
Mobil box itu terus melaju, mulai dekat dengan area pelabuhan. Krisna menyeringai karena sebentar lagi rencananya akan berhasil. Ia akan menyingkirkan Glacia, lalu setelah ini Yohanes dan Narendra, dan perusahaan besar Martadinata akan segera menjadi miliknya.
Krisna dan anak buahnya menggunakan dua mobil. Satu mobil box yang dipakai membawa Glacia, satunya lagi mobil usang biasa yang disopiri salah satu pemuda berandalnya. Mereka berada di depan sebagai penunjuk jalan, karena salah satu dari berandal itu mengetahui seluk-beluk jalan pintas menuju pelabuhan.
Sekali lagi Krisna tertawa dengan pikirannya sendiri. Ia menepuk pemuda di sampingnya yang sedang menyetir. "Ayo, lebih cepat lagi," ucapnya.
Pemuda itu mengangguk dan menambah kecepatan mobil mereka. Tak lupa ia memberi tahu temannya yang memimpin jalan di depan.
Sesaat mata Krisna melirik ke belakang, ia yakin saat ini Glacia tengah sekarat kelelahan. Benar saja, di belakang sana Glacia terlelap sejak beberapa puluh menit lamanya. Si berandal bertato yang sejak tadi menemaninya sampai terheran karena Glacia bisa tak bangun selama itu.
Biasanya Glacia akan terperanjat setiap kali mobil mengalami guncangan. Tapi kali ini tidak, wanita itu seolah damai dalam tidurnya. Ia mendengus berusaha tak peduli. Tapi tak bisa dipungkiri ia merasa penasaran.
Thomas, berandal cuek dengan tubuh penuh tato itu mengulurkan tangan. Ia menekan lengan atas Glacia menggunakan jari telunjuknya. "Hey," panggilnya, pelan nan singkat.
Tak ada respon dari Glacia. Ia mengendik menarik kembali tangannya. Mungkin Glacia memang tidur karena semalaman mereka melakukan perjalanan. Ia hanya memastikan wanita itu tetap bernafas, karena tuan mereka menginginkan si wanita tenggelam dalam keadaan hidup-hidup.
Kembali pada Krisna yang tertawa-tawa setelah mendapat transferan yang ia duga dari Lizy. Memang nama pengirim bukan atas nama wanita itu, tapi ia tak perduli, yang penting uangnya masuk sesuai yang dijanjikan.
"Hahaha ...." Tawa Krisna menggema, pun pemuda di sampingnya langsung bertanya.
"Ada apa?"
Krisna menoleh, masih dengan kekehan senang ia pun segera memasukkan ponselnya ke saku celana. "Apa pelabuhannya masih jauh?"
"Sekitar 1 setengah kilometer lagi. Kita harus melewati jembatan sebelum ke sana," jawab si pemuda.
Krisna mengangguk saja. Ia tak mengatakan apa pun soal uang transferan tadi. Sementara mereka tidak sadar, sebuah helikopter baru saja mendarat di lapangan tak jauh dari sana.
__ADS_1
Narendra memacu mobilnya semakin cepat. Nafasnya terdengar berat dengan tubuh menegang luar biasa. Mobil Krisna masih puluhan meter jauhnya. Ia juga harus sabar karena beberapa kali terhalang kendaraan lain.
Siang itu jalanan di kota tersebut cukup padat, terlebih yang mengarah langsung ke pelabuhan. Tak jauh berbeda dari Narendra, Krisna pun harus berdecak ketika mobilnya terjebak dalam kemacetan.
"Ada apa? Kenapa jembatannya penuh sekali?" tanya Krisna kesal.
Pemuda di sampingnya menjawab. "Ini menjelang libur. Biasanya memang seperti itu."
"Sial, aku sudah tidak sabar membuang wanita itu," desisnya bergumam.
Narendra berkali-kali memukul setirnya sambil terus mengedarkan mata. Jembatan panjang yang melintasi selat sudah terlihat di depan, meski kecil karena masih terlalu jauh untuk dijangkau. Sementara titik merah di peta menunjukkan bahwa Krisna sudah berada dekat di sana.
Berkali-kali Narendra membunyikan klakson yang membuat orang lain risih serta memakinya. Namun mereka tidak paham sekalut apa keadaan Narendra saat ini.
Saat kendaraan di depannya mulai melaju, Narendra tak membuang kesempatan itu untuk menyalip beberapa dari mereka.
Di depan sana, mobil Krisna dan anak buahnya sudah mulai memasuki jembatan. Lalu lintas berangsur lancar hingga mereka bisa kembali memacu kecepatan yang lumayan.
