Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
8. Akhir Menyesakkan


__ADS_3

Narendra bertanya pada beberapa pelayan di rumahnya ketika tak mendapati keberadaan Glacia di kamar. Ia sempat mencari ke sepenjuru rumah namun tetap tak ada.


Para pelayan nampak ragu memberi tahu, tapi pada akhirnya salah satu dari mereka berani buka suara. "Tadi Nyonya Muda pergi bersama supir, dengar-dengar ... beliau minta diantar ke ... ke ... ke mana, ya? Saya lupa nama perusahaannya apa." Pelayan itu nampak berpikir lama.


Narendra dengan sabar menunggu, meski keningnya sudah berkerut hingga alisnya hampir menyatu. Tiba-tiba saja pelayan itu berseru menunjuk televisi. "Itu! Itu dia! Perusahaan Tuan Gallen, Tuan!"


Narendra ikut menoleh pada televisi yang menyala menyiarkan berita kemarin.


"MCT?"


"Iya, betul, Tuan." Si pelayan mengangguk.


"S h i t!" Tanpa sadar Narendra menggumamkan umpatan.


Tak lama dari itu ia langsung bergegas keluar dan memasuki mobilnya yang beberapa saat lalu terparkir di halaman. Narendra sengaja pulang cepat lantaran dokter terapi Glacia menghubungi bahwa mereka akan melakukan terapi lagi nanti sore. Siapa yang akan menduga Glacia justru pergi dari rumah.


Julian, asisten pribadi Narendra bergegas mengekori pria itu. Pemuda tersebut dengan cekatan turut masuk ke kursi penumpang tepat saat mobil hendak melaju.


Hampir sekitar 45 menit Narendra berkendara, akhirnya ia pun tiba di depan gedung MCT. Ia bisa melihat Lexus miliknya terparkir di sana, hal yang membuatnya semakin yakin bahwa Glacia berada di perkantoran tersebut.


Bergegas Narendra mengayunkan kakinya begitu turun dari mobil. Saat ia melewati mobil yang sempat menarik perhatiannya tadi, tiba-tiba seseorang keluar dari pintu kemudi. Dia adalah supir yang mengantar Glacia.


Pria itu membungkuk segan dengan raut menahan takut mendapati kehadiran Narendra yang mengejutkan. Terlebih Narendra menatapnya tajam sembari berkata. "Urus surat pengunduran dirimu dan ambil gaji terakhir bulan ini pada Julian," cetusnya datar sebelum kemudian berlalu memasuki lobi perusahaan.


Sang supir mau tak mau mengangguk pasrah. Julian sempat menatap iba, namun ia segera berlalu mengikuti Narendra yang sudah lebih dulu masuk ke dalam.


***


Glacia tidak tahu kondisi hatinya sudah seremuk apa. Seharusnya, ia tidak nekat kemari dan memerparah luka menganga yang kini terasa amat perih. Mendapat pengabaian dari seseorang yang dulu perhatian merupakan sebuah pukulan bagi Glacia. Padahal, ia sengaja kemari untuk memastikan. Tapi tetap saja perasaannya melebur saat Gallen dengan terang-terangan membuang dirinya seperti sampah.


"Aku minta maaf untuk kondisi kamu yang sekarang, Glacy. Aku masih sangat mencintaimu, sungguh. Tapi, maaf sepertinya hubungan kita harus sampai di sini saja. Sejak awal hubungan kita sudah salah. Kamu adalah wanita bersuami, dan aku adalah pewaris yang dituntut memberikan figur sempurna dalam keluarga. Tolong kamu mengerti, bahwa kita tidak lagi bisa bersama."


Bullshit! Kalau dia tahu sejak awal hubungan mereka salah, dia pasti sudah meninggalkan Glacia sejak lama. Tapi nyatanya Gallen sama-sama menikmati kesalahan mereka, atau ... hanya Glacia yang merasakannya?


Meski begitu Glacia enggan menyuarakan pikirannya. Sudah jelas Gallen membuangnya karena kondisi kakinya yang sekarang cacat. Mata Glacia yang berkaca menatap Gallen yang saat ini sedang bersimpuh di depan kakinya.


Pria itu memandangnya lembut sembari memegang kedua tangan Glacia. Anehnya, Glacia baru menyadarinya sekarang, ekspresi teduh Gallen padanya nampak sekali dibuat-buat. Apa sebuta itu Glacia selama ini?


