Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
68. Mulai Membuka Mata


__ADS_3

Weni menyeret kembarannya ke taman, ia memperhatikan tingkah Wina yang menurutnya sedikit aneh hari ini. Bukan, sejak kemarin gadis itu juga nampak sangat pendiam.


"Kamu dari mana saja seharian ini? Apa kamu tidak menyadari suasana mansion masih genting? Nyonya kita baru saja mengalami penculikan, apa kamu tidak takut mengalami hal yang sama? Bagaimana kalau terjadi apa-apa padamu saat berkeliaran di luar?" Weni bertanya dengan raut khawatir.


Wina melipat bibir, balas menatap saudarinya. Pendar lampu taman memberi pencahayaan di sekitar mereka. Tapi saat malam, suasana taman tetaplah sepi.


"Aku baru saja menjenguk Ayah," jawab Wina.


"Ayah? Ayah kenapa?" Raut khawatir kini membayangi wajah Weni.


Wina terdiam sesaat, ia lalu membuang nafas sembari menggeleng dan tersenyum. "Dia baik-baik saja sekarang. Oh ya, bagaimana keadaan Nyonya? Apa kamu sudah melihat ke rumah sakit?"


Pertanyaan Wina sekaligus mengalihkan pembicaraan. Weni yang tidak menyadari hal itu lantas menjawab saja. "Syukurlah kalau Ayah tidak kenapa-napa. Keadaan Nyonya masih sama, beliau masih kritis, dan kita pelayan di sini belum ada yang ke rumah sakit. Hanya bisa menunggu kabar karena Tuan Yohanes melarang kita ke sana."


Wina diam berpikir. "Tapi, Weni, bukankah kita berdua pelayan pribadi Nyonya? Tuan pasti memaklumi jika kita ingin menjenguk ke sana. Aku juga khawatir dan ingin melihat langsung kondisi Nyonya."


Weni mengerjap. "Benar, mereka pasti paham."


Wina tersenyum, ia mengira Weni setuju dengan ucapannya.


"Tapi kita tetap harus menunggu perintah kalau mau ke sana. Lebih baik begitu," ujar Weni melanjutkan.


Senyum Wina berubah canggung. Ia pun mengangguk kaku sembari meringis pelan. "Iya, baiklah."


Namun Weni tidak menyadari raut Wina yang berpikir keras. Ia menatap kembarannya dengan pandangan rumit. Sekali lagi ia meyakinkan hatinya, bahwa ini demi ayah mereka yang membutuhkan biaya pengobatan tinggi.


Malam semakin larut. Suasana mansion Martadinata berangsur sepi lantaran para pekerja mulai kembali ke peraduan mereka untuk beristirahat. Bangunan utama pun kosong karena tak ada tuan rumah.


Sejak Glacia di rumah sakit, lelaki itu jarang sekali terlihat di mansion. Hanya ada Fin, asistennya yang sesekali pulang membawakan pakaian dan menyimpan pakaian kotor. Selebihnya kediaman itu sepi ditinggal sang pemilik.

__ADS_1


Sunyi menyelimuti hingga gemerisik angin terdengar jelas. Hembusan yang cukup membuat tubuh menggigil itu tak lantas menghalangi niat seseorang untuk keluar kamar.


Wina membuka pintu kamarnya pelan, ia memastikan Weni terlelap dengan damai sebelum menutup pintu itu tanpa suara. Mata Wina mengedar mengamati sekitar. Kamar-kamar para pelayan menutup dengan rapat, kemungkinan besar mereka semua sudah tidur.


Kenyataan itu membuat Wina merasa lega. Ia pun mulai melangkah meninggalkan kediaman khusus para pelayan. Sambil merapatkan jaket, Wina menjinjing alas kakinya hingga ia tiba di luar, lalu memakaikannya sebelum kemudian melenggang pergi melewati gerbang belakang.


***


Yohanes mengulurkan cup berisi kopi pada Narendra. Ia membuang nafas karena tahu Narendra berada di ruang tunggu sejak pagi. Perawat bilang lelaki itu jarang sekali beranjak dari sana. Hal itu membuat Yohanes mau tak mau harus bicara.


"Naren, pulanglah meski sebentar. Papa sudah menugaskan penjagaan 24 jam untuk kamar Glacia. Kamu tidak perlu berada di sini seharian. Tidak, kamu sudah lebih dari 3 hari berada di sini," ralat Yohanes.


Narendra menerima kopi tersebut dari sang mertua. Namun mulutnya bungkam tak bicara apa pun. Dengan pelan ia menyeruput cairan panas itu, tak menghiraukan Yohanes yang masih berdiri memandangnya. Lelaki baya itu menyerah, ia pun duduk melesakkan diri di samping Narendra.


