Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
59. Sepenggal Alasan Masa Lalu


__ADS_3

"Aku sakit, Naren. Aku bahkan tidak yakin kamu akan tahan dengan segala kesulitanku saat ini. Tidak ada pria yang benar-benar tahan menemani pasangannya yang memiliki kecacatan fisik. Bila pun ada, itu pasti hanya sebuah kepura-puraan."


Narendra berjalan tegap di sepanjang lorong rumah sakit. Matanya menyorot datar dengan pikiran terngiang-ngiang akan perkataan Glacia.


Wajar Glacia memiliki anggapan seperti itu, wanita itu sedang mengalami fase di mana semua orang meninggalkannya, terutama pacar dan teman-temannya yang memiliki peran penting dalam kehidupan Glacia. Mereka yang seharusnya menyemangati kini malah lari seakan sebelumnya tak pernah bersama.


Narendra tiba di depan sebuah laboratorium yang ditujunya. Ia membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dulu, membuat seseorang di dalam sana berdecak kesal dengan sikap Narendra yang menurutnya semena-mena.


"Si paling tahu tata krama sepertinya sedang lupa bagaimana caranya bertamu," sindir pria berjas putih itu. Ia membenarkan kacamata ketika berdiri menyambut Narendra. Kedua tangannya tenggelam di saku jas.


Narendra tak menghiraukan sindiran halus tersebut. Ia langsung menodong pria itu dengan pertanyaan. "Bagaimana hasilnya?"


Pria dengan nametag Oliver itu lantas mengubah wajahnya menjadi serius. Ia berjalan ke sebuah meja di mana hasil penelitiannya berjejer tanpa bisa Narendra mengerti.


"Sebelumnya aku tidak tahu bagaimana kau bisa mencurigai bingkisan teh dari merek ternama yang bahkan sangat eksklusif ini," ucapnya mengambil satu bungkus teh China yang beberapa hari lalu Narendra bawa padanya. "Tidak ada yang salah jika dilihat dan dites secara sekilas, semua bahan di dalamnya aman. Tapi ada satu hal aneh yang membuatku sadar, komposisi teh ini bukan lagi asli dari tangan pertama." Oliver menatap Narendra. "Ada satu kandungan yang dosisnya memang sangat kecil, pun tidak berbahaya untuk digunakan sebagai obat. Tapi, kandungan itu akan berubah menjadi racun jika tercampur dengan ingredient lain dalam teh ini, dan bisa membahayakan siapa pun yang mengkonsumsinya dalam jangka panjang."


Oliver menjelaskan secara garis besarnya, dan ia melihat Narendra mematung dengan mulut terbungkam. Oliver pun penasaran dan bertanya. "Apa kau mendapatkan ini dari kolega bisnismu? Berhati-hatilah, kemungkinan besar dia memang membencimu dan sangat ingin membunuhmu secara halus tanpa kau sadari."


Tak ada respon dari Narendra, tapi Oliver bisa melihat mata pria itu perlahan berubah mengkilat penuh amarah. Kedua tangannya mengepal di kedua sisi tubuh, dan tanpa sepatah katapun Narendra meraup kemasan teh itu dari tangan Oliver, lalu melenggang keluar dengan langkah cepat.


Pria itu bahkan tak mengucapkan terima kasih, membuat Oliver mendengus lucu karena merasa dipermainkan. "Oke, tidak apa-apa, Oliver. Kau cukup berkelas untuk tidak mengemis terima kasih seseorang," gumamnya sukarela.


Sementara di sisi lain, Narendra melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, hingga sedan mewah itu meliuk-liuk lihai di jalanan. Kilat amarah masih memenuhi tatapan Narendra yang tajam, pun rahangnya mengatup rapat dengan emosi terpendam.


"Lizy ..." Bibirnya bergumam penuh kemarahan. Ia benar-benar marah hingga rasanya ingin mencekik seseorang.


Ternyata kecurigaan Narendra selama ini benar, Lizy lah orang yang membebaskan Krisna Julius dari penjara. Entah apa yang mereka rencanakan pada dirinya atau Glacia, Narendra benar-benar ingin membunuh ayahnya sekarang juga, membalaskan dendamnya karena lelaki itu sudah membuat ia dan ibunya hidup menderita dengan berbagai siksaan.


Tak lama Narendra sampai di sebuah gedung apartemen mewah. Ia langsung keluar begitu memarkir mobilnya di basemen. Kakinya melangkah lebar memasuki lift, lalu menekan tombol yang mengarahkannya ke lantai tiga puluhan, di mana unit apartemen Lizy berada di sana.