Gallen yang memperlakukannya begini, ia yang berbicara di tengah atensi para penghuni lobi, secara tidak langsung sedang mengkonfirmasi bahwa hubungan gelap mereka yang memalukan telah berakhir.


Gallen ingin menepis berita yang timbul karena kecelakaan itu. Memiliki hubungan dengan istri orang tentu suatu hal yang memalukan. Laka lantas kemarin sekaligus membuka aib mereka yang sempat bermain api di belakang Narendra. Meski sebenarnya mereka melakukannya secara terang-terangan, karena Narendra sendiri tahu secara terbuka.

__ADS_1


Dengan begini, orang akan berbicara dari mulut ke mulut dan perlahan membersihkan namanya. Lebih sempurna lagi kalau pernyataan putus Gallen barusan diliput oleh media, hingga seantero Nusantara tahu bahwa asmara terlarangnya dengan Glacia telah kandas.


"Aku butuh pendamping yang sempurna, dan kali ini kamu tidak termasuk kriteria keluargaku," lanjut Gallen tak tahu malu.


"Aku begini karenamu," balas Glacia tak terima.


Gallen menggeleng. "Waktu itu kita sama-sama mabuk, kamu tidak bisa hanya menyalahkanku untuk kecelakaan kemarin."


Kening Glacia berkerut dalam. Omong kosong apa lagi sekarang? Ia baru tahu ternyata Gallen hobi berkelit dan mencari pembenaran sendiri.


Diam-diam Edward Mou mengulas senyum tipis. Mungkin, dulu ia mendukung Gallen menjalin kasih dengan Glacia karena wanita itu masih sehat dan terlihat sempurna, tapi sayangnya sekarang dia sudah menjadi pesakitan tak berguna. Figurnya tak akan membawa pengaruh bagi perusahaan, dan Edward pun sudah memiliki pilihan sendiri untuk pendamping Gallen.


"Mabuk?" tanya Glacia tak percaya. "Sebelum itu kamu bahkan secara sadar memukul suamiku. Apa kamu lupa?"


"Itu hanya pengaruh minuman, dan aku melakukannya untuk membelamu, jangan lupakan itu," balas Gallen tak mau kalah.


Glacia semakin terperangah dengan permainan lidah pria itu. Ia menatap sekeliling di mana banyak pasang mata mengarah pada mereka. Ia malu, tapi sudah terlanjur melakukan kebodohan dengan mencari Gallen ke perusahaan ini.


Glacia melipat bibirnya berusaha meredam emosi, juga air mata yang mati-matian hendak menjebol pertahanan. Ia menelan ludah, lalu menatap Gallen dengan hati yang sudah tak karuan.


"Kenapa aku begitu bodoh karena baru menyadari bahwa kamu tak lebih dari seorang pecundang?" desisnya pelan, hingga hanya bisa didengar oleh Gallen seorang.


Mata Gallen sedikit membola. Ia seakan tak terima Glacia mengatainya sebagai pecundang. Saat ingin membalas, tiba-tiba Edward meraih bahunya untuk berdiri.


"Kalian mengusirku setelah membuatku seperti ini?!" Glacia berteriak ketika Edward dan juga Gallen sudah berbalik hendak meninggalkannya. Dua lelaki itu kontan berhenti dan kembali menatap Glacia yang kini duduk dengan nafas terengah. Mata wanita itu tampak merah berkaca, sorotnya menyiratkan kesakitan juga kekecewaan yang amat besar.


"Kalau saja Gallen bisa menyetir dengan hati-hati, kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi!" seru Glacia keras.


Gallen hampir mendekati Glacia kalau saja Edward tak menahan.


"Sudah kubilang waktu itu kita sama-sama mabuk, kan?!"


Glacia mendengus sambil tersenyum sinis. "Kamu mau ini diketahui publik, kan? Kamu memutuskan hubungan kita di depan semua orang, jadi sekalian saja mereka juga harus tahu yang sebenarnya."


"Apa-apaan kamu, Glacia!" desis Gallen marah.


"Kenapa? Kamu takut imejmu semakin dipandang buruk?"


"Glacia, kita akan lanjutkan ini secara kekeluargaan, tapi tidak sekarang," geram Gallen dengan suara rendah. "Jelas-jelas kecelakaan itu terjadi karena kita mabuk, kamu jangan mencari sensasi hanya karena sakit hati."