Sikap Narendra yang seolah tak mempercayai lagi penjagaan Yohanes bisa dimaklumi. Terakhir kali mertuanya bilang bisa melindungi Glacia dengan baik, langsung terpatahkan begitu insiden penculikan itu terjadi. Krisna tetap bisa mengambil Glacia dengan mudah.


"Ayahmu sudah dipenjara lagi, kamu tidak perlu sekhawatir itu," cetus Yohanes.


Belum lagi Lizy yang masih berkeliaran entah di mana. Di balik sosoknya yang anggun dan selalu bertutur lembut, Lizy adalah wanita nekat yang bisa melakukan apa pun untuk mencapai keinginannya. Terbukti ia bisa merencanakan pelenyapan Glacia sedemikian rupa. Narendra tahu, karena bagaimana pun ia pernah memahami Lizy sewaktu mereka berhubungan.


"Pulanglah, malam ini biar Papa yang menemani Glacia," titah Yohanes.


Namun Narendra tetap tak bergeming. Sikapnya memang terkesan tidak sopan, tapi Yohanes mengerti lelaki itu sedang gelisah.


"Kalau ada sesuatu, Papa akan beri tahu kamu."


Narendra terdengar membuang nafas. Ia menunduk dan menyeruput kopinya lagi dalam sekali teguk hingga tandas. Yohanes mengernyit karena sang menantu melakukannya seakan minum wiski. Padahal kopi itu masih panas, miliknya saja masih utuh belum diminum.


Narendra menyeka tepian mulutnya menggunakan punggung tangan, ia melempar cup kosong itu tepat mengenai tong sampah. Yohanes masih memperhatikan tingkahnya, kadang ia merasa asing dengan Narendra yang sesekali bersikap seperti berandal. Mengingatkan Yohanes pada keponakannya yang sudah lama sekali tak ia temui. Omong-omong, apa kabar putra kakak sepupunya itu?

__ADS_1


Yohanes berdehem kecil, ia mulai menyeruput kopinya dengan santai, tapi kemudian mendesis saat merasakan bibirnya terbakar. Yohanes sampai lupa meniupnya terlebih dulu. Pasti gara-gara Narendra menenggak habis kopi miliknya tanpa kepanasan. Aneh sekali.


"Asistenmu mana? Biasanya dia selalu mengekor kemana pun kamu pergi?"


"Papa juga tidak bersama Fin."


"Fin di luar," ujar Yohanes memberi tahu.


Narendra hanya mengendikkan bahu. "Julian sedang ada pekerjaan penting."


"Kalau begitu kamu pulanglah. Tidur yang cukup, matamu mulai lelah." Yohanes kembali menyuruh Narendra pulang.


Bukannya apa, ia khawatir suami putrinya itu malah drop karena tak beristirahat dengan benar. Namun lagi-lagi Narendra menolak.


"Saya baik-baik saja," cetusnya datar.


Yohanes membuang nafas menyerah. "Ya sudah, terserah saja."


Baru Yohanes ingin bersantai, tiba-tiba sejumlah dokter dan perawat berlarian ke arah ruangan Glacia. Sontak melihat itu Yohanes dan Narendra seketika bangkit. Raut mereka tampak tegang. Narendra yang pertama kali berlari ke sana, disusul Yohanes yang juga mendadak tak karuan dan meninggalkan kopinya begitu saja.


Ada apa dengan Glacia? Kenapa para dokter itu berlarian? Yohanes membatin khawatir.


Sementara itu, Narendra yang melupakan peraturan tanpa ragu masuk ke ruang ICU. Nafasnya terengah melihat dokter yang mengerumuni ranjang pasien Glacia. Ia mendekat dengan wajah cemas sebelum kemudian dibuat mematung dengan apa yang ia lihat.


"Glacy?" bisiknya tertahan, mendapati mata Glacia yang mengerjap lamat mengambil kesadaran.


Yohanes yang mengetahui itu menganga sambil tersenyum haru. "Glacia?!" Ia berseru dan refleks mendekati sang putri yang masih diperiksa dokter. Mereka menahan Yohanes yang hendak mendekat hingga pria itu mau tak mau menepi terlebih dulu.


Ia sudah senang karena akhirnya Glacia membuka mata. Setidaknya dokter tidak mengusirnya dan juga Narendra dari sana.

__ADS_1


Mereka semua tidak sadar, seseorang berdiri mengamati di balik pintu. Dia adalah Wina yang kini beranjak dan berjalan pergi dengan langkah cepat. Kedua tangannya saling meremas. Ia harus segera memberitahukan kabar ini pada seseorang.


__ADS_2