Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
72. Kedekatan Glacia dan Narendra


__ADS_3

Thomas terpekur dengan pandangan menerawang. Lututnya menekuk dengan punggung bersandar pada dinding di belakang. Rautnya nampak cuek, tak menghiraukan kebisingan yang kerap diciptakan teman satu tahanannya. Thomas hanya terdiam sepanjang waktu, ia sangat jarang sekali bicara apalagi bersosialisasi di sana.


Pemuda itu terlihat dingin dengan tato di hampir seluruh bagian tubuhnya, kecuali wajah tentu saja. Dia terlihat sulit didekati, hal yang membuat rekan satu jerujinya seringkali mendiskriminasi, jika bukan Krisna yang melerai mereka.


Benar, Thomas dan Krisna ditempatkan dalam satu tahanan, berbeda dengan berandal lainnya yang memang disebar ke beberapa lapas di berbagai daerah.


Di saat orang lain sibuk dengan perkumpulan mereka, Krisna mendekati Thomas yang hampir setiap hari diam saja. Tempatnya juga di situ-situ saja, seolah ia enggan menempati sudut lain di ruang sempit itu.


Krisna mendorong bahu Thomas hingga pemuda itu sedikit berguncang. Ia menoleh pada Krisna dengan tatapan datar. Krisna tersenyum sumir balas menatapnya.


Sejenak pandangan Krisna mengedar mengamati seisi tahanan. Mereka masih berkumpul dan tertawa-tawa menyerukan kata makian. Krisna pun dengan pelan mencondongkan tubuh pada Thomas, kemudian berbisik di samping telinganya. "Dulu, bagaimana caramu melarikan diri dari penjara?"


Krisna ingat, Thomas pernah bilang pada teman-teman satu berandalnya bahwa dia adalah seorang narapidana yang kabur, dalam artian Thomas merupakan seorang buronan. Krisna penasaran karena sepertinya Thomas merupakan anak baru di kelompok mereka. Selama ini Krisna kurang memperhatikan.


Thomas hanya melirik Krisna tak acuh. Ia kembali menatap lurus ke depan tanpa sekalipun menjawab pertanyaan Krisna. Namun Krisna tak menyerah, ia terus bertanya hingga lama-kelamaan Thomas membuang nafas. "Keberuntungan," ujarnya singkat.


Krisna mengangkat alis, matanya tak lepas mengamati Thomas.


"Aku hanya beruntung, jadi bisa bebas," lanjut Thomas, malas.


Krisna mendengus dengan senyum. "Dan aku penasaran dengan keberuntunganmu." Ia menatap Thomas lekat. "Hey, bisakah kau membantuku?"


Thomas melirik Krisna, turut membalas tatapannya lumayan lama. Keduanya saling pandang penuh makna hingga tak lama seorang sipir berseru memanggil salah satu tahanan di sana.


***


"Kamu mau ke mana?" Weni bertanya ketika melihat Wina sudah berganti pakaian, sedangkan yang lain masih menggunakan seragam pelayan mereka, termasuk Weni sendiri.


Wina tergemap sebentar seolah kebingungan hendak menjawab apa. Ia mengeratkan pegangannya pada mantel di tangan sambil terus berpikir.


"Em, Weni. Tolong atur data kehadiranku di Kepala Pelayan, ya? Aku izin menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat. Aku harus ke luar."

__ADS_1


Dahi Weni berkerut dalam. Entah kenapa akhir-akhir ini Wina seperti menyembunyikan sesuatu darinya. Biasanya, ke manapun Wina pergi, dia pasti memberi tahu Weni ke mana tujuannya. Begitu pula Weni yang selalu memberi tahu Wina.


"Memang kamu mau ke mana?" Sekali lagi Weni bertanya.


Namun Wina hanya melipat bibir tersenyum ragu. "Itu, aku mau beli obat untuk ayah. Hanya sebentar, nanti malam aku kembali, kok."


"Kalau begitu aku ikut," tukas Weni.


Wina pun menggeleng cepat. "Jangan. Kamu di sini saja. Tidak enak dengan yang lain kalau kita sama-sama izin."


"Tapi aku mau tahu kondisi ayah. Aku juga mau tahu obat apa saja yang diresepkan dokter," kekeh Weni.


"Tidak bisa, Weni. Kamu lupa, ini bukan kediaman Tuan Narendra, ini mansion Tuan Martadinata. Kita tidak boleh semena-mena bekerja. Meski tuan yang kita layani sedang tidak ada, tetap saja kalau nanti Nyonya Glacia membutuhkan salah satu dari kita di rumah sakit, bagaimana? Tolonglah, biarkan aku saja yang mengurus semua tentang ayah, kamu fokus saja bekerja."


