Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
48. Penyesalan Narendra


__ADS_3

"Itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan membiarkannya menyentuh Glacia sedikit pun," tukas Narendra mengakhiri pembicaraan mereka.


Ia segera meninggalkan Lizy yang diam-diam tersenyum di belakang sana.


"Kau yakin, Naren? Ayahmu itu pecundang yang menginginkan uang, dan di matanya Glacia adalah sesuatu yang besar yang bisa menguntungkannya," bisik Lizy sambil tersenyum, menatap rumit punggung Narendra yang menjauh.


Lizy tidak sabar menunggu pria itu bebas.


***


Narendra berkeliling ruangan mencari Glacia. Begitu sampai di tempat terakhir ia meninggalkan Glacia, Narendra panik karena tak mendapati wanita itu di mana pun.


Saat tengah berjalan ke sana kemari, telinganya menangkap sesuatu yang membuatnya seketika berhenti di tempat.


"Kasihan sekali, ya, Glacia sekarang. Dia lumpuh dan ditinggalkan banyak orang. Mereka bahkan berani merundungnya terang-terangan."


"Benar. Tapi menurutku itu karma atas sikapnya di masa lalu. Kau tahu dia sesombong apa dulu. Dia juga selingkuh dari suaminya. Dan sekarang, selingkuhannya malah ikut meninggalkannya. Hahaha ..."


"Suaminya juga tidak menolong, tadi." Mereka semua tertawa.


Sesaat Narendra mematung, sesuatu seolah mencelos dalam hatinya. Ia mendengar beberapa orang bergosip mengenai sang istri yang sekarang entah berada di mana.


Narendra mendekat pada sekumpulan wanita itu, dan seketika suasana menjadi hening diliputi canggung. Tawa yang tadi menguar berganti gugup saat melihat Narendra datang.


"Kalian bicara apa? Di mana Glacia?" tanya Narendra menuntut. Sorotnya tajam diliputi khawatir.


Salah seorang dari mereka mengendik tak acuh. "Mana kutahu. Mungkin dia sudah pulang. Dia tidak mungkin bertahan di sini setelah dipermalukan," ucapnya sedikit ketus. "Lagipula kau kan suaminya. Harusnya lebih tahu di mana dia sekarang."


"Hey, kau lupa dia menghilang saat istrinya dibully tadi? Hahaha ..."


"Ada apa ini?" Suara Lizy menyeruak membuat mereka bungkam.


Para wanita itu berdehem saling membuang pandang. Lizy menoleh pada Narendra yang tampak gelisah.


"Kau mencari Glacy?" Raut Lizy seakan tak tahu apa-apa. Tapi matanya sempat melirik pada Claire di ujung ruangan lain.


Narendra tak menjawab, ia justru bertanya sekali lagi pada para wanita itu. "Sekali lagi aku bertanya, apa yang terjadi pada istriku?"


"Hey, aku baru ingat kalian tadi menghilang bersama. Lizy, apa kau pergi bersama Narendra tadi?" celetuk salah satu dari mereka.


Lizy mengusap lengan dan tersenyum gugup. "Itu, kami hanya bi—"


"Aku bertanya apa yang terjadi dan di mana istriku?!" Seruan Narendra membuat semuanya bungkam.

__ADS_1


Tiba-tiba Julian datang menarik Narendra, berusaha sedikit menenangkan tuannya yang mulai kalut. Nafas Narendra terengah, ia tak menghiraukan ketika semua mata memandang ke arahnya.


Julian berbisik di samping telinga Narendra. "Tuan, Anda tenang dulu. Nyonya baik-baik saja, dan ia sudah pulang beberapa menit yang lalu," jelasnya.


Narendra menoleh cepat pada Julian. "Pulang? Kau masih di sini, lalu dia pulang dengan siapa?"


Julian menelan ludah. "Tadi, Nyonya sempat mengalami kejadian tak mengenakan. Tuan Rafael menolongnya, lalu mengantar—"


"Rafael?" desis Narendra tajam.


Julian mengangguk kaku. Ia merasa bulu kuduknya berdiri karena menyadari suasana hati Narendra yang berubah.


Narendra lalu bertanya tajam. "Kenapa kau tidak memberitahuku?"


"T-Tuan, tadi saya sudah berusaha mencari, tapi Tuan sulit ditemukan," cicit Julian berusaha tenang.


"Dan kau membiarkannya pergi begitu saja dengan Rafael?"


"Saya tidak punya pilihan. Nyonya tampak lelah dan kurang sehat."


"Kau bilang dia baik-baik saja?" Mata Narendra terlihat marah.


Narendra adalah pria paling tenang yang pernah Julian temui, tapi sekalinya lelaki itu marah, satu perusahaan bahkan tak berani menyinggungnya.