Glacia tersenyum tak percaya. Sosok Gallen yang dulu sangat lembut di matanya, kini dengan tega melempar kesalahan dan menghindar dari kenyataan.

__ADS_1


"Aku tahu keputusanku menyakitimu. Aku minta maaf. Tapi tidak seharusnya kamu berbelit mempermasalahkan hal ini di muka umum."


"Kamu yang memulai."


"Bukan aku, tapi kamu yang tiba-tiba datang kemari dan mencariku."


"Bisa-bisanya kamu, Gallen." Glacia terisak kecil. "Waktu bangun dari koma, satu-satunya orang yang kupikirkan adalah kamu. Orang yang ku khawatirkan karena tak kunjung ada kabar selama seminggu. Saat aku bangun, apa kamu juga bangun? Kenapa tidak datang menjengukku? Apa karena tahu aku cacat, kamu sengaja berusaha menghindar, begitu?"


"Glacia!"


"Apa?! Aku benar, kan?!"


"Sialan, aku sudah berusaha bersikap baik sejak tadi," desis Gallen dengan rahang mengatup rapat. Ia hendak maju mendekati Glacia, namun sebuah lengan terulur menahannya.


Suasana berubah hening ketika semua mata mendapati Narendra di sana. Pria tanpa ekspresi itu menatap Gallen dengan wajah datar. Tubuhnya berdiri menjulang menghalangi Glacia yang kini mendongak, masih dengan wajah penuh air mata.


"Naren?" bisik Glacia tak percaya.


Narendra bergeming, ia masih beradu pandang dengan Gallen sampai pria itu menyentak sendiri tangannya dan mundur beberapa langkah. Namun begitu tatapan tajam Gallen tak lepas dari Narendra.


Narendra sendiri mulai mengalihkan atensinya pada Glacia. Tanpa kata ia membungkuk, mengangkat tubuh wanita itu dari kursi roda dan menggendongnya ala bridal style.


Glacia menunduk meremas kemeja Narendra, menyembunyikan air mata yang perlahan kembali menyeruak. Sementara Narendra, ia menatap Gallen dan ayahnya bergantian hingga menciptakan keheningan yang lumayan lama.


Bisik-bisik mulai terdengar di sekitar mereka. Julian berdiri tak jauh di belakang sang tuan yang kini menjadi pusat perhatian. Terang saja, kedatangan Narendra berhasil membuat heboh semua karyawan MCT, seperti yang mereka tahu bahwa Narendra merupakan direktur perusahaan saingan mereka.


Namun kali ini tujuannya bukan untuk pekerjaan, melainkan menjemput sang istri yang baru-baru ini diketahui memiliki hubungan dengan Gallen Mou, direktur baru MCT Corporation.


"Jika saja dia mau, aku bisa menuntut kasus ini lebih jauh ke ranah hukum," ucap Narendra datar, dengan mata tak lepas menghunus Gallen dalam pandangan kelam.


Gallen mengetatkan rahang hingga giginya gemeretak. Sementara itu Narendra mulai berbalik meninggalkan lobi sambil berpesan pada Julian untuk membawa kursi roda Glacia. Ia menggendong Glacia dan berjalan lurus meninggalkan semua orang.


Tanpa membantah, Julian mengambil kursi roda elektrik milik Glacia dan bergegas mengikuti Narendra yang sudah menghilang dari pandangan.


"Sialan, Gallen, kamu hanya bisa membuat masalah," desis Edward yang diam-diam menahan kesal sedari tadi.


Gallen sendiri masih berusaha menetralkan amarahnya dengan mata memandang tajam pintu lobi, di mana Narendra dan asistennya membawa Glacia pergi.


Di luar, Narendra menempatkan Glacia di kursi penumpang samping kemudi. Ia tak bicara apa pun sampai mobil melaju meninggalkan kawasan perusahaan.


Sementara Julian, ia pulang menggunakan Lexus yang sebelumnya dipakai Glacia bersama supir yang sebentar lagi kehilangan pekerjaan.

__ADS_1


Julian kadang tak bisa menebak, meski Narendra terkesan pendiam dan lemah, sekalinya membuat ketegasan siapa pun tak bisa membantahnya. Seperti sekarang, ia memecat supir hanya karena satu kesalahan, karena menurut Narendra kepercayaan adalah segalanya.


__ADS_2