
Narendra menghentikan langkahnya sejenak ketika matanya menangkap penampakan belakang dari seorang wanita yang tengah duduk bersila di atas rumput.
Ia tersenyum sesaat, sebelum melanjutkan lagi langkahnya untuk mendekat. Mantel berwarna hijau tua miliknya berkibar begitu angin berhembus lumayan kencang. Kedua tangannya menjinjing beberapa kantong berisi makanan.
"Kamu terlambat," ucap Glacia, begitu Narendra tiba di dekatnya, dan memeluk bahunya dari belakang.
Lelaki itu membenamkan wajah di ceruk leher Glacia, menghirup aroma yang beberapa hari ini sangat ia rindukan.
"Hanya satu menit. Maaf. Tadi aku mampir beli sarapan buat kamu." Narendra melepas dekapannya, lantas duduk bersila di samping Glacia. Ia menyimpan kantong kertas berisi makanan serta cup minuman di depan mereka.
Glacia mengambil salah satunya, lalu mengeluarkan isinya yang ternyata beberapa buah croissant, pasta, dan makanan lain entah apa, tapi Glacia pernah melihat makanan itu dalam daftar menu di sebuah restoran. Mungkin itu makanan khas Islandia.
"Kamu dapat croissant dari mana?" tanya Glacia.
Narendra tersenyum. "Kamu tenang saja, itu gula rendah kalori. Aku memesannya langsung dari kenalanku."
Mata Narendra turun ke bawah, lebih tepatnya ia menatap perut Glacia yang membuncit tertutup mantel.
Tanpa diminta tangan Narendra sudah terulur ke sana, menyingkap mantel Glacia, dan mengusap perut wanita itu perlahan dan penuh kasih sayang. Sorot matanya selalu penuh haru.
Narendra benar-benar masih merasa bermimpi. Rasanya baru kemarin Glacia menolak cintanya, tapi kini wanita itu bahkan sudah mengandung buah hati mereka.
Narendra merunduk menciumi perut sang istri bertubi-tubi. Hal itu tak lepas dari perhatian Glacia yang sedang makan croissant. Ia membiarkan suaminya melepas rindu dengan anak mereka. Biasanya, tak ada satu hari pun Narendra lewatkan untuk mengelus dan bicara dengan perut Glacia.
"Papa kangen, Nak. Maaf, Papa agak terlambat temani kamu dan Mama liburan. Satu minggu ini, waktu Papa sepenuhnya untuk kalian," bisik Narendra. Ia sedikit mendongak ke arah Glacia, lalu melempar senyum teduh penuh cinta. "Kamu jangan merajuk lagi, ya? Setelah ini, kamu boleh mengunjungi tempat manapun yang kamu mau, di sini."
Glacia mengunyah dan menelan croissant di mulutnya. "Kamu tidak perlu ambil cuti sampai seminggu. Empat hari saja cukup, kok. Aku hanya ingin merasakan suasana tenang sebentar."
Narendra menegakkan punggungnya, satu tangannya bertumpu di atas rumput, sementara satunya lagi memeluk perut Glacia, sambil sesekali mengelus anak mereka.
__ADS_1
Narendra menggeleng. "Aku sengaja mengambil waktu lebih lama, supaya kamu bisa lebih santai, dan kita tidak terburu-buru pulang. Aku tidak mau kamu kelelahan hanya karena mengejar waktu liburan kita yang sedikit."
Membuang nafas, Glacia tersenyum memegang tangan Narendra di perutnya. Ia balas menatap lelaki itu tak kalah damai. "Terima kasih, karena kamu selalu menjadi suami yang pengertian, calon papa yang siaga. Maaf, kalau selama ini aku belum bisa menjadi istri yang baik buat kamu. Maaf juga, karena dulu aku banyak salah padamu. Kamu selalu sabar menghadapiku, meski aku berkali-kali menyakitimu, merendahkanmu, mengabaikanmu. Aku benar-benar minta maaf untuk semua kesalahanku di masa lalu, Narendra."
Senyum Glacia terlihat sendu, pun Narendra langsung menyentuh sisi wajah wanita itu. Ia menyampirkan rambut sebahu Glacia ke belakang telinga.
"Tanpa kamu meminta maaf pun, aku selalu memaafkan kamu, Glacia. Aku hanyalah pria bodoh yang takut kehilanganmu. Aku egois karena bersikeras memilikimu, meski tahu kamu tersiksa terikat denganku. Kita sama-sama punya kesalahan, baik itu kamu maupun aku. Jadi berhenti meminta maaf, karena itu hanya akan membuat kita mengungkit semua kisah di buku lama," balas Narendra.
Glacia tersenyum haru, ia menghambur memeluk Narendra, membenamkan kepalanya di tempat ternyaman, yaitu dada bidang sang suami. Bibirnya mengukir senyum bahagia, selaras dengan Narendra yang balas mendekap Glacia posesif.
Narendra menciumi rambut Glacia, mengusapnya halus hingga aroma lembut menguar membelai hidungnya.
