
Glacia membuang nafasnya bosan. Seharian ini ia tidur sejak Narendra pergi pagi tadi. Matahari di luar mulai redup lantaran hari berangsur sore. Narendra yang berjanji akan kembali saat petang pun tak kunjung terlihat batang hidungnya. Tanpa sadar, Glacia memang menunggu kedatangan lelaki itu.
Perlahan, Glacia berusaha bangun menjauhkan punggungnya dari ranjang. Ia memanggil salah satu pengawal untuk membantunya berpindah ke kursi roda.
"Kalian yang di luar, bantu aku turun!" seru Glacia.
Satu orang masuk, dan dengan sigap namun segan ia membantu Glacia menduduki kursi rodanya.
"Terima kasih," ujar Glacia singkat.
Pengawal itu mengangguk. "Sama-sama, Nyonya. Anda mau ke mana?"
"Aku mau jalan-jalan sebentar sambil menunggu suamiku pulang." Glacia menunjuk tiang infus miliknya. "Tolong lepas itu. Aku akan membawanya tanpa tiang."
Si pengawal kembali menurut. Ia mengambil bantalan infus yang tergantung, lalu menyerahkannya pada wanita itu.
"Satu lagi, jangan mengikutiku," tambah Glacia.
"Nyonya yakin akan membawa ini sendiri? Anda harus memegangi ini lebih tinggi dari tangan satunya, dan lagi ... maafkan saya, tapi ini mungkin akan sangat merepotkan," ucapnya, seraya melirik kursi roda Glacia.
Glacia yang mengerti apa maksud si pengawal pun berdecak. "Hey, tanganku diinfus bukan berarti tidak bisa digunakan. Kursi roda ini memudahkanku, aku bisa menjalankannya meski dengan satu tangan. Yah, meski seperti yang kau bilang tadi, aku mungkin akan kesulitan saat menggunakan rem. Tapi tenang saja, aku akan berjalan pelan," ucapnya cuek.
Pengawal tersebut tampak ragu. "Saya akan tetap mendampingi Nyonya. Mohon mengerti, karena itu sudah menjadi tugas kami, menjaga dan memastikan anda tetap baik-baik saja."
Glacia meringis setengah mencibir. Ia melirik lelaki bersetelan hitam itu dari atas ke bawah. Ngomong-ngomong, sepertinya dia bukan bodyguard Yohanes, jadi kemungkinan besar dia bekerja pada Narendra.
Mendengus, Glacia pun berdecak samar. "Kalian memang sekaku Narendra."
"Maaf?" Si pengawal yang kurang mendengar gumaman tersebut kontan bertanya.
"Bukan apa-apa. Ya sudah, kau boleh ikut denganku," putus Glacia.
"Baik, Nyonya."
Tak menunggu waktu lama si pengawal pun mendorong kursi roda Glacia, membuka pintu, lalu membawa wanita itu keluar dari ruang rawatnya. Namun belum sempat mereka melangkah jauh, sosok Narendra terlihat berjalan mendekat, keluar dari lift. Ia mengernyit samar melihat sang istri dan pengawalnya.
"Mau ke mana?" tanya Narendra, begitu sampai di hadapan Glacia. Ia mengambil alih bantal infus di tangan Glacia karena takut wanita itu pegal memeganginya terus-menerus.
Glacia yang ditanya tanpa sadar memiringkan bibirnya dengan sedikit mengerucut. "Jalan-jalan. Aku bosan, kau tahu?" ketusnya. "Kau juga lama sekali," tambahnya dengan suara pelan.
Narendra terdiam sesaat, lalu terkekeh. Mengetahui Glacia begitu menunggunya, membuat hati Narendra dilingkupi rasa senang. Ia mengusap sekilas puncak kepala sang istri sambil tersenyum. "Sekarang aku di sini. Masih mau lanjut jalan-jalan, atau kembali ke kamar?" Lelaki itu mengangkat tangan kanannya yang sedari tadi menjinjing paper bag. "Aku bawa sesuatu, kau pasti suka."
Glacia turut melihat kantong kertas itu seksama. "Apa itu?"
"Camilan. Aku tahu kau bosan dengan makanan rumah sakit. Kali ini suamimu akan berbaik hati memberimu makanan enak. Jadi jangan sia-siakan, ck." Narendra mengedipkan satu mata yang membuat Glacia geli.
Tapi, ngomong-ngomong ... Glacia mendongak menatap Narendra. "Bukankah pagi tadi kau bilang menyuruh Weni ke sini? Kenapa dia tidak datang?"
Itu salah satu yang Glacia pertanyakan sejak tadi. Narendra mengernyit, lalu menoleh pada pengawal di belakang Glacia. "Dia tidak datang?"
