
Suara henyakan keras terdengar ketika Glacia terlonjak dari tidurnya. Wanita itu membuka matanya membelalak dengan nafas terengah. Rautnya terlihat ketakutan ketika bergumam memanggil seseorang.
"Naren ..."
Suara lirihan itu berhasil membuat Narendra mengerjap. Ia yang ketiduran di kursi dengan posisi bersandar dan tangan bersidekap, kontan menegakkan tubuh melihat Glacia.
Lelaki itu bangkit menyalakan saklar di samping ranjang, hingga kini ruangan tersebut terang benderang. Narendra mendekat pada Glacia yang masih terlihat panik. "Syuutt ... Hey?" bisiknya, mengalihkan atensi Glacia yang semula tidak fokus.
"Naren!" Wanita itu langsung berseru kecil dengan suara lemah. Ia terisak dengan tubuh bergetar, hingga Narendra secara refleks membungkuk memeluknya.
Glacia pun balas merangkul leher Narendra dan menangis di sela bahu lelaki itu. Pun Narendra mengangkat tangannya, memberi usapan pada lengan serta rambut Glacia, berusaha menyalurkan ketenangan yang perlahan mampu membuat Glacia berangsur rileks.
Tubuh yang semula tegang kini melemas dengan sendirinya. Tapi Glacia tak lantas melepas pelukannya pada Narendra. Wanita itu masih betah menenggelamkan wajah di ceruk leher Narendra. Suara isakan masih terdengar dari mulutnya yang sesekali bergumam lirih.
"Naren, aku takut ...." isak Glacia.
Narendra semakin memeluknya erat, meski begitu ia tetap hati-hati karena tubuh Glacia terasa rapuh. "Syuutt ... kamu tidak perlu takut lagi. Sekarang ada aku. Kamu aman di sini, Glacy."
Tangis Glacia tak kunjung berhenti. Mungkin ia trauma dan masih terbayang penculikan serta kecelakaan kemarin. Belum lagi, ini kali kedua Glacia mengalami insiden lalu lintas. Narendra paham wanita itu pasti ketakutan.
Dengan pelan Narendra menidurkan kembali kepala Glacia di atas bantal, ia membenarkan selang oksigen yang sempat terlepas dari hidung wanita itu.
Ia lalu menumpukan satu tangannya di sisi bantal, sementara satu tangan lainnya terangkat membelai pipi Glacia yang basah. "Jangan takut. Kamu tidak sendirian lagi. Aku akan menjagamu mulai sekarang."
"Mereka menyakitiku," bisik Glacia parau.
"Aku akan membalas mereka lebih sakit lagi," balas Narendra turut berbisik.
"Mereka membuatku kelaparan."
"Dan aku akan membuat mulut mereka kering hingga tak bisa merasakan makanan." Narendra menatap Glacia teduh. Telunjuknya terulur menyeka sudut mata Glacia. "Jangan menangis lagi. Matamu akan sakit nanti."
Meski begitu Glacia tetap tak bisa sepenuhnya berhenti. Mulutnya terus mengeluarkan isakan hingga sesekali tercekat. Narendra kembali memeluk wanita itu, memberi usapan halus di tubuhnya guna menenangkan.
Ketakutan masih melanda perasaan Glacia, dan Narendra tahu tak akan mudah untuk membuatnya lupa.
Lama mereka berada di posisi tersebut, larut dalam keheningan yang serta-merta tercipta. Keduanya sama-sama meresapi kebersamaan itu, terlebih Glacia. Saat ia berpikir hidupnya akan berakhir hari itu, seseorang yang pertama Glacia pikirkan setelah ayahnya adalah Narendra. Dalam situasi demikian Glacia benar-benar takut tak bisa bertemu lagi dengan mereka.
"Tidak ada yang bisa menyakitimu lagi, Glacy. Aku berjanji," bisik Narendra penuh keyakinan. Matanya menyorot tajam seolah siap untuk melakukan pembalasan.
Krisna dan Eliza, dua orang itu tak akan Narendra lepaskan.
