
"Naren, boleh aku minta tolong padamu? Aku bingung harus menyuruh siapa lagi. Semua orang sibuk, dan kau tahu sendiri setengah jam lagi adalah jadwal penerbanganku."
Narendra yang sedari tadi diam mengamati Yohanes yang rikuh bersiap pun bertanya. "Minta tolong apa, Tuan?"
"Tolong jemput putriku. Dia mabuk di club malam. Oh, astaga aku sudah pusing dengan kelakuan anak itu. Dia hampir tidak pernah tidur di rumah."
"Ya Tuhan, ini sudah terlambat. Baiklah, aku hanya minta tolong itu saja, karena hanya kamu yang bisa kupercaya," sambung Yohanes. "Aku pergi."
Yohanes berjalan cepat meninggalkan kantor. Hari sudah malam, dan Narendra baru saja diminta untuk menjemput putri bosnya. Jujur, selama Narendra bekerja dengan Yohanes, Narendra belum pernah sama sekali bertemu putri dari Yohanes Martadinata yang kabarnya sangat nakal itu.
Padahal, sebelumnya ia sudah ada janji bersama Lizy. Mau tak mau Narendra harus menunda atau justru membatalkannya.
Dengan berbekal foto di pencarian internet, Narendra pun akhirnya pergi menjemput Glacia Martadinata yang sedang mabuk di club malam. Tidak sulit untuk menemukannya, Narendra akui wanita itu paling menonjol di antara wanita lainnya yang ada di sana.
Ia bahkan sempat terpaku mendapati sosoknya yang memikat, namun ia segera sadar dan kembali berpegang pada niatnya.
Glacia tengah duduk di meja bar, kepalanya bertumpu lemah di meja, sepertinya benar dia sedang mabuk. Bibir ranumnya terus meracau gumaman tak jelas. Para lelaki di sampingnya mencoba mencari kesempatan untuk menyentuh meski berkali-kali ditepis.
Narendra lekas mendekat dan mencekal salah satu tangan dari para lelaki itu. "Jangan menyentuhnya."
Mereka mendengus sinis. "Hei, siapa kau?"
"Mengenai siapa aku bukanlah hal penting. Dia bersamaku dan tanggung jawabku," tegas Narendra singkat.
Meski sulit karena harus terlibat perdebatan dan adu jotos dulu, pada akhirnya Narendra pun berhasil membawa Glacia pulang dalam keadaan mabuk berat. Dalam perjalanan pun wanita itu terus meracau, bahkan muntah hingga mengotori mobil Narendra dan pakaiannya sendiri.
"Hiks, jahat. Semua orang jahat," gumam Glacia disertai isakan.
Narendra hanya menatapnya tanpa mengerti apa pun. Mereka sudah sampai di kediaman Martadinata yang bak istana negeri Eropa. Narendra keluar dari mobil, dan seketika itu pula para pengawal yang berjaga di sana menghampiri.
"Biar saya saja," tutur Narendra saat salah satunya menawarkan bantuan untuk membawa Glacia ke dalam rumah.
__ADS_1
Narendra menggendong Glacia masuk, seorang pelayan pun mengantarnya hingga ke kamar wanita itu. Baru saja ia hendak menyuruh untuk mengganti pakaian Glacia yang kotor, si pelayan tiba-tiba berlari keluar menanggapi panggilan temannya yang entah panik karena apa.
Melihat hal tersebut Narendra hanya bisa membuang nafas. Ia mengamati Glacia yang kini sudah berbaring di atas ranjang. Sesekali wanita itu menggeliat. Kedua tangannya bergerak ke sana kemari menggosok tubuhnya sendiri.
Narendra mengernyit melihat gelagat Glacia yang mulai aneh, terlebih saat wanita itu bergumam panas dengan raut yang semakin gelisah. Wajah putihnya memerah, pun keringat semakin membanjiri lehernya.
"Panas ... hiks, geraaahh ..." Glacia tak berhenti menggeliat di atas ranjang. Tangannya mulai mengusap dan memijat dengan gerakan sensual.
Narendra bergeming kebingungan. Ia jelas tahu apa yang dialami wanita itu. Ia berpikir mungkin salah satu dari pria di club tadi telah memasukkan sesuatu ke dalam minuman Glacia.
Belum sempat ia berbalik dan berniat memanggil pelayan, Glacia tiba-tiba menarik tangan Narendra hingga tubuh jangkung itu terhuyung menimpanya di atas ranjang.
"Panaaass ... Engh ..."
Narendra mematung dengan jantung berdebar keras. Bukan tanpa alasan, ia pun menelan ludah saat merasakan tangan halus Glacia merambat mengusapi tengkuknya.
