
Yohanes mematung memandangi berkas di atas meja. Di hadapannya, Narendra duduk sambil mengamati dengan wajah tenang. Lain Narendra lain Yohanes, lelaki baya itu justru merasa sofa yang didudukinya saat ini mengandung bara api yang membakarnya hingga ke kepala.
"Apa-apaan ini, Narendra?" Yohanes mendongak. Sang menantu mengangkat alis bertanya. "Apa maksud dari semua ini? Kau mau menghentikan mega proyek kita yang sedang proses setengah jalan?" serunya terheran, sekaligus tak menyangka.
Yohanes bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang Narendra lakukan. Narendra tersenyum tenang. Berbanding terbalik dengan Yohanes yang berkerut dalam.
"Naren, katakan, apa yang sebenarnya kau rencanakan? Kenapa kau tiba-tiba membuat masalah seperti ini? Jangan membuat Papa menyesal karena menyerahkan semua ini padamu."
Yohanes menatap Narendra lekat. Sang menantu hanya bergeming hingga Yohanes sedikit melempar berkas itu ke atas meja. Narendra menghela nafas panjang, lalu mencondongkan tubuh mengambil berkas tersebut.
Narendra mengamatinya sesaat sebelum kemudian bersuara menjelaskan. "Proyek ini sepenuhnya aku yang bertanggung jawab," ucapnya lamat. Ia mendongak membalas tatapan Yohanes yang menanti kelanjutannya. "Ini proyek besar yang sudah lama Papa inginkan. Jika aku menghentikan pembangunan secara tiba-tiba tentu akan mengalami kerugian fantastis, bahkan keuangan perusahaan tak akan mampu menutup biayanya, jika para investor menarik dana mereka."
Wajah Yohanes begitu serius. Ia masih menebak-nebak ke mana alur dari pembicaraan mereka. Narendra benar-benar membuat Yohanes waspada kali ini. Yohanes pikir ia sudah sepenuhnya mengenali Narendra, tapi ternyata tidak. Masih begitu banyak kejutan yang anak itu simpan, hingga mau tak mau membuatnya berhati-hati.
"Naren, kamu mau mengkhianati Papa?" tanya Yohanes pelan.
Narendra masih bersikap tenang di tempatnya. Tatapannya masih seperti biasa, menatap Yohanes dengan pandangan anak kepada ayahnya, diselimuti segan yang selalu membuat Yohanes merasa dihormati.
Narendra tersenyum kecil, lalu menggeleng. "Aku tidak seberani itu."
"Lalu?" tuntut Yohanes.
Beberapa detik Narendra diam, hingga ia pun buka suara. "Ini tergantung pada Papa sendiri. Aku akan menjaga proyek ini dengan baik jika Papa mempercayaiku."
"Papa selalu mempercayaimu," timpal Yohanes.
Narendra tersenyum. "Begitukah?" Ia menatap Yohanes dengan alis terangkat samar.
"Tapi, aku rasa Papa masih selalu mengawasiku," lanjut Narendra telak.
Hening. Kini Yohanes mengerti apa yang sedang Narendra lakukan. Ia benar-benar tidak menyangka pemuda pendiam ini bisa berbuat di luar dugaan Yohanes.
"Kamu sedang mengancam Papa?"
"Apa Papa menganggapnya begitu?"
Ingin rasanya Yohanes mendengus. Apa-apaan ini? Benar apa yang Yohanes katakan tadi, ia semakin tak mengenali Narendra. Sikap pemuda itu selalu terkendali, tapi juga penuh siasat jika Yohanes amati.
Yohanes penasaran, sebenarnya pria seperti apa yang menjadi menantunya ini?
Menghela nafas panjang, Yohanes memilih mengikuti alur Narendra. Ia bersandar di sofa, berusaha terlihat santai. "Apa yang kamu inginkan saat kita bicara di telpon tadi?"
Kali ini Narendra yang menegakkan tubuh. Kedua tangannya bertumpu di lutut dengan jari saling bertaut. Narendra mendongak pelan menatap Yohanes.
