Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
99. Kejanggalan


__ADS_3

Rafael menyimpan sepiring makanan yang baru saja dimasaknya ke atas meja, tepat di hadapan Glacia. Ia tersenyum. "Makanlah. Saya membuat sarapan khusus untuk kamu, dengan kandungan gizi yang tertakar. Saya tahu, selama ini makanan rumah sakit membuatmmu bosan, jadi kali ini saya berusaha membuatnya berbeda dan lebih enak."


Glacia bergeming menatap sayur-sayuran yang ditumis itu, ada juga olahan tempe yang dibuat steik. Glacia mendongak. "D-Dokter ... ini ... apa tidak terlalu berlebihan?" ucapnya pelan dan hati-hati.


Rafael terdiam. "Berlebihan apa maksudmu?"


Glacia meremas tangannya di atas paha. Pagi ini seorang perawat mengurus dan memandikannya. Pakaiannya juga sudah tersedia, seolah itu memang sengaja disiapkan untuknya.


Bahkan, menurut Glacia dress dan baju-baju cantik itu terlalu mewah untuk seukuran pasien seperti dirinya. Kenapa Rafael terkesan terlalu memanjakan Glacia di sini? Glacia tidak merasa sedang menjalani prosedur pengobatan.


"Dokter tidak perlu memasak sendiri seperti ini. Saya akan makan apa pun seperti saat di rumah sakit, jika memang itu yang harus saya makan. Lalu ... baju ini ..." Glacia menunduk menatap dress yang ia kenakan. "Bukankah ini terlalu mahal untuk pasien seperti saya?"


Glacia mendongak lagi menatap Rafael. Rautnya begitu hati-hati, ia tahu Rafael pasti mengerti apa maksudnya. Glacia tidak buta brand, baju yang ia pakai sekarang merupakan salah satu produk luxury yang harganya di atas puluhan juta. Ini aneh, di saat peran Glacia bagi Rafael hanyalah seorang pasien.


Sesaat suasana menjadi hening, sebelum kemudian Rafael terkekeh seraya membuang nafas samar-samar. Ia tampak sedikit berpikir mendengar pertanyaan Glacia barusan. "Maaf, jika kamu tidak nyaman. Saya tidak bermaksud membuat kamu merasa demikian. Saya hanya berpikir bahwa kamu pasien VVIP yang harus saya layani sebaik mungkin. Untuk pakaian, mohon kamu jangan salah paham. Sebenarnya itu bukan murni saya yang beli, itu semua punya adik saya."


Glacia terdiam. "Adik Dokter?"


Rafael mengangguk, menatap Glacia teduh.


"Lalu ... apa dia tidak marah bajunya saya pakai?"


Kali ini lelaki itu tersenyum getir. "Dia sudah meninggal dua tahun lalu," bisiknya agak tersendat, tapi ia tetap mempertahankan rautnya seolah baik-baik saja.


"Ah, maaf. Saya tidak tahu." Glacia sedikit merasa bersalah karena secara tidak langsung membuat Rafael sedih.


Rafael terkekeh halus seraya menggeleng. "Tidak apa-apa, itu sudah sangat lama. Oh ya, kamu makanlah," ujarnya, mendorong piring Glacia semakin dekat.

__ADS_1


Glacia tersenyum kecil, masih terkesan canggung. Ia pun memakan sarapannya selama Rafael pergi entah ke mana. Mungkin ia bersiap berangkat kerja dan memulai aktifitasnya kembali sebagai dokter.


Glacia mengunyah makanannya dalam diam. Ia tak bisa berhenti merenung memikirkan Yohanes dan juga Narendra. Sedang apa dua lelaki itu sekarang? Kenapa tidak ada satupun dari mereka yang mengunjunginya di sini? Glacia masih merasa aneh tinggal di apartemen pribadi milik Rafael.


Saat Glacia selesai makan, Rafael keluar dari kamarnya, setidaknya Glacia mengira begitu karena lelaki itu sering keluar masuk ruangan tersebut. Rafael sudah rapi dengan setelan kemeja yang menawan. Ia wangi, tapi harumnya tak mampu membuat Glacia terpaku seperti ia mencium aroma Narendra. Senyumnya pun meneduhkan, tapi tak mampu menggetarkan perasaan Glacia seperti Narendra yang kerap membuatnya gugup dan salah tingkah.


Glacia menggeleng. Kenapa ia jadi membandingkan mereka berdua?


Rafael mendekat. "Sudah selesai?"


