
"Kamu sudah mau berangkat?" Glacia bertanya pada Narendra yang baru saja keluar dari walk in closet. Sementara Glacia sendiri tengah berdiri di pintu pembatas balkon, berpegangan pada rolling door. Ia memperhatikan penampilan Narendra yang rapi serta necis dengan setelan formalnya.
Narendra yang tengah memasang arloji di tangan, mendongak, dan seketika membelalak melihat Glacia. Bukannya menjawab pertanyaan Glacia, ia justru berlari menarik wanita itu memasuki kamar.
"Apa-apaan kamu? Berapa kali kubilang menjauh dari balkon? Itu bahaya!" Nafas Narendra terengah panik. Rautnya begitu khawatir menatap Glacia.
Glacia mengerjap. "Ah ... maaf. Itu ... tadi aku sedang latihan berjalan, berpegangan pada dinding, dan tanpa sadar mengarah ke sana." Ia meringis merasa bersalah. Narendra memang sudah mewanti Glacia untuk tidak mendekati tempat-tempat yang beresiko seperti balkon dan kolam, atau space lain di rumah mereka yang sekiranya akan membuat Glacia kesulitan.
Benar, dalam 3 bulan ini Glacia memang sudah tinggal serumah lagi bersama Narendra. Mereka juga tidur dalam satu kamar yang sama. Glacia serius ingin memperbaiki hubungan dengan pria itu, makanya ia tidak menolak saat Narendra mengusulkan agar mereka satu kamar.
Narendra membuang nafas, ia menegakkan tubuh, masih dengan memeluk pinggang Glacia. "Pokoknya jangan ke sana. Kalau nanti kamu jatuh bagaimana?"
Glacia mengangguk tersenyum. "Iya, lagipula tadi aku tidak sampai ke balkon, kan? Hanya berpegangan di pintu."
"Tetap saja aku khawatir. Kalau kamu seperti ini terus, aku tidak akan bisa tenang saat di luar," sahut Narendra.
"Maaf," ucap Glacia sekali lagi. Ia merangkul leher Narendra seraya mengecup bibirnya sekilas. "Sudah, ya, Tuan. Jangan marah lagi. Sayang pada penampilanmu yang sudah tampan ini." Ia mengerling sedikit, menelusuri pakaian yang membalut pas tubuh Narendra.
"Jangan menggodaku. Aku tidak mempan dengan caramu mengalihkan pembicaraan." Wajah Narendra terlihat serius, membuat Glacia seketika berdecak dan melepaskan rangkulannya di leher Narendra.
Glacia menjauhkan tubuh, sedikit berjalan pelan. Matanya mendelik pada Narendra. "Kenapa kau selalu begitu? Membuatku malu saja," ketusnya.
Masih dengan wajah sabarnya, Narendra mendekat. Namun saat itu pula Glacia bergeser menjauhinya. Ia pun berhenti, lalu mengusap wajahnya pelan. "Tidakkah kamu tahu sikapku ini didasari kekhawatiran? Aku khawatir karena kamu belum lancar berjalan, harus tetap dalam pengawasan. Aku tidak tenang saat bekerja karena kamu kadang-kadang bertindak di luar dugaan. Harus berapa kali lagi aku memecat perawat karena menganggap mereka tidak becus mengawasimu? Padahal kamu sendiri yang kerap bersikap nakal. Jangan jalan-jalan sendiri. Kamu ingat aku sudah bicara hal ini berapa kali?"
Glacia terdiam dengan bibir sedikit mengerucut. Perkataan Narendra tidak salah. Ia memang kerap berlaku semena-mena karena bosan. Merasa bahwa kakinya sudah cukup mampu diandalkan.
"Iya, aku salah. Aku minta maaf."
Akhir-akhir ini Glacia memang kerap mengalah, dan lebih menurut pada Narendra. Entah ini karena didasari oleh perasaannya pada lelaki itu, atau memang Narendra yang selalu benar, makanya Glacia selalu kalah.
Narendra mendekat dan kembali mendekap Glacia, menuntunnya untuk duduk di sofa tak jauh dari sana. "Jangan terlalu memforsir. Berlatih berlebihan juga tidak baik," ucapnya mulai melunak.
Ia berlutut di depan Glacia, menyentuh lutut serta tungkainya, sambil memberi beberapa pijatan kecil.
"Hari ini aku pulang agak malam. Aku harus ke bogor untuk meninjau proyek di sana," ucap Narendra.
Glacia mendongak. "Kamu tidak menginap saja?"
Narendra menggeleng. "Dekat, kok. Masih bisa pulang-pergi setiap hari." Ia balas menatap Glacia.
__ADS_1
"Memang ke sana harus berapa hari?" tanya Glacia lagi.
"Perkiraan 3 hari aku harus bolak-balik Bogor," jawab Narendra. Ia menghentikan pijatan kecilnya di kaki Glacia, lalu beranjak dan duduk di sebelah wanita itu. "Makanya, kamu harus baik-baik di rumah, supaya aku tidak khawatir."
Glacia mengangguk. "Baiklah. Tapi, bukankah akan lebih mudah kalau kamu cari penginapan di sana? Pasti melelahkan kalau kamu harus pulang-pergi ke rumah dan ke Bogor."
Narendra tetap menggeleng. "Aku tidak mungkin meninggalkan kamu lama-lama, kan?"
"Naren, kondisiku sekarang sudah jauh lebih baik. Aku bahkan bisa berjalan sedikit-sedikit, ambil baju sendiri, mandi sendiri, apa lagi yang membuatmu khawatir?" Glacia melanjutkan. "Aku lebih khawatir kamu kelelahan, karena akhir-akhir ini juga sering lembur di ruang kerja. Kamu selalu mengkhawatirkanku, tapi kamu tidak mengkhawatirkan dirimu sendiri."
