
Hembusan nafas menguar pelan setiap kali Glacia melakukan respirasi. Selang oksigen menempeli hidungnya, pun jarum infus tersemat di tangan kanannya. Wanita itu nampak pucat dan sesekali berkedip lamat berusaha tenang.
"Sakit?" Narendra sejak tadi menemani di sebelah Glacia. Lelaki itu duduk di kursi sebelah ranjang pasien, menggenggam tangan kiri sang istri sambil memberi usapan halus.
Glacia tersenyum, menggeleng pelan sebagai jawaban. "Kamu makan dulu, gih. Bukannya tadi Julian bawa nasi buat kamu?" Ia terkekeh melihat wajah Narendra yang pias serta berkeringat. "Yang mau lahiran aku, kenapa jadi kamu yang tegang begitu?"
"Dia sudah seperti itu sejak kamu pecah ketuban, Glacy." Yohanes yang sedang membaca tablet di sofa refleks menyahut. Ia lalu terdiam seolah mengingat sesuatu. Tak lama kepalanya mendongak menatap sang menantu. "Papa ingat, waktu ada gempa dia malah tenang-tenang saja bekerja, padahal ruangan suamimu itu di lantai ketiga paling atas. Tapi saat istrinya mau lahiran, kenapa kamu seolah-olah dimasukkan ke kandang harimau? Naren, coba kamu berkaca?"
"Ya?" Narendra menyahut bingung.
"Berkacalah, lihat semenyeramkan apa wajahmu sekarang. Kamu sudah seperti mayat hidup," lanjut Yohanes.
Glacia menggeleng, Narendra tak ubahnya seperti pria lugu yang sedang menanti interview kerja. "Makanlah. Waktunya masih terlalu lama sampai pembukaan terakhir. Sekarang saja kamu sudah seperti ini, bagaimana nanti jika menemaniku di ruang bersalin? Mungkin kamu yang kehabisan tenaga, bukan aku," bujuknya lembut.
Yohanes mengangkat alis. "Dengar? Kemarilah, duduk santai dengan Papa di sini. Kamu tidak tahu sesulit apa Julian mencari makanan di tengah malam seperti ini, mengingat selera lidahmu sangat rewel sejak kehamilan Glacia."
Melihat tatapan Glacia yang terus mengarah padanya, Narendra mau tak mau berdiri, meski gesturnya terlihat enggan. Ia berjalan pelan ke arah sofa, duduk di samping Yohanes dan mulai membuka kotak makan yang sempat dibelikan Julian lebih dari satu jam lalu.
Glacia menggeleng, melihat Narendra ia merasa lucu sendiri. Sore tadi, saat lelaki itu pulang kerja, perut Glacia mulas. Narendra sangat panik mengetahui ketuban wanita itu pecah. Dia sampai lupa caranya membuka pintu mobil, beruntung ada sopir di rumah mereka, hingga Glacia bisa tiba di rumah sakit dengan selamat.
Berbeda dengan Glacia yang sangat tenang, karena sebelum ini ia sudah diberi simulasi oleh dokter kandungannya. Semua sudah dipersiapkan secara matang. Ia juga masih makan seperti biasa, meski hanya buah atau sayur karena Glacia memang sudah mengubah pola hidupnya. Ia cenderung menjadi vegetarian sejak sembuh dari kanker.
"Kamu yakin tidak perlu diperiksa, Naren? Tanganmu sampai tremor begitu." Yohanes mengomentari tangan Narendra yang bergetar saat memegang sendok.
Narendra sendiri membuang nafas lelah. Ia menyimpan kembali sendok di tangannya ke dalam kotak makan.
"Kenapa berhenti?" tanya Yohanes lagi.
"Papa bicara terus," jawab Narendra datar.
"Makan lagi saja." Yohanes membalas dengan santai. Fokusnya kembali pada diagram-diagram di layar tablet, tak menghiraukan Narendra yang kini bergeming dalam keheningan.
__ADS_1
"Naren ..." Panggilan halus Glacia membuat Narendra kembali menyuap makanannya. Glacia tersenyum melihat itu.
Imut sekali. Ternyata begini sosok Narendra yang gugup dan tegang. Rautnya bercampur takut serta khawatir, namun juga ada rasa tidak sabar dalam sorot matanya.
***
Tepat pukul 2 dini hari, Glacia dibawa ke ruang bersalin, karena pembukaan sudah mencapai pada batas yang ditentukan. Masih dengan wajah yang tegang, Narendra menemani Glacia, membisikkan kata-kata penyemangat di samping telinga wanita itu.
Hati Glacia berdesir melihat ketulusan Narendra. Terlebih lelaki itu yang paling menantikan kelahiran anak mereka.
Semua sudah siap. Dokter dan perawat sudah mengambil posisi di bawah kaki Glacia yang dilebarkan. Glacia diberi instruksi untuk mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan.
Hal itu dilakukan berkali-kali sampai dengan tenang dokter meminta Glacia untuk mengejan.