__ADS_1
"Aku hanya ingin Papa tidak ikut campur urusan rumah tanggaku. Glacia istriku. Dia sepenuhnya sudah menjadi tanggung jawabku. Papa hanya perlu diam seperti orang tua lainnya, tanpa rasa khawatir, curiga, apalagi waspada padaku. Harus Papa tahu, apa pun yang aku lakukan semuanya untuk kebaikan Glacia," tandas Narendra. Tenang, tanpa sekalipun berniat memancing emosi.
Akan tetapi hal seperti ini sudah mampu membuat Yohanes geram, namun sekaligus juga tak berkutik.
"Naren, kamu juga harus tahu semua yang Papa lakukan untuk kebaikan Glacia, termasuk kamu. Papa khawatir pada kalian. Sebagai orang tua, wajar bila Papa mencemaskan kalian, kan?"
Narendra mengangguk. "Iya. Tapi seperti yang aku bilang tadi, Papa tidak perlu khawatir. Kami akan baik-baik saja. Aku akan menjaga Glacia lebih baik dari yang Papa kira."
Narendra kembali melirik berkas di meja. "Aku pastikan proyek ini juga berjalan baik."
Yohanes betul-betul dibuat tak berkutik oleh tindakan Narendra. Yohanes tahu, Narendra mengancamnya secara halus karena pemuda itu sadar bahwa Yohanes kerap mengamati pergerakannya.
Secara tidak langsung, hal ini juga menunjukkan kekhawatiran Narendra karena Yohanes tahu perihal apa yang diam-diam Narendra lakukan sebagai pembalasan terhadap orang-orang yang menyakiti Glacia.
Narendra membuat semua orang berputar dalam permainannya.
***
"Eh?" Glacia mengerjap melihat siapa yang datang ke ruangannya. Rafael berdiri di ambang pintu, menatap lurus ke arahnya.
"Dokter ... Rafael?"
Rafael membuang nafas samar sambil tersenyum menutup pintu. Ia lalu mendekat pada Glacia yang memandang heran kedatangannya.
"Apa kabar? Bagaimana kondisimu sekarang?" tanya pria itu, begitu sampai di hadapan Glacia. Ia lanjut bergumam pelan. "Aku tidak melihat penjaga di depan."
"Oohh." Rafael mengangguk pelan. "Maaf, baru menjengukmu sekarang. Kamu tahu, jadwal saya di rumah sakit begitu padat."
"Tidak apa-apa, saya mengerti." Glacia malah heran karena Rafael repot-repot menyempatkan diri menjenguknya.
"Bagaimana kondisimu?" tanya Rafael lagi.
Glacia berpikir sesaat. "Sedikit lebih baik."
"Syukurlah," gumam Rafael. "Ah, maaf saya tidak tahu harus membawa apa untuk orang sakit. Jadi saya membawa buah. Saya harap kamu tidak kecewa."
Rafael menyimpan keranjang buah yang sejak tadi berada di tangannya ke atas meja nakas. Hal itu membuat Glacia sedikit terkekeh. "Dokter setiap hari di rumah sakit, masa tidak tahu biasanya orang membawa apa saat menjenguk pasien?" Raut Glacia terlihat geli.
Rafael meringis sambil menggaruk tengkuk. "Saya jarang perhatikan. Yang saya tahu hanya bunga dan buah."
Lelaki itu terdiam saat menyebutkan bunga. Ia teringat bunga yang dibawanya saat menjenguk Glacia pertama kali. Sayang, bunga itu berakhir mengenaskan di tempat sampah lantaran perselisihannya dengan Narendra. Saat itu Glacia belum sepenuhnya pulih dari masa kritis.
Glacia tersenyum. "Tidak masalah, Dokter. Buah lebih bermanfaat untuk orang sakit."
__ADS_1
Melihat senyum Glacia, sudut bibir Rafael refleks ikut tersungging. Ia lalu mengerjap berusaha menyadarkan diri. Matanya mengedar ke sekeliling ruangan. "Kamu sendiri?"