Setibanya Narendra di lantai tersebut, ia langsung berderap dan menekan kasar bel di depan pintu, bahkan disertai gedoran keras hingga tak lama pintu itu terbuka menampilkan Lizy yang sedikit menganga mendapati kehadiran Narendra.


Lizy yang belum sadar dengan situasinya, mengira Narendra mendatangi unitnya untuk membahas perasaan mereka yang belum usai. Ia berpikir mungkin Narendra baru sadar bahwa sebenarnya ia masih mencintai Lizy dan akan mengajaknya kembali. Mendadak sisi liar Lizy bangkit dan rencana mengajak Narendra bercinta begitu besar.


"Naren—"


Plak!


Namun sayang, ekspektasi Lizy tak sesuai realita. Wanita itu mematung dengan wajah tertoleh ke samping usai tamparan keras mampir di pipinya.


Lizy menoleh pelan sambil memegangi pipinya yang terasa perih. Ia melihat Narendra yang berdiri dengan nafas terengah penuh amarah. Kening Lizy sontak berkerut dalam. "Naren?"

__ADS_1


Narendra tak menghiraukan panggilan itu. Dengan kasar ia mendorong Lizy masuk dan langsung mengunci pintu apartemennya. Tubuh Lizy mulai menegang ketika merasakan aura tak biasa dari Narendra. Terlebih tamparan barusan, Lizy benar-benar terkejut karena Narendra bukan tipe pria yang suka melakukan kekerasan pada wanita.


"N-Naren, ada apa? Kamu tampak marah?" tanya Lizy gugup. Tubuhnya mundur perlahan seiring Narendra yang terus mendekat.


Narendra mengepalkan tangan kuat, ia melempar kasar beberapa kemasan teh China hingga mengenai wajah Lizy dengan keras.


"Kau bertanya kenapa aku marah? Apa yang kau lakukan pada Glacia, sialan!!!" teriak Narendra hingga suaranya menggaung ke seluruh ruangan.


Lizy menunduk, ia menegang sembari meneguk ludah mengamati kemasan teh tersebut di bawah kakinya. "Apa maksudmu?" cicit Lizy mulai gugup. Ia lalu memekik terkejut. "Akh! Naren! Uhuk!"


Narendra mendorong Lizy ke dinding dan mencekiknya hingga tubuh wanita itu sedikit terangkat. Lizy memberontak mengayun-ayunkan kakinya sambil terus berusaha melepas cengkraman tangan Narendra di lehernya. "Naren, uhuk!"


Wajah Narendra merah padam. Keringat mengembun di seluruh permukaan kulitnya yang kecoklatan. Giginya gemeretak, sementara matanya tak lepas menghunus Lizy dengan tajam.


"Kenapa kau meracuni Glacia? Kau ingin membunuhnya?" desis Narendra tajam.


Lizy menggeleng rikuh dengan nafas tersendat. Ia memukul-mukul lengan Narendra, meminta lelaki itu melepaskan lehernya yang serasa akan putus. "A-Apa maksudmu? A-aku ti-tidak mengerti. Uhuk! Aaarrghh!!"


Brak!


Narendra membanting Lizy hingga tubuh wanita itu terlempar menimpa meja dan menjatuhkan lampu di atasnya. "Uhuk!"


Lizy tergeletak di lantai sambil memegangi lehernya. Ia menatap Narendra ketakutan hingga tanpa sadar beringsut saat lagi-lagi lelaki itu mendekat.


"Akh! Naren, apa yang kau lakukan?!" Ia berusaha melepas cengkraman Narendra di rambutnya.


"Biar kuperjelas." Narendra berbisik tajam. "Kau memberikan teh beracun itu untuk membunuh Glacia. Masih mau mengelak? Aku punya hasil lab-nya jika kau masih tidak mau mengaku. Aku pastikan setelah ini kau dan ayahku membusuk di penjara," desisnya sarat akan emosi.


Lizy menjerit keras saat Narendra mengencangkan jambakan di rambutnya. Ia yakin beberapa helainya rontok, karena demi apa pun Narendra seolah mengeluarkan semua tenaganya.


"Iya! Aku memang berniat meracuninya! Kenapa?! Dia memang pantas mati karena selalu mengambil milikku dengan mudahnya!!!" pekik Lizy marah.


Rahang Narendra mengetat, ia kembali menampar Lizy hingga kepala wanita itu membentur lantai. Anehnya Lizy malah tertawa seperti orang gila, ia menatap wajah marah Narendra dengan seringai licik mengerikan.


"Meski sebenarnya tanpa kuracuni pun wanita itu tetap akan mati karena penyakitnya! Hahaha ... Hahaha ... Akh!"


Narendra menghempaskan jambakan rambut Lizy sekaligus menghantamkan kepala wanita itu untuk kedua kali. Narendra berdiri, nafasnya terengah cepat mengeluarkan sesuatu dari balik jas.


