Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
92. Pertanyaan Yohanes


__ADS_3

"Nyonya, Anda ingin kembali ke kamar?" tanya salah seorang bodyguard.


Glacia membuang nafasnya panjang. "Ternyata Narendra lama."


Padahal sebelumnya lelaki itu bilang sebentar, tapi ini sudah lebih dari setengah jam. Bodohnya lagi Glacia malah menunggu.


"Lebih baik Anda kembali, matahari juga mulai terik. Biar kami antar?"


Pada akhirnya Glacia pun menerima usulan si pengawal. Ia membiarkan salah satu dari mereka mendorong kursi rodanya, sementara satu lainnya memegangi tiang infus.


Sepanjang perjalanan menuju kamar, Glacia tak berhenti memikirkan Narendra. Ke mana pria itu pergi, ada masalah apa sampai Julian menyusulnya dengan wajah tegang, lalu di mana mereka sekarang. Semua pertanyaan itu berputar memenuhi kepala Glacia.


Di tengah hatinya yang bertanya-tanya, si pengawal berhenti mendorong kursi rodanya. Glacia hendak bertanya, namun saat ia mendongak senyumnya kontan tersungging lebar mendapati Yohanes berdiri tak jauh dari mereka.


Wajah paruh bayanya berpendar hangat menyapa Glacia.


"Papa!" Glacia berseru kecil, pun Yohanes berjalan mendekat meraih putrinya dalam dekapan ringan.


"Papa ke mana saja? Kenapa akhir-akhir ini jarang menjenguk Glacy?"


Pertanyaan Glacia membuat Yohanes terkekeh. "Maaf, Sayang. Beberapa hari ini Papa sibuk. Kamu tahu sendiri, Papa sedang mempersiapkan cabang baru perusahaan kita di luar negeri," ucapnya memberi penjelasan. "Bagaimana keadaan kamu? Narendra bersikap baik selama Papa pergi, kan?"


"Glacia baik." Ia terdiam sesaat sebelum melanjutkan. "Naren juga baik, dia selalu menemani Glacy di sini."


"Begitu?" Yohanes menjauhkan tubuh, dan entah kenapa senyumnya nampak sedikit sumir di mata Glacia.


Yohanes mendongak sebentar pada dua pengawal di belakang Glacia, lalu kembali menatap Glacia hangat. "Papa mau bicara sebentar sama kamu."


Glacia yang mengerti kontan menoleh ke arah dua bodyguard-nya. Awalnya mereka ragu, tapi pada akhirnya mereka mundur dan pergi. Meski begitu keduanya tetap mengawasi Glacia dari jarak jauh.


Yohanes membawa Glacia keluar dari lobi, lalu berhenti di sebuah koridor yang nampak asri oleh tanaman di sekitarnya. Di sana ada sebuah bangku, Yohanes pun melesakkan dirinya di bangku tersebut. Sementara Glacia tetap di kursi rodanya dengan posisi menghadap Yohanes.


Sesaat mereka hanya diam memperhatikan lalu-lalang orang dan pasien, sampai kemudian Yohanes menyentuh punggung tangan Glacia, mengamati infus yang terpasang di sana.


"Sakit?" tanya Yohanes perhatian.


Glacia tersenyum kecil. "Seperti ditusuk jarum."


Seketika Yohanes terkekeh. "Ini memang jarum, Nak," ujarnya geli.


"Papa mau bicara apa?" tanya Glacia kemudian. Yohanes pun menghentikan tawanya dan bergeming sesaat. Ia menatap Glacia lekat, sambil mengusap halus punggung tangan Glacia yang lain, yang terbebas dari jarum infus.


Tak lama lelaki tersebut membuang nafas berat. "Kamu ... Hubunganmu dengan Naren, bagaimana?"


Glacia mengerjap. "Bagaimana apa, maksud Papa?"


Yohanes tampak melipat bibir sebelum melanjutkan. "Maksud Papa, perkembangan hubungan kalian."

__ADS_1


"O-Ohh ..."


Tanpa diduga wajah Glacia memerah. Ia menunduk menghindari tatapan Yohanes, tapi Yohanes bisa dengan jelas melihat rautnya yang malu-malu. Rona di wajah Glacia seolah menjelaskan satu hal. Hal itu terjawab ketika sang anak akhirnya mengaku.