"No-Nona." Narendra terbata entah harus bicara apa. Ia berdehem sebelum kemudian beranjak dari atas tubuh Glacia.
"Sentuh aku ..." bisik Glacia penuh permohonan.
Nafas Narendra mulai tak beraturan. Berkali-kali ia menelan ludah, lalu berusaha menjauhkan tangannya dari tubuh molek milik Glacia.
Ia menggeleng berusaha tetap sadar. Ingat, dia adalah putri atasanmu. Narendra terus membatin seperti itu.
Sesaat matanya melirik pintu kamar yang terbuka. Tak pelak ia pun khawatir ada yang melihat. Baru saja Narendra bisa sedikit lebih tenang, Glacia sudah melakukan hal gila lainnya.
Masih dengan tubuh bergerak gelisah, Glacia menarik turun tali dressnya berusaha membuka pakaian tersebut. Tentu Narendra terhenyak bahkan sesaat lupa untuk bernafas.
"Apa yang dia lakukan?" desis Narendra frustasi.
Narendra berupaya menghentikan aksi Glacia yang tidak disadari wanita itu. "Hei, cukup. Kau benar-benar sudah mabuk."
__ADS_1
Tidak, Narendra yakin bukan hanya mabuk, tapi ada sesuatu lain yang mempengaruhi wanita itu.
Glacia tak juga mau berhenti. Ia mendorong Narendra keras, lalu meloloskan seluruh pakaiannya hingga kini ia benar-benar telanjang bulat di hadapan Narendra.
Narendra terpekur. Ia lelaki normal dan sangat mengakui Glacia memiliki tubuh seindah dewi. Ini bukan pertama kali Narendra menyaksikan seorang wanita telanjang, Lizy pun kerap memamerkan tubuhnya di depan Narendra ketika memaksa berhubungan, walau tetap berujung penolakan karena Narendra ingin menjaga wanita itu dari segala nafsu lelakinya.
Tapi, kali ini Narendra benar-benar merasa terbuai oleh pemandangan di depan sana. Glacia yang menggeliat sensual di atas ranjang betul-betul menguji keimanannya. Wanita itu mendesah lirih menyentuh tubuhnya sendiri, lalu meracau tak jelas yang hanya Narendra anggap sebagai angin lalu.
Mata Narendra fokus pada setiap lekukan indah milik Glacia. Benar-benar mempesona sampai Narendra tidak sadar kakinya sudah mendekat.
"Oh Ya Tuhan, ini panas sekaliii ..." racau Glacia lagi. "Hiks, gataalll ..."
"Siapa pun tolong aku!" Wanita itu semakin menjerit tak karuan dengan tubuh bergerak brutal. "Akh!"
Glacia terdiam dengan nafas tercekat saat sentuhan itu datang menghampiri tubuhnya. Nafasnya yang terengah kini bercampur lenguhan merdu memancing syahdu, sedang matanya terpejam erat menikmati.
Gila. Narendra benar-benar sudah gila. Ia tak bisa menahan dirinya sendiri, terutama tangan lancangnya yang kini justru tak kalah menikmati. Kelembutan yang ia sentuh membuatnya lupa akan segala hal, termasuk Lizy yang sedari tadi berusaha menghibungi.
Narendra menurunkan wajah mencumbu Glacia. Ternyata selentingan yang ia dengar memang benar, sebelumnya Narendra tak pernah penasaran, tapi kali ini ia mengakui kecantikan putri Yohanes benar-benar berbahaya.
"Emh ..."
Narendra menggeram mendengar lenguhan yang begitu merdu. Tak hanya bibir, ia juga berkesempatan mencicipi bulatan merah jambu yang mencuat mengguncang akal sehatnya.
Namun semua hasrat yang meluap dan menggelora itu harus berhenti ketika sebuah nama meluncur dari bibir Glacia.
"Gallen, kenapa tadi kau mencium wanita lain?" bisik wanita itu lirih, sekaligus menyadarkan Narendra yang sempat terbuai oleh godaan semu.
Narendra mengangkat wajahnya pelan. Ia memandangi wajah Glacia yang kini kembali meracau dengan mata terpejam.
Bodoh. Apa yang barusan Narendra lakukan? Bukan hanya menodai seorang wanita, tapi ia juga telah mengkhianati Eliza, kekasihnya.
__ADS_1
Narendra berusaha menyangkal, tapi sejak saat itu ia tak bisa memungkiri bahwa perasaannya mulai terbagi. Narendra tak bisa begitu saja menghilangkan Glacia dari kepalanya.