Lizy sedikit mematung mendapati Narendra menodongkan sebuah pistol ke arahnya, namun kemudian ia kembali tertawa seolah tidak takut dengan kemarahan Narendra yang sudah di ujung tanduk.


"Aku menyesal," bisik Narendra tajam. "Kesalahan terbesarku adalah mengenalmu, Eliza Pataya," lanjutnya dengan nafas tak beraturan dan hendak menarik pelatuknya saat tiba-tiba Lizy berteriak.

__ADS_1


"Kau akan menyesal jika membunuhku, Naren!" Lizy menyeringai. "Jangan lupakan bahwa kita pernah sedekat nadi. Kau pasti akan menyesal jika menembakku sekarang."


"Apa yang harus kusesalkan membunuh iblis sepertimu?" balas Narendra.


"Sekeras apa pun kau mengelak, kau tak akan bisa menepis fakta bahwa kita pernah saling mencintai. Kau akan menyesal jika aku mati," ucap Lizy percaya diri.


Narendra mendengus tajam. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring. "Kau yakin?"


Lizy ikut menyeringai.


"Karena selama ini aku hanya menganggapmu sebagai teman," lanjut Narendra. Lelaki itu terkekeh ketika senyum Lizy perlahan menghilang. "Kepercayaan diri yang terlalu tinggi bisa membuat seseorang tenggelam dalam kesalahpahaman."


"Kau mengira selama ini aku mencintaimu, kan? Aku baik karena aku menghargaimu yang selalu membantuku. Tapi seharusnya kau sadar, aku tidak mungkin meninggalkanmu untuk wanita lain jika memang cinta itu ada di antara kita."


Lizy mengatupkan rahang hingga giginya terdengar gemeretak.


"Kau pikir aku juga tidak tahu apa yang kau lakukan di belakangku selama kita pacaran?" lanjut Narendra lagi. "Lizy, kau harus tahu bahwa aku lelaki yang memegang teguh pada janji. Jika bukan kau yang duluan selingkuh, aku mungkin masih akan menghormati hubungan kita meski terasa hambar."


"Apa maksudmu?!" pekik Lizy marah.


Narendra menyeringai. "Kau menganggapku pria bodoh yang tidak tahu apa-apa, berpikir bahwa aku tidak tahu bahwa pacarku pernah tidur dengan Gallen Mou di malam setelah wisuda."


Lizy menegang. "Naren—" ucapnya tercekat.


"Hubungan tak melulu soal cinta, tapi juga bagaimana cara kita menghormati pasangan. Aku memang tidak pernah menyentuhmu karena aku menghormatimu, tapi rupanya kau beranggapan lain dan memilih mencari penghiburan dari pria lain."


"Aku menganggapmu sebagai teman baik, aku menerima pernyataan cintamu juga karena kau adalah teman baikku. Tapi lambat-laun aku sadar, hubungan yang terasa hambar akan sulit berjalan tanpa hambatan. Semua hubungan memang memiliki ujian, tapi aku merasa bahwa kita memang tak bisa bersama sebagai pasangan. Jadi, berhenti menjadikan Glacia sebagai dalang dari kehancuran hubungan kita. Dia tidak salah, Glacia tidak tahu apa pun. Dia bahkan tidak tahu kapan aku mulai mencintainya. Ini semua murni karena kesalahan kita, bukan Glacia."


Namun Lizy menggeleng tak terima. "Jelas-jelas dia wanita penggoda yang membuatmu berpaling dariku!!"


"Kau salah, bukan Glacia yang menggodaku, aku yang tergoda olehnya."


Lizy tertawa hambar, ia kemudian terisak di atas lantai, mengabaikan tubuhnya yang babak belur oleh Narendra.


"Kau begitu mencintainya, kan? Kalau begitu, sepertinya kau juga harus mengucapkan selamat tinggal padanya." Wajah Lizy kembali berubah penuh seringai. Ia menatap Narendra sambil menekan ponselnya yang langsung terhubung dengan seseorang yang seketika membuat tubuh Narendra menegang.


Lizy berucap dengan suara ramah nan manis. "Halo, Glacy? Narendra ingin bicara padamu."


Lizy melirik Narendra yang terpekur, terlebih saat mendengar suara polos sang istri di seberang sana.


"Naren, kau bersama Lizy? Ada apa? Kenapa kau mengirim bunga sebanyak ini padaku?"

__ADS_1


Bunga? Bunga apa? Siapa yang mengirim bunga?


"Glacy?" panggil Narendra dengan suara tercekat. Ia kemudian tahu bahwa yang Lizy hubungi saat ini adalah nomor Krisna.


__ADS_2