Sudut bibir Krisna menyeringai. Sebentar lagi, seharusnya Glacia berterimakasih padanya, karena setelah ini ia tak akan lagi mengalami kesakitan oleh penyakitnya.
Di tengah rasa senang Krisna yang menggebu, tiba-tiba saja, jauh dari depan mereka sebuah sedan mewah melaju kencang melawan arus. Riuh bunyi klakson bersahutan, pun suasana jalanan berubah kacau. Namun mobil itu enggan menghentikan aksi gilanya hingga tiba-tiba ia membanting setir secara mendadak, berbelok dengan posisi melintang menghalangi jalan yang menimbulkan decitan nyaring di aspal.
Para pengendara yang melintasi jembatan tersebut menjadi kehilangan kendali atas kendaraan mereka, hingga badan mobil dan motor itu saling bertubrukan menimbulkan tabrakan beruntun yang menjalar hingga ke belakang, termasuk mobil Krisna dan anak buahnya yang kini terhuyung ke sembarang arah, menabrak pengendara lain yang juga mengalami hal serupa.
Ckiiittt .... Brak! Bruk! Brak! Bruk!
Suara decitan dan benturan keras membuat riuh suasana jembatan.
__ADS_1
"Sialan! Apa-apaan orang gila ituuu!!!" teriak Krisna yang kini berpegangan erat dengan tubuh terantuk ke sana kemari membentur kabin mobil. Sementara pemuda di sampingnya berusaha keras mengendalikan setir di saat mobil mereka hampir terguling beberapa kali.
Di dalam box, Glacia yang tertidur turut tersadar karena mengalami guncangan hebat. Tubuhnya sampai bergeser-geser dan membentur sisi kiri kanan dinding kotak besar itu. Kardus-kardus di sekitarnya juga turut berhamburan menimpa tubuh ringkihnya yang tak bisa berbuat apa-apa.
Glacia memekik terkejut dan secara refleks mencari keberadaan si berandal muda yang ia ingat masih bersamanya dalam perjalanan. Pemuda bertato itu rupanya juga tengah menatap ke arah Glacia.
Posisi mereka berjauhan, si pemuda berpegangan kuat pada sebuah besi yang melintang di bagian box paling depan. Sementara Glacia, ia tak bisa menahan tubuhnya sendiri yang diguncang habis, berguling ke sana kemari menabrak kardus dan dinding box mobil.
Glacia bahkan tak sempat untuk menanyakan apa yang terjadi pada pemuda yang menatapnya rumit setengah ragu itu.
Sementara sekitar dua puluh meter dari sana, Narendra menghentikan laju mobilnya ketika melihat kecelakaan di depan. Tubuhnya sontak menegang teringat dengan Glacia, pun ia memastikan pada peta serta mengamati satu persatu kendaraan di sana.
Narendra menemukan mobil box yang ia duga ditumpangi Krisna. Namun saat itu pula matanya membelalak dan Narendra pun segera membuka pintu mobilnya untuk kemudian berlari keluar.
Mobil usang yang dikendarai anak buah Krisna terguling di antara kendaraan lain, sementara mobil box yang ditumpangi Krisna berputar ke tepi jembatan, menabrak pagar pembatas hingga pintu box di belakangnya seketika terbuka lebar dengan posisi menjorok, dan detik itu pula ...
"Aaaakkhhh!!!! Byuuurrr ...." Suara teriakan seorang wanita yang disusul deburan air sangat keras menjadi sorotan orang-orang.
Tanpa bisa dicegah, tubuh Glacia terpelanting keluar melewati pembatas jembatan hingga jatuh menghantam perairan di bawahnya.
Suasana semakin derdengung di tengah ricuhnya kondisi jembatan usai kecelakaan. Mereka semua berteriak mengetahui adanya korban jatuh dan langsung berbondong-bondong melihat ke tepi jembatan.
Di belakang orang-orang yang bergeming itu Narendra terpaku dengan nafas berlarian. Dengan pikiran yang sudah carut-marut ia mendorong tubuh-tubuh di sana dan tanpa ragu melompat ke bawah.
Byuuurrr!!!
Belum selesai keterkejutan para manusia itu, mereka sudah kembali dibuat terpekik menyaksikan keberanian Narendra yang melemparkan dirinya menyusul Glacia yang kini sudah tenggelam hilang dari permukaan.
__ADS_1
Sirine polisi dan ambulance terdengar mendekat ke lokasi kecelakaan. Sementara jauh di depan sana, sedan mewah yang tak lain si pembuat kekacauan dengan santainya berbalik pergi meninggalkan tempat tersebut.
Mobil mewah dengan warna hitam mengkilat serta logo khas Wiranata itu melaju cepat melewati para polisi dan petugas medis yang berhamburan datang.