"Apa saja yang Krisna katakan padamu?" Tiba-tiba Narendra bertanya.
__ADS_1
Sejenak Glacia bergeming tampak berpikir. Tapi kemudian ia bisa menebak bahwa Krisna adalah pria paruh baya yang kemarin menculiknya.
Glacia kembali menangis terbayang wajah itu. Narendra pun segera mencium sisi wajahnya meminta maaf. Tidak seharusnya ia bertanya, Glacia baru saja bangun, dan ia belum pulih sepenuhnya. "Tidak perlu jawab," bisiknya pelan
Namun tak berapa lama Glacia bergumam. "Dia bilang, kau ingin aku mati."
Hening. Narendra tak menyangka Krisna akan membual sampai sejauh itu. Bukan hanya berencana melenyapkan, tapi dia juga berusaha menguar kesalahpahaman antara dirinya dan Glacia.
"Dan kau percaya?" bisik Narendra penasaran.
Sesaat tak jawaban hingga Narendra menjadi takut. Pelan Glacia menggeleng, lalu berucap dengan nada lirih hampir tak terdengar. "Tidak. Tapi ... saat mengingat kau dan Lizy ..."
Narendra yang tahu ke mana arah pembicaraan segera menyergah. "Waktu itu bukan seperti yang kau pikirkan. Aku mendatangi Lizy untuk menghajarnya. Tolong jangan salah paham."
Glacia mengerjap. "Maksudmu?"
"Baru-baru ini aku melakukan pengetesan pada teh yang sempat Lizy berikan padamu. Hasilnya, teh itu mengandung bahan yang akan membahayakan tubuhmu. Aku yakin dia sengaja."
Glacia terhenyak. "Maksudnya, Lizy mau membunuhku, begitu?" tanyanya setengah tak percaya.
Narendra membuang nafas. Ia mengurai pelukan di antara mereka hingga sekarang bisa menatap langsung wajah Glacia. Sekali lagi ia mengusap pipi Glacia. "Untuk lebih jelasnya kita bicarakan lain waktu, ya? Aku rasa kita memang perlu meluruskan banyak hal. Tapi sekarang kondisi kamu lebih penting. Kamu harus istirahat, tidurlah."
Glacia menyerah karena ia pun merasa sangat pusing. Narendra tersenyum tipis membenarkan selimutnya, lalu tanpa peringatan melabuhkan kecupan di kening. "Istirahatlah."
***
Narendra duduk. Punggungnya lurus dengan mata menyorot datar pembatas kaca di depan. Tak lama orang yang ditunggunya pun datang. Krisna duduk dengan tangan terborgol, pun penampilan berantakan.
Lelaki itu menatap Narendra sinis penuh kebencian. "Puas?"
Narendra mendongak, tangannya bersidekap santai sambil bersandar. Sudut bibirnya terangkat miring menatap Krisna. "Belum."
Rahang Krisna sontak mengeras. "Kau anak pembawa sial! Aku menyesal karena wanita itu melahirkanmu!" desisnya tajam.
Narendra tak menghiraukan makian itu. Ia hanya terus menatap Krisna dengan pandangan mencemooh. "Kalau begitu, selamat menikmati hidupmu yang penuh penyesalan. Mau bergerak sejauh apa pun, kau tetap tak akan bisa mengalahkanku, Pak Tua."
Brak!
Krisna memukul meja di depannya hingga menarik perhatian seorang petugas. Namun Narendra segera mengangkat tangannya pertanda tidak terjadi apa-apa.
Narendra kembali menatap Krisna. Ia menegakkan tubuh hingga kini kedua tangannya terlipat di meja. Bibirnya menyungging sumir. "Kau sudah membunuh ibuku, dan sekarang ... kau juga menyakiti istriku."
"Harusnya kau tahu apa yang akan kulakukan padamu," lanjut Narendra penuh siasat. Krisna balas menatapnya tak gentar. Biarlah, karena setelah ini Narendra pastikan pria itu tak akan bisa melakukannya. Narendra pastikan pria itu akan mengemis ampun padanya.
