
Narendra baru saja keluar dari kamar mandi, saat matanya menangkap keberadaan Glacia yang sedang meringkuk di sofa. Wanita itu sudah membersihkan diri lebih dulu dari Narendra.
Narendra sendiri yang membantunya tadi. Sejauh ini, Glacia sudah tidak terlalu bergantung pada orang lain. Ia sudah bisa melakukan segalanya sendiri.
Narendra mendekat seraya menggosok rambutnya dengan handuk. Ia duduk di pinggir sofa, tepat di hadapan Glacia yang berbaring miring menonton TV. Tangannya terulur mengusap rambut Glacia yang sudah kering dan tersisir rapi. "Kenapa belum dimakan sarapannya?"
Mata Narendra sedikit melirik ke atas meja, di mana berbagai menu makanan sudah tersaji di sana.
Glacia menoleh, ia meraih tangan Narendra yang mengusap rambutnya, lalu menggenggam sekaligus merangkulnya dalam dekapan. Glacia memeluk lengan Narendra persis bantal guling. "Aku menunggumu."
Narendra menatap tangannya sendiri yang kini diciumi oleh Glacia.
"Wangi," gumam wanita itu.
Melihatnya Narendra kontan tersenyum teduh. Ia merunduk, mencium sejenak kening Glacia, sembari membenarkan poninya yang sedikit acak. "Lepas dulu. Aku harus pakai baju."
Namun Glacia malah semakin bergelung manja, bahkan kali ini ia merangkul pinggang Narendra yang terbalut bathrobe. "Bisakah hari ini kau di sini saja?"
"Kita akan semakin lama untuk pulang ke Jakarta kalau aku tidak berangkat," ujar Narendra. "Sabarlah, bulan depan aku akan ambil cuti untuk kita liburan. Sekalian menunggu kamu lancar berjalan."
Glacia tersenyum. Ia bangun dari posisi berbaringnya, lantas bersandar di punggung Narendra. "Benar, ya?"
__ADS_1
"Hem." Narendra mengangguk sembari bergumam. Ia mencekal tangan Glacia yang hendak turun membuka tali handuknya. "Gadis lain akan mengeluh sakit setelah bercinta pertama kali. Kenapa kamu malah terus menggodaku?" tanya Narendra heran.
Glacia mengulum bibirnya. Ia memiringkan kepala, bersandar pada bahu Narendra. Lelaki itu sedang menoleh balas menatapnya.
"Aku tidak tahu, ternyata aroma tubuhmu membuatku kecanduan. Hehe ..."
Narendra membuang nafas, ia mengalihkan pandangan pada menu sarapan mereka. "Ayo makan?"
"Makan apa?" tanya Glacia mengerling.
"Glacy, please ..."
Spontan Glacia tertawa melihat wajah Narendra yang memelas. Ia pun membiarkan ketika lelaki itu mengambil sebuah piring salad untuknya.
Usai sarapan Narendra berangkat menuju lokasi proyek bersama Julian, meninggalkan Glacia yang Narendra titipkan pada Suster Lulu.
***
Kehidupan keduanya berubah banyak. Kemajuan demi kemajuan dalam hubungan perlahan mulai digapai. Seiring kesehatan Glacia yang semakin pulih, kebahagiaan kian menyertai rumah tangga mereka.
Mungkin pernikahan keduanya diawali oleh keterpaksaan, diselimuti perasaan sepihak. Akan tetapi, benar kata orang, bahwa cinta bisa datang seiring waktu. Meski banyak proses yang harus dilalui, berbagai rintangan yang menjadi penguji, pada akhirnya takdir menolak untuk melepas ikatan mereka berdua.
__ADS_1
Awalnya Glacia kira ia akan menderita, karena harus terjebak bersama Narendra seumur hidup. Tapi rupanya hati Glacia berbalik arah menyukainya. Glacia mencintai Narendra, ia mengagumi lelaki itu sebagai sosok suami yang pengertian.
Narendra penyayang, penuh cinta, meski terkadang ia menyeramkan ketika marah, juga pendendam, bahkan tak pernah main-main jika sudah menyangkut soal pembalasan.
Mungkin hanya itu keburukan Narendra yang tidak Glacia sukai. Pria itu tak segan melukai jika seseorang sudah terlalu menyinggungnya.
Tapi mau bagaimanapun, cinta itu harus saling menerima. Glacia akan menerima semua keburukan Narendra, sama seperti Narendra yang tak pernah mengeluh mengenai kekurangan Glacia. Ia percaya, seiring waktu Glacia bisa mengubah cara pandang Narendra, juga lebih menetralisir emosinya yang menakutkan bagi sebagian orang.
Baginya, Narendra adalah pria paling sabar yang mampu mengiringi setiap langkahnya yang terjal. Lelaki itu tak lelah mendampingi Glacia, meski ia turut dipenuhi luka. Narendra rela menopang pernikahan mereka yang rapuh, meski mungkin kadang ia juga lelah.
Semua tentang Narendra diam-diam Glacia tulis tanpa sepengetahuan lelaki itu. Ia yakin, kelak sosoknya akan menjadi cinta pertama bagi anak-anak mereka.
Glacia tersenyum. Rasa terima kasih tak berhenti ia gumamkan pada Tuhan. Rasa syukur karena telah dipertemukan sosok pria yang hampir sempurna seperti Narendra juga tak lepas Glacia renungkan.
Narendra adalah perwujudan dari setiap doa Glacia di masa lalu, ia ingat pernah meminta supaya Tuhan mempersatukannya bersama pria yang tepat. Mungkin Tuhan menjawabnya dengan pernikahan mereka, yang awalnya Glacia pikir sebuah neraka.
Naren, seburuk apa pun hubungan kita dulu, aku harap kamu adalah pria terakhir yang akan menemani sampai ujung nafasku.
Seorang suami yang akan mengayomi, dan mengajariku bagaimana menjadi seorang istri yang baik. Seorang ayah yang menjadi panutan bagi anak-anaknya, juga kepala keluarga yang bisa melindungi rumah tangga kita.
Hidupku bergantung padamu. Asalkan itu baik, aku akan tetap mengikutimu kemana pun kamu membawaku pergi.
__ADS_1
Seandainya nanti hatimu berubah, mungkin Tuhan telah menetapkan masa pada pernikahan kita. Dan saat itu terjadi, aku harap kita tidak saling membenci.
Tetaplah menjadi pria baik yang kukenal, Narendra, dan jagalah hatiku yang sudah kupercayakan padamu.