anda semua. Setelah beberapa tahapan terapi serta evaluasi, kami sudah tidak menemukan sel kanker lagi di dalam tubuh Nona. Selamat, Nona, anda berhasil melewati masa tersulit. Mulai saat ini anda kami nyatakan bebas dari kanker. Tapi, anda tetap berada dalam tahap remisi. Pada masa remisi ini, anda harus tetap kontrol secara teratur dan tetap menjaga tubuh anda agar selalu sehat. Pola hidup, pola makan, ini semua yang paling utama harus dijaga. Anda juga tidak boleh stress, baik fisik maupun pikiran."
"Sekali lagi selamat, anda adalah satu dari sekian pasien yang hebat. Saya bangga karena anda selalu optimis dan semangat melewati semuanya. Seperti yang sudah pernah saya bilang, bahwa kanker bukan akhir dari segalanya." Dokter itu tersenyum menatap Glacia.
Sementara Glacia, ia bergeming dengan raut tak mampu berkata-kata. Glacia terpaku mendengar penjelasan dokter tersebut, hingga tanpa sadar pupilnya membayang oleh serbuan air mata.
Glacia menoleh pelan pada Yohanes, begitu pula Yohanes turut menatap sang putri dengan rasa haru. Sedetik kemudian Yohanes membawa Glacia ke dalam pelukan. Lelaki baya itu tak bisa menahan laju tangisnya yang serta-merta keluar.
"Puji Tuhan, Sayang. Kamu sembuh, Nak." Suara Yohanes terdengar parau. Glacia mengangguk tanpa suara, namun matanya mengungkapkan semua rasa.
Ia senang, saking senangnya Glacia ikut menangis membalas pelukan Yohanes.
Dokter di hadapan mereka tersenyum melihat pemandangan mengharukan antara ayah dan anak tersebut. Kemudian ia mendongak pada Narendra yang sedari tadi diam, tanpa respon apa pun. Namun matanya jelas menyuarakan berbagai makna, Narendra hanya tidak pandai mengekspresikannya.
Lelaki itu senang, jauh lebih senang daripada Yohanes maupun Glacia. Ia mengusap kepala Glacia dengan penuh kasih sayang, juga sudut bibirnya berkedut kecil menahan senyuman.
Begitu tiba di luar dan memasuki mobil, barulah Narendra memeluk Glacia sepenuhnya. Mereka dalam perjalanan hendak pulang, berpisah dari Yohanes yang menaiki mobil berbeda.
__ADS_1
Julian yang merasa majikannya memerlukan privasi, lantas menaikkan pastisi hingga bagian kemudi dan penumpang itu dibatasi oleh sebuah kaca hitam tak tembus pandang.
Narendra mendekap Glacia erat. Begitu pula Glacia, ia tersenyum lembut mengusap punggung Narendra. Lelaki itu membenamkan wajahnya di pundak Glacia seraya mulai berbisik.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa untuk berucap syukur."
Glacia masih tersenyum, saat Narendra melabuhkan satu kecupan di pundaknya. Ia bisa merasakan detak jantung lelaki itu yang bergemuruh cepat.
Narendra terus memeluknya lama. Meski tanpa banyak bicara, Glacia tahu lelaki itu bahagia.
Narendra menjauhkan tubuh, ia menyentuh kedua bahu Glacia sambil menatap matanya. Tak lama seutas senyum muncul di bibir Narendra. Senyum penuh haru yang turut menular pada Glacia. Ia balas menatap Narendra tak kalah hangat, menyentuh rahang lelaki itu sambil memberi usapan halus.
"Kamu jangan ikut-ikutan Papa yang menangis," ujar Glacia.
"Khawatir kenapa?" Kening Glacia berkerut.
Namun Narendra menggeleng. Ia kembali membawa Glacia dalam dekapannya, bedanya kali ini sambil bersandar di kursi mobil.
Narendra menyandarkan kepala Glacia di dadanya, melepas penutup kepala wanita itu agar ia bisa mengusap langsung di sana. Narendra mengecup kepala tanpa surai milik Glacia. Keduanya saling bersandar nyaman dengan Narendra yang juga sesekali mencium tangan Glacia.
"Setelah ini aku pastikan kamu menjalani hidup sehat. Bukan hanya kamu, tapi aku juga," ucap Narendra.
Jemari Glacia bergerak kecil di atas kancing kemeja milik Narendra. "Bukankah, sejak dulu pola hidupmu memang sehat? Aku jarang melihatmu makan makanan instan atau junk food."
Narendra tersenyum. "Aku anggap kamu sering memperhatikanku secara diam-diam." Ia melanjutkan. "Kali ini aku akan makan apa yang kamu makan. Tidak mungkin saat kamu makan sayur, aku makan sosis dan telur."
__ADS_1
"Kenapa tidak? Hey, yang sakit aku, bukan kamu." Glacia sedikit mendelik pada Narendra di atas kepalanya.
Narendra menunduk, ia tersenyum menatap Glacia tenang. Lalu menjawab sambil menggeleng. "Aku tetap tidak bisa. Rasanya tidak nyaman, memikirkan kamu yang ingin makan makananku. Jadi lebih baik aku makan apa yang kamu makan. Setidaknya di hadapanmu."
Diam-diam Glacia menahan senyum. Wajahnya merah hanya dengan perhatian Narendra yang seperti itu. Sekali lagi ia merasakan detak jantung Narendra tepat di samping telinganya yang menyandar di dada lelaki itu.
Glacia menyentuh bagian tersebut, dengan gerakan yang awalnya ragu. Namun Narendra lekas menangkap tangannya dan meletakkannya di sana.
"Jangan malu jika ingin menyentuhku."
Glacia mengerjap. Seketika ia tergagap tanpa suara, hingga kekehan keluar dari mulut Narendra.
"Kamu masih enggan mengakui bahwa tubuhku bagus?" tanyanya sembari mengangkat alis.
Glacia merengut, ia mencebik membuang mukanya untuk menghindar. Narendra menghela nafas panjang. "Nanti, jika kamu sudah benar-benar fit, kamu bisa bebas menyentuhku."
Glacia menoleh cepat. "Apa maksudmu?" Ia bertanya sewot. "Siapa bilang aku mau menyentuhmu? Tadi aku hanya refleks saja. Memangnya tidak boleh? Itu skinship wajar antara pasangan, tau!"
Narendra mengangguk. Sambil mengulum senyum, ia menarik pelan lengan Glacia supaya bersandar lagi padanya. "Iya, skinship yang lebih dari ini pun pasti kita lakukan nanti," ucapnya, meletakkan kembali telapak tangan Glacia di atas dadanya yang berdetak.
Meski masih malu, namun lama-lama Glacia juga nyaman dengan posisi itu. Lama mereka terdiam tanpa suara, hingga Narendra kembali membuka mulut. "Kamu tenang saja, aku akan menyentuhmu saat kamu benar-benar sembuh. Saat kondisimu benar-benar memungkinkan. Karena aku tidak mau menikmati secara sepihak, kenyamananmu adalah satu hal paling utama dalam hubungan kita. Jika kita sama-sama nyaman, bukankah itu lebih menyenangkan?"
"A-apa maksudmu? S-sebenarnya apa yang sedang kamu bahas?" Glacia yang gugup enggan mendongak melihat Narendra yang kini tertawa.
Ia menjawil hidung kecil wanita itu. "Jangan pura-pura tidak tahu."
__ADS_1