__ADS_1
"Aku tidak takut padamu. Kau hanya orang miskin yang menumpang hidup pada mertuamu," sahut Krisna mengejek.
Sekali lagi Narendra tak menghiraukan. Alih-alih begitu, ia justru mencondongkan tubuh hingga kini mulutnya hampir menyentuh lubang-lubang kecil di kaca, lalu berbisik dengan suara mematikan. "Aku juga tidak berniat menakutimu. Aku hanya memperingatkanmu, bahwa siang tak selamanya terang."
Perkataan ambigu itu sedikit membuat Krisna berpikir. Namun sedetik kemudian ia mendengus. Sedari dulu, Narendra hanya bisa mengancam tanpa melakukan tindakan. Jadi, Krisna yakin putranya itu bukan apa-apa dibanding dirinya.
Sejak lahir, Narendra memang terlahir sebagai pria lemah dan berbudi tinggi. Mungkin dosanya di masa lalu hanya menghancurkan perusahaan Krisna dan memotong jari tengahnya. Selebihnya Narendra hanya pria lembut yang bahkan tak bisa menyakiti semut.
"Aku menunggu saat itu terjadi," ujar Krisna, penuh seringai mengejek.
Narendra menatapnya tajam dengan bibir tersungging miring. Ia lalu menjauhkan wajahnya dan lekas berdiri. Terakhir, ia menatap Krisna sebelum kemudian berlalu meninggalkannya yang tertawa-tawa di tempat.
Krisna mendengus melihat kepergian Narendra bersama seorang petugas. Tak lama petugas lainnya datang mengantarkan Krisna kembali ke tahanan.
Di luar, Narendra mengeluarkan ponselnya menelepon seseorang. "Aku akan kembali, dengan syarat ..."
***
Wina menoleh ke sana kemari sebelum membuka pintu dan menutupnya cepat. Sampai di dalam, ia membuka tudung jaketnya hingga kini wajahnya terlihat jelas.
Wina menunduk segan pada Lizy yang sudah berdiri menantinya di tengah ruangan. Wanita itu melipat tangan di dada, menunggu Wina untuk segera mendekat.
"Katakan apa isi suratmu benar?"
"Benar, Nona. Nyonya Glacia sudah sadar," gugup Wina.
"Bagaimana bisa?! Kau bilang dia sekarat?!" teriak Lizy, yang membuat Wina ketar-ketir.
"N-Nona, tolong anda jangan berteriak, kalau tidak, orang lain bisa menyadari kehadiran kita," bisiknya cemas.
"Persetan dengan semuanya!" Lizy menyeret Wina hingga tubuh pelayan itu membentur meja. Satu tangan Lizy mencekik leher Wina hingga si pelayan mengkerut cemas dan ketakutan.
"N-Nona ..."
"Sudah kubilang, kalau dia sadar, lakukan apa yang seharusnya kau lakukan," desis Lizy di depan wajah Wina.
Wina menangis. "Tapi ..."
"Lakukan! Atau aku akan melakukannya pada ayahmu!"
Wina membelalak dan seketika menggeleng rikuh. "J-jangan, Nona. Baiklah, akan saya lakukan. Tapi tolong jangan apa-apakan ayah saya ..." mohonnya disertai isak pasrah.
Lizy menyeringai. "Tentu itu tergantung kinerjamu. Kalau kau berhasil, ayahmu aman. Tapi kalau kau gagal, aku pastikan bukan hanya ayahmu, aku juga akan melenyapkan kamu dan saudari kembarmu. Ingat itu," desisnya penuh ancaman.
__ADS_1
Wina menangis penuh kebingungan. Betapa hatinya gelisah, tak tahu harus berbuat apa karena tak ada pilihan.
Entah kenapa sekarang Wina menyesal telah menerima bantuan Lizy yang memberinya uang untuk pengobatan sang ayah. Sekarang, wanita itu mencekik kehidupan Wina dengan segala tuntutan berbahaya.