Narendra terlalu sibuk dengan kantor dan masalah pelacakan Lizy, ia sampai lupa bahwa sebelumnya ia sempat menyuruh Weni ke rumah sakit.
Pengawal tersebut mengangguk. "Tadi saya mendapat kabar dari kediaman Martadinata, bahwa pelayan itu sedang sakit dan tidak bisa kemari."
__ADS_1
"Dia sakit?" tanya Narendra lagi.
"Benar, Tuan. Mereka bilang, ia sakit sejak saudarinya dinyatakan hilang," ucapnya, yang tanpa sadar mengundang rasa penasaran Glacia.
Glacia menoleh ke belakang, pada pengawal itu yang kini justru diam tergagap mendapati hunusan tajam dari Narendra. Ia lupa, dilarang memberi informasi apa pun menyangkut kekacauan yang sedang terjadi, di depan Glacia.
"Wina hilang? Sejak kapan? Bagaimana bisa dia hilang? Apa seseorang menculiknya?"
Narendra berdecak dalam hati. Ingatkan ia untuk memukul anak buahnya setelah ini. Ia segera menarik kepala Glacia agar mau menghadapnya kembali. "Kau salah dengar. Lebih baik kita ke luar sekarang. Bukankah kau bilang ingin jalan-jalan?"
Glacia menahan tangan Narendra yang hendak mendorong kursi rodanya. Ia menatap Narendra penuh tuntutan. "Aku yakin tidak salah dengar. Telingaku masih waras, Naren. Jadi, tolong jelaskan bagaimana bisa Wina menghilang?"
Narendra dibuat bungkam. Sementara si pengawal menunduk dalam merasa bersalah, kenapa mulutnya tidak bisa ditahan.
"Naren? Aku istrimu, kan? Apa aku tidak berhak tahu? Wina adalah pelayan pribadiku. Kenapa kamu harus menyembunyikan masalah ini dariku? Kau tahu, saat ini aku merasa menjadi majikan yang bodoh."
Narendra membuang nafasnya panjang. Ia tahu, tidak ada jalan keluar jika Glacia sudah tahu dan penasaran. Narendra harus menjelaskan sekaligus membuat alasan yang logis tentang hilangnya Wina.
Ia balas menatap Glacia yang menunggu jawaban. "Iya, Wina hilang. Beberapa hari setelah kamu selamat dari penculikan."
"Wina juga diculik?" Glacia terus bertanya.
Diam, beberapa detik kemudian Narendra pun menggeleng. "Entah, mungkin iya, mungkin juga karena dia berniat melarikan diri. Polisi masih menyelidiki. Kamu jangan khawatir."
"Melarikan diri kenapa?"
Narendra memandang Glacia lama. "Mungkin selama ini kamu tidak sadar, tapi saat sebelum izin cuti pulang kampung, dia sempat mengambil salah satu barang berharga milikmu di rumah kita. Kamu tidak tahu barangmu ada yang hilang?"
Kepala Narendra sedikit meneleng, alisnya terangkat menatap Glacia. Namun Glacia tidak sadar, sudut bibir Narendra saat ini tengah berkedut kecil. Ia berharap Glacia percaya, karena ia sudah menyiapkan skenario sedemikian rupa.
Glacia mengerjap nampak berpikir, rautnya syok seakan tak percaya. "Aku tidak pernah memperhatikan barang-barang milikku."
"See? Alasan seseorang meremehkanmu karena ini. Kau tidak teliti bahkan pada barangmu sendiri. Meski mungkin nilainya tak seberapa bagimu, tetap saja, secara tidak langsung kau memberi kesempatan untuk seseorang berbuat curang."
Kening Glacia berkerut tak senang. "Kenapa malah menyalahkanku?"
Narendra tersenyum. Ia berpindah ke belakang Glacia, merangkul pundak wanita itu dari belakang. "Aku tidak menyalahkanmu. Aku hanya ingin kamu berhenti khawatir. Biarkan masalah ini aku dan polisi yang tangani. Kamu tidak perlu ikut berpikir," ucapnya setengah berbisik. "Sekarang, ayo kita ke luar sebelum malam tiba. Jangan sia-siakan kebaikanku ini, Sayang."
Glacia tergagap oleh panggilan Narendra. Bisa-bisanya lelaki itu membuat Glacia gugup di tengah situasi seperti ini.
"A-apa yang—" Kalimat Glacia terpotong saat Narendra menaruh paper bag berisi makanan di tangannya ke atas paha Glacia.
"Sudah, jangan banyak bicara, atau aku tidak jadi membuatmu makan enak."
"Brengsek, kau!" seru Glacia kesal.
"Brengsek ini suamimu," balas Narendra puas.
Glacia hanya bisa berdesis kesal karena kalah. Ia tak membantah ketika pada akhirnya lelaki itu mendorongnya memasuki lift, untuk kemudian turun ke lantai bawah.
