
Lima hari sudah Glacia tinggal di apartemen Rafael. Selama itu pula lelaki tersebut memperlakukannya secara berlebihan, setidaknya menurut Glacia. Ia terlalu dimanjakan sebagai seorang pasien. Glacia semakin yakin bahwa Rafael menyimpan ketertarikan padanya.
Siang ini Suster Rini membantu Glacia melakukan terapi ringan pada kakinya. Meskipun mereka baik, Glacia tetap merasa asing dan waswas.
Sejak Narendra mengirim pesan di televisi mati beberapa waktu lalu, ia tak ada lagi memberi kabar apa pun. Mungkin juga menghindari resiko ketahuan oleh Rafael.
"Terapi hari ini sampai di sini dulu, Nona. Dokter Rafael mewanti saya supaya anda tidak kelelahan," ucap Suster Rini, ia lalu mengambil gelas air putih di dapur, kemudian kembali menghampiri Glacia. "Minum dulu, Nona. Saya akan buatkan anda jus mangga."
"Oh, terima kasih," balas Glacia.
Rini tersenyum sebelum beranjak lagi menuju dapur. Glacia terdiam di tengah-tengah ruang tamu yang luas, sambil sesekali mengedarkan mata mengamati suasana apartemen yang sunyi. Glacia sempat melirik ke arah CCTV di sudut ruangan, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain dan berhenti tepat di meja kopi samping sofa.
Kening Glacia berkerut mendekati meja tersebut. Sejumlah buku novel bertumpuk di sana. Apa Rafael yang meletakkan benda ini? Beberapa hari lalu Glacia memang sempat meminta buku bacaan, tak disangka Rafael benar-benar mewujudkannya.
Glacia mengambil satu, membuka plastiknya yang masih tampak baru. Dari sinopsisnya cukup menarik, tentang percintaan seorang dokter yang terlibat perasaan dengan adiknya sendiri.
Glacia mematung. Ia membaca nama si penulis yang anonim. Kemudian ia menggeleng mengusir pikiran aneh di kepalanya. Bisa-bisanya Glacia menyimpulkan kisah tersebut merupakan kisah Rafael hanya gara-gara lelaki itu juga memiliki seorang adik perempuan.
Glacia mengambil buku lain yang berbeda, kali ini tentang kisah inspiratif dari penulis terkenal di Indonesia. Lalu ada juga novel terjemahan dengan genre yang berbeda. Di bagian buku paling bawah, Glacia menemukan sebuah sticky note yang ia yakin ditulis oleh Rafael.
__ADS_1
...Saya baru sempat membelikanmu buku-buku ini. Semoga kamu suka. Nanti saya tambah koleksinya lebih banyak lagi....
...Ah, satu lagi. Saya harap kamu bisa menghilangkan panggilan formal kamu ke saya. Saya sangat berharap kita bisa lebih akrab dan tidak canggung....
...—Rafael—...
Sebuah dengusan samar keluar dari hidung dan mulut Glacia. Rafael mulai terang-terangan menunjukkan perasaannya. Hal ini betul-betul tak disangka oleh Glacia. Sebenarnya, apa yang lelaki itu lihat hingga bisa menyukai Glacia?
Glacia tidak percaya, selain Narendra ternyata ada pria lainnya yang membuat Glacia bertanya-tanya. Mungkin sekarang Glacia bisa menganggap bahwa Gallen lah yang paling rasional di sini. Ia meninggalkan Glacia yang sudah cacat dan tak berguna. Memang realitanya seperti itu, entah kenapa Narendra dan Rafael malah memiliki haluan yang lain daripada lain.
Membuang nafas, Glacia kembali memusatkan perhatiannya pada salah satu buku novel yang ia pegang. Hal paling sulit bagi Glacia saat ini adalah membunuh bosan.
Sementara di lantai bawah gedung apartemen yang menjadi tempat tinggal Rafael, Lizy berdiri menepi dan bersembunyi dari keramaian. Ia nekat kemari setelah berhasil lolos dari keamanan rumah Rafael yang lain, yang menjadi tempat lelaki itu menyembunyikannya.
Lizy mengamati pergerakan orang-orang di lobi, dari mulai penghuni maupun pengunjung yang berlalu-lalang. Lizy terdiam dengan pakaian tertutupnya.
Seperti biasa, selain menyembunyikan status sebagai buronan, Lizy juga berupaya menutupi bekas luka hampir di sekujur tubuh akibat penyiksaan yang dialaminya di banker Narendra.
Lizy sudah tahu unit apartemen Rafael, tempat di mana lelaki itu menyekap Glacia. Sekarang giliran Lizy mencari cara untuk bisa sampai di lantai tersebut, lalu menemui Glacia sesuai yang ia rencanakan selama ini.
__ADS_1
Saat Rafael menemuinya di kediaman terpencil lelaki itu pagi tadi, Lizy berhasil mencuri kartu akses miliknya. Entah Rafael sadar atau tidak, yang jelas Lizy tak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
Melewati meja resepsionis, Lizy menyelinap di antara sejumlah orang, memasuki lift dan menekan tombol yang akan mengantarnya ke unit apartemen Rafael di mana Glacia berada.
Sementara di luar, Julian yang sedari tadi juga bersembunyi memperhatikan, lekas menekan earpiece di telinga kirinya guna melaporkan pada seseorang. "Tuan, Nona Eliza sedang menuju lantai atas."
Julian melipat majalah yang melindungi wajahnya untuk penyamaran, ia berlagak seperti pengunjung lain yang menikmati kopi di kafetaria dekat lobi. Tujuannya memang mengamati Eliza yang mereka tahu kini mulai beraksi kembali.
Tak jauh dari gedung, Narendra juga tengah memantau suasana apartemen tersebut bersama timnya, di sebuah mobil serupa bus kecil yang menyimpan berbagai benda elektronik. Mereka sudah berhasil meretas sepenuhnya sistem keamanan di apartemen milik Rafael.
Sebetulnya, kemarin anak buah Narendra secara diam-diam meletakkan beberapa penyadap di dalam apartemen Rafael, melalui petugas kebersihan yang memang memiliki jadwal setiap hari pada jam tertentu.
Selain tim khusus, Narendra juga melibatkan polisi bersama mereka. Bukan tanpa alasan, ia merasa aparat tersebut berhak menjalankan tugas setelah sebelumnya turut serta dalam masalah Lizy dan kasus-kasus lain yang berhubungan dengan penculikan Glacia. Narendra juga ingin sampah-sampah itu mendapat sanksi sosial serta status narapidana yang resmi.
"Hm." Ia bergumam menyahut Julian.
Tak lama kemudian sosok Lizy yang baru tiba di lantai unit Rafael terlihat dari CCTV. Wanita itu berjalan keluar dari lift, hingga berdiri di depan pintu apartemen.
Fokus Narendra lalu teralihkan pada Glacia di dalam. Sang istri tampak tengah membaca buku di ruang tamu. Seorang wanita yang diduga perawat datang menghampiri dengan segelas jus. Mereka terlibat perbincangan sesaat sebelum keduanya sama-sama menoleh ke arah pintu.
__ADS_1
Lizy baru saja menempelkan kartu akses di pintu tersebut.