"Sebenarnya ... Sebenarnya, Glacy mulai nyaman dengan Naren," cicit Glacia. Ia melirik ayahnya sambil mengulum senyum. "Papa benar, Naren orangnya baik, dia sangat perhatian. Tapi ..."


"Tapi?" Yohanes menunggu.


Wajah Glacia nampak sedikit murung. "Aku masih takut. Aku takut jika menjatuhkan hati padanya, aku akan kecewa lagi. Papa tahu sendiri, aku sudah berkali-kali dikecewakan oleh seorang pria. Meski sepertinya Narendra berbeda, tetap saja rasa waswas itu selalu ada. Tapi Papa tenang saja, aku mulai belajar memeprlakukan Narendra dengan baik, kok. Sesuai yang Papa inginkan sejak dulu."


"Selama ini, mungkin aku terlalu memandang rendah pernikahan kami. Maaf karena sempat tidak memercayai ucapan Papa." Glacia mendengus. "Aku yang keras kepala mempertahankan Gallen, meski tahu Gallen bukan orang baik."


Glacia menoleh lagi pada Yohanes yang terdiam. "Papa pasti senang, kan, karena aku mulai menerima Narendra?"


Pertanyaan itu justru membuat Yohanes bungkam. Rautnya seperti tengah dilanda bimbang. Hal tersebut tentu membuat Glacia mengernyit heran. "Papa?"


Yohanes mengerjap. Ia tersenyum, namun terlihat sedikit kaku. Ekspresinya seolah menyimpan sesuatu yang sulit dikatakan.


"Papa kenapa?"


"Bukan apa-apa. Papa senang kamu dan Narendra mulai akur." Yohanes tersenyum, nafasnya terhela samar saat ia membuang wajah menatap halaman di tepi koridor.


Ia tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya tentang Narendra. Melihat Glacia yang tampak bahagia saat menceritakan lelaki itu, membuat Yohanes tak kuasa menghancurkan suasana hati putrinya yang tengah berbunga.


Ini pertama kali wajah Glacia memiliki rona lagi usai kecelakaan. Yohanes tidak mau rona itu hilang merenggut kebahagiaannya lagi.


Belum sempat Glacia menyuarakan rasa penasaran yang bercokol, siluet Narendra yang datang dari kejauhan menarik atensinya. Lelaki itu berjalan di sepanjang koridor, tanpa Julian.


Wajahnya nampak tenang seperti biasa. Ia melambai, lalu tersenyum kecil saat mata mereka bertemu. Glacia balas tersenyum hingga Narendra tiba di hadapannya. Lelaki itu menyapa Yohanes yang juga sedari tadi mengamati kedatangannya.


"Papa?" Narendra menunduk sekilas. Yohanes membalas dengan sebuah anggukan. Sesaat keduanya saling beradu pandang penuh arti. Setidaknya itu yang Glacia rasakan saat ini. Seolah-olah ada sesuatu yang tak Glacia mengerti, terjadi di antara mertua dan menantu itu.


"Bagaimana perjalanan bisnis kemarin?" tanya Narendra. Ia mulai berpindah ke belakang Glacia, berdiri sambil menempatkan tangannya di kedua pundak wanita itu.


Yohanes menjawab. "Lancar. Semuanya berkembang baik. Kamu bagaimana? Apa ada kesulitan saat Papa pergi?"


Narendra menggeleng pelan. "Tidak ada." Ia lalu melanjutkan. "Aku juga masih memantau mega proyek kita," ucapnya, dengan mata tak lepas memandang Yohanes.


Yohanes tahu, Narendra sedang mengingatkan perihal ancaman halusnya tempo lalu. Ia pun bangkit berdiri sembari menepuk bagian depan jasnya yang kusut. "Karena Naren sudah di sini, kalau begitu Papa pulang dulu."


"Lho, kok pulang?" Glacia mengernyit. "Tidak biasanya Papa seburu-buru ini?"


"Papa dari bandara langsung ke sini. Masih jetlag, Sayang."


Kemudian Narendra menimpali. "Benar, Glacy. Papa butuh istirahat. Benar, kan?" ucapnya memandang Yohanes.


