Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
75. Upaya Pelarian


__ADS_3

Glacia mengamati seseorang di depannya dengan mulut terbungkam. Wanita itu sedari tadi sibuk dengan make up, entah sudah berapa kali ia menepukkan puff bedak ke wajah.


Lelah melihat apa yang dilakukannya, Glacia pun meringis membuang muka. Ke mana Narendra pergi? Ia tidak melihat lelaki itu sejak dini hari tadi. Glacia sempat terbangun karena haus, dan malah menemukan wanita ini di kamarnya.


"Bukankah seharusnya kau pulang? Anak-anakmu menunggu di rumah," celetuk Glacia tanpa menoleh.


Perempuan itu menghentikan kegiatannya dan memutar kepalanya cepat ke arah Glacia. "Kau mengusirku?" serunya agak sewot.


Glacia mengernyit dengan wajah pucatnya, menatap si wanita yang harus ia akui cantik luar biasa. Pantas saja kakak sepupunya tergila-gila. "Siapa yang bilang begitu?"


"Kau! Kau sedari tadi menyuruhku pergi!"


Glacia membuka mulutnya, namun kemudian ia menutupnya lagi. Dengusan samar terdengar ketika Glacia menyamankan posisinya di bantal. Ia enggan berdebat karena kepalanya terasa pening pagi ini.


"Aku bukan menyuruhmu pulang. Aku masih merasa heran kenapa sepupu iparku tiba-tiba ada di sini?" bisiknya.


"Memangnya kenapa? Aku bisa berada di mana saja sesuai mauku," balas si wanita.


"Hm. Terserah kau saja."


"Huh, menyebalkan!" Wanita itu kembali memoles wajahnya sebelum lanjut bicara. "Kenapa kau tidak pernah bilang, sakit sampai separah ini? Aku dan suamiku hanya tahu kamu mengalami kecelakaan." Ia menoleh melirik Glacia yang memejamkan mata.


"Kalian tidak datang saat aku kecelakaan, untuk apa pula kalian tahu mengenai penyakitku?" balas Glacia santai.


Lama tak ada suara di ruangan itu, dan Glacia pun tak perduli apa yang dilakukan wanita di hadapannya. Ya, wanita itu duduk tepat di bibir ranjang. Membuat Glacia risih saja.


Ia tidak tahu, kini Maria menatapnya penuh rasa bersalah. "Kau tahu, suamiku tidak pernah akur dengan siapa pun," dengusnya. "Tapi dia mengkhawatirkanmu, Glacia. Percayalah."


Glacia membuang nafas. "Aku tahu, jadi berhentilah berbuat hal gila."


"Mereka sudah terlanjur gila," celetuk Maria.


Glacia membuka matanya pelan, lalu melirik wanita itu lamat. "Apa? Mereka siapa?"


Maria nampak tergagap seperti orang keceplosan. "Maksudku Gibran dan anak buahnya. Ya, kau tau sendiri suamiku itu bagaimana. Ekhm." Ia berdehem kecil di akhir kalimat.


Glacia tak bertanya lagi. Tepat saat itu pintu terbuka menampilkan ayahnya yang baru saja tiba. Yohanes langsung terdiam begitu ia membuka pintu.


"Lho?"


"Halo, Paman!" Maria melambai kecil disertai cengiran lebar pada Yohanes.


Ayah Glacia itu malah menoleh pada anaknya yang kini justru mengendik tak acuh. Yohanes menutup pintu sambil terus berpikir.


"Kupikir aku salah lihat, ternyata mereka memang anak buah Wiranata," gumamannya pelan, merujuk pada para pengawal di luar pintu.

__ADS_1


Ia pun berjalan ke arah Glacia dan Maria. Tubuhnya membungkuk mencium kening sang putri yang masih berkutat dengan mata sayunya. "Apa kabar, Sayang?"


Glacia bergumam pelan. "Tidak buruk."


Yohanes pun tersenyum dengan raut bersyukur. Ia lalu menatap Maria yang mengamati interaksi mereka. "Sejak kapan kamu di sini? Suamimu mana?"


Kini giliran Maria yang tersenyum. "Kabarku baik, Paman. Dan aku sudah di sini sejak semalam. Suamiku? Tentu saja dia bekerja, hehe."


Yohanes tahu Maria sedikit sarkas di awal kalimatnya, karena Yohanes yang tidak menanyakan kabar sekalipun. Padahal mereka sudah sangat lama tidak bertemu.