Tidak seperti yang dikhawatirkan oleh Narendra, Glacia ternyata melahirkan dengan sangat mudah. Wanita itu bahkan tidak bersuara saat matanya terpejam, mendorong kuat sesuatu dalam perutnya hingga suara tangis itu datang membawa kebahagiaan.
Hanya lima detik, bayi merah itu sudah keluar menyapa Narendra dan semua orang dengan suaranya yang melengking. Narendra sampai mematung dengan wajah terperangah senang, melihat gumpalan mungil itu bergerak-gerak di tangan dokter serta perawat yang mengurusnya.
"Puji Tuhan ... Anak yang cantik dan sehat, juga sempurna!"
Narendra tersenyum dengan mata berbinar haru. Sudut matanya basah tanpa ia sadari. Narendra berdiri, mengintip bayi mungil yang terpejam dengan mulut bergerak-gerak itu.
Glacia ikut tersenyum dengan wajah lelahnya. Si dokter lalu menawarkan pada Narendra untuk menggendong bayinya. Namun Narendra menolak dengan gestur tegang. Ia pasti takut karena ini pertama kali baginya.
"Tidak apa-apa. Sini, saya ajarkan Pak Narendra. Tangannya begini ... iya, betul. Hati-hati, jangan tegang. Nah! Bagus!" Si dokter berseru senang melihat Narendra yang kini menggendong bayinya sendiri.
Lelaki itu menoleh pada sang istri yang terkekeh. Glacia melempar senyum hangat, ia juga mengusap kepala bayi itu yang tertutup selimut, ketika Narendra sedikit merendahkan tubuhnya agar Glacia bisa ikut melihat anak mereka.
"Mirip kamu," celetuk Glacia.
Narendra meringis. "Padahal aku berharap dia secantik kamu."
__ADS_1
Glacia berdecak, masih disertai senyum. "Apa masalahnya? Dia juga cantik. Mirip kamu bukan berarti dia tampan seperti kamu," ujarnya geli.
"Tidak seputih kamu," gumam Narendra tak jelas. Ia cemberut seperti anak kecil, yang sontak membuat Glacia menggeleng tak percaya.
Benarkah dia Narendra, suaminya yang selalu tampak dewasa?
"Dia cantik. Lihatlah, hidungnya sudah pasti mancung seperti kamu. Alis dan bulu matanya lebat."
Narendra kemudian tersenyum. Ia mengecup putrinya sekilas, juga seringan bulu. "Iya, dia cantik. Putri kita sangat cantik."
Glacia ikut tersenyum melihat suaminya tersenyum mendekap anak mereka. Pun dengan dokter yang masih berada di antara keduanya. Ia terkekeh geli mengamati pasangan muda yang tengah berbahagia itu.
"Istri anda akan kami pindahkan ke ruangan sebelumnya. Bayinya tolong diberikan dulu pada perawat kami, ya? Nanti setelah benar-benar dibersihkan, kami akan membawanya pada kalian," ujar dokter yang merupakan wanita paruh baya itu.
Narendra menyerahkan putrinya, meski sebenarnya ia masih betah menggendong. Glacia pun mendapat perawatan lain sebelum akhirnya dipindahkan kembali ke ruang rawat.
Yohanes tak kalah antusias begitu melihat sang cucu. Cucu pertamanya yang ia dapatkan dari Narendra dan Glacia. Ia tak menyangka, pernikahan yang dua tahun lalu Glacia tentang, kini justru melahirkan sebuah kebahagiaan.
"Namanya Aileen. Aileen Martadinata," cetus Narendra, memberi nama pada anak mereka. "Cahaya dari keluarga Martadinata," lanjutnya lagi.
Yohanes dan Glacia menatap lelaki itu dengan kening berkerut dalam. "Kenapa tidak ikut margamu?"
Glacia yang bingung juga menanti penjelasan Narendra. Kenapa lelaki itu sama sekali tidak menyematkan namanya pada putri mereka?
Narendra justru tersenyum tenang. "Aku hanya ingin anak-anak kita menjadi penerus keluargamu. Aku ingin dia hidup dengan nama besar Martadinata."
Glacia terdiam, begitu pula Yohanes. Mereka sama-sama mengerti, Narendra pasti enggan menyematkan nama keluarganya karena lelaki itu merasa tak memiliki keluarga. Ia bahkan membenci dan memusuhi ayahnya.
Glacia menyentuh tangan Narendra dengan lembut. "Naren, meski tidak ada yang bisa kamu banggakan dari nama keluargamu, kamu tetap berhak menyematkan namamu pada anak kita. Dia putrimu, milikmu. Setidaknya dia membawa namamu selama hidup."
Yohanes membenarkan. Lalu Glacia menambahkan memberi usulan nama. "Bagaimana dengan Aileen Narendra? Kita tetap bisa menyematkan Martadinata di belakangnya kalau mau. Kamu setuju?"
__ADS_1
"Meski sebetulnya aku lebih suka Aileen Narendra saja. Itu menguatkan fakta bahwa dia adalah anakmu, hehe," lanjut Glacia.
Narendra terkekeh, ia mengusap kepala Glacia sambil memandang wanita itu teduh. "Terserah kamu."