Yohanes mengangguk saja, sementara Glacia bergumam 'oh' pertanda paham. "Ya sudah, hati-hati. Apa bawa sopir, kan?"

__ADS_1


"Papa sama sopir, dia menunggu di parkiran."


"Baguslah."


Yohanes tersenyum. Ia membungkuk mencium kening Glacia sebelum pergi. "Papa pulang. Kamu baik-baik bersama Narendra, ya?"


"Hm." Glacia mengangguk. Ia menatap kepergian sang ayah yang semakin menjauh di koridor.


Setelah bayangan ayahnya lenyap, Glacia mendongak pada Narendra. "Kamu dari mana? Katanya cuman sebentar, tapi nyatanya hampir dua jam."


Narendra menunduk. Ia menurunkan wajahnya dan mengecup bibir Glacia sekilas. Glacia yang mendapat serangan tiba-tiba itu kontan mengerjap dan meluruskan kembali kepalanya. Jantungnya berdebar sampai-sampai punggungnya terasa hangat merasakan kehadiran Narendra di belakangnya.


Astaga, apa-apaan itu?


Menyadari Glacia yang tengah gugup, Narendra pun tersenyum kecil. Ia menjawab pertanyaan wanita itu sebelumnya, sambil mendorong kursi roda meninggalkan koridor di sana. "Maaf, aku tidak menduga urusannya akan sangat panjang. Kamu menungguku?"


Glacia mencibir dengan raut mengelak. "Tidak, aku langsung ke kamar begitu kamu pergi."


"Begitu? Syukurlah. Aku takut kamu menungguku di taman."


Memang, batin Glacia. Aaahhh ... menyebalkan!


Mereka sampai di depan ruang rawat Glacia setelah menaiki lift. Narendra mendorong masuk, dan langsung menutup pintunya kembali.


Glacia sedikit mengejat saat tanpa suara Narendra mengangkat tubuhnya dari kursi roda, lalu menggendongnya ke tepi ranjang.


Lelaki itu duduk sambil memangku Glacia. Tentu saja Glacia gugup, karena ini pertama kali ia seintim ini dengan Narendra. Glacia sedikit tergagap malu lantaran Narendra yang terus menatapnya.


"A-ada apa? K-kenapa kau tidak menurunkanku?"


Tangan Glacia melingkari leher Narendra dengan maksud berpegangan. Narendra tersenyum tipis, ia meneliti wajah pucat Glacia yang kini mulai merona sedikit hangat.


Mereka tak bicara apa pun, bermenit-menit dalam posisi seperti itu. Alih-alih mengatakan sesuatu, Narendra malah mengulurkan tangannya menelusuri kaki Glacia.


"Perkiraan dokter, dua hari lagi kamu boleh pulang, dan melanjutkan terapi di rumah bersama Dokter Teresa. Kita juga akan rutin kemoterapi sesuai jadwal sebelumnya. Kamu siap, kan?" tanya Narendra setelah lama bungkam.


Glacia mengerjap. "T-tentu." Ia masih saja gugup ditatap selekat itu oleh Narendra.


Lelaki itu pun mengulas senyum yang sangat tipis, hampir tak terlihat jika wajah mereka tidak sedekat sekarang. Narendra kian mengikis jarak saat ia melabuhkan kecupan di bibir Glacia. Glacia mematung sesaat, sebelum bergerak membalas ciuman lelaki itu.


"Aku sangat kesal hari ini," bisik Narendra di sela ciuman mereka. Ia menjauhkan wajah, lalu kembali mencium dengan kecupan-kecupan singkat. Kemudian memagutnya lama dan dalam, sampai-sampai Glacia merasa bibirnya sedikit perih.


"Emh." Tanpa sadar Glacia melenguh, hingga Narendra melepas bibirnya sesaat untuk tersenyum.


"Kamu menikmatinya?" bisik lelaki itu pelan.


Glacia melipat bibirnya malu. Narendra mengeratkan dekapannya di tubuh Glacia hingga kini keduanya menempel tanpa jarak. Mata mereka bertemu dalam diam, tatapan Narendra pun turun dan berhenti di antara nafas Glacia yang berhembus.

__ADS_1


Ia pun kembali berbisik. "Bibirmu terlalu pucat, izinkan aku mengembalikan rona merah itu seperti dulu."


__ADS_2