
Glacia berkedip lemah dengan selang oksigen di hidungnya. Matanya melirik satu persatu manusia yang mengelilingi ranjangnya. Dari mulai dokter, Maria, Gibran, Yohanes, lalu Julian yang berusaha menopang tubuh Narendra, pria itu sedikit sempoyongan.
Sedetik kemudian Narendra menyentak pegangan Julian di tubuhnya, lalu mendekat pada Glacia. Ia menyentuh kedua sisi wajah sang istri sambil mengamatinya dalam-dalam. Helaan nafas lega kontan terdengar. "Kamu masih berkedip. Aku senang," ujarnya serupa bisikan.
Kening Glacia berkerut. Kepalanya sudah pusing, dan bertambah pusing melihat wajah Narendra sedekat ini.
"Kau mabuk." Glacia mendorong Narendra hingga lelaki itu berdiri menjauh. Dorongan itu sangat pelan, tapi mampu membuat Narendra hampir terhuyung ke belakang.
Narendra menggeleng. "Nick sudah memberiku obat."
"Nick siapa?" tanya Glacia bingung. "Sebenarnya ada apa dengan kalian?"
Hening. Gibran melirik pelan pada Maria di sebelahnya. Sang istri berdiri dengan raut tanpa dosa. Ia pun menarik Maria keluar dari sana karena malas ikut campur dengan urusan rumah tangga orang.
Mengabaikan pertanyaan Glacia, dokter menjelaskan kondisinya pada Narendra. "Istri anda sempat mengalami drop parah tadi. Sepertinya akhir-akhir ini ia terlalu banyak berpikir." Dokter tersebut lalu menoleh pada Glacia. "Nyonya, ke depannya anda tidak boleh stress lagi. Ini sangat berbahaya bagi perkembangan kesehatan anda," jelasnya. "Karena seluruh anggota keluarga sudah ada di sini, saya pamit."
Setelah dokter itu pergi, Yohanes mendekati putrinya, mengusap sisi kepala Glacia dengan pelan. "Berhenti membuat Papa takut, Nak. Kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, ceritalah. Kami sangat khawatir padamu."
Glacia bungkam. Ia melirik Narendra serta Julian di belakang Yohanes. Mungkin Julian merasa ia tidak perlu ada di sana, jadi pemuda itu pergi menyusul Gibran dan Maria keluar.
Glacia kembali menatap ayahnya. "Aku baik-baik saja, Pa. Papa tidak perlu khawatir." Ia lalu melanjutkan. "Itu ... Papa bisa keluar sebentar? Aku ... mau bicara sama Naren."
Yohanes melirik sebentar sang menantu yang berdiri di balik punggungnya. Lelaki baya itu pun menegakkan tubuh, tersenyum sambil mengusap kembali kepala Glacia. Tanpa kata ia pergi meninggalkan dua sejoli itu yang kini saling terdiam.
Narendra yang belum sepenuhnya pulih dari rasa mabuk, wajahnya nampak kuyu dan sayu. Ia menunduk, seolah tak berani menatap Glacia.
"Naren?" panggil Glacia pelan. Suaranya yang terdengar lemah membuat hati Narendra goyah. Rasa takut menghantui hingga akhirnya ia pun ambruk, berlutut di samping ranjang Glacia, menyentuh tangan wanita itu sambil terus menunduk dalam.
__ADS_1
"Maaf," bisik lelaki itu. "Maaf, Glacy. Aku tahu aku salah. Aku berdosa. Aku manusia hina di mata Tuhan. Aku menyakiti banyak orang tanpa kamu tahu. Aku salah. Aku tidak jujur padamu sebelumnya. Aku terlalu malu, Glacy. Kamu pantas membenciku."
Jika tidak disertai minum, mungkin Narendra tidak akan berani sejujur ini pada Glacia. Tapi Glacia tahu, semua yang Narendra katakan berasal dari lubuk hatinya yang terdalam. Glacia bisa merasakan keresahan lelaki itu. Seketika hatinya pun dilanda kebimbangan.
Glacia tidak mengira ia akan bertemu Narendra hari ini. Padahal rencananya ia masih ingin menjaga jarak dari lelaki itu. Siapa yang akan mengira kondisinya malah drop. Memang, sedari kemarin otaknya tak bisa berhenti berpikir. Ia juga sulit makan dan tidur gara-gara terus terngiang perkataan Narendra.
Maria bilang, ia harus mengikuti kata hatinya. Untuk itu, saat ini tangannya terangkat menyentuh kepala Narendra. Mengusap rambutnya yang sedikit berantakan, lalu menyusupkan jari-jarinya di sana.
"Naren," panggil Glacia pelan. Narendra terdiam, namun ia tak kunjung mengangkat wajahnya melihat Glacia. Lelaki itu masih setia menumpukan keningnya di punggung tangan Glacia.