Glacia mengangguk. Rafael pun bertanya lagi. "Bagaimana rasanya?"


"Enak. Setidaknya lebih baik dari yang saya makan sebelumnya." Glacia hanya menjawab apa adanya, tapi ia tidak tahu pendapat tersebut berhasil membangkitkan semangat dalam diri Rafael. Ia lebih bersemangat lagi memperhatikan Glacia, lebih dari pada ini.


"Syukurlah kalau kamu suka. Saya harus ke rumah sakit dulu. Kalau ada apa-apa, kamu bisa minta tolong Rini, dia perawat yang bekerja khusus saat kamu di sini," ucap Rafael.


Rafael pun tersenyum, secara tidak sadar tangannya terulur mengusap rambut Glacia, membuat wanita itu seketika terpaku di tempatnya.


"Ah, maaf, kamu sedikit mengingatkan saya pada Reina." Rafael menarik kembali tangannya. "Reina adik saya."


"Ohh." Glacia mengangguk paham. Ngomong-ngomong, ia baru tahu bahwa Rafael memiliki adik perempuan. Selama ini Glacia mengira lelaki itu juga anak tunggal seperti dirinya.


"Saya berangkat," ucap Rafael lagi.


"Iya, silakan. Hati-hati, Dokter." Glacia tersenyum kecil disertai anggukan. Ia kemudian meringis canggung setelah Rafael benar-benar pergi.


Ia tidak bodoh untuk memahami situasi yang sedikit aneh ini. Bukan sedikit, ini memang benar-benar aneh. Perasaan janggal yang sejak kemarin menghantuinya, pagi ini semakin menguat.

__ADS_1


Rafael bilang kemarin ingatan Glacia mulai kabur dan terkesan acak. Tapi, Glacia mencoba mencatat semua aktifitasnya sedari kemarin hingga terakhir ia bangun tidur. Hasilnya, Glacia ingat semua apa yang ia lakukan sebelumnya. Glacia tidak lupa, dan tidak ada satupun ingatannya yang kabur seperti yang dijelaskan Rafael kemarin. Glacia juga menandainya menggunakan tanggal, hari, maupun tahun.


Sejenak Glacia termenung, sebelum ia dikejutkan oleh kedatangan Rini, perawat yang sempat Rafael sebutkan namanya tadi.


"Nona?"


Glacia terperanjat. "Eh, iya?"


"Nona perlu sesuatu?" tanya Rini.


"Ya? Ah, tidak ada." Glacia menggeleng sembari meringis tipis. "Itu, kapan Dokter Rafael akan memulai pengobatan untuk saya?"


Rini tersenyum. "Saat ini Dokter Rafael masih sibuk dengan pasien di rumah sakit, tapi beliau sudah menyiapkan prosedur untuk Nona, beliau juga sudah menyiapkan jadwal serta beberapa dokter terkait."


"Begitu?" Glacia pura-pura mengerti saja. "Saat di rumah sakit, dokter menyarankan agar saya banyak berjemur. Apa kamu bisa mengantar saya ke taman? Di bawah apartemen ini pasti ada taman, kan?"


Rini mengangguk. "Tentu ada, Nona. Tapi untuk saat ini Dokter Rafael menyarankan anda untuk berjemur di balkon saja. Khawatir anda akan terlalu lelah jika harus naik turun ke lantai bawah."


"Ah, rupanya seperti itu. Lalu, apa saya boleh menghubungi keluarga saya? Ayah dan suami saya, saya ingin tahu kabar mereka."


Rini terdiam. Bibirnya terlihat meringis sebentar, tapi Glacia masih bisa melihatnya. Wanita yang katanya perawat itu pun menjawab. "Maaf, Nona. Tapi di sini kami tidak menyediakan telepon dalam bentuk apa pun."


"Apa?" tanya Glacia kaget.


"Hal ini untuk menghindari fokus Nona yang akan terbagi dalam proses pengobatan. Dokter Rafael ingin anda konsentrasi dan percaya sepenuhnya pada beliau. Jadi, menghubungi seseorang saat ini sangat tidak dianjurkan."


Alasan macam apa itu? Glacia meremas jemarinya, ia menatap lekat pada Rini yang masih berdiri tenang di hadapannya. Glacia mengernyit samar, ia yakin ada yang tidak beres di antara mereka.

__ADS_1


Tentang Rafael, tentang pengobatan aneh yang direncakannya. Glacia merasa benar-benar janggal.


__ADS_2