Maria adalah istri dari keponakan jauhnya. Entah ia ada di mana sekarang, Yohanes tak pernah lagi melihatnya, bahkan sejak sebelum Narendra dan Glacia menikah.


Di pertemuan bisnis pun Yohanes hanya beberapa kali bertemu asistennya. Entah ke mana dia selama ini. Apa dia sengaja menghindar dari Yohanes, atau ada seseorang di sekitar Yohanes yang tak ingin ia temui.


Mengangguk paham, Yohanes pun kembali bicara. "Sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabar anak-anak dan suamimu?"


"Anak-anakku sehat, mereka sangat baik, dan beberapa menit lalu baru berangkat sekolah," jawab Maria. "Suamiku juga baik." Ia bahkan tengah membantu menantumu berperang, lanjut Maria dalam hati.


Yohanes kembali mengangguk. "Syukurlah. Kamu kemari untuk menjenguk Glacia?"


"Iya. Maaf karena aku baru kemari. Paman tahu, Gibran itu orangnya aneh. Masa ia tidak mau bertemu keluarganya sendiri? Meski kerabat jauh, setidaknya kalian masih satu darah karena Papa Abhi adalah kakak sepupumu. Benar, kan? Tolong marahi saja suamiku yang sombong itu, Paman!" cerocos Maria.


Yohanes mendenguskan senyum. "Aku sudah terbiasa dengan tabiatnya." Membuang nafas, ia pun menoleh pada Glacia yang entah sejak kapan sudah tertidur lagi. Maria juga turut mengamati sepupu suaminya itu.


"Dia gampang sekali merasa lelah," gumam Yohanes. Ada getar sedih dalam suaranya.


Yohanes menggeleng. "Glacia menolak, dia mau berobat di sini saja."


"Apa ... karena Narendra? Hubungan mereka jauh lebih baik sekarang."


"Entahlah. Kadang Glacia meminta perceraian, tapi kadang juga terlihat enggan melepaskan. Paman kurang mengerti apa yang sebenarnya dia rasakan. Apa dia mencintai Narendra atau tidak."


"Rencananya, kalau mereka bercerai, Paman akan fokus pada perusahaan baru di luar, dengan mengajak Glacia tinggal di sana. Narendra tetap Paman tempatkan sebagai pemimpin di pusat, karena meski bukan lagi menantu, Paman tetap percaya padanya," lanjut Yohanes. Ia tersenyum teduh memandang wajah pucat putrinya. Membuang nafas, Yohanes kembali bercerita. "Kemarin mereka sempat hampir bercerai, tapi ... insiden penculikan menghambat semuanya. Entah Paman harus sedih atau bersyukur. Tapi, Paman melihat sedikit harapan di antara mereka berdua."


"Menurutku sepertinya putrimu itu mencintai Naren," celetuk Maria. "Buktinya, waktu terbangun semalam, yang dia cari pertama kali suaminya," lanjutnya mengendik. "Itu sering terjadi padaku. Orang pertama yang kucari saat bangun tidur adalah suamiku. Hehe."


Yohanes terkekeh sembari menggeleng. "Kamu masih secerewet yang Paman ingat."


Maria berdecak. "Hey, justru mulutku ini yang membuat keponakanmu sering tak berkutik," ucapnya bangga.


Yohanes mengangguk. "Ya, Paman tahu hewan buas sekalipun akan takluk ada pasangannya. Hahaha ..."


***


"Bagaimana?" Krisna berbisik pada Thomas di sampingnya. Saat ini mereka tengah berada di rumah sakit tahanan, usai sebelumnya Krisna nekat melukai tangannya sesuai saran dari pemuda itu.

__ADS_1


Hal ini Thomas lakukan supaya mereka bisa mendapat izin keluar dari jeruji besi. Meski masih mendapat pengawalan ketat dari para polisi, setidaknya ada banyak cara untuk ke depannya nanti.


"Tunggu sebentar lagi," ujar Thomas.


Raut Krisna sudah tidak sabar, tapi ia harus bertahan karena saat ini hanya Thomas yang bisa membantunya keluar.


Thomas nampak berjalan sedikit ke arah jendela, melongok pada situasi koridor di mana para polisi berjaga di sana. Dengan tangan masih terborgol, kali ini Thomas melangkahkan kakinya ke sudut ruang, di mana sebelumnya ia menyembunyikan sebuah kawat kecil di balik tempat sampah.