Weni tak membantah lagi. Apa yang Wina katakan benar, ia harus siap kapan pun seandainya Narendra atau Yohanes memanggilnya ke rumah sakit. Secara ia adalah pelayan pribadi wanita itu.


"Ya sudah. Kalau begitu hati-hati," putus Weni pada akhirnya.


Setelah itu Wina melenggang meninggalkan Weni yang bergeming menatap kepergiannya.


Sementara di rumah sakit, Narendra berjalan menyusuri koridor setelah keluar dari lift. Ia hendak kembali ke ruang rawat Glacia sesuai janjinya tadi pagi. Meski terlambat dari waktu yang dijanjikan, karena Narendra harus mengurus pekerjaan di perusahaan usai bertemu Gibran Wiranata.


Empat pengawal yang berjaga di sana menunduk segan ketika melihat Narendra datang. Narendra berhenti sesaat untuk bertanya pada mereka. "Semua baik-baik saja selama saya pergi?"


"Semua baik, Tuan. Tuan Yohanes meninggalkan rumah sakit pukul 4 sore tadi. Beliau berpesan agar anda tidak perlu menunggui Nona semalaman. Sesekali turunlah untuk makan."


Narendra hanya mengangguk, mertuanya memang beberapa kali berpesan hal yang sama. Kadang, Narendra merasa aneh diperhatikan seperti itu, karena sejak kecil hanya sang ibu yang kerap memperlihatkannya.


Ia pun lekas membuka pintu ruangan Glacia dan langsung mendapati wanita itu yang tertidur pulas. Narendra memperhatikan sang istri seraya berjalan ke arah sofa, ia mulai membuka laptopnya yang sempat dibawanya dari kantor dan melanjutkan pekerjaan di sana.


Hampir satu jam Narendra duduk menekuni laptop, hingga ia mendengar lirihan Glacia yang memanggilnya dengan suara setengah berbisik. "Naren?"

__ADS_1


Narendra mendongak, ia menutup layar laptopnya untuk kemudian beranjak dari sofa mendekati ranjang.


Glacia berkedip sayu memandang Narendra. "Kapan kamu datang?"


Narendra duduk di kursi sebelum menjawab. "Sekitar satu jam lalu."


"Kamu mau minum?" tanya Narendra.


Glacia tak menyahut, tapi Narendra tetap mengambilkan gelas berisi air di nakas, menempelkan sedotan pada bibir wanita itu. Pelan Glacia menyesap air minum tersebut sambil menatap Narendra yang juga memperhatikannya. Setelah selesai Narendra menyimpan kembali gelas itu ke atas meja.


"Tidur lagi," titah Narendra. Meski hubungan mereka lebih dekat dari sebelumnya, Narendra tak pernah kehilangan raut datar.


Alih-alih tidur, Glacia justru melirik buah di nakas samping ranjang. Narendra yang mengerti turut melihat ke sana.


"Kamu lapar?"


Glacia meringis tanpa suara, ia mengalihkan pandangan dari buah-buahan itu dan berusaha berbaring lebih nyaman.


"Mau makan sesuatu, atau kau memang ingin buah?"


"Tidak perlu. Aku akan tidur saja."


Narendra membuang nafas dan mengambil satu buah jeruk dari keranjang buah, lalu mengupasnya hingga wangi segar yang khas itu menguar mengalahkan pewangi ruangan.


Narendra mengulurkan satu ruas pada Glacia. Glacia pun berkedip bingung setengah malu. Lelaki itu tak bersuara apa pun hingga rasanya Glacia malah canggung.


"Glacy?" ucap Narendra lantaran Glacia tak kunjung menerima jeruknya.


Glacia membuka mulut, dan Narendra pun menyuapinya dalam ketenangan. Suasana ruangan begitu hening, namun juga terasa hangat bagi Glacia.


Padahal pagi tadi Narendra juga menyuapinya, tapi Glacia masih saja merasa tak karuan. Karena jujur, selama setahun lebih menikah, Glacia tak pernah berdekatan seperti ini dengan Narendra.

__ADS_1


"Kalau kamu memang menginginkan sesuatu, bicara saja. Tidak perlu malu karena aku suamimu." Narendra mengatakan itu dengan santai, tapi efeknya sama sekali tidak santai bagi jantung Glacia.


__ADS_2