"Hm?" Glacia mengangkat alis, lalu kemudian ia mengangguk. "Iya, kebetulan Papa sedang ada urusan, Naren juga. Jadi ... ya, seperti yang dokter lihat, tidak ada siapa pun di sini."
Rafael mengangguk. Perasaannya sedikit lega saat tahu bahwa Narendra tak ada di sana. Suasana hatinya sedang kurang baik, ia malas membuat masalah dengan siapa pun.
"Mengenai Lizy ... saya ingin meminta maaf. Saya tidak tahu dia bisa berbuat senekat itu sama kamu." Rafael tampak malu. "Hubungan kami memang sebatas kerja sama keluarga. Jadi, mungkin kamu tidak akan heran melihatnya begitu terobsesi pada suamimu, yang tak lain adalah mantan pacarnya."
Senyum Glacia berubah kaku. Sampai saat ini ia belum mendengar lagi kabar wanita itu. Yang Glacia tahu, Lizy tengah menjadi incaran polisi.
"Saya mengerti. Bagaimana kabarnya sekarang?"
Rafael tampak diam. "Entahlah. Dia masih belum ditemukan."
Glacia mengira raut sendu Rafael disebabkan oleh itu. "Maaf," bisiknya tak enak. "Semoga Lizy bisa cepat ditemukan."
Rafael mendongak. Ia tersenyum seraya mengangguk kaku. Sepertinya Glacia telah salah paham. Mereka lalu sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Rafael berkali-kali menimbang untuk mengutarakan sesuatu. Apa ini saatnya Glacia tahu perasaan Rafael sebenarnya?
"Glacia," panggil Rafael pelan.
"Ya?" Glacia mendongak menatap lelaki itu.
Menelan ludah, Rafael mengamati Glacia yang bersandar nyaman dengan tubuh setengah berbaring di ranjang. Wajahnya masih nampak pucat dan sayu. Hal yang membuat Rafael ragu, bukan hanya karena ia merasa malu, tapi Rafael takut perasaannya akan membuat Glacia banyak berpikir, dan berakhir memperburuk kondisi kesehatannya.
Rafael tersenyum, membuang nafas seraya menggeleng. "Bukan apa-apa. Kalau begitu istirahatlah. Saya permisi." Ia melihat jam. "Sebentar lagi jadwal saya operasi."
"Ah, begitu? Ya sudah, maaf kalau sambutan saya kurang baik, Dokter." Glacia berujar sedikit tak enak.
Rafael terkekeh. "Kamu membuat suasana hati saya lebih baik."
"Ya?" Glacia mengerjap.
"Bukan apa-apa. Sampai bertemu lagi." Rafael tersenyum. Ia lalu beranjak menuju pintu dan membukanya pelan.
Namun, tubuhnya mematung begitu mendapati seseorang di sana. Hening sesaat, Rafael balas menatap Narendra yang berdiri tegap di ambang pintu. Lelaki itu memandang Rafael datar.
Glacia yang menyadari kehadiran suaminya pun bersuara. "Naren, kamu sudah kembali?"
Namun Narendra sama sekali tak menoleh. Glacia tidak tahu bahwa kedua lelaki itu kini saling beradu pandang cukup tajam.
"Aku tidak tahu seorang dokter sepertimu, senang menemui istri orang saat suaminya tak ada."
Rafael tak bergeming. Ia sama sekali tak membalas sindiran tersebut, dan memilih pergi melewati bahu Narendra yang kini mendengus samar.
__ADS_1
Mata Narendra mengikuti kepergian Rafael yang sangat tidak sopan. Sudut bibirnya berkedut. Mereka berpikir karena tak ada lagi bodyguard, ruangan Glacia aman dari pengamatan.
Ia melirik pada beberapa jendela di koridor, lebih tepatnya gedung di seberang rumah sakit, di mana Narendra menempatkan anak buahnya untuk mengamati situasi ruangan Glacia. Benar, Narendra menaruh beberapa kamera dan alat penyadap di ruangan istrinya.