Dengan terampil Thomas mengotak-atik kawat tersebut pada borgol di tangannya. Krisna yang mengamati itu hanya terbengong. Selama ini ia berpikir bahwa Thomas hanya pemuda berandal biasa, rupanya anak itu juga memiliki kemampuan yang jarang dimiliki orang normal.


Bagaimana bisa Thomas bisa melepas borgol hanya dengan kawat sebesar lidi?


Tak sampai lima menit pemuda itu berhasil membebaskan tangannya dari jeratan borgol. Ia lalu menghampiri Krisna yang masih terbaring di ranjang pasien.


Satu tangan Krisna dibalut perban, sementara satunya lagi terikat borgol yang disangkutkan di besi ranjang.


Dengan mudah Thomas membuka kuncian borgol Krisna. Krisna sampai lupa bahwa mereka harus segera melarikan diri saking takjubnya dengan kemampuan Thomas.


"Wah, aku tidak tahu kau seorang pengalaman yang profesional," decak Krisna.


Thomas tak menanggapi, ia memberi isyarat agar Krisna segera mengikutinya. Sesaat Thomas kembali melongok ke arah jendela guna memeriksa situasi. Para polisi itu tengah saling berbincang satu sama lain.


Mendapati kenyataan tersebut membuat Thomas dengan cepat memanjati dinding bagian kiri ruang serupa IGD itu. Di sana hanya ada satu jendela kecil yang lebih tepat disebut lubang udara dengan letak cukup tinggi.


Krisna lagi-lagi mematung. Thomas bisa melompat semudah itu menggapai roster, sementara dirinya saja tidak yakin mampu melakukannya.


"H-Hey, kau yakin lewat situ? Bukankah ini lantai dua? Setauku di sana tidak ada balkon?" bisik Krisna.


Thomas yang sudah mengeluarkan separuh badannya pun berkata. "Jadi kau mau lewat pintu depan? Silakan kalau kau mau tertangkap lagi."


"Jangan banyak bicara, pegang tanganku," lanjut Thomas tak sabar.


"Kau tidak lihat tanganku sakit? Bagaimana aku bisa melakukannya? Kau sendiri yang membuatku begini," gerutu Krisna.


Thomas membuang nafas kesal. "Cepat, atau kau kutinggal saja," desisnya tajam.


Mau tak mau Krisna berusaha meraih tangan Thomas yang berusaha membantunya memanjat. Sulit bagi Krisna karena selain tak terlatih, satu tangannya juga sakit lantaran luka jahit akibat sobekan yang disengaja.


Sudah Krisna bilang semua ini rencana Thomas. Krisna yang melukai tangannya sendiri agar dibawa ke rumah sakit, sementara Thomas juga entah kenapa anak itu kebetulan mengalami diare. Jadi mereka bisa sama-sama keluar dari jeruji besi ketika pemeriksaan.


Thomas berhasil menarik Krisna naik. Kini mereka sudah berada di luar dengan Krisna yang berpegangan panik pada jendela. Matanya membelalak ketika melihat ke bawah.


"Apa yang kau lakukan? Bukankah ini sama saja mau bunuh diri?" tanya Krisna. Jantungnya benar-benar terhentak lantaran kini kedua kakinya hanya menapak pada beton seukuran satu jengkal tangan. "Jangan bilang kau mau kita merayap di tembok ini? Bagaimana bisa?" lanjut Krisna mulai terengah.


Sialnya, Thomas berandal itu menjawab dengan datar. "Bisa, kita hanya perlu melangkah sampai ujung, lalu di sana ada pohon besar. Letaknya di belakang bangunan ini, jadi sedikit aman untuk kita lewati. Kita akan turun dari pohon itu."

__ADS_1


Krisna rasanya ingin menjerit. Melangkah, dia bilang. Ini bukan melangkah, melainkan merayap seperti cicak. Itupun Krisna tidak yakin, sementara sekarang tangannya saja tak mau lepas dari kusen jendela. Berbeda dengan Thomas yang begitu santai seolah tak ada rasa takut. Mungkin karena Krisna sudah tua, jadi ia tak seberani anak itu.


Jika dipikir-pikir, kemampuan Thomas sedikit di luar nalar Krisna. Bukan hanya sekarang, tapi kemarin ia juga mendapati Thomas berkelahi dengan teknik-teknik bela diri yang bukan sembarangan. Benarkah dia hanya berandal biasa dan mantan narapidana?


__ADS_2