"Sejak awal aku telah memilihmu, Glacy. Dan aku selalu yakin, bahwa pilihanku tidak pernah salah," ucap Narendra. "Mungkin kamu bukan wanita baik, tapi kamu adalah yang terbaik bagiku. Kamu adalah alasan di mana hatiku sering bergemuruh, walau berkali-kali dibuat sesak. Mungkin ini yang dinamakan cinta tidak butuh alasan. Cinta yang tulus adalah, saat kamu mencintai seseorang, tapi bingung menjelaskan, kamu mencintainya karena apa."
"Itu yang aku rasakan. Aku juga tidak tahu kenapa bisa sangat menginginkanmu," lanjut Narendra. Ia tersenyum, lalu mengurai pelukan secara perlahan.
Glacia membalasnya tak kalah lembut. Keduanya berciuman penuh perasaan, tepat di hadapan air terjun yang bergemuruh di kejauhan sana.
Benar, mereka saat ini tengah berada di kawasan air terjun Skógafoss. Air terjun yang terletak di selatan Islandia. Sangat indah, dengan suasana hijau di sekitarnya, juga udara sejuk di musim semi yang menyenangkan.
Narendra melepas pagutan bibir mereka. Ia sedikit menjauh, menatap air terjun tersebut dengan pandangan takjub.
"Kenapa kamu memilih tempat ini untuk liburan kita? Lebih tepatnya, kenapa kamu sangat ingin kemari?" Narendra menoleh pada Glacia yang juga menatap air terjun di depan mereka.
Glacia tersenyum. Masih dengan memandang ke depan, ia pun menjawab dengan tenang.
"Karena air terjun ini berasal dari dua sumber glasier." Ia menoleh pada Narendra. "Gletser, bongkahan es raksasa yang terbentuk selama ratusan atau ribuan tahun. Gletser, glasier, glacia, Papa bilang namaku diambil dari sana."
Mata Glacia menyipit saat tersenyum. Sangat cantik, mengalahkan cantiknya alam di sekitar mereka. Narendra sampai terpaku melihatnya. Lelaki itu berkedip lamat meneliti wajah istrinya.
__ADS_1
"Rupanya begitu? Aku sudah menduganya sejak dulu," ucap Narendra, lembut. "Sikapmu padaku memang sedingin es, dulu," tambahnya lagi. Ia merangkul Glacia hingga wanita itu kini bersandar di pelukannya. Mereka sama-sama menatap pemandangan indah air terjun yang bergemuruh di sana.
"Tapi sekarang kamu merasa hangat, kan?" tanya Glacia.
Narendra tersenyum disertai kekehan kecil. "Lebih dari yang kuduga." Ia mengeratkan pelukan dan mendekap Glacia erat-erat. "Kamu lebih seperti matahari pagi yang menghangatkan."
"Aku bahagia karena bisa mengenalmu, Sunshine."
Glacia tersenyum melingkarkan lengannya di seputaran pinggang Narendra. "Aku lebih bahagia karena kamu suamiku," balas Glacia lembut.
Narendra turut tersenyum. Rona hangat sama-sama meliputi wajah keduanya. Dua orang yang dulu mustahil bersatu, kini justru berdampingan saling melengkapi. Memang hanya Tuhan yang bisa membolak-balikkan hati.
Kisah ini menceritakan sebuah penantian, kesabaran Narendra sebagai seorang suami yang setia, meski istrinya sempat tidak sempurna.
Narendra dengan rasa cintanya mampu bertahan di tengah pernikahan yang hampir di ujung jurang, hingga kesadaran Glacia berhasil menariknya kembali dari kehancuran.
Mereka sama-sama memperkuat kembali pondasi yang sejak awal memang rapuh. Memperbaiki ikatan yang sejatinya sangat kendur. Tidak ada yang tidak mungkin, juga tidak ada usaha yang mengkhianati hasil, jika Tuhan tidak berkehendak lain.
"Narendra, terima kasih karena kamu sudah bertahan. Berkatmu aku mengerti arti dari sebuah hubungan. Bagiku kamu bukan hanya pasangan, tapi juga teman yang selalu mengerti dan memahami perasaanku."
"Aku sadar, semua yang terjadi padaku adalah sebuah pembelajaran dari Tuhan, agar aku bisa melihat betapa sempurnanya kamu sebagai suamiku. Aku bodoh karena sibuk mencari kebahagiaan lain, tanpa tahu kebahagiaanku yang lebih besar ada pada kamu, suamiku sendiri."
Glacia mendongak. Bibirnya mematri senyum yang nampak sejuk dipandang. Narendra turut menunduk menatap sang istri, ia balas tersenyum tak kalah teduh.
Kembali Narendra mengecup bibir Glacia pelan, lalu menyatukan hidung mereka dalam kehangatan. "Sama-sama, Sayang. Terima kasih juga karena sudah mau menerimaku yang banyak kekurangan."
...—TAMAT—...
__ADS_1