"Narendra, lihat aku." Glacia menghela nafas. "Kamu benar-benar mabuk ternyata."
Kali ini kepala Narendra menggeleng. Mulut lelaki itu bungkam, tak bersuara sedikit pun. Glacia hanya bisa melihat puncak kepalanya.
"Kenapa semua orang harus lari pada alkohol saat menemui masalah?" lirih Glacia. "Dulu, aku suka minuman memabukkan itu, tapi tidak dengan sekarang. Ke depannya, kamu tidak boleh terlalu sering minum. Kalau sekedar anggur, aku bisa memaklumi."
"Tidak," potong Narendra. Ia menahan Glacia yang hendak bersuara memanggil Julian. Genggamannya semakin mengerat, Narendra pun menatap lekat sang istri yang kini juga balas memandangnya. "Setelah merenung seharian kemarin hingga hari ini, akhirnya aku tahu, bahwa di sini yang paling sering membuat sakit adalah aku."
"Aku yang paling egois. Aku memaksamu menikah denganku, menekanmu dalam pernikahan kita, menjeratmu supaya tidak bisa lari dan terus berada dalam genggamanku. Aku membuatmu berputar dalam ruang kehidupanku. Aku egois, Glacy. Aku egois karena ingin memilikimu, tanpa memikirkan perasaan kamu bagaimana."
"Aku juga telah melakukan banyak hal untuk mempertahankanmu di sisiku. Banyak hal, Glacy. Baik itu bersih dan kotor, semua aku lakukan agar kamu terus bersamaku."
Glacia terpaku, Narendra betul-betul menangis. Pria itu terisak dengan wajah basahnya.
"Maaf, kalau selama ini kamu sering merasa tidak nyaman, terutama dengan sikapku. Aku benar-benar minta maaf, Glacy. Aku salah, aku minta maaf."
Narendra terus mengulang-ulang kata maaf, diam-diam Glacia meringis karena tampaknya lelaki itu sangat mabuk.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan? Aku menikah atas paksaan Papa, bukan kamu," timpal Glacia.
Dengan rikuh Narendra menggeleng. "Sebenarnya, aku yang merencanakan semua situasi agar papamu memiliki niat menikahkan kamu. Aku telah berusaha keras untuk jadi menantunya, Glacy, termasuk membuang egoku karena harus hidup di tengah-tengah keluargamu yang derajatnya lebih tinggi dariku."
"Meski berat, aku tetap bertahan demi kamu. Semua ini demi kamu, Glacy. Aku melakukan banyak hal juga karena kamu. Aku benar-benar menginginkanmu, mau itu dulu atau sekarang. Kamu adalah sesuatu yang paling kuinginkan, di antara semua yang aku inginkan."
"Glacy, terlepas dari semua sifat burukku, tapi aku bersumpah, aku bersumpah tidak pernah sekalipun berani menyakitimu."
Glacia terdiam. Ia menatap Narendra dengan datar. Raut penuh permohonan terpatri jelas di wajah lelaki itu. Glacia pun membuang muka. "Pergilah."
Narendra mengangkat kepalanya gusar. "Apa?" Wajahnya nampak gugup disertai kepanikan. "G-Glacy, kamu boleh marah dan benci padaku, t-tapi ..."
"Pergilah, aku ingin istirahat. Bau alkoholmu begitu menyengat."
"A-Ah ..." Cepat-cepat Narendra bangkit. Tangannya saling memilin seperti anak kecil. Hal itu membuat kening Glacia berkerut dalam. Rupanya mabuk bisa memunculkan sifat kekanakan seseorang?
"Tunggu apa lagi? Pergi!"
Narendra menatap Glacia ragu. Perlahan kakinya mendekat, membuat Glacia refleks menggeser kepalanya menjauhi bantal, lantaran Narendra yang kian membungkuk seperti hendak mencium. "A-apa yang mau kau lakukan?"
Di saat Narendra hampir mendaratkan bibirnya di atas bibir Glacia, Julian masuk dengan tergesa dan menarik tuannya dengan paksa. "T-Tuan, ayo pergi. Nyonya butuh istirahat, anda jangan mengganggunya!"
Julian menyeret Narendra keluar, sementara Glacia mematung di atas ranjangnya, memikirkan segala pengakuan Narendra beberapa saat lalu.
Semua karena Glacia? Apa maksudnya? Apa sebelum ini mereka pernah saling mengenal? Narendra bahkan berkata bahwa ialah yang menyusun skenario hingga Yohanes berakhir menikahkan mereka berdua.
Entah apa saja yang dilakukan Narendra, entah itu benar atau hanya sekedar racauan, tapi ia pernah dengar perkataan orang mabuk itu selalu jujur.
__ADS_1
"Kau membuatku semakin penasaran, Naren," bisik Glacia sebelum tidur.