
Malam semakin larut, namun masih belum ada tanda-tanda Glacia akan meninggalkan sun house. Ini sudah masuk jam istirahat para pelayan, tapi Wina dan Weni tidak mungkin beristirahat jika Glacia belum terlelap.
Wanita itu masih betah dengan buku bacaannya sejak sore tadi. Air putih, teh, bahkan jus buah dan cemilan lain sudah ludes Glacia santap. Bukan hanya itu, makan malam pun Glacia lakukan di rumah kaca tersebut. Wina dan Weni sampai lelah bolak-balik, belum lagi mereka harus merangkai alasan pada Narendra.
"Nyonya, ini sudah malam. Anda harus segera tidur dan istirahat," celetuk Wina yang khawatir dengan kesehatan Glacia. Ia perhatikan sang nyonya kerap terbatuk di beberapa kesempatan.
Namun Glacia tetap keras kepala dan ingin lanjut membaca. "Sebentar, aku tidak suka tidur dalam keadaan penasaran."
Buku novel yang Glacia pegang terbilang tebal. Kalau itu Wina atau Weni, mereka tak akan mungkin menghabiskannya dalam satu atau dua hari.
Tak bisa dipungkiri kedua pelayan itu juga sudah mengantuk. Padahal Glacia juga beberapa kali menguap, tapi wanita itu masih belum ada niatan untuk tidur.
Hingga tak lama Narendra muncul dengan pakaian tidurnya. Wina dan Weni yang duduk tak jauh di belakang Glacia langsung berdiri memberi hormat. Mereka bungkam saat Narendra memberi isyarat untuk diam.
Lelaki itu mengarahkan pandangan pada Glacia yang masih asik dengan dunianya sendiri.
"Pergilah dan istirahat." Kira-kira begitulah yang Narendra ucapkan selanjutnya tanpa suara.
__ADS_1
Awalnya Wina dan Weni tampak ragu, mereka menoleh ke belakang, pada Glacia yang masih belum menyadari kehadiran Narendra. Namun pada akhirnya dua pelayan itu pun mengangguk karena merasa segan jika membantah.
Wina dan Weni mengangguk lantas berpamitan meninggalkan sun house. Seperginya mereka berdua, Narendra berjalan perlahan mendekati Glacia. Ia mengambil selimut yang tersampir di kursi tak jauh dari wanita itu, lalu membentangkannya hingga menyelimuti punggung dan bahu Glacia.
Sesaat Glacia nampak terkejut. Tubuhnya terlonjak hingga secara refleks menoleh.
"Kenapa belum tidur? Hari sudah malam, cuaca juga mulai dingin," tanya Narendra.
Pria itu beralih ke depan Glacia dan berlutut, tangannya terulur menyentuh kaki Glacia yang telanjang tanpa sandal.
Glacia mengerjap sebentar sebelum menjawab. "Tadi agak gerah," jawab Glacia singkat.
Narendra mengalihkan matanya pada sandal bulu yang tergeletak di bawah meja. Pasti sebelumnya Wina atau Weni yang menyimpan di sana. Narendra segera mengambil benda tersebut lalu memakaikannya di kaki Glacia.
Naren tak lantas berdiri meski sudah selesai, ia terdiam dalam posisi berjongkok entah memikirkan apa. Glacia mendongak, langit gelap terlihat dari atap kaca di atasnya. Tidak ada bintang, tidak pula dengan bulan. Cuacanya seredup hati Glacia yang entah kenapa terasa semrawut. Mungkin ia masih terbawa suasana usai pertemuannya dengan Gallen.
"Kenapa kau begitu peduli padaku?" tanya Glacia tiba-tiba. Ia menunduk, pun Narendra mendongak balas menatapnya.
__ADS_1
"Kau bertanya itu lagi."
Glacia terdiam. "Kau merasa kasihan padaku?"
Narendra enggan menjawab, ia membuang nafas dan kembali menunduk menatap kaki Glacia. Ia seolah lelah dengan pertanyaan Glacia yang hanya itu-itu saja.
Suasana begitu hening sampai-sampai Glacia merasa ia mendengar hembusan angin. Tanaman hijau yang rimbun di sekitar mereka mulai menguarkan aroma segarnya masing-masing.
"Naren?" bisik Glacia. "Kenapa semakin hari, perasaanku semakin tak karuan?"
"Tolong jangan terlalu peduli padaku. Bersikaplah seperti dulu saat kita masih menjadi orang asing."
Narendra mendongak menatap Glacia. "Kenapa?"
Glacia tak langsung menjawab. Ia mengamati reaksi Narendra andai perkataannya tak terkontrol.
"Karena sepertinya hatiku mulai berharap sesuatu yang tidak mungkin."
__ADS_1