Mereka tidak sadar, Lizy yang bersembunyi di antara kelokan koridor, sedari lama memperhatikan. Ia menatap tajam kedua pasangan itu hingga kini menghilang di balik pintu besi.
"Beraninya kalian tertawa di atas penderitaan orang," desisnya penuh kebencian.
__ADS_1
Sementara di lobi, Rafael yang baru saja turun dari mobilnya, tersenyum melambaikan tangan saat melihat Glacia. Ia tak menghiraukan Narendra yang menatapnya tajam, dan menghampiri wanita itu untuk menyapa.
"Glacia, apa kabar? Saya dengar keadaanmu membaik?"
Wajah Glacia terlihat canggung, secara refleks matanya melirik Narendra di belakang. "Ah, iya, Dokter."
Rafael mengulas senyum teduh. "Saya turut senang kalau begitu." Ia lalu memperhatikan dua sejoli itu secara bergantian. "Kalian mau ke mana?"
"Bukan urusanmu." Adalah Narendra yang menyahut. Glacia yang cukup terkejut sampai mencubit tangan lelaki itu yang memegangi kursi rodanya. Ia mendesis pada Narendra yang menurutnya sangat tidak sopan, namun Narendra hanya mendengus sebagai tanggapan.
Glacia menatap tidak enak pada Rafael. "Kami mau jalan-jalan sebentar, Dokter tahu sendiri kamar pasien itu sangat membosankan."
Rafael mengangguk paham. "Begitu." Ia lalu menyentuh hidungnya sesaat, gestur yang menunjukkan bahwa ia memang tertarik dan tengah gugup pada Glacia. Setidaknya itu yang Narendra simpulkan.
"Dokter sendiri ... di sini untuk apa?" Wajar Glacia bertanya, karena Rafael memang bukan bekerja di rumah sakit ini.
"Saya ada urusan dengan internal di sini," jawab Rafael singkat.
"Oohh." Kali ini Glacia yang mengangguk paham. Narendra terlihat diam saja enggan berucap apa pun.
Sebenarnya Glacia penasaran, kenapa Narendra masih saja bersikap seperti musuh pada Rafael. Dulu, mungkin ia menganggap sikapnya yang demikian dilatarbelakangi karena mereka sama-sama pria di kehidupan Lizy. Tapi, bukankah sekarang Narendra sudah memutuskan bersama Glacia sepenuhnya?
"Kalau begitu saya permisi?" ucap Rafael.
"Ah, iya silakan," sahut Glacia cepat, diiringi anggukan dan senyum yang membuat Narendra mendengus.
"Kau begitu antusias bicara dengannya," bisik lelaki itu tak jelas, namun suaranya terdengar kesal.
Rafael turut tersenyum dan mengangguk. "Sampai bertemu lagi," ucapnya sebelum pergi. Ia melambai, kemudian berlalu melewati Glacia dan Narendra.
Narendra jelas mencibir. "Bertemu lagi? Jangan mimpi," desisnya sambil melirik ke belakang.
Glacia membuang nafas panjang. "Apa kau sedang cemburu, Naren? Hey, dia tunangan Lizy, ayolaaahh ..."
"Atau kenyataan itu yang membuatmu membencinya? Hey, jawab aku!" Glacia menoleh pada Narendra di belakangnya.
Namun yang ia dapati justru lelaki itu yang mematung memperhatikan Rafael pergi. Glacia mengernyit tentu saja. "Naren?"
Narendra tak menjawab, fokusnya seolah terpaku pada sesuatu.
"Naren!" seru Glacia kesal. "Jangan membuatku berpikir kau tertarik pada dokter tampan itu! Astaga, tidak cukup sikapmu yang menyebalkan, kau juga harus menyukai sesama pria?"
Narendra yang tidak fokus tetap tak menghiraukan Glacia yang saat ini sudah marah-marah. Ia terus menatap kepergian Rafael yang sampai pria itu menghilang dari pandangan.
Bukan tanpa alasan Narendra sebegitunya terpaku. Rafael yang hari ini menggulung lengan kemejanya, membuat Narendra melihat sesuatu yang familiar pada pergelangan tangan lelaki itu.
Ia dengan cepat mengeluarkan ponsel dan langsung menghubungi Harley. Narendra bahkan seolah lupa bahwa Glacia masih ada di sana, memperhatikan dengan raut dipenuhi kesal terhadapnya.
"Naren!"
"Harley, kau selidiki Rafael Adiwangsa. Sekarang!"
Glacia yang masih kesal karena diabaikan pun bertanya. "Untuk apa kau menyelidiki dokter itu? Kau benar-benar tertarik padanya?"
__ADS_1
Narendra masih tak menjawab. Ia justru terpaku dengan raut berpikir keras setelah mengakhiri panggilan di ponselnya.