Narendra terdiam.
"Kamu terlalu fokus pada kesehatanku, sampai kamu lupa kesehatanmu tak kalah penting." Glacia melanjutkan.
Tiba-tiba saja lelaki itu berkata. "Bagaimana kalau kamu ikut saja? Sekalian kita berlibur, sebelum aku mengajakmu ke tempat yang lebih istimewa, setelah kakimu sembuh nanti." Narendra mengangkat alis, menunggu tanggapan Glacia.
"K-kenapa jadi berlibur? Bukankah kamu ke sana untuk meninjau proyek? Apa kata karyawan nanti, kalau kamu mengajakku ikut? Terlebih, aku tidak mungkin tidak menyusahkanmu di sana."
Narendra tersenyum. Ia menyelipkan sejumput rambut Glacia ke belakang telinga. "Jangan hiraukan. Mau bicara sejelek apa pun, mereka tak akan berani bersuara apalagi protes pada bosnya."
"Omong-omong, semakin hari kamu semakin cantik. Rambutmu tumbuh cukup cepat, panjangnya sudah melewati telinga. Manis sekali," lanjut Narendra, sedikit mencubit pipi Glacia. "Pipi kamu juga mulai berisi lagi."
Menggeleng pelan, raut Narendra terlihat bingung. Apa ia ada mengatakan gendut tadi?
"Gendut dari mana? Badanmu masih terlalu kurus sejak masa pemulihan."
"Begitu, ya?" Glacia meringis. Ia menunduk mengamati tubuhnya sendiri. "Benar, sih. Pantas sampai saat ini kamu belum juga menyentuhku. Pasti karena kurang seksi," bisiknya tanpa sadar.
"Kamu bilang apa?"
"Ah? Bukan apa-apa." Glacia menggeleng cepat. "Jadi ... kamu mau mengajakku ke Bogor? Yakin? Aku mungkin malah akan membebanimu di sana."
"Kalau kamu mengizinkanku pulang-pergi dari rumah, tidak apa-apa kamu tidak ikut," jawab Narendra mengendik bahu.
Glacia mencibir. "Apa kamu tidak kasihan pada Julian yang menyetir?"
"Kami bawa sopir," timpal Narendra.
"Tetap saja mereka pasti capek mengikuti gaya bekerjamu yang gila."
__ADS_1
"Maka dari itu kamu harus ikut."
Narendra sepertinya serius. Karena sedetik kemudian ia memanggil pelayan untuk menyiapkan koper berisi keperluan-keperluan Glacia.
"N-Naren. Begini, aku belum terlalu lancar berjalan. Nanti kamu malah repot karena mengurusku," cicit Glacia.
Ia sebenarnya ragu. Banyak sekali yang menjadi pertimbangannya untuk ikut.
"Kan ada perawat. Aku akan membiarkan Bu Lulu ikut untuk menemanimu di sana. Kamu pikir aku akan sepenuhnya membebaskanmu di sana?"
"Sudah, jangan cemaskan apa pun lagi. Sekarang kita sarapan, lalu berangkat." Narendra berdiri. Tanpa aba-aba ia mengangkat tubuh Glacia dari sofa, lalu menggendongnya keluar kamar. Sebelum itu ia berseru pada pelayan di ruang wardrobe. "Kalau sudah selesai, kopernya bawa ke bawah!"
"Siap, Tuan!"
Glacia menggigit bibir sambil melingkarkan lengannya di leher Narendra. "Naren ... aku ..."
"Syut." Narendra mengecup bibir Glacia, sedikit menghisapnya hingga wanita itu terperanjat. "Jangan bicara lagi," bisiknya.
Glacia meringis. Ia memukul pelan bahu Narendra ketika mereka keluar dari lift. "Kenapa kamu jadi semakin berani menciumku? Malu dilihat pelayan, tau!"
Narendra berhenti berjalan, ia mengedarkan kepalanya, menatap beberapa pelayan yang kedapatan memperhatikan mereka. Para pelayan itu sontak membuang muka, berlagak kembali bekerja. Entah itu mengelap meja, membersihkan guci, kursi, dan benda lain.
"Apa kalian terganggu dengan kami?"
"S-sama sekali tidak, Tuan!" Salah satu dari mereka berseru gugup.
Narendra menoleh pada Glacia dengan kedua alis terangkat. "See? Mereka tak peduli."
Ia lalu menoleh lagi pada pelayan-pelayan di sana. "Ingat, pekerja yang baik tidak menghiraukan apa pun yang dilakukan majikannya."
Narendra lalu melanjutkan langkah ke ruang makan, meninggalkan para pelayan itu yang kini menjerit tertahan, berkumpul satu sama lain. "Tidakkah kalian merasa Tuan semakin keren?"
"Benar, dulu wajahnya sangat murung, mungkin karena Nyonya memiliki pria idaman lain. Sekarang, kudengar hubungan mereka sudah membaik. Mereka sudah balikan."
Para pelayan itu berbisik-bisik saling menggosip.
"Iya, pantas saja beberapa bulan ini Tuan terlihat bahagia, sepertinya memang benar hubungan mereka membaik," timpal yang lainnya.
"Kali ini mereka benar-benar menjadi pasangan yang sesungguhnya."
__ADS_1
Suara deheman berhasil membubarkan perkumpulan pelayan itu. Rupanya Meredith, sang kepala pelayan kini berdiri dengan wajah datar memperhatikan mereka. "Tuan bilang apa tadi? Pekerja yang baik tidak menghiraukan apapun yang dilakukan majikannya." Matanya terlihat tegas saat melanjutkan. "Termasuk membicarakannya di belakang, itu juga dilarang."