"Sialan," gumam Narendra yang masih bisa Julian dengar.


"Naren, tunggu!"


Julian mencegah wanita itu. "Maaf, Nona. Tolong jangan membuat keadaan semakin rumit."


Tatapan Julian seakan menyiratkan sesuatu pada Lizy. Pria itu terlihat selalu curiga jika bertemu mantan pacar Narendra. Setelah berkata demikian, Julian pun keluar menyusul Narendra yang sudah hilang di parkiran.


Seketika Julian memaki dan secara refleks menendang udara, saat tahu bahwa Narendra membawa mobil mereka dan meninggalkan Julian begitu saja.


***


Sesampainya di rumah, Narendra langsung keluar dari mobilnya dan berlari kecil memasuki lobi.


"Di mana Glacia?" tanyanya pada salah satu pelayan.


Si pelayan pun langsung menjawab. "Nyonya di kamar, Tuan. Tapi ..."


Belum sempat kalimatnya selesai, Narendra sudah berlari dan menghilang menaiki tangga, bukan lift seperti biasa.

__ADS_1


Narendra sampai di depan kamar Glacia, ia diam sejenak sebelum kemudian mengetuk pintu pelan.


Tok tok tok.


"Glacy?" panggilnya, tak mendapat jawaban.


Narendra mengetuk sekali lagi dan tetap sama tak ada jawaban. "Glacia?"


Hening. Lorong kamar begitu sepi, bahkan Narendra tak mendengar satupun pergerakan dari dalam kamar Glacia.


"Glacia?" Narendra kembali memanggil, namun seperti sebelumnya tak ada respon.


Rasa sesal melingkupi hati Narendra. Andai tadi ia menolak ajakan Lizy untuk bicara, mungkin kejadiannya tak akan seperti ini.


Ia pun turun untuk mencari tahu kejadian yang sebenarnya, tapi Narendra ingat Julian ia tinggal dan sampai sekarang belum sampai.


Narendra bertanya pada pelayan di depan. "Jam berapa Nyonya pulang?"


Salah satu dari mereka menjawab. "Sekitar setengah jam lalu, Tuan."


Setengah jam. Rupanya Narendra sudah meninggalkan Glacia selama itu. Ia terdiam lama ketika mereka kembali menjelaskan.


"Tadi Nyonya diantar seorang pria."


Weni yang melihat Narendra dari kejauhan lantas mendekat. "Itu Dokter Rafael, Tuan. Mohon jangan salah faham. Nyonya pulang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Beberapa bagian tubuhnya memar, saya baru saja selesai mengompresnya."


"Glacia di kamar?" tanya Narendra cepat.


Weni mengangguk. "Tapi, beliau menyuruh saya untuk tidak membiarkan siapa pun masuk, termasuk Tuan," cicitnya di akhir kalimat.


Narendra paham. Mau tak mau ia harus bersabar karena secara tak langsung ini juga kesalahannya. Narendra meninggalkan Glacia, tanpa memikirkan resiko yang akan menimpa wanita itu ketika sendiri di tengah keramaian.


Narendra sangat menyesal, dan lebih menyesal lagi karena setelah ini Glacia mungkin akan kembali memandangnya berbeda. Padahal, sebelum ini Narendra cukup berhasil meluluhkan Glacia sedikit demi sedikit.


Narendra kembali ke atas dan berdiri di depan pintu kamar sang istri. Ia membuang nafas, menelan ludah sambil menyentuh pintu itu. Narendra tidak mengetuk, ia hanya ingin tahu kondisi Glacia secara langsung, tapi tak kuasa memaksa masuk.


"Glacy," panggil Narendra. "Aku minta maaf. Maaf karena meninggalkanmu tadi."


"Aku pasti akan membalas mereka semua. Kau tenang saja. Tolong maafkan aku."


Tak ada suara. Narendra penasaran apakah Glacia sudah tidur atau belum. Ia benar-benar khawatir, terlebih akhir-akhir ini kesehatan Glacia kerap memburuk.


Di samping Narendra yang khawatir, di dalam kamar, Glacia tengah tertunduk dalam sambil menangis tanpa suara. Ia meremas gaun tidur yang sudah diganti oleh Weni. Bahunya meluruh rapuh dalam getar kesedihan yang tak bisa dijabarkan.

__ADS_1


Glacia sakit, ia sakit hati karena Narendra lebih memilih bertemu Lizy ketimbang menolongnya di tengah rundungan orang.


Dari sini Glacia paham, bahwa sekeras apa pun mereka berusaha, ia dan Narendra tak akan bisa bersama seutuhnya.


__ADS_2